Papap Ridwan. Itulah julukan dan sapaan yang kami kenal. Tidak terkecuali, warga di RT kami menyebutnya Papap Ridwan. Papap yang kini berusia sekitar 56-an, adalah orang yang dikenal supel, dan juga mudah diajak gaul.


Kendati memang ada sedikit perbedaan antara kami, namun kemampuannya untuk bergaul jauh melebihi dari orang rata-rata di kampung ini.
Dalam usia yang seperti itu, Papap Ridwan menjalankan profesinya sebagai penjual jasa refleksi, atau tukang pijit. Untuk bangsa kita, mungkin orang yang senasib dengan Papap itu, senantiasa mengambil peran dalam profesi itu. Dimana-mana, bila ada tempat jasa refleksi atau pijat, bayangan orang kebanyakan bahwa si pelakunya itu adalah orang yang senasib dengan Papap. Betul. Yang saya maksudkan itu, Papap Ridwan adalah orang yang memiliki kesempurnaan indra penglihatan berbeda dengan kebanyakan orang. Semenjak kecil, Papap Ridwan lebih banyak mengembangkan indra rasa dan indra lainnya, selain indra penglihatan.
Kendati begitu, kondisi itu bukanlah menjadi penghalang bagi dirinya. Kendati dalam kondisi ada keterbatasan fisik dibanding dengan orang kebanyakan, beliau tetap bersemangat untuk bertahan hidup, hidup bahagia, dan hidup bermakna. Papap Ridwan bukan hanya berusaha keras untuk bertahan hidup, karena obsesi itu tidak jauh berbeda dengan obsesi binatang. Bila manusia hanya berobsesi sekedar ingin bertahan hidup, maka dia tak ada bedanya dengan binatang. Maka, dalam dirinya terus bekerja keras untuk bisa hidup bahagia dan hidup bermakna.
Karena obsesinya itulah, Papap Ridwan secara sungguh hati menjalani profesinya sebagai penjual jasa refleksi atau pijat. Kedua istilah ini digunakan, karena terkait dengan pasarnya. Dalam pandangannya, pijat itu adalah istilah refleksi yang bernuansa daerah, sedangkan refleksi sudah berbau-bau modern. Jadi, kedua-duanya digunakan dengan harapan para pembaca dapat memahami apa yang dimaksudkannya tersebut.
Dari kegiatan profesionalnya itulah, beliau bisa membuka kantor jasanya di komplek tempatku tinggal. Di tempat ini pulalah, beliau membesarkan putra-putrinya. Hingga salah satu dari putranya itu menjadi seorang sarjana pendidikan lulusan dari Perguruan Tinggi Negeri terkenal di Kota Bandung. Kutatap almamaternya, eh..ternyata, beliau itu lulusan UPI (tempatku dulu kuliah, namun dulu masih bernama IKIP Bandung). Sebenarnya, kehadiran beliau ditempat ini jauh lebih lama dibandingkan dengan diriku. Saya adalah penduduk baru di tempat ini. Jadi beliau lebih dulu mampu membeli rumah di kompleksi ini daripadaku.
Tinggal di sebuah kompleks, bersama anak dan keluarga. Serta mampu menjalani profesinya dengan nyaman, bahkan keluarganya dapat ternafkahi dengan hasil keringatnya sendiri adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
ini adalah pekerjaan ibadah. Supaya hidup kita dapat bermanfaat bagi diri kita, keluarga dan masyarakat. Itulah mimpi yang dimilikinya. Bekerja adalah membantu orang lain. Bekerja adalah ibadah. Bekerja adalah shilaturahmi. Inilah beberapa percikan makna hidup yang terpancar dari benaknya.
Hidup tak menyusahkan orang lain adalah prinsip hidup yang terus dipegang teguhnya. Karena prinsip ini jugalah, tak heran bila tetangga di kampungku ini, merasa nyaman dan bahagia berkomunikasi, bergaul dan berinteraksi dengannya. Bahkan, tak heran pula, karena kebersihan hati dalam membantu dan menolong orang lain itulah, Tuhan pun menolongnya dengan penuh kemukjizatan. Inilah kisahnya.

