Pembahasan ini dilatarbelakangi oleh pengalaman sebagai seorang pendidik geografi di tingkat SMU. Hampir lima atau enam tahunan lamanya sebagai guru geografi SLTP dan SMU swasta di Kota Bandung.

Waktu yang cukup lama, bagi ukuran seorang honorer ini, menghasilkan sejumlah kesan tentang berbagai hal terkait pendidikan geografi. Kemudian mulai tahun 2005 beralih ke madrasah aliyah negeri di Kota Bandung. Kedua tempat kerja ini, secara geografik ada di jantung kota Propinsi Jawa Barat yang juga dekat ke kampus UPI (tempat kuliah dulu). Dengan demikian, tidak mengherankan bila beberapa isu pendidikan yang terkait dengan geografi, sempat terdengar dan menjadi bagian pemikiran guru di lapangan saat itu.
Isu yang paling kuat, khususnya pada era 96-an, yaitu mengenai posisi pelajaran geografi di tingkat SMU/MA. Pada masa ini, pelajaran geografi seolah menjadi salah satu mainan para pengambilan kebijakan tentang kurikulum, yang memindah-midahkan tempat pelajaran geografi, dari IPA ke IPS, atau sebagian pelajaran geografi dipindahkan ke IPA, dan kemudian beberapa tahun berikutnya dipindahkan kembali ke IPS. Kondisi inilah yang menjadi bagian yang meresahkan guru-guru geografi di lapangan.
Karena tidak memiliki kuasa apapun untuk menyentuh wilayah politik pendidikan tersebut, para guru waktu itu hanya mampu berkeluhkesah dan bercerita di forum atau di media massa. Walaupun cara seperti ini, tidak memberikan dampak yang positif saat itu. Sehingga akhirnya, isu ini pun sempat mereda seiring perjalanan waktu, dan semua orang tiarap dengan berbagai kejutan-kejutan baru dalam dunia pendidikan.
Hasrat untuk menuangkan pemikiran dan atau urun rembug dalam suasana akademik ini, menguat setelah mengikuti pertemuan Pertemuan Tahunan Ikatan Geografi Indonesia (IGI) wilayah Jawa Barat, 11/05/2009, di UPI Bandung. Dalam pertemuan ini, sejumlah guru di lapangan mengeluhkan mengenai posisi pelajaran geografi dalam kurikulum pendidikan menengah, dan juga jumlah jam pertemuan pelajaran geografi. Mamat Ruhimat (2009:1) membuka paparannya dengan kalimat pendidikan geografi di tingkat pendidikan dasar dan menengah di Indonesia dewasa ini masih saja belum stabil. Ketidakstabilan ditandai oleh beberapa fenomena, (1) jumlah jam pelajaran yang mengalami penurunan, (2) siswa program IPA tidak memperoleh pelajaran geografi, (3) proses pembelajaran cenderung bersifat transformasi kognitif.
Hal yang sangat menggelitik, ternyata pemahaman mengenai hakikat geografi pun muncul kembali. Isu dualisme dalam geografi, hakikat geografi, karakter geografi, dan posisi keilmuan geografi.
Persoalan-persoalan yang muncul di tengah forum itu, kemudian mengingatkan saya untuk melihat kembali tulisan-tulisan kegeografian yang selama ini tersimpan dalam komputer. Setelah melihat-lihat naskah itulah, semangat dan kegairahan untuk melanjutkan hanca (pekerjaan tertunda) ini bangkit kembali. Harapan awal dari keinginan untuk melanjutkan hanca ini, tiada lain adalah ingin bershilaturahmi dengan rekan-rekan guru geografi atau geograf pada umumnya, khususnya mereka yang tengah mengokohkan kesadaran dan keilmuannya dalam bidang geografi. Shilaturahmi melalui karya akademik ini, sudah tentu merupakan cara lain dari dialog-intelektual yang selama ini banyak terhambat oleh ruang waktu. Melalui publikasi buku ini, diharapkan guru-guru Geografi di lapangan, atau siapapun pihak yang terkait dengan hal ini, akan terstimulasi untuk kemudian mampu menunjukkan sikap yang proporsioanl dan objektif.
Tema-tema yang diangkat dalam buku ini, merentang dalam topik yang luas, mulai darikrisis diri sampai pada upaya mengokohkan keilmuan geografi di lapangan. Mimpi mengokohkan geografi ini sesungguhnya, bukan dimaksudkan untuk mengatakan bahwa geografi adalah ilmu yang tidak kokoh. Karena sesungguhnya sebagai sebuah ilmu, atau pendekatan, geografi telah menunjukkan eksistensinya. Hal ini bisa dilihat di negara-negara modern, seperti Belanda, Australia, dan Amerika Serikat. Oleh karena itu, yang dimaksudkan dengan pengokohan geografi ini adalah membantu perenungan, dan peningkatan pemahaman para guru di lapangan mengenai geografi, dan juga calon geograf yang saat ini tengah mempelajari ilmu geografi.

Advertisements