Dengan memahami konsep dampak sistemik ? adakah sebuah perbuatan yang berdamak sistemik? dalam kaitan inilah, ulasan ini akan berusaha untuk merenungkan beberapa hal yang terkait dengan dampak sistemik, amalan sistemik dan atau dosa sistemik ?

Di musim hujan ini, tidak jarang kita disibukkan oleh banjir di rumah kita akibat genting yang bocor. Kejadian genting bocor ini, kendatipun satu buah genting, atau malah lubangnya kecil, namun cucuran air hujan yang masuk ke kelas kita, atau rumah kita, menyebabkan banyak hal yang rusak. Mulai dari atap rumah, meja kursi yang terkena air hujan, dan lantai kotor. Semua hal itu, diakibatkan oleh kebocoran kecil yang ada di atap rumah kita.

Hidup bermasyarakat itu, dalam konsep Quran tidak jauh berbeda dengan bangunan. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt, Innallaha yuhibbuna ladzi yuqotiluna fi sabilihi soffan, ka-anahum bunyanum marshush.

Oleh karena itu, dengan memperhatikan dan atau mempelajari bangunan yang bocor itu, kita dituntun untuk menemukan pelajaran penting yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hadirin yang berbahagia,

Sekali lagi, perlu ditegaskan, andai rumah tersebut diartikan sekolah atau madrasah, setidaknya kita menemukan ada lima pelajaran penting bagi kita saat ini.

Pertama, jangan sekali-kali mentolelir atau membiarkan kebocoran atap. Sekecil apapun kebocoran, harus segera diperbaiki. Karena kebocoran kecil itu, ternyata berdampak besar bagi kondisi rumah kita secara keseluruhan. Karena bocor sedikit, banyak hal yang rusak karenanya.

Sudah banyak contoh dalam hidup ini, orang mengalami kegagalan gara-gara masalah kecil. Saat makan, kita merasa sakit tenggorokan, bukan karena tertusuk tulang kaki sapi, tetapi malah oleh duri ikan yang kecil.

Gara-gara Facebook, seorang pelajar SMA gantung diri. Achmad Idris (16), siswa kelas 1 SMA itu ditemukan dalam posisi gantung diri di salah satu kandang kambing milik keluarganya di Desa Sidojangkung, Menganti, Gresik, sekira pukul 04.30 WIB.

Berdasar laporan polisi, Minggu (19/7/2009), korban diduga kecewa berat karena dibelikan telepon genggam (HP) tidak sesuai dengan harapannya. Ceritanya, sebelum ditemukan tewas gantung diri, korban minta dibelikan HP kepada ibunya, Juliyah. Namun, HP merek Nokia seharga Rp800 ribu itu ditolak karena tidak memiliki fitur jejaring sosial facebook. Dia meminta HP itu dikembalikan, namun ibunya menolak. Penolakan ini berbuntut kenekatan korban melakukan bunuh diri.

Oleh karena itu, masalah keci jangan dibiarkan, karena dia bisa menjadi masalah besar bagi kita, dan masalah besar jangan dianggap kecil, karena itu akan menjadi ciri kecerobohan kita.

Kedua, apapun kualitasnya, kita perlu memperhatikan dan merawat apa yang kita miliki. Kalau tidak dirawat, sebaik apapun kualitas genting rumah kita, atau kualitas bangunan rumah kita suatu saat akan mengalami kerusakan.

Kekayaan yang dimiliki manusia itu, selain rumah, adalah tubuh manusia, otak manusia, dan juga keimanan. Terkait dengan masalah keimanan ini, Rasulullah Muhammad Saw bersabda, bahwa iman seorang muslim itu yazid wa yanqush. Tanpa ada perhatian atau pemeliharaan, nanti kita dikagetkan oleh sesuatu yang telah parah, karena ternyata genting rumah kita sudah bocor. Oleh karena itu, jangan biarkan iman kita rusak, atau mengalami penurunan. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan dan merawatnya.

Ketiga, setiap diantara kita harus memahami fungsi masing-masing. Dimanapun posisi kita, mau diatas atau dibawah, di depan atau di belakang, kita harus paham mengenai posisi kita sesungguhnya. Genting adalah bagian rumah yang berfungsi untuk menaungi benda-benda yang ada di bawahnya.

Terhadap bagian rumah yang rusak, bisa dilakukan perbaikan atau penggantian. taubat adalah cara utama dalam memperbaiki kebocoran-kebocoran perilaku atau amal perbuatan manusia.

