Menangis dalam ruang pengajian. memaksakan diri untuk bisa menangis. tidak menangis, takut dianggap sebagai orang yang kurang beriman. Cukupkah menangis sebagai ciri keimanan seseorang ?


Seorang remaja, yang masih semangat menggali ilmu dan mencari tahu berbagai hal, begitu semangat berkisah tentang pengalaman spiritualnya selepas mengikuti kegiatan training. Tetesan air mata dan isakan tangis, begitu tulus dia ekspresikan sebagai bentuk reaksi terhadap materi training tersebut. Bahkan, bukan hanya itu. Dalam hatinya muncul sebuah reaksi-reaksi emosional, rasa sesal, terhadap berbagai kesalahan yang pernah ia lakukan. Di ruangan training itulah, kemudian dia meneteskan air mata dan menyesali tindakannya tersebut. di samping itu, dalam ruangan itu pula, setelah mendengar pengarahan dari instrukturnya, dia tergugah untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan dakwah-dakwah keagamaan.

Referensi
Pengalaman tersebut, bisa jadi sempat kita rasakan sendiri. Terlebih lagi lagi, di negeri kita ini, training spiritual begitu melimpah. Dan uniknya, training-training spiritual atau religiusitas ini, banyak dilakukan oleh anak muda usia, dan berlatar belakang dari ilmu kampus. Maksudnya, pelatihan-pelatihan tersebut bukan lahir dari lingkungan pesantren dan atau lembaga pendidikan agama. Memang benar, mereka memiliki pengetahuan agama yang cukup luas, namun aura-wacananya lebih bermuatan wawasan ilmu Kitab Putih dan bukan Kitab Kuning.
Pada beberapa dekade sebelumnya, kita kerap melihat bahwa orang yang menjelaskan pengetahuan agama itu, didominasi oleh seorang bapak tua, yang berasal dari pesantren dengan penampilannya stylis Arab. Gamis berwarna putih dengan selendang di pundaknya, serta penutup kepala berwarna putih. Satu demi satu pepatah berbahasa Arab (baca; Ayat AL-Quran atau hadits) bersahutan dari lisannya.
Dengan adanya training-training spiritual yang tumbuhkembang di kota, gambaran seperti itu, seolah mulai sedikit bergeser. Para instruktur tampi dengan style kota dan berpenampilan muda ceria dan gaul. Tuturan dari lisannya pun, memadukan dan wawasan ilmu modern. Pengemasan materinya, sedikit bebeda dengan para penutur agama yang berbasis kitab kuning.
Penjelasan ini tidak bermaksudkan untuk mendikhotomikan (membedakan antara kitab putih dan kuning), namun lebih ke arah sebuah pemotretan fenomena unik, mengenai kebangkitan aktivitas Islam Indonesia. Fenomena ini adalah sebuah gambaran unik mengenai kebangkitan generasi muda muslim Indonesia yang diisi oleh pemuda muslim dari kalangan kampus.
Terkait dengan hal tersebut, dan juga terkait dengan pengalaman spiritual sebagaimana yang dirasakan oleh rekan kita ini, muncul pertanyaan, apakah spiritualitas itu cukup ditandai dengan tangisan dan atau getaran jiwa sebagaimana yang dirasakan oleh pemuda dimaksud ?
Sahabat-sahabat sekalian. Kita sepakat, bahwa Allah Swt berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), (Qs.9:2). Firman ini, didukung dan digenapkan oleh ayat yang lain, misalnya :

Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (Qs. 39 : 23)

Kedua ayat tersebut, memberi penegasan bahwa getaran jiwa, atau respon hati diantaranya dengan rasa kagum atau takut, merupakan indikasi atau ciri dari sikap keimanan seseorang terhadap ayat-ayat Allah. Ini adalah kesimpulan yang paling mudah dalam memahami makna ayat-ayat tersebut. Dan aspek inilah, yang kita sebut sebagai amalan hati.
Aspek lainnya, yang sedikit berbeda dengan amalan hati, yaitu amalan emosi. Dalam menunjukkan keimanannya kepada Allah Swt., seorang muslim perlu menampakkannya dalam aspek amalan emosi. Ilmu pendidikan atau psikologi, menyebutnya aspek afeksi. Salah satu aspek emosi atau afeksi yang pelu ditunjukkan oleh seorang muslim yaitu tawakal kepada Allah Swt Firman Allah dalam Surat Anfal, yaitu, ….dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.. Pada sisi lain, menangis pun lebih cocok disebut sebagai reaksi emosional daripada sebagai amalan hati.
Aspek ketiga, atau kelanjutan dari afeksi yaitu syariah. Hal ini berbeda dengan aspek afeksi. Kalau afeksi mengarah pada respon-respon emosional terhadap sesuatu. Sedangkan aspek syariah ini adalah bentuk perilaku yang terkait dengan usaha pembentukan tatanan sosial atau hukum. Seorang muslim tidak cukup hanya mengaku beriman dan sabar, tanpa ditandai dengan kesadarannnya untuk menjalankan perintah Allah Swt. Pada surat Anfal itu, ditunjukkan dengan pernyataan…….(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat….
Dalam perspektif hukum Islam, shalat adalah kunci utama tegaknya syariah dalam diri individu, dan tegakkanya agama dalam sistem sosial Islam. Shalat itu adalah tiang agama. Ketika shalatnya baik, maka baiklah agama, dan ketika shalatnya rusak makal rusaklah sistem sosial tersebut.
Dari perspektif ini, kesalehan seseorang tidak cukup dengan penguatan aspek amalan hati atau emosi. Seorang muslim berkewajiban untuk mampu menunjukkan diri sebagai orang yang taat hukum. Ketaatan terhadap syariah (hukum), menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Tidak ada kesalehan tanpa amalan-syari. Tidak ada kesalehan hidup manusia tanpa didukung kesadarannya untuk berpartisipasi dalam menegakkan aturan hidup (social order).
Taat syari sama dengan sadar hukum. Negara modern adalah negara berdasarkan hukum. Dengan kata lain, seorang muslim adalah orang yang sadar hukum dan taat hukum. Inilah bagian aktual dari spiritualitas seorang muslim.
Terakhir, yang menjadi perhatikan kita ini, yaitu perlunya keimanan itu terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Aspek muamalah atau aspek sosial-ekonomi menjadi sangat penting dalam mendukung usaha pembangunan peradaban Islam dan atau penguatan keimanan seseorang. Allah Swt., berfirman, …. dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka..
Sebagai penutup, kemudian Allah Swt menegaskan, Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. (Qs. Al-Anfal : 4.)

Refleksi Penutup
Dari uraian tersebut, jelas sudah bagi kita, khususnya dari perspektif penulis, bahwa keimanan seorang muslim tidak cukup sekedar meneteskan air mata. Training hanya pengkondisian awal mengenai gerak batin. Menangis adalah amalan emosi terhadap apa yang pernah, sedang dan akan terjadi. Tetapi amalan emosi itu, selain harus dipadukan dengan amalan batin dan legal serta aspek sosial ekonomi.

Advertisements