Setiap hari kita melakukan sesuatu. Tanpa kita sadari, bahwa tindakan kita atau perilaku kita, sesungguhnya merupakan cermin tentang masa depan kita. Banyak diantara kita yang alpa, bahwa masa depan itu sesungguhnya bisa diamati dari berbagai perilaku, atau tindakan yang kita lakukan saat ini.


Bagi kalangan ekonomi, tindakan atau perilaku manusia, ibarat tabungan atau deposito. Apa yang kita lakukan, sesungguhnya cicilan tabungan mengenai masa depan. Jumlah tabungan di masa depan, merupakan jumlah cicilan yang kita tabung dari hari-hari di masa lampau.

Bagi ahli arsitektur, tindakan atau perilaku manusia saat ini, adalah batu bata yang menjadi fondasi bangun di bagian atas. Kerapuhan batu bata yang kita pasang saat ini, akan menjadi bagian bangunan yang rapuh ketika bangunan itu sudah berdiri.

Sadi, seorang sastrawan Persia berujar, hidup ini ibarat pohon. Kalau saja, pohon itu memiliki akar yang kuat, maka akan sulit untuk dicabut, bahkan oleh bulldozer sekalipun. Sedangkan, bila pohon itu memiliki akar yang rapuh, akan mudah tercerabut dari lahannya, kendati pun hanya oleh angin yang sepoi-sepoi.

Perlu ditegaskan di sini, akar yang ada pada tumbuhan itu, sudah tentu lahir dan tumbuh sejak dini, seiring dengan pertumbuhan pohon tersebut. oleh karena itu pula, hati-hatilah dengan perilaku dan tindakan kita, karena semua hal itu, akan menjadi akar kehidupan kita di masa depan.

Pandangan ini pun, sejalan dengan pandangan para pendidik. Dari kalangan pendidikan mengatakan bahwa kegigihan belajar pada saat ini, adalah benih atau akar yang akan memberikan buah kearifan dan kebijakan di hari esok.

Sedangkan bila dikaitkan dengan pandangan ahli kesehatan, mereka mengatrakan bahwa tindakan kita saat ini, perbuatan kita saat ini, budaya makan kita saat, kebiasaan mencari rijki saat ini, adalah gambaran kesehatan kita di hari esok. Bila semua hal tadi kurang sehat, sesungguhnya sama dengan kita sedang mengumpulkan sedikit demi sedikit penyakit, yang kelak akan dirasakan secara bersamaan. Begitu pula sebaliknya, bila saat ini kita membiasakan diri berbuat sesuatu yang baik, sama dengan tengah mewujudkan tubuh sehat dengan jiwa yang sehat di hari esok.

Penyakit, penderitaan atau kesengsaraan yang dirasakan dalam hidup ini, sesungguhnya ada dua kemungkinan.

Pertama, ada penyakit yang datang seketika, dan tidak diduga-duga. Seperti musibah atau bencana alam. Terhadap hal ini, setiap diantara kita sulit untuk menduga kehadirannya. Kita sebut terduga, karena secara teknik kita tidak melakukan hal-hal yang mengarah pada bencana tersebut. sudah hati-hati di jalan, eh..malah tertabrak oleh kendaraan orang lain yang sedang mabuk-mabukan.

Di lain pihak ada penyakit hasil dari akumulasi perbuatan kita sendiri. Orang yang stress, struk, dan atau yang lainnya, adalah penyakit yang disebabkan karena pengumpulan bibit-bibit penyakit oleh dirinya sendiri. Apa yang tengah dirasakan oleh para koruptor saat ini, dengan menghadapi berbagai kasus dan tuduhan, hingga pemenjaraannya, merupakan buah dari pekerjaannya di masa lalu, yang dia sudah tabung sendiri.

Ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan dari paparan tersebut.

Pertama, hati-hatilah dengan tindakan, perbuatan atau kebiasaan diri hari ini. Karena semua hal itu, akan menjadi cermin, atau bayangan awal mengenai masa depan. Bila hari ini, kebiasaan kita lebih banyak mengumpulkan bibit kesengsaraan, maka di hari esok akan kita menuai penderitaan panjang.

Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. (Qs. Zukhruf : 72)

Selama ini kita sering khilap. Kita seringkali menganggap bahwa perbuatan kita saat ini, tidak ada kaitannya dengan hari esok, dan perbuatan kita di hari esok akan dapat dengan mudah diubah seketika.

Padahal, bila kita melakukan sesuatu sekali, mungkin itu adalah kekhilapan. Tetapi bila hal itu dilakukan, maka itu sudah menjadi kebiasaan. Sedangkan, seluruh kebiasaan yang kita miliki, akan menjadi potret masa depan kita sendiri. Kebiasaan yang sudah menjadi bagian dari minat dan bakatnya, maka itu akan menjadi karakter. Bila sudah demikian, jauh akan lebih sulit mengubah karakter yang sudah mendarahdaging dibandingkan dengan kita merintis hal-hal baik sedari dini.

Kedua, hati-hatilah dengan tindakan, perbuatan atau kebiasaan diri hari ini. Karena tindakan kita hari ini, potensial atau bertolak belakang dengan masa depan kita. Bila di masa muda kita bersantai-santai ria, di hari tua kita akan bekerja keras. Bila di masa muda kita bekerja keras, maka dihari tua kita bersenang ria.

Di masa muda gembira riang, hari tua harus banting tulang.
Di masa muda berseri-seri, hari tua bekerja keras untuk sesuap nasi
Kalau masa muda, banyak senda gurau, hari tua penuh kacau balau
Masa muda berleha-leha, hari tua lelah luar biasa

Coba renungkan ! mengapa kita hari ini, masih melihat ada seorang kakek atau nenek yang terus bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari ? bisa jadi, mereka itu hadir di hadapan kita, karena dia adalah salah satu contoh figure yang hidup santai di masa muda, dan kerja keras di masa muda !!

Ketiga, hati-hatilah dengan dengan tindakan, perbuatan atau kebiasaan diri hari ini. Karena tindakan kita akan berimbas pada diri kita sendiri. Orang yang berbuat hanya untuk kepentingan diri sendiri, hanya dinikmati dan dikenal oleh dirinya sendiri, dan orang lain melupakannya. Sedangkan orang yang berbuat dan bermanfaat bagi orang lain, akan dinikmatinya, baik oleh diri sendiri dan juga orang lain.

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, Maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, Maka itu akan menimpa dirinya sendiri, Kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (Qs. AL-Jatsiyah : 15)

Pada bagian inilah, pahlawan nasional adalah orang yang telah menunjukkan darma baktinya kepada bangsa dan Negara, dan di kenang oleh berbagai kalangan. Sedangkan sebagian besar rakyat, yang hanya menyelamatkan diri dan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, hanya dikenang oleh dirinya sendiri.

Terkait dengan bulan november ini, bangsa kita memperihati hari besar nasional yang disebut dengan hari Pahlawan.
Penghargaan kepahlawanan ini, merupakan bukti nyata bahwa naluri manusia tidak akan bisa mengingkari terhadap peran dan sumbangsih orang lain. Orang yang berjasa bagi masyarakat, mereka akan mendapat posisi terhormat di masyarakat.

Hal ini pun sejalan dengan ajaran Islam. Bahwa seluruh perbuatan manusia, akan senantiasa tercatat dalam Kitab Amal manusia yang ada di sisi Allah Swt. Prinsip seperti itu, sama seperti Firaun berdialog dengan nabi Musa yang menanyakan keadaan umat terdahulu.

Musa menjawab: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa; (Qs. Ath-Thoha : 52)

Kesimpulan sederhana dari paparan kita hari ini, adalah hati-hatilah dengan perkataan, perbuatan atau tindakan kita saat ini. Karena apapun yang kita lakukan saat ini, bila dilakukan berulang-ulang maka dia akan semakin mengental dan membeku, dan kemudian menjadi potret hidup anda di masa depan.

Hadirin. Jangan-jangan yang disebut takdir itu adalah buah akhir dari apa yang kita lakukan saat ini. Tetapi, selain hak prerogative ilahi, takdir di masa depan itu, ada sumbangsing dari perilaku kita sendiri.

Terima kasih.
Billahi taufiq wal hidayah, wassalamu alaikum wr. Wb.

Advertisements