-o0o-

Seperti biasa. Demi nafkah keluarganya, beliau terus bekerja dan menjalani profesi ini. Walau panas atau dingin, beliau tetap bekerja. Walau dekat atau jauh, Papap tetap bersemangat. Mau malam atau siang, sahabat kita ini terus gigih menjalani profesinya. Hingga suatu pagi, beliau berjalan menyusuri jalan di tengah kota.
Waktu itu masih menunjukkan pukul 2.30 pagi. Sangat pagi bagi ukuran manusia kota. Masih terlalu pagi bagi kebanyakan manusia. Suasana gelap masih tempak terlihat. Walaupun mungkin, bagi beliau tidak ada bedanya antara gelap dan terang. Namun, atmosfer kota bandung jelas-jelas sangat terasa bedanga siang dan malam, dan pasti ini dirasakan oleh indra perasa yang dimilikinya.
Kendati begitu, beliau tetap menyusuri jalan raya Kota Bandung dalam remang-remang lalu jalan raya di pagi buta.
Seperti kiilat. Sebuah kilatan cahaya mampir di depan matanya. Seketika itu pula, tongkat yang selama ini tidak lepas dari tangan kanannya, kemudian diacungkan ke atas. Diayun-ayunkannya tongkat itu, berulang-ulang, sebagai pertanda peringatan kepada orang lain bahwa dirinya mau menyebrang jalan. Semangat mengayukan itu, dan juga hangatnya tubuh karena telah berjalan cukup jauh, ternyata tidak berdampak pada pihak lain.
Tak disangka. Sebuah kendaraan roda dua, yang dikendari oleh anak muda bergerak sangat cepat. Mungkin dia menganggap bahwa di jalan itu tak ada polisi, tak lalu lampu lintas, dan tak ada orang, hinggga kecepatannya tak diukur dengan kebutuhan keselamatan hidup. Tak hirau dikanan dan dikiri. Tak peduli apa yang ada di hadapan mata. Kendaraan itu bergerak sangat cepat, dan akhirnya, srenggggggggggggggggggg !.
Dalam situasi setengah kaget, roda dua itu melintas di depan papap Ridwan dan kemudian menyentil tanggannya yang tengah mengacungkan tongkat. Akibat dari kejadian itu, kemudian posisi tubuhnya goyang, tidak ajeg lagi, dan kakinya pun bergeser miring, sehingga dirinya hilang keseimbangan. Seketika itu pula, tongkat di tangannya melesat meninggalkan jemarinya, dan Papap terpelanting kepinggir trotoar dan kepalanya membentur badan jalan. Brugggh.
Papap pun tanpa sadarkan diri.
Entah apa yang terjadi selanjutnya. Yang Papap Ridwan tahu, ketika bangun dirinya sudah berada di ranjang putih dalam sebuah kamar ukuran 3 x 4 m. Di sekelilingnya, warna putih sangat dominan, dan dikepalanya terbalut perban. Semua itu, dia tahu dari informasi orang yang ada disampingnya. Ketika dia menggerak-gerakkan kepala, kemudian ada suara yang menyapanya.
Bapak, tenang saja. Bapak sudah ada di rumah sakit. tuturnya seorang pria yang ada disampingnya. Mendengar ucapan itu, Papap terus bertanya-tanya lagi, mengapa, siapa, dan berapa biaya seluruh pengobatan itu. Namun, seluruh pertanyaan itu, hanya dijawab, Bapak tenang saja. Ada nomor telpon yang bisa bapak hubungi ? tawarnya. Mendengar pertanyaan itu, kemudian Papap pun mengejakan angka-angka yang dimaksudkan itu.
Tidak berapa lama setelah itu. Datangnya salah seorang anggoat keluarga Papap Ridwan. Kehadirannya ini, tiba di tempat sekitar pukul 3.30-an. Dan setelah anggota keluarganya tiba, sang penolong itu pun pamit sambil menginformasikan bahwa seluruh biaya pengobatan sudah dibayar, hingga rawat inap dalam satu hari ini. Menurut informasi yang didapatnya, sesungguhnya tidak perlu dirawat lama, karena Papap Ridwan cukup kuat, dan bisa dibawa pulang. Jadi tidak perlu dirawat inap lama-lama. Semua yang mendengar, baik Papap maupun saudaranya kaget dan terpaku dengan kebaikan orang itu.
Jam didinding menunjukkan angka pukul 04.00 pagi. Orang itu sudah ada yang menelpon dari seberang sana, dan kemudian dia pun bergegas pergi. Entah siapa dan pergi ke mana. Itu semua tetap tidak pernah terjawab, termasuk oleh Papap Ridwan sekalipun. Saudaranya yang kini hadir di samping Papap pun, tertegun dengan penuh ketidakmengertian. Namun demikian, beliau pun tidak lupa untuk berkemas pulang ke rumah di pagi hari nanti.

-o0o-

Kisah Papap Ridwan ini, memberikan pengalaman menarik bagi kita. Siapa menyangka, bahwa dipagi sebuta itu ada orang yang akan lewat ke lokasi itu dan mengikhlaskan diri untuk menolong Papap Ridwan ? dan siapa pula, yang menyangka bahwa ada orang setulus remaja itu, dan semisterius itu mengenai identitas dirinya ?
Orang kota. Ini di kota Bandung. Menurut banyak pihak, orang kota itu egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Namun dengan kejadian itu, kita harus berkata lain. Bila orang si penolong itu adalah manusia, maka kita katakan bahwa di kota pun masih ada dermawan. Dan terhadap kejadian itu, kita pun dapat mengatakan bahwa ada mukjizat bagi orang yang berhati bersih.
Setiap manusia akan mendapatkan balasan kebaikan, atas kebaikan dirinya dalam mendukung usaha perbaikan hidup demi kebaikan bersama. Siapapun orangnya, setiap pelaku kebaikan akan mendapatkan balasan kebaikan, kendati bukan dari orang yang kita baiki. Kebaikan manusia adalah aura universal yang akan menarik pihak lain, baik kita kenal maupun tidak kenal untuk memberikan kebaikan kepada kita.
Dalam bahasa agama, pertolongan yang tidak disangka-sangka itu, adalah bentuk nyata dari mukjizat Tuhan dalam memberikan pertolongan kepada manusia. Tuhan akan turun tangan, manakala hamba si sang pelaku kebaikan membutuhkan pertolongannya. Ibarat Papap Ridwan, Tuhan turun tangan dalam memberikan pertolongan kepada hambanya yang memang sangat membutuhkan. Itulah kasih Tuhan kepada hambanya. Dan itulah mukjizat.
Pertolongan Tuhan bukan hanya hadir karena permintaan lisan dari hambanya, namun dari kondisi kebutuhan hidup hambanya itu jugalah. Doa dan harap adalah proposal manusia kepada Tuhan. Tetapi amal kebaikan yang ditaburkan manusia terhadap sesama, adalah proposal sejati yang sampai ke haribaan Tuhan, dan kelak akan dikabulkan-Nya. Kejadian yang menimpa Papap Ridwan, adalah contoh nyata bahwa amal kebaikan adalah doa-yang-mempercepat pertolongan Tuhan hadir dihadapan hamba-Nya.

Advertisements