Bagi seorang guru, mungkin sempat bertanya-tanya, mengapa harus ada KKM ? apa hubungan antara KKM dengan kebutuhan pendidikan nasional, atau pendidikan yang kita lakukan di satuan pendidikan ?


inilah pertanyaan umum, dan sering kita ajukan, kendati memang tidak pernah tuntas dalam menjawabnya. Wacana ini tidak bermaksud untuk menjawab keseluruhan makna, atau memberikan ketuntasan pertanyaan dari masalah itu. Namun, lagi-lagi kita butuh jawaban sementara. Ketika kita tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, maka kita akan terus bertanya, dan bahkan mempertanyakannya.
Dalam konteks itu pulalah. Setiap orang yang memberikan amanah atau menitipkan putra-putrinya kepada kita, dia pun akan mengajukan pertanyaan yang serupa. Adakah hasil kita yang lakukan dari proses pembelajaran ini ? bila kita tidak memberikan jawaban yang memuaskan, maka orangtua, siswa, atau pemerintah memiliki hak untuk bertanya, atau mempertanyakan.
Terkait dengan hal ini, maka jawaban sementara adalah jawaban minimal terhadap pertanyaan yang diajukan oleh siapapun kepada dunia pendidikan. Jawaban minimal tersebut, sudah tentu harus mengacu pada kriteria yang bisa diterima oleh siapapun yang melaksanakan, atau membacanya. Bila kriteria itu, sudah ada, dan mudah dipahami, masuk akal, serta diterima oleh setiap orang yang terlibat dalam proses penyelenggaraan pendidikan itu, maka kriteri itu kita sebut kriteria ketuntasan minimal.
Amy Brualdi (1998) mengatakan bahwa setelah kita melakukan sesuatu, termasuk dalam hal ini yaitu kegiatan pembelajaran, maka kita membutuhkan definisi tentang hasil kegiatan tersebut . Definisi istilah yang diajukan tersebut, adalah sebuah kriteria. Oleh karena itu, klaim keberhasilan dari sebuah aktivitas harus ditunjukkan oleh kriteria yang jelas. Proses inilah yang disebut dengan performance based assesments (pengukuran berbasis ketampakkan/kinerja).
Sebuah proses tanpa ukuran, tanpa kriteria, tanpa definisi, selain dapat menyebabkan klaim yang bersifat subjektif, juga tidak memberikan informasi yang objektif terhadap pihak lain, khususnya pihak peserta didik dan orangtua. Kita tidak mungkin dapat menyatakan bahwa proses pembelajaran kita berhasil, bila kita tidak memiliki standar keberhasilan yang pasti.
Kita patut khawatir, apa yang terjadi saat ini, diduga ada proses pembelajaran yang telah menghabiskan waktu banyak, namun kepastian target tidak jelas. Akibat, gejala yang ada itu adalah kemampuan anak tidak berkembang, dan target pembelajaran jalan di tempat. Kondisi seperti inilah, yang kita sebut sebagai pembelajaran involutif (involutif learning) . Kelanjutan dari kondisi involusi ini, yaitu lahirnya siswa yang KTP SMA kemampuan SD, atau KTP Mahasiswa kemampuan SMP.
Untuk menghindari involusi pembelajaran inilah, maka seorang guru berkewajiban untuk menetapkan tujuan pembelajaran, dan criteria pembelajaran. Amy Brualdi (1998), menegaskan bahwa kejelasan kita dalam membuat definisi kriteria memudah kita dalam melaksanakan pembelajaran. Begitu pula sebaliknya, kegagalan kita dalam pembelajaran, salah satunya bisa disebabkan karena kita gagal menentukan definisi criteria secara tepat dan jelas. oleh karena itu, kewajiban guru dalam menyusun criteria merupakan bagian penting dalam usaha membangun proses pembelajaran yang smart dan anak didik yang smart.
Smart dalam pengertian manajemen pembelajaran yaitu (a) sasarannya jelas, yaitu standar dan keunikan siswa, (b) materi atau masalah yaitu materi pembelajaran, (c) aksi, atau model, teknik atau metode pembelajaran, (d) respon atau reaksi, yaitu tindakan yang ditunjukkan siswa, dan (e) tindaklanjut. Konsep pembelajaran inilah, yang diharapkan dapat membantu kita untuk melahirkan peserta didik yang smart.
Bagi kalangan bisnis atau ahli manajemen, kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh mimpi, cita-cita atau hasrat. Setiap orang berhak untuk hidup, namun tidak bagi orang yang tidak memiliki cita-cita. Karena kematian yang patut kita waspadai itu, bukan saja kematian jasadi namun kematian iradi.
Kegalauan kita terhadap ujian nasional, saya khawatir lebih disebabkan karena kita tidak terbiasa dengan pengukuran yang objektif. Betul, bila dalam penyelenggaraan ujian nasional itu ada beberapa hal yang tidak berkenan dengan nurani kita. Namun, dengan adanya pengukuran sesungguhnya dapat mengetahui kinerja kita, dan perkembangan siswa.
Berkaitan dengan hal ini, dengan adanya KKM di tingkat satuan pendidikan, pada dasarnya dapat membantu memproyeksikan kemampuan siswa dalam ujian nasional. Sementara kekhawatiran kita terhadap hasil ujian nasional, bisa jadi adalah buah dari ketidakjelasan kita dalam memahami kemampuan anak (atau malah paham), namun tidak sesuai dengan target tujuan pendidikan secara nasional.
Padahal kita perlu sadari, bahwa cerdas adalah hak anak. Kewajiban kita adalah menciptakan lingkungan atau manajemen pembelajaran yang bisa mendukung pada terwujudnya mimpi-mimpi anak-anak kita terserbut.

-o0o-

Materi disampaikan dalam Diklat Penyusunan KKM di MTs Kifayatul Akhyar Kota Bandung, 12/12/2009

Advertisements