Seringkali muncul alasan, bahwa karena miskin jadi tidak bisa maksimal dalam ibadah. Karena harus bekerja, menyebabkan banyak orang muslim yang sulit untuk melaksanakan perintah-perintah Allah Swt. Bahkan ada juga yang kerap menyatakan bahwa sangat pantas bila orang kaya dapat beribadah dengan baik, karena dia sudah merasa kebutuhan biologisnya tercukupi. Apakah sikap dan pandangan ini tepat dikemukakan ?


Untuk meraih hidup sukses, kita dapat merenungkan dan mengambil pelajaran dari bulan suci ramadhan. Dengan mentafakuri berbagai hal yang terjadi di bulan suci ramadhan, mudah-mudahan kita dapat menemukan tambang emas prinsip hidup yang dapat dijadikan sebagai modal untuk bangkit dan berkembang menuju pribadi yang sukses dan hidup yang berkah.

Sebagai bahan refleksi, kita dapat merenungkan kembali prinsip hidup dalam bulan suci ramadhan.

Dalam bulan ramadhan, seorang muslim harus mengurangi konsumsinya. Khususnya di siang hari, dia tidak diperkenankan untuk makan, minum atau melakukan hubungan seks. Imska di pagi hari, membatasi keleluasaan seorang muslim untuk mengkonsumsi kebutuhan biologis. Sementara di lain pihak, seorang muslim pun terus dituntut bahkan dianjurkan untuk tetap melakukan kegiatan kehidupan sehari-hari, baik dari kegiatan duniawi maupun kegiatan ukhrawi. Khusus yang terkait dengan ibadah, pada bulan ramadhan ini seorang muslim dituntut untuk senantiasa memperbanyaknya. Bagi mereka yang jarang solat malam, jarang infakw shodaqoh, jarang ngaji, dan lain sebagainya, pada bulan ramadhan ini, dituntut untuk meningkatkan kegiatan ibadah yang selama ini jarang dilakukannya.

Bila di cermati dengan tepat, tampak jelas bahwa pada bulan ramadhan ini, energi biologis dibatasi (dikurangi) sedangkan produktivitas dan aktivitas dituntut untuk terus ditingkatkan. Ini merupakan gambaran nyata mengenai pentingnya hidup hemat energi, maksimal produksi. Mengapa hal ini menjadi sangat penting bagi kehidupan kita ?

Pertama, sebagaimana pernah dikemukakan sebelumnya, bila dengan hemat bisa dilakukan, mengapa harus hidup boros ? bila makan sudah cukup dengan dua kali, mengapa mesti boros makan yang aneh-aneh ?

Renungan

Haruskah kita berpendapat bahwa karena miskin atau kurang makan dijadikan alasan untuk malas beribadah ? harus kita mengatakan bahwa ibadah itu ditentukan oleh kekayaan ?apa yang terjadi pada bulan ramadhan ?

Renungan Haruskah kita berpendapat bahwa karena miskin atau kurang makan dijadikan alasan untuk malas beribadah ? harus kita mengatakan bahwa ibadah itu ditentukan oleh kekayaan ?apa yang terjadi pada bulan ramadhan ?Kedua, di bulan ramadhan sudah ditunjukkan bahwa dengan hemat energi pun pada dasarnya seorang muslim mampu untuk bertahan. Bahkan hidup ini bukan disebabkan oleh kuantitas konsumsi, melainkan oleh kualitas konsumsi dan produktivitas. Sebagai bukti, di bulan ramadhan ini sesungguhnya orang kaya dapat menahan konsumsi, dan orang miskin pun dapat menahan konsumsi berlebih. Orang kaya dapat bertahan hidup dengan sedikit konsumsi (puasa) dan orang miskin pun dapat aktif dan hidup dengan sedikit konsumsi. Hal yang membedakan antara satu dengan yang lainnya, bukanlah jumlah makanan yang dikonsumsi, melainkan pada aspek berapa banyak aktivitas dan produkktivitas manusia dalam memanfaatkan energi hidup yang dimilikinya.

