Sudah lama ingin mencurahkan pengalaman, perasaan, dan pemahaman mengenai factor yang mempengaruhi kepuasan kerja,khususnya di lingkungan pendidikan. Selama ini, memang kita cukup kesulitan untuk menemukan analisis empirik mengenai kepuasan kerja di lingkungan pendidikan.


Kajian yang ada selama ini, lebih menitikberatkan pada lingkungan perusahaan. Sehingga, bagi seseorang yang ingin mengkaji budaya kerja di lingkungan pendidikan, seperti sekolah, madrasah atau perguruan tinggi, harus tetap menggunakan referensi dari kajian organisasi perusahaan.

Namun demikian, pilihan tersebut meminjam dari ilmu administrasiadalah tradisi ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Artinya, kita tidak mesti merasa bersalah, dan/atau merasa kurang tepat untuk menggunakan konsep ilmu administrasi. Setidaknya, pinjam meminjam konsep adalah sebuah tradisi ilmiah yang biasa digunakan. Bahkan, dari tradisi inilah yang kemudian memunculkan kebutuhan para peneliti saat ini, untuk mengembangkan ilmu interdisipliner atau transdisipliner dalam mengkaji satu fenomena.

Dalam kesempatan ini, setidaknya kita menemukan ada 6 (enam) faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja di sekolah. Perlu ditegaskan di sini, konsep yang digunakan dalam wacana ini pun, merupakan pinjaman dari berbagai konsep, khususnya dari konsep ilmu administrasi, lebih fokus lagi yaitu pada kajian budaya organisasi.

  • Pertama, lingkungan atau budaya kerja. Lingkungan pesantren, pendidikan, atau madrasah jauh berbeda dengan aura lingkungan pasar. Untuk sekedar contoh, lingkungan pesantren tradisional aura Ibadah, moralitas jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lingkungan pendidikan modern. Begitu pula dengan lingkungan sekolah modern berorientasi sainstek, memiliki aura rasionalis yang lebih tinggi dibandingkan dengan lingkungan pesantren.

    Bagi seorang siswa dan juga guru, aura lingkungan merupakan factor penting dalam membangkitkan kepuasaan kerja.
    Saya mau pindah kerja ke sekolah lain. Papar seorang teman. Kemudian ketika saya tanya alasannya, dia mengatakan, biasa, cari suasana yang enak. Di sini mah sudah tidak kerasan lagi. Ungkapnya dengan penuh keseriusan.
    Pengalaman bathin seperti ini, diungkapkan pula oleh seorang senior di sebuah sekolah. Posisi beliau sudah pada puncaknya di sekolah tersebut. Saya sudah tidak nyaman di sini. Saya ingin lingkungan baru, dan merasa betah di tempat itu. Ujarnya, yang kini menaruh hasrat atau mimpi untuk mutasi ke tempat lain. Dia menjabat pimpinan di sekolah itu, sudah satu periode lebih. Bila dia mau bertahan di sekolah prestisius itu sesungguhnya dia masih bisa dipertahankan, baik oleh sekolah maupun pejabat yang berwenang. Namun, karena merasa tidak nyaman, tidak bisa mengekspresikan idealismenya, dia pun mengambil keputusan untuk mutasi ke tempat baru.

    Semua itu, adalah kisah mengenai peran lingkungan dalam membangun kepuasan kerja. Dalam geografi-kesehatan, lingkungan ini menjadi bentuk therapi (therapeutic landscapes atau therapeutic spatial) dalam membangun kesehatan jiwa seseorang. Lingkungan adalah factor penting dalam mendapat kesehatan, ketenangan, atau lebih khusus lagi yaitu kepuasan kerja.

  • Kedua, kepuasan kerja bisa hadir karena karakter pekerjaan itu sendiri (work It self). Setiap pekerjaan memiliki karakter tersendiri. Dan setiap orang memiliki minat dan bakat khusus. Kendati setiap orang memiliki potensi atau kemampuan lebih dari satu, namun biasanya pada setiap orang memiliki

    kecenderungan khusus pada satu bidang. Seorang perempuan yang hobinya mengurus anak, akan merasa betah bekerja di lingkungan pendidikan. Sedangkan, seorang guru yang minatnya pada tulis menulis, selain melahirkan karya tulis yang melimpah, perhatiannya pun dicurahkan pada sector jurnalistik atau mading (majalah dinding) di sekolah.

