Di kota besar di Indonesia, seperti di Kota Bandung, fenomena hadirnya pekerja paruh waktu mulai bermunculan. Mahasiswa adalah kelompok dominant yang menjalani profesi sebagai pekerja paruh waktu. Mereka bekerja, selepas atau sebelum menjalani profesi yang sesungguhnya, yaitu kuliah. Waktu yang diambil untuk bekerja pun tidak tanggung-tanggung, kadang sore hari bahkan tak jarang pula ada yang mengambil ship (giliran) malam hari.


Lumayan, kerja seperti ini, dapat meringankan beban orangtua dalam membiaya kuliah ujar Uci, mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Bandung. Mahasiswa usia 20 tahun ini, telah menjalani profesi kerja paruh waktu dalam enam tahun terakhir. Dari latar belakang keluarga berekonomi kelas menengah (baca : kelas menengah di Indonesia) ini, senantiasa menunjukkan keseriusannya dalam menjalani dwi-profesi ini.
Kisah Andi sedikit berbeda. Karena memiliki latar belakang aktivis ekstrakurikuler Pramuka, kini dia membagi agenda hidupnya dalam dua tugas utama, yaitu kuliah dan menjadi Pembina Pramuka pada sebuah Sekolah Dasar di kawasan Bandung Timur. sekalian memelihara hobi, saya lakukan ini. Kalau honor dari membina pramuka, sesungguhnya tidak besar. Hanya cukup untuk ongkos belaka. Ujarnya.
Kisah dan penuturan orang-orang yang bekerja paruh waktu seperti ini, sudah tentu cukup bervariasi dan melimpah. Semakin banyak kita lakukan survey, akan semakin banyak pula argument yang bisa kita temukan. Hadirnya pekerja paruh waktu, bukan tanpa masalah. Hadirnya pekerja paruh waktu, menjadi tambahan energi bagi perusahaan tetapi sekaligus memiliki potensi masalah tersendiri. Terlebih lagi bila dikaitkan dengan produktivitas perusahaan dan kinerja individu.
Pada konteks inilah, pekerja paruh waktu menarik untuk dikaji secara seksama.

Sosiologi Kerja
Sebelum memfokuskan analisis, perlu ditegaskan di sini, bahwa makna kerja secara sosiologis jauh berbeda dengan sudut pandang ekonomi. Kalau pandangan ekonomi, sebuah pekerjaan lebih dinilai sebagai sebuah aktivitas yang melahirkan nilai tambah (added value). Aktiitas yang tidak mengakibatkan adanya perubahan nilai tambah, tidak dikategorikan sebagai bekerja. Orang yang bekerja adalah orang yang berusaha keras untuk menghasilkan produk atau jasa, sehingga menghasilkan nilai tambah.
Hal ini berbeda dengan sosiologi. Makna pekerjaan perlu diposisikan sebagai proses aktualisasi diri dan nilai social dirinya di masyarakat. Orang yang tidak bekerja, adalah kelompok orang yang memiliki status social lebih rendah dibandingkan dengan orang yang bekerja. Pengangguran merupakan kelompok marginal dalam posisi masyarakat kerja.
Hemat kata, kerja atau pekerjaan adalah satu aktivitas yang membantu dirinya mampu memaksimalkan peran dan fungsi dirinya pada status social tertentu. Dalam menentukan nilai pekerjaan itu, maka kesadaran setiap pekerja menjadi sangat penting. Orang yang bekerja tetapi tidak nyaman, dan tidak menikmatinya, sesungguhnya dirinya tengah teralienasikan (termarginalkan) dalam pekerjaannya itu sendiri. Posisi ini, menyebabkan seseorang masuk dalam tahap robotisasi manusia atau manusia robot. Manusia robot adalah fenomena hilangnya kesadaran manusia sebagai manusia yang menyebabkan dirinya menjadi bagian dari mesin ekonomi.
Pada konteks inilah, kerja dan pekerja, harus dilakukan dengan iringan kesadaran. Kesadaran yang kita maksudkan ini, yaitu kesadaran akan tujuan dari bekerja itu sendiri. Mereka yang bekerja paruh waktu, cenderung menunjukkan motivasi kerja yang tidak sejalan hakikat kerja itu sendiri.

