Hari ini, 14/12/09, hari pertama rekan-rekan profesiku yang baru pulang dari PPLG hadir di kampus. Ada 4 orang guru yang diklat dari sekolahku, yang hari ini sudah kembali ke kampus. Mereka telah menjalani pendidikan profesi guru sebagai tindak lanjut dari proses sertifikasi beberapa bulan sebelumnya.


Kami semua melihat ada sesuatu yang berbeda dari mereka. Sebelum mereka berangkat, mereka kadang mengeluh, miris, dan kadang pula dihantui oleh sejuta ketakutan. Takut ini, takut itu. Tak pelak lagi, bila dalam kondisi sensitivitasnya yang tinggi, aksi marah-marah tanpa alasan termasuk ke rekan-rekan di tempat kerjanya, sering terjadi. Orang yang dinyatakan tidak lulus sertifikasi jalur portofolio ini, tampak gelisah dan gundah gulana.
Dalam pikiran mereka, hingga detik-detik ke berangkatan cerita horor tentang diklat —yang kerap diimajinasikan seperti halnya prajabatan yang semi militer— masih juga menghantui pikiran mereka. Mereka memandang, diklat itu mirip hukuman yang sangat memberatkan, takdir yang merusak martabat dan kehormatan dirinya. Vonis diklat itu, seolah-olah menjadi AIB bagi dirinya.
Itulah gambaran awal sebelum diklat.
Namun, semua gambaran itu tamkanya hampa. Cerita itu menjadi sesuatu yang tidak ada artinya. Semua yang diungkapkan tadi tampak tidak ada bekasnya dalam raut wajah rekan-rekanku yang baru saja pulang dari pendidikan profesi ini.
Seorang ibu muda, yang menjadi favorit siswa MAN pun ternyata masih tampak bugar dan ceria. Ibu muda ini, sebelumnya dikelompokkan sebagai guru yang mengalami stress akibat ketidaklulusannya uji sertifikasi jalur portofolio. Karena ketidaklulusannya itulah, dia mengalami sedikit stress. Bahkan, tak jarang dari lisannya muncul hasrat mau mundur dari profesi keguruan. Namun pada saat ini, dia tampak begitu ceria dan sumringah. Ucapan salam dan senyum serta sapapun meluncur dari lisannya setiap bertemu dengan guru-guru yang lain. Pikirku, malaikat apa yang telah merasukinya? Entah mengapa, dan entah apa penyebabnya.
Kemisteriusan itu digenapkan juga oleh rekan-rekan lainnya yang juga sama-sama baru pulang dari diklat. Walaupun tidak terlalu signifikans, namun gurauan teman-teman di kampus memandang bahwa mereka yang ikut diklat itu tampak lebih gemuk dan bersih. Mereka tampak ceria, dan tidak tampak seperti orang yang telah menjalani proses camp selama 10 hari, yang semula dianggap menakutkan.
wahhh, jauh dari cerita yang mengerikan.. begitu dia membuka obrolan mengenai pengalaman di diklat. Kalimat ini meluncur, dan diiringi dengan penjelasan-penjelasan mengenai proses diklat profesi itu sendiri.
Dalam satu hari, mulai pukul 8.00 mereka masuk ruang diklat, kemudian jam 10 istirahat, dan belajar lagi hingga duhur, kemudian bada duhur belajar sampai asar, dan selepas ashar belajar lagi hingga menjelang magrib. Selepas magrib para peserta diklat bisa langsung istirahat. Kecuali mereka yang belum memiliki perangkat pembelajaran. Seperti itulah, rutinitas harian peserta diklat.
Para pangajar jauh dari kesan yang mengerikan. Instrukturnya malah banyak membangun keceriaan, humoris dan sangat familiar. Tak ada jarak antara peserta dengan instruktur. Karena mereka itu sama-sama sebagai bagian dari profesi kependidikan, maka suasana edukatif jauh lebih terasa dibandingkan dengan suasana diklat atau penggonjlogan. Oleh karena itu, mereka pun bertanya, apa yang harus ditakuti dari diklat profesi?
Soal makan jangan ditanya. selanya dalam menjelaskan mengenai jaminan kebutuhan biologis. Makanan peserta diklat dijamin oleh Pemerintah. Oleh karena itu, apa yang menjadi orang bikin takut dengan diklat ? tanyanya kepada kami yang hadir dalam obrolan itu.
Memang tidak ada yang aneh, dan tak ada yang patut ditakuti. Proses diklat adalah proses belajar dan pembelajaran, sehingga kita memiliki kompetensi profesi yang semakin tinggi. Dari gambaran tersebut, tampak jelas tidak ada yang perlu ditakuti. Dengan pengalaman itu pula, rekan-rekan kita ini mengajukan pertanyaan, mengapa ada guru yang stress atau takut dengan diklat ?
Memang betul. Bila sebelum menjalani diklat, kita sempat mengalami masalah psikologis. Misalnya, (a) kita malu dikatakan sebagai guru yang tidak lulus sertifikasi jalur portofolio, bahkan (b) ada yang ekstrim mengatakan bahwa kita belum profesional karena tidak lulus portofolio. Perasaan itu alamiah muncul dalam diri kita. Namun, pernyataan itu pun tidak seluruh benar. Masih banyak aspek yang mendukung pada ketepatan status profesionalitas tersebut.
Bahkan, bila dikaitkan dengan hasil-hasil dari diklat profesi ini, jangan-jangan orang yang menjalani sertifikasi jalur diklat, jauh lebih professional dibandingkan dengan mereka yang menggunakan portofolio. Alasannya sangat sederhana, yaitu ketika kita meragukan keabsahan portofolio tersebut ! oleh karena itu, dari pengalaman rekan-rekan yang baru pulang dari diklat ini, saya merasa yakin bahwa sertifikasi mazhab diklat jauh lebih berkualitas dari sekedar jalur portofolio yang tidak terawasi keabsahan atau keasliannya !

-o0o-

Advertisements