Saya ingin belajar istiqomah. Ingin banget belajar untuk bisa konsisten terhadap apa yang hari ini saya yakini. Mulai saat ini, saya bertekad untuk tetap belajar pada koridor yang saya anggap benar. Ini tekad saya. ungkap seorang sahabat, dihadapanku.


Tak ada yang aneh dalam pembicaraan itu. Bagi seseorang yang sedang mengalami transisi (pergeseran kesadaran) dari suasana bathin yang gelisah ke arah yang tumaninah, atau dari suasana bathin gelap ke arah yang terang benderang, kerap muncul sumpah serapah atau janji manis dari lisannya. Pernyataan dari seseorang yang tengah berada pada puncak kesadaran itu, merupakan sesuatu hal yang biasa. Dan sangat mudah diluncurkan.
Janji dalam diri manusia, terkadang sangat mudah dilakukan. Sebagaimana kita maklumi bersama, bahwa janji itu mudah diucapkan namun cukup sulit untuk direalisasikan. Tetapi untuk sebuah perubahan, untuk masa depan yang lebih baik, pengucapan janji itu menjadi penting dan sangat penting. Artinya, kendati ada kritikan tadi janji itu mudah diucapkan dan sulit direalisasikan, bukan berarti bahwa berjanji itu tidak boleh, bukan berarti bahwa janji itu menjadi sesuatu yang burul. Janji itu mudah diucapkan dan sulit dilakukan, adalah benar. Oleh karena itu, setiap orang yang berjanji harus siap dengan konsekuensinya untuk siap melakukan janji tersebut.
Tidak akan ada perubahan dalam diri kita, dan juga tidak akan ada harapan yang lebih baik di masa depan, bila kita tidak memiliki kemauan untuk berjanji pada diri sendiri untuk berbuat hal yang terbaik. Percayalah. Ini adalah hukum hidup. Perubahan itu akan hadir dalam diri, bila kita sanggup mengucapkan janji pada diri sendiri, dan juga orang lain mengenai sesuatu yang ingin kita wujudkan.
Bila kita sudah berusaha untuk melakuka sesuatu sesuai dengan janji kita, ternyata melakukan janji itu sangat mudah, yang sulit itu adalah konsisten dengan perbuatan kita. Berbuat sesuai dengan janji adalah mudah, yang lebih sulit dari itu adalah konsisten dengan perbuatan itu. Bila kita hanya mampu melakukan sekali dan atau hanya sekali itu saja, maka mimpi yang diharapkan atau harapan terjadinya perubahan menjadi sesuatu yang utopis. Hari kemarin berjanji akan menindak koruptor. Ternyata, hari ini dia mampu menangkap koruptor dan menjebloskannya ke meja pengadilan. Sikap ini akan dinilai positif, jika dihari-hari depannya dia tetap berbuat hal serupa. Bila malah berubah, maka dia pun akan dinilai tidak konsisten.
Ini pun adalah hukum hidup yang kedua. Dalam perubahan mental dan sikap hidup itu, ternyata merealisasikan janji adalah mudah, yang sulit itu adalah menjaga konsistensinya. Tanjakan kehidupan ini terasa semakin terjal (bila melihatnya ke atas), atau semakin dalam (bila kita melihatnya ke bawah), atau semakin jauh ketika kita melihatnya ke depan.
Dalam menjaga konsistensi sikap inilah, perjuangan mental yang sangat kompleks. Seseorang akan berhadapan dengan perlawanan mental dari berbagai pihak, berbagai sudut pandang, dan berbagai aspek untuk menguji konsistensi sikap dalam menjalankan tugasnya. Seperti yang tengah dialami sahabatku ini. dia hari ini, tengah berhadapan dengan soal yang kompleks, yang terkait dengan soal uji konsistensi terhadap prinsipnya yang sedang dipertahankan dan diperjuangkannya.

Semula aku ingin berbuat yang terbaik buat diriku, aku tidak ingin membuat hatiku gelisah. Tidak mau. Tidak mau hal itu terjadi lagi. Setiap langkahku, ingin ku jaga, supaya tidak merusak ketenanganku yang kini kurasakan. Aku ini, tengah merasakan ada satu ketenangan hidup dalam satu bulan terakhir.

