Idzaa Maata Ibnu Aadam Inqotho’a ‘Amaluhu Illaa Min Tsalaatsin, shodaqotun jaariyatun, aw ‘Ilmun Yuntafa’u Biihi, aw Waladun Shoolihun Yad’uu Lahuu.


Sebuah Cerita

Kita sering melihat kata ayam, atau makan daging ayam. Bila kedua hal itu belum kita alami, setidaknya kita pernah mendengar ada binatang yang namanya ayam. Bagi masyarakat kita, binatang ini dikenal sebagai unggas yang bangun paling pagi. Setiap pagi dia berkokok, kemudian keluar kandang mencari makan. Mulai pagi hari, sampai sore hari dia bekerja untuk mencari makan. Sayangnya, yang dia lakukan itu adalah keluar kandang, menemukan makanan, makan, dan kemudian pulang dalam keadaan kenyang. Di pagi hari berikutnya, perutnya sudah lapar kembali dan kemudian melakukan rutinitas kerjanya kembali. Ini adalah ayam.

Berbeda dengan ayam, unta jauh lebih cerdas dan beruntung. Walaupun kebutuhan konsumsi yang jauh lebih banyak dari ayam, dan walaupun keadaan lingkungan alam yang minim (yaitu gurun), namun dia memiliki strategi penyimpanan kebutuhan tubuhnya. Unta mampu meminum air sebanyak sepertiga berat badannya dalam waktu sepuluh menit. Ini berarti seratus tiga puluh liter dalam sekali minum; dan tempat penyimpanannya adalah punuk unta. Sekitar empat puluh kilogram lemak tersimpan di sini. Hal ini menjadikan unta mampu berjalan berhari-hari di gurun pasir tanpa makan apapun. Tanpa minum, unta mampu bertahan hidup di atas gurun yang memiliki suhu di atas 50 0C.

Itu Unta. Sekali lagi, ingin ditegaskan, kita bukan ayam, juga bukan unta. Tanpa makan, manusia mampu bertahan hidup selama 3 minggu, namun tanpa minum manusia tidak akan mampu bertahan hidup lebih dari tiga hari. Dia akan mengalami dehidrasi. Lebih memprihatinkan lagi, manusia tidak memiliki fasilitas organ seperti yang dimiliki unta, yaitu untuk menyimpan cadangan air, oleh karena itu manusia tidak akan mampu menyaingi kemampuan unta.

Oleh karena itu, sebagai manusia kita harus memiliki kecerdasan yang jauh lebih baik dari ayam, yaitu memiliki kemampuan menyimpan (deposito) bekal hidup. Kita pun harus lebih baik dari unta, yang hanya mampu menyimpan makanan untuk satu minggu. Di sinilah, manusia dituntut untuk memaksimalkan akal fikirannya, dalam mensiasati hidup, sehingga dapat bertahan lebih lama, dan dapat menikmati hidup lebih indah.

Renungkanlah !

Kendati kita bukan ayam atau unta, namun seringkali kita masih melihat ada tipe orang yang tidak jauh berbeda dengan kedua binatang tersebut. Sebut saja, Tono. Di usia yang senja, dia harus bekerja banting tulang, hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berangkat pagi, pulang petang. Di pagi hari di lapar, kemudian bekerja, dan setelah bekerja dia mendapatkan upah. Sayangnya upah yang dia dapatkan hari itu pun, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sore hari itu. Di saat pagi hari menjelang, kondisi tubuhnya sudah lapar kembali dan kemudian dia pun harus kerja keras lagi, dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya di hari berikutnya. Begitulah dia hidup sehari-hari.

Mengapa Tono mengalami nasib seperti itu ? Tidakkah Tono berhasrat untuk memiliki kualitas hidup yang indah ? keadaann yang tidak perlu bekerja lagi. Hidup santai. Makan, minum, istirahat, dan bercengkrama sesuka hati. Seluruh kebutuhan hidup sudah bisa dipenuhi, walau dirinya sudah tidak bekerja lagi. Adakah semua hal itu, hadir dalam impiannya ?

Analogi

Kita sering melihat orang bekerja. Orang banyak yang mendapatkan upah, jika bekerja. Itu normal. Adapun yang indah dan mungkin menjadi keinginan kita itu, adalah sudah tidak bekerja, tetapi kita mendapatkan upah. Ini yang istimewa. Sudah tak kerja, atau malah tidak perlu kerja, tetapi upah, penghargaan, atau pahala terus mengalir. Ini adalah keadaan hidup yang indah.

Jika dunia ini dianggap tempat kerja atau perusahaan, maka seluruh aktivitas manusia di dunia ini, ibarat orang kerja. Dan kematian adalah masa pensiun kita. Kita tidak mau, amalan hidup kita ini, hanya berguna dalam satu hari seperti ayam, atau berguna dalam beberapa hari saja seperti halnya Unta. Kita berharap, memiliki nilai amalan hidup yang jaun lebh bermanfaat sampai kita meninggal dunia, atau sampai masa pensiun dari dunia ini.

Untuk mewujudkan impian tersebut, kita ingat sabda Rasulullah Muhammad Saw, yang mengandung arti bahwa ketika anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali 3, sedekah jariyah, atau ilmu yg didapati manfa’at dengannya, atau anak sholih yg mendo’akan untuknya.

Bila hadits ini diperhatikan, kita menemukan ada tiga modal hidup yang ada dalam diri seorang muslim, yang bisa dijadikan sebagai investasi jangka panjang. Nilai pahalanya atau nilai investasinya, tidak sekedar hari ini, jauh lebih lama dan abadi. Ketiga investasi itu, adalah kekuatan ekonomi, ilmu dan kesalehan.

Tidak mungkin kita dapat beramal jariyah, bila kita menjadi orang yang lemah ekonomi, dan tidak mungkin dapat mengembangkan ilmu bermanfata kalau kita adalah orang bodoh, dan tidak mungkin menjadi anak sholeh jika kita tidak mengembangkan iman dan taqwa. Inilah kunci kehidupan untuk meraih kesuksesan hidup. Itulah deposito hidup atau investasi hidup yang akan terus mengalir, kendati kita sudah tidak bekerja.

Advertisements