Sudah bukan rahasia, orang yang berpuasa itu memiliki jadwal makan yang jelas. Secara luas, dia dibolehkan makan setelah tibanya sholat maghrib sampai menjelang sholat subuh. Waktu ini merupakan waktu yang sangat luang untuk mengisi kebutuhan biologis manusia.


Pada malam hari ini juga, kebutuhan biologis manusia yang lainnya seperti kebutuhan seksualdibolehkan oleh agama. Sementara di siang hari, selepas sholat shubuh sampai terbenamnya matahari dia harus berusaha keras untuk menahan rasa dahaga, haus dan kebutuhan seksual. Aturan ini sudah begitu sangat paham dan menjadi pengetahuan umum di masyarakat muslim.

Di balik pengetahuan umum tersebut ada satu pelajaran penting yang belum banyak digali masyarakat, yaitu hikmah dibalik puasa terkait dengan budaya konsumsi masyarakat. Masalah ini merupakan masalah penting, sekaligus menjadi masalah krusial masyarakat Indonesia saat ini.

Sebagaimana dimaklumi bersama, salah satu penyakit modern dan ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, yaitu adanya budaya konsumerisme. Manusia modern sangat tergila-gila untuk makan, jajan, fashion dan lain sebagainya. Sehingga banyak pihak mengatakan bahwa bahwa nafsu jajan manusia modern sama tingginya dengan nafsu seksual. Untuk menjelaskan hasrat ekonomi seperti ini, para ahli budaya menyebutnya dengan istilah libidonomic.

Libidonomic adalah hasrat yang menggelora dalam diri manusia untuk jajan dan mengkonsumsi hal-hal baru, kendati mungkin kebutuhan biologisnya tidak begitu besar. Yang mereka ikuti dari libidonomic ini adalah hasrat sosial untuk jajan, nafsu untuk shoping, dan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan, dan hasrat untuk dianggap sebagai orang yang mampu untuk menghabiskan waktu dalam berbelanja. Libidonomic adalah penyakit konsumerisme yang melanda manusia modern. Dalam bahasa agama, mungkin inilah yang disebut dengan hubbudunya, yakni kegilaan manusia dalam mencintai kehidupan duniawi tanpa memperhatikan kebutuhan biologis atau psikologis secara alamiah. Orang yang memperturutkan libidonomic ini dapat disebut pula sebagai orang yang shoppcholic artinya gila jajan, gila belanja, gila makan-makan tanpa memperhitungkan dampak atau standar kebutuhan minimal biologis, fisiologis atau psikologisnya sendiri.

Kemiskinan dan atau kerusakan fundamental ekonomi nasional Indonesia pun pada dasarnya bisa dianalisis dari munculnya karakter manusia yang berorientasi pada libidonomic., pejabat atau elit politik yang memperturutkan libidonomic akan mereka-reka anggaran Negara untuk kepentingan jalan-jalan politik. Banyak bahasa atau alasan untuk mensyahkan penggunaan Negara demi kepentingan hasrat jalan-jalan ke luar negeri atau ke daerah-daerah yang mereka impikan. Mulai dari istilah kunjungan Negara, studi banding atau reses. Tidak tanggung-tanggung, agenda Negara seperti ini menyertakan keikutsertakan anggota keluar negeri.

Akibat dari kehidupan yang boros seperti ini adalah sangat masuk akal dan mudah di tebak, yaitu musnahnya kekayaan Negara atau lenyapnya harta rakyat. Di saat rakyat Indonesia ada dalam keadaan krisis ekonomi yang berkepanjangan, para pejabat bersenang-senang menikmati kehidupan dunia dengan menggunakan kekayaan dan fasilitas Negara.

Terkait dengan masalah ini, shaum ramadhan pada dasarnya memberikan sebuah pembelajaran nyata tentang kehidupan strategis bagi para penganutnya. Rumusan hidup budaya ramadhan itu adalah, hidup sederhana. Bila hidup sederhana bisa dilakukan, mengapa mesti hidup boros. Itulah prinsip moral ekonomi yang perlu mendapat perhatian setiap insan di Indonesia ini. Untuk sekedar, ilustrasi mengenai prinsip hidup ini, dapat diperhatikan deskripsi berikut :

Sebagai seorang yang sedang berpuasa, dia bangun di pagi hari untuk sahur. Ketika imsak tiba, maka dihentikannya seluruh kebutuhan biologisnya. Dia menghentikan diri untuk makan, minum dan kebutuhan seksnya. Dalam waktu kurang lebih 12 jam (khusus untuk wilayah Indonesia pada umumnya) dia menahan diri untuk berpuasa. Kewajiban diri untuk menagan diri ini dia lakukan hingga menjelang maghrib tiba. Bila maghrib tiba, kemudian dirinya dibolehkan untuk makan. Hemat kata, untuk waktu siang selama 12 jam tersebut, dia cukup sekedar makan dalam dua waktu yaitu pagi dan sore. Selain itu, dia tetap dituntut untuk melakukan kegiatan rutin lainnya.

Bila deskripsi itu disederhanakan, kita dapat menarik satu simpul pemikiran yang jelas, yakni seorang muslim dapat bertahan hidup dan melaksanakan tugas sehari-hari dengan wajar, kendati hanya dua kali makan.

