Sudah sering dan teramat sering, kita melihat ada pengamen dalam bis. Saya akan sepakat, bila melihat kenyataan itu kemudian kamu mengatakan bahwa tidak ada bis kota di Indonesia yang tidak ada pengamen. Dimana ada bis kota, di situ ada pengamen. Kira-kira begitulah, slogan hidupmu yang pernah disampaikan padaku.

penyair-jalanan1

Tetapi berbicara soal pengamen ini, kamu melihat satu gambaran baru yang tidak biasanya. Kali ini. Kamu melihat, mendengar dan merasa ada sesuatu yang berbeda dari penampilan seorang pengamen.
Dari belakangmu dia muncul. Lebih tepat dari bangku yang paling belakang. Posisi kamu, waktu itu masih tetap ada di bangku ketiga paling belakang,dan sangat dekat dengan pintu bis belakang. Dari bangku belakang itulah, seorang pemuda kerempeng, berbaju hitam dengan kaos merah di dalamnya. Kepala yang berrambut gondrong itu,dibalut dengan ikat kepala bak seorang jawara.
mohon maaf pak supir, bapak kondektur dan juga penumpang sekalian.
Saya adalah pengamen jalanan. Tetapi sekali lagi, saya mohon maaf, saya ngamen tetapi tidak punya gitar. Maklum gitar, beberapa hari lalu dirampas sama bapa polisi.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, saya akan ngamen dengan puisi atau prosa.

Setelah mengemukakan pembukaan tersebut, diapun menghela napas panjang, merunduk, dan kemudian menegadahkan wajahnya dan menatap orang-orang yang ada dalam bis tersebut. Tetap matanya yang sedikit sayup itu, menerpa pula kematamu. Karena berbenturan cahaya mata denganmu, kamu malah merunduk dan memalingkan muka.

Baiklah. Saya akan bercerita tentang bangsa ini.
Enam puluh empat tahun, negeri ini sudah merdeka. Enam puluh empat tahun, bangsa kiat sudah proklamasi. Selama enam puluh empat itulah, kita diikat dan disatukan oleh lambang negara kita burung garuda, dengan gada yang ada di dada garu.

Bapak ibu.. dalam perisai yang ada dalam dada burung garuda itu, terdapat simbol atau makna-makna sila pancasila yang menjadi dasar negara bangsa kita.

Pertama, ketuhanan yang Mahaesa. Namun demikian, masjid banyak yang hangus, dan gereja yang dibakar. Atas nama agama, mereka mencaci agama orang lain, dan membakar tempat tinggalnya. Pertanyaannya, dimana rasa ketuhanan mereka ? atas nama tuhan, mereka membakar rumah tuhan sendiri.

Kedua, ungkapnya lagi, kemanusiaan yang adil dan beradab

Mendengar dia menyebut sila kedua, kamu kelihatan serius untuk menyimaknya. Lumayan, kuliah gratis. gumammu waktu itu. Sambil memasang telinga untuk mendengar perkuliahan itu, kamu pun kelihatan senyum dan atau sumringah mendengar uraian yang kritis dan juga lucu.

Mau adil bagaimana, mencuri kakao tiga biji dihukum sebulan setengah, sedangkan korupsi 6,7 Trilyun malah akan dibebaskan. Adil dan beradab bagaiaman, jika seorang nenek kecil yang butuh makan dipenjara dengan sadis, sedangkan yang kaya bisa berlenggang kangukung.

Ketiga. Kerakyatan yang dipimpin… ujarnya tanpa dilanjutnya. Dipimpin oleh siapa ? oleh pencuri, koruptor atau siapa. Ini yang tidak pernah rakyat tahu dan rasakan dengan baik.

Karena memang waktu perjalanan cukup kencang, dan bis pun melaju deras tanpa henti, tidak terasa pintu tol pun telah sampai juga. Maka, sang pendong itu pun menghentikan pembahasannya. Dengan ucapan permohonan maaf, kemudian dia pun mengelilingkan topinya, sambil berharap ada uang lebih dari si penumpang. Kamu pun, menitipkan uang kertas seribuan ke atas topi yang pendongeng tersebut.

-o0o-

Ada yang menarik dari pengalaman tersebut. Ini mungkin tidak terpikir, atau malah tidak dipikirkan oleh para pejabat. Perilaku sang pengamen itu, jelas-jelas sudah bukan sebagai pengamen tok. Dia, dan atau orang seperti itu, bukanlah pengamen. Mereka adalah pengajar, pendidik dan pencerah kepada para penumpang. Mau tidak mau, disadari atau tidak, para pengamen itu sudah memainkan posisi dirinya, baik sebagai entertain di atas bis, dan juga berposisi sebagai guru bagi para penumpangnya.

Dalam waktu yang cukup panjang, dan bila dilihat dari kerangka umum, maka posisi pengamen itu sangat-sangat jelas. Coba bayangkan, bila seribu pengamen bergerak, dan menyampaikan pesan yang dikemukakan di atas, berapa ratus penduduk Indonesia yang mendapat penjelasan mengenai makna dibalik sila-sila Pancasila. Bila dalam satu bis ada 60 orang, maka sudah 60.000 rakyat Indonesia mendapat penjelasan mengenai makna sila-sila dalam Pancasila.

Sebuah kekuatan yang dahsyat bagi sebuah rencana di masa depan. Artinya, siapapun kita, kalau kita mau memanfaatkan peran dan posisi pengamen intelek ini, akan dapat memanfaatkannya secara maksimal. Bila pengamen itu disetting menjadi provokator, maka jangan disalahkan bila dalam beberapa jam berikutnya, dapat terjadi demo besar-besaran. Rakyat yang bergerak itu, adalah mereka yang tercekoki dengan penjelasan yang provokator. Begitu sebaliknya.

Gaya pengamen seperti itu, muncul pula dalam bentuk syair. Syair yang dilantunkan para pengamen, sering bermuatan dengan kritik sosial dan kritik politis kepada bangsa dan negara ini. Isu korupsi dan/atau ketimpangan sosial, merupakan menu yang banyak disenangi oleh para pengamen. Kritikan yang dikemukakannya pun, kadang sangat kritis lebih dari ilmuwan atau guru di depan kelas.

Kita memang prihatin. Di rumah, rakyat kecil kita dididik oleh televisi atau radio. Setiap saat, bahkan detik, para guru media itu memberikan penjelasan dan contoh kepada para penontonnya. Mulai dari cara berbaju, sampai pada mencari jodoh. Semua hal itu, dapat kita saksikan dan dapatkan dari media elektronik.
Para pendidik ini akan digenapkan dengan para pengamen yang ada di atas bis. Di dalam bis inilah, mereka memosisikan diri sebagai penceramah, dosen, guru, atau ulama yang menjelaskan mengenai falasag bangsa dan politik di negeri kita ini.
Inilah kenyataan hidup kita saat ini, pengamen adalah penghiburku, sekaligus guruku !!!

Advertisements