Tutur sahabatku, mengenai kondisi bathinnya yang dialami saat ini. pengalaman batin, dan ungkapan bathin itu sungguh sangat membuat orang lain iri. Di saat, banyak pihak merasa gelisah dengan kehidupan ini, dia malah mendapatkan ketenangan bathin. Nyata. Ini pengalaman bathinku dalam sebulan terakhir. Beban hidup terasa ringan. Dan aku tak ingin ini lepas kembali. Dalam ibadah terasa lebih khusyu. Tidak ad beban berat di bebanku. Curhatnya dengan penuh rasa bahagia. Aku sendiri yang mendengarnya, merasa iri, terhadap kemampuan dia bisa berbuat sesuatu yang menjadi impian banyak orang. Hidup tenang, ibadah khusyu dan bahagia.

Namun, aku tak menyangka, ternyata langkahku kini dihadapkan pada satu pilihan yang sulit. Istriku, anakku, atau malah kebaikan pemimpinku yang tengah mempersiapkanku untuk menjadi seorang pemimpin di tempat kerja ini. Aku tidak menyadari. Dua posisi ini, sangat sulit ku pilih. Bila ku pilih keluarga, maka jabatanku akan lepas, dan posisiku tetap sebagai buruh lapisan bawah dan tidak akan punya kesempatan lagi untuk mendapatkan peluang pengembangan karir yang lebih baik. Sedangkan, bila dipilih kebaikan pemimpinku, sudah jelas, hal itu kian menggambarkan bahwa aku memang belum bisa keluar dari lingkaran kehidupan birokrasi yang belum sehat. Saya katakan belum sehat. Karena apa yang kuterima, adalah bagian dari manipulasi kepegawaian.

Pada titik inilah, dia tampak gelisah. Titik persimpangan jalan. Itulah yang kulihat. Dia berada pada satu pilihan yang sulit, antara dua choice yang menanti dihadapannya. Apa yang ada dihadapannya, adalah sebagai pilihan hidup kelanjutan dari perbuatannya di masa lalu.

Bila ku menolak permintaanya, aku sudah pasti dimarahi pimpinan. Resiko terberat aku keluar dari BUMN ini. Sedangkan bila aku terima, maka aku akan menjadi bagian dari sistem birokrasi yang telah dibangunnya sendiri.

Menyimak apa yang dia tuturkan, saya jadi ingat kata-kata orang (termasuk John Maxwell) bahwa hidup ini adalah peluang, dan setiap peluang itu adalah pilihan. Oleh karena itu, hidup ini pun adalah pilihan. Pihak yang paling berperan dalam menentukan masa depan itu, adalah keteguhan kita dalam mengambil pilihan hidup itu sendiri. Apapun yang akan terjadi hari esok, bergantung pada pilihan hidup. Dan pilihan hidup itu, bergantung pada diri kita sendiri. Dengan pemikiran itulah, saya mengatakan kepadanya :

Apapun pilihan hidup kita, yang sudah pasti akan terjadi itu yakni sebuah pilihan hanya akan meneguhkan mengenai kualitas diri kita sendiri. Apapun pilihannya. Mau A atau pun Z sekalipun. Pilihan itu akan meneguhkan warna hati kita, atau orientasi hidup kita.

Bila apa yang kita lakukan ini, adalah berubah dari tekad kita di masa awal, orang akan mengatakan kita adalah orang yang plin plan. Sesungguhnya, pandangan itu tidak seluruh benar. Karena diri kita tidak plin-plan, kecenderungan kita yang asli itu adalah yang terakhir. Tidak ada yang plin plan, yang ada itu adalah warna asli kita keluar seketika, setelah kita lupa pada keinginan sesaat. Jadi, pilihan itu akan meneguhkan mengenai posisi kita, apakah posisi kita itu akan berada pada titik awal sebelum ada komitmen, atau tengah berada di depan garis titik komitmen. Itu saja.

Dengan demikian, sesungguhnya tidak ada warna yang baur di persimpangan ini. Apapun pilihan sahabat, jelas adalah warna asli orientasi hidup yang tengah dikembangkannya.

Peristiwa ini mengingat saya pada cincin temanku yang baru saja di beli. Barang itu di beli dari seorang pengedar yang datang ke instansi ini. Dia menjual dengan harga yang murah. Warna emas. Style modern. Banyak rekananku yang juga tertarik dengan barang-barang tersebut. Barnag yang dijual bukan hanya cincin, ada kalung magnet, kacamata, buku, minyak wangi dan lain sebagainya. Salah satu masalah yang sering muncul, yakni bila cincin tersebut sudah dipakai dan seiring waktu, warnanya kian memudar. Maka bagi kita sebagai pemakai ada dua, membiarkan warna asli muncul atau menjaga warna tampak sebagai penutup warna asli cincin tersebut ?
Itulah kita. Di sinilah iktiar menjaga komitmen hidup !

Advertisements