Benturan Sudut Pandang
Bagi perusahaan, hadirnya pekerja paruh waktu merupakan satu fenomena tersendiri. Pada satu sisi, mereka memiliki tambahan tenaga kerja (manpower), tetapi pada sisi lain para pekerja paruh waktu memiliki potensi masalah khusus. Diantaranya yakni para pekerja paruh waktu tidak memiliki waktu luang dalam memaksimalkan kemampuannya dalam mendukung visi dan misi perusahaan, waktu aktualisasi kompetensi karyawan terbatas, dan tingginya potensi mutasi (hijrah) karyawan.
Bila hal ini tidak terantisipasi, sudah tentu potensial menjadi masalah besar bagi perusahaan. Karena masalah-masalah tersebut bisa menyebabkan terganggunya kinerja perusahaan. Apalagi, seperti diungkap sebelumnya, bahwa pekerja paruh waktu itu tidak akan maksimal mengaktualisasikan kompetensi dirinya di perusahaan tersebut.
Begitu pula sebaliknya. Dengan bekerja paruh waktu, sesungguhnya si pekerja pun tidak mampu bekerja secara maksimal. Seluruh kemampuan dirinya, tidak bisa ditunjukkkan di perusahaannya. Batasan ruang dan waktu, menjadi penyebab formal bagi dirinya untuk bisa memaksimalkan kemampuan. Sementara di lain pihak, adagium (peribahasa), bisnis itu membutuhkan perhatian dan kemampuan yang maksimal. Perhatian dan kemampuan yang setengah-setengah, hanya akan menjadi penyebab awal hancurnya masa depan bisnis.

Analisa Penutup
Kendati demikian, bagaimana pun juga persepsi kita, fenomena pekerja paruh waktu adalah fenomena actual hari ini. Bahkan, bisa jadi menjadi fenomena unik di masa depan.
Melanjutkan analisis di atas, dapat ditemukan bahwa motivasi seseorang menjalani profesi kerja paruh waktu, bisa ditelaah dari dua sisi. Satu sisi, dilihat dari trend modernisasi pekerjaan, maka pekerjaan (bentuk, jenis, tempat, dan waktu) adalah sebuah pilihan sadar manusia. Apapun bentuk pekerjaan, mereka jalani dengan satu kesadaran tersendiri. Demikian pula, dengan pilihannya untuk bekerja paruh waktu. Pada sisi lain, kerja paruh waktu di era transisi-ekonomi adalah lebih disebabkan karena keterpaksaan. Orang menjalani kerja paruh waktu, karena tidak ada pilihan lain, tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukannya sambil menjalani profesi lain. Oleh karena itu, dalam sudut kedua ini, kerja paruh waktu bukan sebuah pilihan sadar dari pelaku, namun lebih disebabkan karena keterpaksaan dan atau desakan pragmatis (baca : ekonomi) dalam hidupnya.
Dua fakta itu sudah tentu akan memiliki implikasi atau dampak yang jauh berbeda. Baik terhadap si pelaku maupun perusahaan tempat mereka kerja. Terkait dengan hal ini, ada beberapa hal yang bisa dikemukakan.
Pertama, perusahaan harus mampu melakukan analisis jabatan (anjab), dan analisis pekerjaan (job description), sehingga dapat memisahkan jenis pekerjaan strategis dan pekerjaan pendukung. Pekerjaan strategis membutuhkan perhatian dan waktu kerja yang maksimal, sedangkan jenis pekerjana pendukung dapat diserahkan kepada para pencari kerja paruh waktu.
Kedua, lembaga pendidikan perlu memberikan pencerahan mengenai semangat intrepreneur kepada siswa atau mahasiswa. Hal ini untuk mendukung usaha munculnya pekerja paruh waktu. Dengan adanya kebutuhan pragmatisnya mahasiswa, kerja paruh waktu bisa penolong bagi mahasiswa dalam mengejar karirnya sendiri.
Terakhir, tetap perlu dicatat bahwa bekerja paruh waktu adalah bagian penting dari ciri kota. Dalam sudut pandang sosiologis, budaya kerja di kota adalah deiversifikasi pekerjaan. Bekerja paruh waktu adalah transisi orientasi dari pekerja tunggal ke diversifikasi pekerjaan. Oleh karena itu, munculnya trend ini tidak bisa dicegah. Karena fenomena ini adalah fenomena sosiologis, yang akan terus berkembang seiring dengan perkembangan dan pemaknaan seseorang terhadap pekerjaan itu sendiri.
Kita membutuhkan manusia berkualitas, yaitu manusia yang mampu secara sadar dan mandiri menentukan jenis pekerjaannya sendiri. Kerja paruh waktu (part time) atau waktu utuh (full time) adalah pilihan dalam hidup, dan bukan keterpaksaan karena hidup.

Advertisements