Dari ibnu Abbas RA, ia berkata, Seorang Arab dusun datang kepada Rasulullah SAW, lalu ia bertanya kepada Rasulullah:apakah yang (baik) aku minta kepada Allah setelah selesai melakukan sholat lima waktu? rasulullah menjawab mintalah kesehatan. orang Arab dusun itu masih tetap mengulangi pertanyannya. Maka untuk yang ketiga kalinya Rasulullah mengatakan ; mintalah kesehatan di dunia dan di akherat.


Hal ini memberikan gambaran bahwa selain masalah keimanan kepada Tuhan Yang Mahaesa, Islam memberikan perhatian yang seksama terhadap masalah kesehatan. Apapun aspek dan dimenasinya. Hal yang sudah pasti, adalah sehat dan kesehatan adalah kebutuhan manusia seletah dirinya memiliki sikap kehambaan kepada Tuhan.
Hubungan kesehatan dengan peribadahan ini sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Karena masalah kesehatan, peribadahan bisa dikurangi kualitas atau kuantitasnya, dan karena alasan kesehatan kewajiban ibadah pun bisa gugur. Dengan kata lain, kebutuhan kesehatan merupakan bagian penting dan malah menjadi soko utama dalam dalam proses ibadah.
Sayangnya, kita dan masyarakat kita, kebanyakan tidak sadar dan kadang kita memang tidak adil terhadap diri sendiri. Kalau kita merasa sakit jasmani, kita dengan sangat gesit, lincah dan serius untuk mencari dokter jasmani. Hanya karena untuk memulihkan kembali kesehatan jasmaniah, seseorang bisa mengorbankan harta, waktu dan juga karirnya sendiri. Bahkan, bila tak ada di tempat terdekat, kita pun mengejarnya ke tempat-tempat yang lebih modern di luar negeri.
Itulah perilaku kita saat ini. Kalau kita mengalami sakit jasmani, kita sungguh-sungguh mencari dokter jasmaniah. Kalau kita mengalami sakit intelektual, atau kurang cerdas, kita secara sungguh-sungguh mencari seorang guru artau profesor. Tetapi, bila kita mengalami sakit spiritual, moralitas kita yang lemah dan rendah, atau mental kita kita terpuruk, kemanakah kita pergi ? akankah kita sekeras itu usahanya ? dan hal yang lebih memprihatinkan lagi, apakah kita telah pergi ke dokter yang tepat ?, dan bila telah datang ke dokter yang tepat, apakah mereka menggunakan metode atau teknik spiritual yang tepat sesuai dengan penyakit manusia atau kemanusiaannya itu sendiri ?
Itulah pertanyaan-pertanyaan dasar yang kita dapat ajukan secara kritis terhadap kita semua. Sudah tentu, pertanyaan itu pun, perlu dialamatkan kepada saudara-saudara yang ada di lingkungan akademik ini.
Dari persoalan-persoalan tersebut, muncul sejumlah problem akademik yang perlu dijelaskan secara cermat. Pertama, kita membutuhkan adanya kecermatan dalam menjelaskan definisi sakit atau penyakit. Bila WHO menyebutkan bahwa yang disebut sehat itu adalah “a state of complete physical, mental, and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity. Dengan kata lain, kualitas manusia yang sehat itu mencakup aspek jasmani, mental dan sosial. Maka dapat kita katakan bahwa dunia sudah menyadari bahwa yang disebut sehat bagi manusia itu, adalah kualitas sehat yang utuh atau paripurna, mencakup seluruh aspek-aspek kemanusiaan.
Karena perkembangan teknologi kedokteran dan metode pelayanan kesehatan saat ini, berkembanglah metode dan teknik pelayanan atau perawatan kesehatan. Jenis penyakit tertentu ada petugas kesehatannya yang spesifik. Begitulah selanjutnya. Oleh karena itu, kegagalan kita dalam memahami identitas sakit, dapat menyebabkan salah-therapi. Misalnya saja, rasa sakit yang dideritanya sakit jasmani, malah datang ke dukun, atau yang lainnya.
Anomali perilaku masyarakat itulah, yang sempat terjadi di tengah-tengah kita selama ini. Kasus Ponari adalah salah satu contoh riil yang menunjukkan adanya deviasi pemahaman masyarakat terhadap identitas sakit dan tempat rujukan pelayanan kesehatannya. Kesalahan kita dalam memahami jenis penyakit, menyebabkan kita salah kaprah memahami jenis therapi yang ada di sekitar kita.
Selain itu, yang tidak kalah pentingnya lagi, yaitu akademisi perlu meningkatkan pendidikan dan pelatihan profesi dan atau kualitas profesi tenaga kesehatan. Seperti yang dikemukakan sebelumnya, selama ini, dan sampai saat ini, tenaga kesehatan masih didominasi oleh tenaga kesehatan untuk aspek jasmani. Dokter dan perawat yang ada, masih dominan untuk aspek perawatan kesehatan jasmaniah (physic), sedangkan untuk aspek psikologis dan spiritual, masih sangat jarang atau kurang populer dimanfaatkan oleh masyarakat kebanyakan.