Keempat, peristiwa itu pun menunjukkan bahwa untuk menciptakan rumah yang indah, membutuhkan peran dari semua pihak. Tetapi, untuk merusak rumah, cukup satu buah genting saja bocor, maka rusaklah bangunan tersebut. Hal ini memberikan gambaran kepada kita, bahwa untuk membangun madrasah yang berkualitas, perlu partisipasi dari semua pihak. Tidak terkecuali.

Al-Quran menyebutnya dengan istilah yasudhu badhumum badha. Antara satu dengan yang lainnya, berperan saling mendukung dan saling mengokohkan.

Membangun rumah yang baik, semua bahan harus baik. tetapi untuk menghancurkan sebuah rumah, cukup satu tiang saja yang buruk, maka rumah itu akan dengan mudah runtuh.

Perhatikan bagaimana kekuatan Koin Prita dalam membangun kekuatan untuk melawan keputusan hukum terkait dengan OMNI Internasional. Rakyat kecil (koin) bersatu, dan akhirnya Prita dibebaskan.

Hadirin yang berbahagia,

Meminjam istilah yang lagi ngetrend di DPR, khususnya yang tengah membahas kasus Century, pelajaran penting dari kisah rumah bocor itu adalah pentingnya kita memahami mengenai perbedaan antara kerusakan sistemik dan tidak sistemik.

Apa yang dimaksud dengan kerusakan sistemik itu ? kerusakan sistemik itu artinya kerusakan yang bisa berdampak luas pada seluruh bangunan yang lainnya. Mirip dengan bocornya genting rumah kita. Karena rusak genting, maka rusaklah sebagian besar dari bangunan rumah. Karena akibat nila setitik rusak susu sebelanga.

Oleh karena itu, pelajaran kelima dari kisah kebanjiran di rumah kita ini, yaitu seorang muslim harus cerdas menentukan dan mengantisipasi kemungkinan adanya kerusakan yang sifatnya sistemik. Jangan biarkan, kerusakan-kerusakan yang potensial menyebabkan kita mengalami kerusakan sistemik.

Dalam hidup kita, sebagai seorang muslim ini, perlu menghindari hal-hal yang sifatnya dosa sistemik. Yang kita maksud dengan dosa sistemik yaitu satu perbuatan dosa yang bisa menyebabkan kerusakan pada aspek-aspek lainnya. Mirip dengan rusaknya genting yang bocor tadi, kemudian ternyata berdampak buruk pada atap rumah, barang-barang di dalam rumah, dan lantai, bahkan aktivitas kita pun terhadap karenanya.

Ada beberapa dosa yang dikategorikan dosa sistemik. Misalnya, berdusta. Dalam ilmu psikologi, dusta memiliki sifat yang berlipat. Sekali berdusta, maka dia akan berusaha menutup dusta itu dengan dusta-dusta yang lainnya. Dusta adalah dosa sistemik yang bisa berdampak buruk pada aspek lain.

Pantas jika Allah Swt., menyebut perbuatan dusta sebagai perbuatan dzalim. Sebagaimana yang diterakan dalam Asg Shaf ayat 7 : Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.

Begitu pula dengan narkoba atau minuman keras. Karena mengkonsumsi minuman keras, selain kesehatan kita terganggu, mental pun terganggu. Tidak jarang, karena telah mengkonsumsi minuman keras, orang tersebut kemudian mencuri, berbuat kriminal dan atau yang lainnya.

Perbuatan kita akan menjadi dosa sistemik, jika perbuatan itu dilakukan secara sadar. Karena perbuatan yang dilakukan secara, akan menjadi kebiasaan. Dan kalai sudah menjadi kebiasaan, dimanapun dan kapanpun orang akan melakukan perbuatan dosa.

Hadirin yang berbahagia,

Dalam benak kita, mungkin ada pertanyaan, bila ada dosa sistemik apakah ada dosa yang tidak sistemik ? jawabannya ada. Perbuatan dosa karena terpaksa, tidak sistemik.

Rusak cat rumah di dinding bagian dalam rumah, tidaklah bersifat sistemik. Tidak akan merusak kekuatan kekokohan bangunan rumah kita. Walaupun tetap mengurangi keindahannya. Namun kerusakan cat rumah itu tidaklah bersifat sistemik. Begitu pula dengan dosa yang dilakukan secara terpaksa.

Sebagai penutup, bagaimana kita merancang amal perbuatan shaleh yang sistemik ? Catatan dari Rasulullah Muhammad Saw, Islam memiliki banyak amalan yang bersifat sistemik. Misalnya, Anak shaleh, ilmu bermanfaat, dan amal jariah, serta amalan di bulan ramadhan. Seluruh amalan itu, selain bernilai pahala berlipat, juga berdampak luas. Bukan hanya pada diri sendiri, tetapi pada orang lain pula.

Advertisements