    Setiap orang akan betah dengan pekerjaan yang dicintainya. Oleh karena itu, pepatah mengatakan

    cintailah apa yang dikerjakan, dan kerjakan apa yang dicintai.

    Bila prinsip ini dipegang teguh, maka kepuasaan kerja akan hadir dan tumbuh kembang dalam diri seorang guru.

  • Ketiga, pemimpin dengan kepemimpinan yang humanis. Kepala sekolah bukan satpam atau bodyguard. Selama ini, kadang kita melihat ada pimpinan sekolah yang menganut kepercayaan bahwa ditakuti itu berarti ditaati. Perlu ditegaskan di sini, ketaatan kepada pemimpin itu tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti. Pemimpin yang menakuti-nakuti pengikut lebih sering disebut penguasa, daripada pemimpin.

      Penguasa ditaati oleh para pengecut. Sedangkan pemimpin humanis diikuti oleh semua kalangan.

      Penguasa ditaati selama berkuasa, sedangkan pemimpin yang humanis akan ditakuti untuk selamanya

      Penguasa ditaati lebih disebabkan karena pengikutnya tidak menggunakan otak, sedangkan pemimpin humanis ditaati karena pengikut memaksimalkan kemampuan otak

    Komunikasi yang humanis antara guru dengan kepala sekolah, akan menjadi bagian penting dari usaha untuk membangun atau meningkatkan kepuasa kerja di lingkungan sekolah/madrasah.

  • Keempat, kepuasan kerja dapat dibangun dengan cara membangun budaya kerja dengan sesama profesi. Teman sekerja (workers), merupakan bagian penting dalam meningkatkan kepuasan kerja. Botram (makan bersama) antar sesama profesi merupakan bagian penting dalam meningkatkan komunikasi antar profesi. Komunikasi yang intensif dan harmonis antar sesama, menjadi warna khusus di lingkungan sekolah.

    Kelima, promosi. Untuk lingkungan pendidikan, promosi itu bukan segalanya. Namun tetap menjadi bagian penting dalam menciptakan aura kerja yang positif. Promosi di lingkungan pendidikan, pada dasarnya sangat terbatas. Hal ini terjadi, karena promosi itu, paling tinggi hanya sampai kepala sekolah/madrasah. selain itu, harus masuk ke wilayah struktural atau birokrasi, misalnya ke Kementerian Pendidikan atau Kementrian Agama. Dengan kata lain, perlu ditegaskan bahwa walau tetap merupakan satu aspek penting, namun promosi di internal sekolah/madrasah itu sangat terbatas.

    Konsep yang paling tepat untuk digunakan di lingkungan sekolah bukanlah promosi (saja) tetapi sirkulasi, yaitu pergantian jabatan secara rutin antar guru untuk waktu tertentu. Budaya kerja seperti ini, sulit ditemukan di jabatan struktural, atau lingkungan TNI-Polri misalnya. Di lembaga yang terakhir disebut, jabatan karir seseorang itu bisa promosi (naik) atau demosi (turun). Hal itu, berbeda dengan lingkungan pendidikan. Di lingkungan pendidikan, misalnya seseorang pada tahun ini diangkat sebagai wali kelas, kemudian tahun depan tidak jadi wali kelas dan hanya berposisi sebagai guru biasa. Inilah yang saya maksud dengan sirkulasi.

    Sehat tidaknya sebuah sekolah, dapat dilihat dari kelancaran dan sirkulasi promosi jabatan. Semakin banyak jabatan yang stagnan, semakin tinggi resiko sakitnya. Semakin lancar promosi (atau demosi) jabatan, semakin menunjukkan diri sebagai organisasi yang sehat.

  • Terakhir, yaitu gaji/upah (pay). Melalui kebijakan baru dari Kementerian Pendidikan, guru mendapatkan tambahan tunjangan yang cukup besar. Bagi mereka yang belum disertifikasi, akan mendapatkan tambahan tunjangan fungsional, sedangkan bagi mereka yang sudah disertifikasi akan mendapatkan tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok.
    Keluarnya kebijakan ini, merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kepuasan kerja pada tenaga pendidik dan kependidikan di lembaga pendidikan dasar maupun menengah, dan juga Pendidikan Tinggi.

    Persoalan berikutnya adalah apakah dengan adanya kepuasan kerja itu, kinerja tenaga pendidik dan kependidikan akan meningkat apakah kualitas layanan pendidikan akan melahirkan kualitas lulusan yang lebih baik perlu diperhatikan dan dicermati secara seksama !!

  • Advertisements