jisgaw-4
Sari merasa paling cantik di kelas. Evi merasa paling popular di kelompoknya. Indra merasa paling tinggi di komunitasnya. Husen merasa paling borju di gang-nya. Dan begitu pula yang lainnya. Setiap orang pada kelompoknya melakukan klaim terhadap apa yang dibanggakannya.


Dimanapun dan kemanapun mereka pergi dan bergaul, rasa dan perasaan itu terus dipelihara dan dikomunikasikan pada orang lain. Kebiasaan seperti itu sudah tentu menjadi risih bagi orang lain. Risih bukannya karena kita bosen mendengarnya, namun lebih disebabkan karena kita tidak mengetahui standarnya dan mereka tidak pernah mau menjalani proses pengukurannya.
Apa yang dijadikan ukuran, sehingga mereka berani mengklaim hal tersebut ? inilah masalah utama kita saat ini.
Kita tidak mungkin dapat mengklaim kesuksesan tertentu, kebanggaan tertentu, kalau kita tidak memiliki ukuran yang pasti. Kita tidak mungkin dapat mengklaim prestasi sesuatu bila kita tidak pernah mengetahui standarnya. Dan mustahil kita mengetahui posisi kita, bila kita tidak mau mencoba untuk melakukan pengukuran. Istilah pengukuran yang kita kenal di masyarakat kita sangat beragam. Ada istilah ujian, penilaian, evaluasi, kompetisi atau pertandingan. Setiap istilah ini memiliki konteksnya masing-masing. Namun hal yang sudha pasti, adalah hanya mereka yang mau dan berani menghadapi ujian itulah yang akan mengetahui derajat dirinya dihadapan derajat kesuksesan. Inilah hokum sukses dalam hidup.
Bila kita berhasrat untuk mencapai satu cita-cita maka kita butuh keberanian untuk menghadapi ujian atau pengukuran. Kita tidak akan tahu berapa berat badan kita, bila enggan di timbang. Tidak mungkin kita tahu berapa tinggi badan kita bila tidak pernah diukur ketinggian. Dan mustahil kita tahu berapa luas wawasan ilmu kita bila tidak pernah diuji.
Orang akan terjebak pada dusta, bila dirinya mengklaim satu kualitas hidup tanpa pernah di uji. Dia akan dusta dan mendustai diri sendiri, serta pihak lain, bila berani mengklaim sesuatu tanpa ada proses pengukuran. Adalah dusta, bila kita mengatakan sekolah kita adalah sekolah favorit tanpa mengetahui standar favoritnya itu sendiri. Klaim-klaiman tanpa standar atau proses pengukuran, adalah dusta yang dibuatnya sendiri, dan berdampak pada pengelabuian terhadap diri sendiri dan orang lain.
Implikasi berikutnya, yaitu dia akan menjadi orang yang bermimpi di siang bolong. Dia menganggap sudah sampai puncak gunung Tangkuban Perahu, padahal dirinya tidak tahu mana puncak mana lembah, atau mana kaki gunung Tangkuban Perahu. Orang itu akan menjadi pemimpin dan pengkhayal. Alih-alih merasa sudah di puncak, padahal langkahnya adalah turun ke lembah dan kian menjauhi puncak gunung. Dia merasa sudah siap bertanding padahal dia tidak pernah latihan dan uji kemampuan. Orang itu adalah pemimpi, pengkhayal dan bahkan pendusta.
Oleh karena itu, ujian dalam hidup adalah mekanisme alam untuk mengetahui posisi, derajat atau tingkat kemuliaan manusia. Melalui ujian itulah, kita akan mengetahui siapa orang yang berkualitas dan tidak berkualitas. Dapat kita ingat kembali, bahwa makhluk hidup yang ada hari ini, adalah hasil seleksi alam. Mereka yang tidak kuasa menghadapi seleksi alam atau ujian alam, dia akan musnah.
Keberanian orang dalam menghadapi ujian atau mekanisme test, adalah benih mulia dalam membangun kejujuran dalam dirinya. Orang yang tidak memiliki keberanian dalam menghadapi ujian, akan berusaha keras untuk memanipulasi ujian, dan melakukan rekayasa terhadap ujian itu sendiri. Hal itu adalah wujud nyata dari ketidakberanian diri dalam menghadapi ujian, dan tidak percaya diri terhadap posisi, derajat atau tingkat kemuliaan dirinya.
Dengan demikian adanya, maka melalui mekanisme ujian inilah, setiap manusia, kita semua, hendaknya mampu memanfaatkan mekanisme alamiah ini untuk mengetahui posisi, derajat atau tingkat kemuliaan sehingga kita dapat menggunakan untuk pijakan awal meraih posisi, derajat atau tingkat kemuliaan yang lebih tinggi pada periode selanjutnya. Kita tidak akan terobsesi untuk meraih posisi, derajat atau tingkat kemuliaan yang tertinggi, bila kita pun khilap terhadap posisi, derajat atau tingkat kemuliaan yang kita miliki saat ini.
Hemat kata, hasil dari ujian itu sesungguhnya dapat dijadikan sebagai modal untuk melakukan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan. Hasil uji atau test adalah modal awal untuk melakukan adaptasi sehingga kita mampu menjaga kesinambungan posisi, derajat atau tingkat kemuliaan diri kita.
Ada dua mekanisme alam dalam melakukan pengujian ini. Evaluasi, ujian, atau tes adalah usaha alamiah dalam mengetahui posisi, derajat atau tingkat kemuliaan diri kita oleh diri kita. Hal ini akan memperkuat keyakinan kita tentang diri kita. Sedangkan yang kedua, yaitu kompetisi. Model ini adalah usaha kita untuk mengetahui posisi, derajat atau tingkat kemuliaan kita dihadapan orang lain.
Era global adalah era kompetisi. Pada era seperti ini, posisi, derajat atau tingkat kemuliaan kita tidak cukup hanya kita yang tahu, atau kita yang merasa. Apapun posisi, derajat atau tingkat kemuliaan kita, akan terus dipertaruhkan dihadapan posisi, derajat atau tingkat kemuliaan orang lain. Dengan kata lain, uji kompetisi adalah bagian penting dalam menjaga kelangsungan kesuksesan hidup kita.
Orang yang berani menguji diri oleh diri sendiri, dan atau menguji diri dalam kompetisilah akan menjadi pemenang dalam setiap proses seleksi hidup menuju kesuksesan.

Advertisements