Suasana temaram mulai terasa. Dingginnya malam pun terus menyapa kulit siapapun yang hadir dalam bis itu. Tidak ada AC. Bis ini adalah bis ekonomi, dengan tariff umum atau tariff rakyat kecil. Oleh karena itu, tidak ber-AC.

namun, suasana dan atmosfer malam memaksa siapapun penumpang yang hadir di bis tersebut, harus turut merasakan mulai mendinginnya ruangan. Ya, dingginnya malam sudah mulai banyak dirasakan.

Dalam amatan sepintas, terlihat jelas kamu duduk di bangku ketiga dari belakang, dan hampir mendekati pintu masuk kendaraan tersebut. tak urung, suasana itu membuat angina sore kian menusuk ke dalam pori-porimu.

Sebenarnya sudah mulai curiga. Selama kamu duduk di bangku itu, bertiga dengan rekan dalam bangkumu, tetap santai. Tidak bergeming. Leher kepalamu, kadang bergerak ke kanan, ke kiri, kanan kiri. Antara ngantuk dengan rasa kedinginan, bercampur baur. Namun matamu tak juga mau terlelap.
Bukan tidak mau tidur. Ngantuk sudah sangat terasa. Dan kelopak matamu kelihat sudah sangat menebal. Namun hal yang pasti, matamu kelihatannya sangat terganggu oleh hilir mudiknya seorang ibu muda yang sesekali ada dibelakang jokmu, sesekali pindah ke depan, dan terakhir ada disamping jokmu. Berpakai hitam dan celana setungkai. Dia duduk di bangku dua yang ditinggalkan penumpang beberapa waktu sebelumnya.
Dengan menggunakan sudut mata, sesekali kamu memperhatikan si ibu muda itu. Rambut panjang, hitam, dan keriting creambat. Keadaan rambut tidak rapih seperti jalnya orang yang baru pulang dari salon. Tidak. Rambut itu terurai, bahkan sesekali kepalanya mengibas-ibaskan rambut poni yang ada dikeningnya. Matanya yang kelihatan pake celak, bergerak lincah ke sana ke mari. Bibirnya yang sedikit memerah pun sekelai menebar pesona ke abang konektur.
Ponsel yang ada ditangannya dikeluarkan, kemudian memainkan sebuah game yang ada didalamnya. Dengan kaki yang diangkat ke atas jok, maka betisnya pun tampak kasat mata. Dari pancaran cahaa ponsel itulah, separuh wajahnya tampak oleh orang dari kejauhan. Termasuk oleh si abang konektur.
Ehhhhh. Kenapa ke sini… tegurnya, ketika si abang konektur nyamperin ke jok tersebut. Sementara kamu hanya melirik dengan sudut matamu sendiri. Kamu tahu dan kamu nyadar, bahwa dia adalah konektur dan dia adalah pemilik mobil ini. Jadi kamu tak banyak bicara. Lagi pula, bukankah hukum di bis itu, siapapun boleh duduk dimanapun, asalah dia mau banyar sewa kursi ? maka, kamu pun tak bisa protes, karena memang kursi disamping si ibu muda itu masih kosong.
Ah..ngantuk…jawab si konektur. Sambil geleng-geleng manja disampingnya.
Ngantuk…ngantuk kentut….jawabnya, ngomong aja mau duduk di sini..? mendengar jawaban itu, sang konektur malah tambah berani.
emang mau kemana…?
Kedawung.
dengan siapa.?
Anak.
Tak di sangka, beberapa menit kemudian ada seorang gadis mungil berjalan dari arah depan menuju kursi itu.Mah, mah…, saya pingin minum? katanya sambil mencari-cari orang yang dipanggilnya mamah tersebut. Melihat gelagat itu, sang konektur langsung merunduk pura-pura tidur. Si anak pun tak hirau pada lelaki yang ada disamping orang yang dipanggilnya mamah. Setelah mendapatkan air minum, kemudian dia kembali ke kursi depan dekat supir bis.
anakmu?.
Ya.
bapaknya dimana ?
di arab…he..he.. sambil cekikikan.
di arab?
ya kali. Ga tahu ah…gak tahu dimana. Sambil dirinya memainkan game yang ada dihapenya. Entah di sengaja atau tidak, saat bermain game itu, kaki sang itu itu bergerak dan kemudian menyentuh paha sang konektur. geser atuh dikit, sempit..sambil cekikikan manja. Mendengar tingkah seperti itu, sang konektur tambah berani.
tolong-tolong, samir. Tolongin saya.si konektur gelo ni ujarnya agak keras, si ibu muda menjerit-jerit. Mendengar orang tolong-tolongan begitu, sontak banyak orang kaget dan terbangun dari tidur atau lamunannya. Kamu pun sempat tergugah. Tapi, karena yang minta tolong sambil cekikikan, maka orang-orang yang dibelakang pun malah tertawa. eh..noel lagi, lima puluh ribu tahu bayar sama gua?…
ohh gitu, gampang. Timpas kata dua orang itu memancing komentar dari orang lain.
Awassi konektur sudah tiga hari itu?
wah…sudah berat banget kayaknya….
kental kali
Mendengar ocehan seperti itu, si ibu mudah malah meningkatkan kemanjaan. Sang konektur pun terus bertingkah. Tak ayal lagi, Ibu muda sempat menjerit dengan penuh ceria, ketika sang konektur menyengaja merebahkan tubuhnya dipangkuannya.
aduh….kejepit tahu… katanya.
Mendengar, melihat dan memperhatikan perilaku orang yang ada disampingmu itu, kamu kelihatan agak gelisah. Kamu gelisah. Sementara rekan-rekan di sekitar kamu, dan dibelakangmu menganggap kejadian itu hanya permainan belaka. Ya, permainan seorang kenektur di atas bis.
jam berapa ni… tanya konektur ke temennya, wah sudah malem, jawabnya sendiri setelah melihat jam yang ada ditangannya. Ah, gak akan pulang saya mah….katanya?
terus mau kemana? tanya si ibu muda.
ke kedawung..jawabnya polos. Mendengar jawaban itu, si ibu muda mencibir sambil menggenitkan diri.boleh kan ? tanyanya.
ya boleh…. jawabnya. biar cepet…jawabannya !? ujarnya lagi.
Sekali lagi, kamu pun kelihatannya agak termenung. Bukan memikirkan maksud dari jawaban si ibu muda. Tetapi, pikiranmu malah melayang ke pengalaman beberapa waktu lalu, ketika ada perempuan yang naik di daerah pintu tol di tangerang.
Permainanya sama. Sang konektur bermain. Ketika ada seorang ibu muda. Tampilannya tampak cantik, atau lebih tepatnya menor. Tangan dan bahu tampak terbuka. Kulit cukup menarik. Hitam tidak, putih pun tidak. Namun kulit itu menarik aura mata lelaki yang melihatnya.
Hebatnya lagi, ketika kamu melihat si ibu naik ke bis yang kamu tumpangi, diapun duduk di belakangmu. Tidak kelihatan apa yang dia lakukan, namun telingamu tidak bisa ditutupnya.
Dari mana Teh…
Mana, biasanya berdua ?
lagi sepi ?
Pertanyaan itu, terus mengalir ke sana kemari. Sehingga siapapun yang mendengarnya, akan punya kesimpulan bahwa si konektur sudah tahu banyak mengenai aktivitas sang ibu itu.
ya, nanti saya lapor ke depan. Sekarang mah duduk saja, biar diantar pulang. Pesan sang konektur kepadanya. Dan pesan itu, dijawabnya dengan senyuman dari sang ibu muda. Hebatnya beliau ini, kamu lihat sendiri, dari awal sampai hendak turun, tak ada uang sepeser pun yang dikeluarkan.
gratis…biar bisa gratis. Ucap sang konektur.

