manusia butuh tempat. itu kenyataan. manusia perlu lingkungan itu alamiah. dan setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengenali hunian yang pernah ditinggalinya. ini adalah kecerdasan unik yang dimiliki manusia.

Dari kajian inilah, dapat disebutkan bahwa manusia memiliki potensi besar dalam mengembangkan ilmu-keruangan (spatial), atau lebih tepatnya yaitu ilmu geografi. Setiap manusia memiliki potensi asasi dalam mengembangkan kesadaran, pengetahuan dan keterampilan geografi. Bahkan, setiap saat manusia senantiasa memperhatikan aspek geografi sebagai bagian penting dari upaya adaptasi dan perjuangan hidupnya. Karakter manusia yang tidak bisa melepaskan diri dari aspek lingkungan dan kebutuhan lingkungan inilah, yang kita sebut meminjam istilah Robert Sack (dalam David Smith, 2000), — homo geographicus. .
Manusia senantiasa berada di ruang, dan akan tetap membutuhkan ruang. Karena ada ruang itulah, manusia eksis dan actual. Oleh karena itu manusia adalah makhluk geografik. Sebagai homo geograpicus inilah, kemudian manusia melakukan berbagai kegiatan sesuai dengan kebutuhan konteks dan kebutuhan khususnya.
Fakta manusia sebagai homo geograpicus dapat dilihat dari sejarah pertumbuhan peradaban manusia. Manusia kerap dan senantiasa melakukan interaksi dan melakukan komunikasi dengan alam. Alam adalah bagian penting dari kehidupan manusia dan modal dasar bagi perkembangan peradaban manusia.

rujukan :
Smith D., 2000, Moral Geographies. Ethics in a World of Difference, Edinburgh University Press. 244 p. Cybergeo : European Journal of Geography [En ligne], Revue de livres, mis en ligne le 26 mai 2003.

Advertisements