Fenomena ini berbeda kontras dengan apa yang seringkalil dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pada kehidupan sehari-hari di luar bulan suci ramadhan, setiap manusia mengisi kehidupannya dengan mengisi perut. Pagi hari ngopi, kemudian sarapan, agak siang ngemil, menjelang siang rehat, siang hari makan siang, sore rehat, dan kemudian makan malam. Disamping jarang-jarang memperhatikan aspek asupan gizi atau kandungan gizi dari berbagai hal yang dikonsumsinya, jumlah kalori atau makanan yang dikonsumsi pun menunjukkan ada satu kelebihan dari kebutuhan yang sewajarnya.

Hal yang harus ditafakuri saat ini, adalah nilai kebaikan dibalik apa yang dilakukan terhadap kehidupan ini. Ramadhan mengajak kepada manusia, untuk menganut sikap bila dengan hidup sederhana kita bisa menjalani hidup dengan wajar, mengapa harus hidup boros? dalam kasus yang lebih sederhana, bila dengan dua kali makan saja, setiap insan dapat menjalani rangkaian hidup dengan baik, mengapa harus bersikap boros.

Sikap hemat adalah sikap hidup sederhana. Sikap hidup sederhana tiada lain merupakan budaya lain dari sikap hidup yang efektif. Sementara hidup boros adalah inefisien atau inefektif dalam hidup dan kehidupan. Untuk mengejar kesuksesan dalam hidup dan kehidupan, seorang muslim harus berusaha keras untuk membangun budaya hidup sederhana atau budaya hidup hemat.

Seringkali kita mengikuti sebuah rapat dinas yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah ternyata tidak mengindahkan masalah kesederhanaan atau keefektivan. Rapat dinas yang diagendakan selama satu hari, ternyata lebih banyak di isi oleh acara seremonial dibandingkan dengan masalah substansi. Bahkan tidak jarang, rapat atau agenda yang direncanakan dua hari itu, pada dasarnya hanya diisi dengan liburan, istirahat, shoping dan makan-makan. Penuntasan pekerjaannya tetap saja dilakukan di ruang kantor.

Tidak jarang kita mendengar ada rakerwil sebuah instansi Negara yang dilaksanakan di daerah wisata. Kegiatan ini berbiaya besar dan menghabiskan waktu yang cukup panjang. Namun draf hasil rakerwilnya adalah draft yang tidak jauh berubah dengan apa yang sudah disusun di ruang kantor dalam beberapa hari sebelumnya. Para pejabat Negara ini, kerap mempolitisir agenda dinas dengan libidonomic yang dimilikinya.

Para ahli manajemen pun sudah berusaha keras mensosialisasikan bagaimana cara hidup efektif, rapat yang efektif, memimpin yang efektif, dan menggunakan biaya yang efektif. Namun demikian, bila para pejabat tersebut kurang menghayati nilai-nilai sebagaimana yang diajarkan bulan ramadhan, maka semangat hidup hidup sederhana akan sulit diwujudkan.

Tidak jarang, hidup kita ini hanya diisi oleh obrolan yang kurang memberikan dukungan atau kontribusi nyata terhadap usaha peningkatan kualitas diri dan kemanusiaan. Waktu yang memang sudah sangat sempit ini, kemudian mereka hanya isi dengan ngobrol sana-sini dengan maksud mengisi waktu. Padahal kenyataannya, bukan mengisi waktu sebab yang mereka lakukan adalah menghabiskan waktu.

Analisa ini mengantarkan kita pada satu kebutuhan bahwa kiat untuk membangun hidup sukses adalah pentingnya membangun kebiasaan hidup sederhana, hemat atau efektif. Seseorang yang berhasrat untuk bisa hidup sukses, harus berani dan mau untuk membiasakan diri hidup efektif.

Efektif dalam bicara, efektif dalam bekerja, efektif dalam memimpin, efektif dalam memanfaatkan anggaran dan lain sebagainya. Dengan tindakan yang efektif ini, seseorang akan mampu meningkatkan produkktivitas yang lebih besar dibandingkan dengan yang sebelumnya. Untuk mendukung usaha dan kebutuhan dalam meningkatkan efektivitas ini, seseorang atau lembaga dapat memulainya dengan merumuskan standar minimal kehidupan. Sebagaimana yang terjadi dalam bulan ramadhan, standar minimal konsumsi yaitu cukup dengan makan sahur dan buka, selain itu perlu diisi dengan ibadah dan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa ngemil dan lain sebagainya adalah sesuatu hal yang kurang efektif. Terlebih lagi, bila dikaitkan dengan analisa kesehatan, bahwa yang lebih penting itu bukanlah kuantitas, namun kualitasnya. Dengan kata lain, hal yang perlu diperhatikan itu adalah kandungan gizi pada asupan konsumsi lebih penting dibandingkan dengan frekuensi memasukkan makanan ke dalam perut.

Hal yang terakhir itupun menunjukkan bahwa efektivitas mengandung makna mengenai pentingnya kualitas dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Dengan kualitas itulah, seseorang dapat meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Oleh karena itu, bila hidup sederhana bisa dilakukan, mengapa harus boros?.

Advertisements