Padahal, bila kita cermati dengan seksama, setiap gelombang perubahan dunia selalu diiringi oleh karakter penyakit masing-masing. Di era tradisional atau agriculture, jenis penyakit pun lebih banyak ke arah penyakit fisik-biologis. Seperti patah tulang, kegores, dan atau kutu air. Kemudian pada masa industrialisasi, ketika segala sesuatu diolah oleh manusia, dan manusia banyak mengkonsumsi hasil rekayasa manusia, penyakit yang muncul adalah penyakit yang disebabkan oleh gaya hidup dan pola makan, seperti malnutrisi atau gizi buruk.
Sedangkan, ketika kita memasuki era informasi, dan tingkat kompetisi yang tinggi, penyakit pun muncul yang bergaya modern. Mulai dari stroke, depresi, dan sindrom gedung atau ruangan. Pada era kompetitif ini, penyakit mental jauh lebih banyak ditemukan daripada penyakit yang bersifat jasmaniah atau penyakit tradisional (penyakit jadul).
Pada konteks inilah, kajian mengenai psikoterapi dan atau profesi kesehatan mental menjadi sangat penting. Dan karena itu pula, mewacanakan mengenai metode dan teknik psikoterapi Islami menjadi sangat penting untuk terus dibicarakan.
Mengapa saya berkeyakinan bahwa metode dan teknik psikoterapi Islami ini penting kita kembangkan dalam mendukung usaha peningkatan kesehatan mental masyarakat Indonesia ? setidaknya ada lima hal penting yang perlu dicermati dengan seksama.
Pertama, selepas perang kemerdekaan, masyarakat kita mengalami gangguan mental. Jalaludin Rakhmat pernah menyebut di era Orde Baru, masyarakat kita sempat mengidap penyakit homo ordebaruicus, karakter dari manusia itu adalah munafik, tidak bertanggungjawab, dan suka menjilat, putus asa atau lemah mental.
Penyakit ini kemudian digenapkan dengan adanya kriris mental di era reformasi. Sampai minggu lalu, kita masih mendengar ada berita budaya bunuh diri dikalangan anak atau masyarakat kita. Hanya karena masalah kecil, mereka melakukan bunuh diri. Ini adalah masalah mental. Dan itulah penyakit mental yang tengah menggejala di negara kita saat ini.
Kedua, di lihat dari aspek sosiologis, masyarakat kita dominan sebagai umat beragama. Oleh karena itu, therapi berbasis nilai-nilai spiritual, termasuk psikoterapi Islami adalah menjadi sangat penting dan relevan dengan psikologi masyarakat Indonesia pada umumnya.
Pada konteks inilah, ijtihad akademik di perguruan tinggi merupakan ikhtiar dalam membangun masyarakat Indonesia yang berkualitas. Meminjam istilah Rasulullah Muhammad Saw, ijtihad intelektual dalam mengembangkan psikoterapi islami itu adalah bertindak dari takdir Allah yang satu ke Takdir Allah yang lainnya.
Ketiga, dalam sepuluh tahun terakhir, bangsa kita selalu diguncangkan oleh berbagai bencana dan musibah. Dampak dari kondisi itu, adalah lahirnya berbagai persoalan nasional, mulai dari masalah ekonomi, sosial dan juga mental. Rehabilitasi pasca musibah itulah, baik terhadap anak-anak maupun orang dewasa menjadi sangat penting. Sementara di sisi lain, kita masih kekurangan tenaga psikoterapi profesional, yang benar-benar lahir dari pengalaman akademik dan kompetensi yang profesional.
Keempat, bagi kalangan akademisi sudah mafhum, bahwa Islam memiliki pengalaman dan sumber nilai yang agung, yang mampu melecut lahirnya ahli pengobatan berkualiatas dunia. Ilmuwan muslim dunia, seperti Ar-Razi, Ibn Rusyd, Ibnu Sina adalah ilmuwan muslim yang mumpuni baik dalam pemahaman ilmu agama maupun kesehatan. Pengalaman sejarah ini, diharapkan menjadi cermin sekaligus energi tambahan bahwa kaum muslim memiliki modal spiritual dan emosional untuk mengembangkan therapi berbasis nilai-nilai Islam.
Terakhir, dan ini yang penting kita perhatikan bersama, yaitu adanya satu trend atau kebutuhan masyarakat dunia untuk mengembangkan model pelayanan therapi berbasis budaya. Pelayanan kesehatan di era modern ini, sudah mulai mengembangkan model pelayanan lintas kultural, atau pelayanan kesehatan berwawasan kultural. Dengan hal ini pula, maka agenda pengembangan kesehatan di era modern ini, akan mengarah pada paradigma diversifikasi pelayanan kesehatan.
Oleh karena itu pula, metode dan teknik pelayanan kesehatan yang berkembang saat ini, berkembang dengan pesat. Perkembangan tersebut, tidak selamanya linear, malah berkembang secara beragam. Dan hal yang uniknya lagi, dalam satu waktu, kita bisa melihat ada pelayanan kesehatan yang berdampingan, antara kesehatan moderna dengan pelayanan kesehatan alternatif, dan atau therapi fisik dengan psikoterapi. Hal itu merupakan gambaran sementara, adanya trend ke arah membangun metode pelayanan kesehatan yang terpadu atau holistik.
Terkait dengan hal ini, jelas sudah bagi kita semua bahwa psikoterapi berbasis nilai atau spiritual menjadi sangat penting bagi masyarakat kita saat ini. Mudah-mudahan demikian !!

Advertisements