Bulan ramadhan, mengantarkan kita pada satu simpulan sederhana bahwa hidup sukses, keimanan, ketaqwaan, dan keimanan bukan ditentukan oleh banyaknya konsumsi yang serap ke dalam tubuh namun lebih ditentukan oleh kreativitas dan produktivitas diri dalam memanfaatkan energi yang diberikan Tuhan.

Dengan mentafakuri apa yang kita ulas di atas, dapat disimpulkan bahwa selain pentingnya hidup hemat, efekktif dan mengutamakan kualitas, puasa ramadhan pun memberikan pelajaran penting untuk mengembangkan prinsip ekonomi yang kedua yaitu : hemat energi dan maksimal produksi. Untuk mewujudkan kesuksesan dalam hidup, prinsip ini sangat penting untuk diperhatikan oleh masyarakat Islam Indonesia. Prinsip ini merupakan kelanjutan dari prinsip hidup yang pertama, yaitu hidup hemat.

Salah Sangka

Bila ada yang menyangka bahwa hidup sukses hanya milik orang kaya, itu adalah satu contoh dari pikiran yang salah. Orang tersebut sudah salah sangka, bahwa hanya orang kaya yang bisa sukses.

Dalam peringatan mauled nabi Muhammad Saw tahun 2008, KH. Endang Rahmat ketika berceramah di MAN 2 Kota Bandung menuturkan bahwa ada rekanannya yang tinggal di daerah Ujung Berung Bandung yang sekolah hanya sampai kelas III SD, dan kini menjadi konglomerat di daerah Bandung Timur. Karena kurang mampu, orangtuanya dulu tidak menyekolahkannya ke perguruan tinggi. Namun karena usaha dan tekadnya untuk hidup sukses, kemudian dia mampu mewujudkan cita-cita tersebut saat ini. Sejumlah kekayaan sudah digenggamnya bahkan kendaraan roda empatnya pun ada yang seharga Rp. 1,2 M.

Kasus yang dikemujkakanb tersebut merupakan contoh nyata bahwa untuk mendapatkan kesuksesan hidup tidak monopoli orang yang sudah kaya. Asalkan mau hidup kreatif dan produktif, orang miskin pun dapat meraih kesuksesan dalam hidupnya. Hemat kata, untuk menjadi kaya, tidak perlu menjadi kaya dulu. Kekayaan yang melimpah dapat diraih oleh siapapun yang berhasrat untuk hidup sukses.

Dalam sejarah Rasul, kita tahu ada sahabat yang bernama Bilal dari Habsyi. Orang yang berasal dari keluarga miskin, bahkan berstatus sebagai seorang budak atau hamba sahaya. Rambut keriting, bibir tebal dan kulit hitam serta ras afrika. Bagi kebanyakan orang Indonesia yang terobsesi dengabn Eropa Minded, mungkin fostur dan keadaan fisik seperti Bilal ini kurang menguntungkan. Kebanyakan diantara sangat berharap memiliki fostur yang semampai dan kulit putih atau kuning langsat. Hal ini sudah tentu, sangat tidak dimiliki oleh Bilal al-Habsyi. Namun, bukan kekayaan yang menjadi pendorong dirinya untuk menjadi seorang muslim yang taaf ibadah, bukan warna kulit yang menyebabkan dirinya menjadi seorang hamba yang bertaqwa, namun karena kesadaran yang dibangun untuik hidup sukses sebagai seorang muslim sejati itulah yang mendorong dirinya menjadi sahabat rasul yang terhormat.

Kaitan dengan masalah ini pun, salah sangka bila ada yang mengaitkan kesuksesan dalam ibadah lebih banyak ditentukan oleh kekayaan. Malahan bila kita tidak mampu mengelolanya, kekayaan itulah yang dapat menyebabkan dirinya tidak mampu lagi menjadi orang yang bersyukur kepada Allah Swt.

