Suatu saat, seorang instruktur komputer, memberikan perintah kepada siswanya, Nanin, bapak mau ngeprint niih, tolong sambil printer di ruang lab sebelah ! tuturnya.
jisgaw-5

Kemudian, salah seorang siswa yang dipanggil, yang bernama Nanin itu, pergi dengan maksud untuk mengambil printer di ruang laboratorium praktek, sebagaimana yang dimaksudkan oleh intsruktur computer tersebut.
Beberapa menit kemudian, Nanin datang lagi, sambil membawa sebuah printer, lengkap dengan kabel printernya. Setelah itu, dia menyimpannya di meja computer seorang instruktur tersebut.
Ada Nin? Tanya instruktur.
Ada, Pak! jawabnya singkat, nihhh komputernya, di simpan di meja ini Pak? Nanin balik bertanya.
Iya… Setelah dipersilahkan begitu, kemudian Nanin membereskan printer di meja intruktur tersebut, dan setelah rapih di simpannya, kemudian dia hendak beranjak pergi meninggalkan meja komputer tempat instrukturnya bekerja.
Lho…lho…mau kemana… Nanin, kok buru-buru ? tanyanya lagi.
ke ruang belajar, ngerjain tugas lagi…?
Emang, kerjaannya sudah selesai ?
Udah…Pak, tuh printernya ada di samping komputer bapak.
ngeprintnya gimana..?
Karena, Nanin sudah belajar mengenai apa dan untuk apa printer, maka dengan cepat dia menjawab, Ya..harus dipasang dulu, atuh Pa…! jawab Nanin tegas.
Itu artinya, pekerjaannya belum selesai, betul ga ? mendengar komentar seperti itu, Nanin hanya terdiam, seakan sedang berfikir mengenai maksud yang diutarakan gurunya tadi, Inget lho…..setiap pekerjaan, harus sampai pada standar minimalnya yahhh, biar sebuah operasi komputer dapat berjalan…jangan tanggung..? tutur sang instruktur pada Nanin.

-o0o-

Dari kisah di atas, ada sesuatu hal yang menarik untuk dikedepankan, khususnya dalam membangun sebuah budaya belajar. Kata kunci dalam kisah ini, yaitu memberikan penanaman budaya belajar sistem tuntas, dengan ukuran standar.
Kelemahan kita saat ini, adalah belum memiliki pemahaman yang sama, mengenai standar ketuntasan belajar. Sehingga, apa yang didapat atau diraih oleh anak didik pun, menjadi sesuatu hal yang hambar, dan setengah matang. Padahal, bila kita cermati, maka antara perintah isntruktur komputer dengan apa yang dilakukan Nanin, adalah sesuatu hal yang cocok, jelas, dan tepat. Tetapi, dari sisi fungsional, apa yang diharapkan oleh instruktur komputer belum tercapai.
Jika dilihat dari perintah formalnya, instruktur hanya menyuruh Nanin untuk mengambil printer, karena dirinya akan memprint hasil kerjanya. Perintah ini, kita sebut tujuan instruksional atau tujuan jelas, eksplisit dan terrumuskan (walau dalam bentuk lisan).
Pada pihak lain, Nanin dengan gesit dan tangkasnya, kemudian mengambil printer yang dimaksud, dan menyimpannya di samping komputer kerja instrukturnya. Secara formal, pada dasarnya, Nanin sudah mengerjakan tugas tersebut. Namun, dalam hitungan kemanfaatan (fungsi) pekerjaan Nanin itu masih menyisakan pekerjaan, yaitu belum memasangkan printer ke dalam sistem komputer instrukturnya. Pada titik inilah, Nanin belum mampu untuk belajar tuntas. Dan dalam pandangan kita, untuk konteks belajar modern saat ini, setiap anak perlu diberikan budaya belajar, budaya berfikir, dan budaya kerja yang tuntas, sehingga sebuah pekerjaan benar-benar dapat bermanfaat, dan langsung terlihat efeknya bagi kehidupan manusia.
Dalam studi sosial, atau pembelajaran life skill, pendekatan belajar tuntas dengan basis standar minimal operasional, merupakan sebuah kebutuhan yang mendasar, dan mendesak untuk terus dikembangkan. Beberapa contoh dari kasus belajar tuntas dengan basis standar minimal ini.