-o0o-

Kisah itu mengingatkan kita tentang selingkuh atau perselingkuhan. Namun ada hal yang menarik, dan perlu dijelaskan di sini. Ternyata, kita memang sangat mudah menyebut kata selingkuh, namun kita kerap mengalami kesulitan untuk menunjukkan bentuk nyata dari selingkuh. Artinya, apakah perilaku si konektur itu sudah dikategorikan sebagai tindakan selingkuh ?
Jawabannya bisa, Ya, dan bisa juga Tidak. bergantung kita menjelaskannya. Hanya untuk mempermudah kita memahami perilaku yang terjadi di sekitar kita, ternyata kita menemukan ada perilaku yang tidak bisa disebut tindakan perselingkuhan.
Dalam konteks ini, saya ingin menjelaskan bahwa yang disebut selingkuh itu adalah menjalin komitmen dengan pihak selain dengan orang yang telah bersepakat sebelumnya. Dari batasna yang dikemukakan tersebut, ada dua ukuran untuk menentukan seseorang disebut melakukan tindak-sosial selingkuh atau tidak, yaitu komitmen dan ijin. Komitmen itu adalah adanya perjanjian antara dua belah pihak untuk memberikan hak dan kewajiban. Lamanya waktu komitmen tidak tentu, bisa satu jam, satu hari bisa satu bulan atau lebih. Sedangkan izin, adalah pemberian kewenangan dari pemilik komitmen yang pertama (baca ; istri/suami). Bila kedua aspek ini, tidak terpenuhi maka tindakan tersebut tidak termasuk selingkuh.
Nanin sudah berjanji dengan Ajat untuk membangun keluarga di kampungnya. Ini adalah komitmen Nanin-Ajat. Karena Ajat bekerja sebagai konekter kemudian dia sering bertemu wanita lain, yang menjadi penumpangnya, bahkan karena trajek bis yang ditumpangi Ajat adalah jarak jauh yaitu antar kota antar propinsi maka kadang Ajat pun nginep di terminal. Dari bermasalah dan menjadi pikiran dalam keluarga, Nanin memberi izin kepada suaminya. boleh jajan, tapi jangan dikawin, dan jangan merusak resiko hidup keluarga. Ketika persyaratan Nanin diterima, maka ketika Ajat menjalin hubungan dengan wanita lain– seperti yang dicontohkan dalam kisah itu, bukanlah selingkuh. Alasannya sangat jelas, karena jajan-nya itu diizinkan oleh sang istri. Konsep sosiologis yang sudah banyak dikenal masyarakat dan cocok dalam menggambarkan perilaku itu, yakni prostitusi.
Kejadian ini akan sangat berbeda bila melihat ada perilaku yang ada komitmen dan tidak ada izin. Ajat menjalin komitmen dengan Reina, tanpa izin dari Nanin. Maka perjanjiannya itu adalah selingkuh dari Nanin. Hemat kata, seseorang disebut selingkuh, karena dia menjalin komitmen dengan orang lain, dan tidak ada izin dari pemegang komitmen sebelumnya. Seorang suami disebut selingkuh, karena dia menjalin asmara dan komitmen dengan perempuan lain selain istrinya. Begitu pula sebaliknya, seorang istri disebut selingkuh karena menjalin komunikasi dengan laki selain suaminya.

  • Advertisements