Tsalabah adalah salah seorang sahabat yang dekat dengan Rasul. Tsalabah adalah salah satu contoh orang miskin yang bisa memanfaatkan hidup dan ennergi hidupnya untuk beribadah. Kendati miskin namun dia mampu beribadah kepada Allah Swt dengan baik. Hingga pada satu waktu, sejarah menunjukkan lain ketika dirinya terkena imbas pemikiran yang berpandangan bahwa andai menjadi orang kaya, maka dia akan lebih rajin beribadah kepada Allah Swt. Pemikiran ini kemudian menghantui hidupnya dan kerap disampaikan kepada Rasulullah Muhammad Saw.

Mendengar harapan tersebut, Rasulullah Saw mengingatkan mengenai hasrat itu. Hasrat itu adalah salah satu hasrat yang keliru dalam meraih sukses ibadah. Namun, Tsalabah kerap kali mengajukan permintaan kepada Rasul untuk mendoakannya sehingga dirinya menjadi orang kaya. Singkat cerita, Rasullah berdoa kepada Allah dengan harapan mengabulkan keinginan Tsalabah untuk menjadi orang kaya. Dan akhirnya, doa rasul pun dikabulkan.

Tsalabah mulai sibuk dengan ternaknya. Pagi hari harus mengeluarkan ternak yang sudah ratusan, sehingga tidak sempat untuk solat subuh berjamaah. Sore hari pun, tsalabah masih sibuk mengandangkan ternaknya hingga tidak sempat solat maghrib berjamaah, bahkan solat jumat pun menjadi jarang dilakukannya karena dirinya masih sibuk di ladang ternak. Melihat kenyataan ini, Rasul berujar, celakalah Tsalabah.

Kisah Tsalabah merupakan cermin sekaligus teguran kepada kita, bahwa sungguh salah sangka bila kita mengait-ngaitkan jumlah kekayaan dengan kualitas keimanan. Dalam batasan tertentu, mungkin benar bahwa orang kaya akan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk beribadah kepada Allah Swt, namun hal ini bukan berarti bahwa orang miskin tertutup untuk meraih hidup sukses.

Dalam data Departemen Agama Republik Indonesia tahun 2007, jumlah jemaah haji dari Indonesia didominasi oleh kalangan kelas menengah rendah. Banyak jemaah haji yang status mata pencahariananya adalah petani dan pendidikan SD. Data ini pun, sekali lagi menunjukkan bahwa untuk sukses ibadah tidak ditentukan oleh kekayaan.

Gambaran nyata untuk menyimpulkan pandangan ini, dalam keadaan berpuasa siapapun dan berstatus apapun dapat berlomba untuk meraih kesuksesan dalam ibadah. Tidak ada orang kata, tidak ada pejabat, tidak ada rakyat, tidak ada orang miskin. Pada bulan ramadhan ini, setiap orang dipaksa untuk mengurangi konsumsinya tetapi tetap dituntut memaksimalkan ibadah.

Salah sangka bila kita menganggap bahwa untuk menjadi orang pintar harus memiliki sarana dan prasarana belajar yang lengkap. Bila ada yang mengatakan bahwa sarana belajar mempengaruhi kualitas dan hasil belajar, pandangan tersebut tidak salah. Namun pandangan ini tidak berarti bahwa orang yang tidak memiliki sarana belajar tidak bisa sukses untuk menjadi orang pintar.

Untuk menjadi dokter yang sukses, tidak mesti memiliki sarana kesehatan dan teknologi kedokteran yang lengkap dan canggih. John Manangsang (2008) sudah membuktikannya selama 2 tahun tugas di daerah Papua melakukan operasi bedah dan layanan kesehatan secara maksimal tanpa kelengkapan teknologi kedokteran yang canggih. Kendati harus menggunakan silet untuk membantu operasi bedah, dan palu serta alat tradisional lainnya, namun dengan niat yang tulus serta dorongan kecintaan kepada sesame manusia, dia mampu menunjukkan diri sebagai dokter professional yang sukses di Indonesia.

Rangkaian contoh ini menunjukkan fakta bahwa hidup sukses tidak hanya milik orang kata. Baik untuk menjadi dokter professional, menjadi orang soleh, menjadi orang kaya atau menjadi orang pintar, tidak harus menjadi kaya dulu. Siapapun kita dapat meraihnya, sepanjang kita mau memanfaatkan energi hidup secara maksimal guna meraih kesuksesan yang maksimal. Kendati pun energi kita sedikit, namun kita harus memanfaatkannya secara maksimal guna meraih kesuksesan hidup.

Kembali ke bulan ramadhan, bulan ini mirip dengan lomba lari dalam olahraga, setiap manusia dipaksa harus kembali ke titik start yang sama (puasa), tidak ada keistimewaan antara satu orang dengan orang lain. Ini adalah kondisi keseteraan hidup dan sekaligus menunjukkan bahwa untuk beribadah itu bukan ditentukan modal kekayaan, namun oleh semangtat usaha dan kerja keras masing-pmasing. Posisi titik start yang sama, kemudian kita dilombakan untuk mencapai finish kesuksesan hidup beribadah

Orang Hebat

Bila ada orang kaya yang kaya lagi, tidak akan dapat dikatakan hebat. Kekayaan yang dimilikinya bisa jadi karena harta warisan atau karena memiliki modal besar untuk mendirikan perusahaan dan bisnis besar. Anak orang kaya yang menjadi kaya bukan sesuatu hal yang aneh. Kasus seperti ini adalah kasus yang biasa. Orang akan dikatakan hebat, bila mampu menjadi orang kaya padahal dirinya lahir dari keluarga miskin dengan modal yang minus atau pas-pasan. Anak orang miskin yang menjadi kaya, adalah orang hebat.

Anak seorang guru besar dan lahir dari ibu seorang dokter, sudah tentu sangat wajar bila dia menjadi orang pinter. Dari sisi keturunan bila memang mau disebut gen-kepintarandia sudah jelas sebagai anak dari orang yang pinter. Dari sisi sarana dan prasarana belajar atau lingkungan belajar, memang sudah memungkinkan untuk menjadi orang pinter. Bahkan dari sisi biaya belajar dan budaya belajarpun sudah tentu akan mumpuni untuk menjadi orang pinter. Namun, kasus seperti ini pun hanya akan melahirkan kesimpulan yang sangat sederhana, wajar dia pinter, orangtuanya pun pinter.. dengan kata lain, anak orang pinter menjadi pinter adalah sesuatu hal yang biasa, wajar dan tidak aneh. Hal yang sangat hebat dan luar biasa, adalah lahirnya orang pinter dari keluarga yang tidak mampu dan tidak sekolah. Ini adalah satu kehebatan yang indah yang dimiliki manusia.

Menjadi pemimpinan Negara, atau menjadi presiden karena ada terah kepemimpinan adalah sesuatu hal yang biasa. Andaipun mau dipuji, kita hanya melestarikan pujian yang pernah diraih oleh nenekmoyang sebelumnya. Masyarakat akan mengatakan, wajar dia jadi pemimpin, bo iya karena ibu atau bapaknya pun dulunya adalah seorang pemimpin. pernyataan ini pun adalah pernyataan yang menunjukkan kewajaran atau penilaian yang standar atas prestasi kepemimpinan yang diraih oleh anak seorang pemimpin. bahkan, bisa jadi, pretise kepemimpinan yang diraihnya pun bukan karena kualitas dirinya dalam memimpin namun lebih banyak karena citra ibu bapaknya dalam memimpin di masa lalu. Bila hal terakhir yang terjadi, maka orang tersebut hanya mendapatkan anugerah warisan kesuksesan dari nenek moyang.

Kita patut iri terhadap orang yang memiliki warisan kesuksesan. Orang yang memiliki warisan kesuksesan ini, tanpa harus bekerja keras atau banting tulang pun dia akan mendapatkan warisan kesuksesan orangtuanya masa lalu. Namun, pada dasarnya hal ini tidak menunjukkan kekayaan yang sejati terhadap dirinya. Karena harta warisan adalah harta titipan, dan kesuksesan warisan hanyalah titipan, ketika warisan itu lenyap maka lenyaplah kesuksesan dari dirinya. Hal ini terjadi, karena warisan kesuksesan bukan kesuksesan dirinya sendiri.

Berdasarkan pertimbangan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa orang kecil yang berbuat besar, bukan orang berbuat besar atau orang besar berbuat kecil. Orang besar berbuat besar adalah biasa, orang besar berbuat kecil adalah hina. Dari simpulan ini pun, kita bisa mengatakan bahwa bila kita sedang senang, sedang kenyang, dan sedang memiliki banyak harta bisa infaq shodaqoh dan ibadah, itu adalah sesuatu hal wajar dan biasa. Namun, bila kita sedang lapar dan tidak memiliki apa-apa, namun mampu banyak melakukan amal ibadah, inilah yang disebut luar biasa. Pada konteks inilah, mengapa ibadah orang-orang yang puasa itu dihargai langsung oleh Allah Swt, yaitu karena ini adalah prestasi luar biasa dari seorang hamba dalam menunjukkan kualitas dan produktivitas ibadah.

Produktif bukan eksplotatif

Pentingnya hemat energi dan maksimal produksi, seolah-olah terkait dengan masalah ekonomi semata. Andaipun mau ditafsirkan demikian, tidak masalah. Namun sejatinya prinsip ini tidak hanya dapat diterapkan dalam bidang ekonomi. Aspek-aspek di luar ekonomi pun, dapat diterapkan prinsip hemat energi dan maksimal produksi.

Sebagaimana dimaklumi bersama, dalam dunia ekonomi, sudah biasa menggunakan prinsip ekonomi pengeluaran sehemat mungkin dan pendapatkan semaksimal mungkin. Semangat ekonomi ini merupakan semangat ekonomi modern. Prinsip ini sangat strategis dalam meningkatkan dan mengembangkan jumlah pendapatan sebuah perusahaan atau kekuatan ekonomi Negara. Dengan modal yang kecil, namun keuntungan yang besar. Ini adalah prinsip ekonomi yang tepat bagi orang yang tengah mengembangkan usaha atau perusahaan.

Prinsip ekonomi tersebut, relevan dengan anjuran mengenai pentingnya berhemat. Hemat dalam pengeluaran, namun harus berusaha keras untuk mendapatkan penghasilan yang sebesar-besarnya. Dengan kata lain, setiap orang harus berusaha keras untuk hidup hemat, tidak boros dan berusaha keras untuk mendapatkan hasil dan kualitas hidup yang maksimal.

Prinsip pengeluaran sehemat mungkin dan pendapatkan semaksimal mungkin potensial menjadi energi eksploitatif. Tidak perlu merasa riskan bila ada yang mengatakan hal demikian. Memang dalam ukuran tertentu, prinsip tersebut mengandung makna eksploitatif karena dibalik prinsip itu ada upaya untuk mendapatkan sesuatu sebanyak-banyaknya. Hanya saja, kita pun perlu jujur bahwa semangat eksploitasi ini tidak diarahkan untuk merugikan orang lain.

Setiap orang harus memiliki kesadaran yang tepat terhadap diri dan potensi diri. Dengan kesadaran ini, kemudian setiap orang pun harus menggali dan menggali terus secara maksimal mengenai potensi atau kemampuan diri. Kesuksesan hidup adalah buah dari memaksimalkan menggali potensi dirinya sendiri. Orang yang gagal dalam menggali potensi diri dan gagal memaksimalkan upaya menggali bakat, akan gagal pula meraih kesuksesan. Pada bagian inilah, maka sukses hidup itu adalah upaya eksploitasi diri terhadap kemampuan diri.

Kendati demikian, semangat ekspolitasi ini bukanlah eksploitasi yang negative, namun semangat eksploitasi yang produktif, yaitu menggali potensi diri untuk meraih kesuksesan hidup. Dan kesuksesan hidup adalah buah dari usaha maksimal seseorang dalam mengembangkan bakat dan kemampuannya.

Penutup

Dari ulasan tersebut, terang sudah bahwa hidup sukses itu adalah hidup yang diwarnai dengan usaha maksimal dalam memberdayakan potensi diri. Potensi diri yang paling utama adalah dirinya sendiri, bukan harta atau modal materi. Melalui puasa itulah, setiap muslim disadarkan untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa kendati dalam keadaan haus dan dahaga pun, kita harus produktif dan maksimal dalam beribadah.

Advertisements