Beberapa contoh Belajar Tuntas dengan Basis Standar Minimal
1 Mengambil net volly, maka kompetensi tuntasnya itu adalah Anak dapat menghadirkan net volly dan terpasang ditiang, yang sudah siap untuk dipake main olah raga volly
2 Memahai peristiwa suksesi Orde Baru,maka kompetensi tuntasnya itu adalah Anak dapat menjelaskan latar belakang, proses, dan implikasi dari suksesi Orde Baru
3 Mengetahui pristiwa suksesi Orde Baru, maka kompetensi tuntasnya itu adalah Anak dapat menyebutkan tahun kejadian, tempat dan tokoh utama dalam proses suksesi Orde Baru
4 Menjelaskan proses tsunami, maka kompetensi tuntasnya itu adalah Anak dapat menjelaskan penyebab, proses dan dampak sosial-ekonomi dari peritiswa tsunami
5 Mengetahui peristiwa tsunami, maka kompetensi tuntasnya itu adalah Anak dapat menyebutkan tahun, tempat dan skala gempa yang terjadi pada peristiwa tsunami tertentu
6 Tolong baca buku halaman xx, maka kompetensi tuntasnya itu adalah Anak dapat membaca, memahami, meringkas isi bacaan, dan menjawab pertanyaan yang ada dalam bab tersebut
7 Kerjakan latihan hal xx, maka kompetensi tuntasnya itu adalah Anak dapat mengerjakan latihan halaman xx, dan mengecek kunci jawabannya sehingga diketahui hasil pembelajaran hari itu
8 Anak disuruh mengambil buku paket dari Perpustakaan, maka kompetensi tuntasnya itu adalah Anak dapat secara sadar, mengambil buku paket, kemudian membagikannya kepada seluruh siswa, serta bertanggungjawab untuk mengembalikannya ketika sudah digunakan di kelas.
cimg0008
Dengan memahami hal tersebut, maka setiap anak akan dibiasakan untuk belajar menyeluruh, lengkap dan tuntas. Anak tidak akan melakukan tindakan yang setengah hati, setengah matang, atau setengah jadi. Melalui pendekatan seperti ini, maka setiap orang, baik guru, maupun siswa, akan menjadi orang yang mampu mengedepankan cara berfikir komprehensif.

Pendidikan Kejenuhan

Pa…bete ! ujar seorang siswa kepada Pa Jajang, yang waktu itu sedang memberikan materi pembelajaran mengenai bahasa Indonesia. Kemudian, Pa Jajang datang menghampiri anak yang duduk dipojok kelas, dan bertanya lagi.
lhoo..kenapa, baru masuk kelas, lagian masih pagi…kok sudah murung. tanya Pa Jajang, pada Resti anak yang duduk di kursi pada barisan paling belakang.
ga tahu…
mana buku latihan kerja yang kemarin ditugaskan ? pintanya.
Nihhhh, katanya sambil memberikan sebuah buku latihan yang berisikan pekerjaan Resti kemarin.
Resti.. Pak Jajang menyapa lagi, coba, ambil buku cerita tradisional yang bapak tugas kemarin, kemudian bacalah secara seksama, biar ada pencerahan dalam hati dan pikiran kita, biar kita menemukan suasana baru…. sarannnya.
uhhh, sama aja, orang lagi ngga mud di surung membaca, ya..sama aja atuh Pak..! sanggah anak itu lagi.
emang, ada apa, kenapa dilanda gelisah….
ga tahu.. ah, pokonya gak enak rasa, jadi gak semangat belajar, lagian belajar seperti ini terus mah bosen….ujarnya lagi.
oke…anak-anak, untuk pelajaran kali ini, kita akan melihat film kartun. Ayo kita pergi ke laboratorium bahasa, dan siapkan bukunya untuk mencatat poin-poin penting, sebagai bahan kajian mengenai resensi film. Tawar Pa Jajang.
Mendengar tawaran begitu, anak-anak kelas X-5 ini kemudian bersorak, tandanya setuju, dan Resti yang semula nampak murung pun, kini mulai berbinar, wajahnya kembali cerah, menunjukkan adanya gelit harapan dan kebahagiaan dalam dirinya.

-o0o-

Jika dicermati, kita dapat menyatakan bahwa Resti adalah salah seorang dari sekian banyak siswa yang sedang mengalami jenuh, bosen, atau tidak enak rasa. Bahkan suasana bosan dan membosankan ini, tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, di lingkungan kerja atau hidup di masyarakatpun kadang kala muncul perasaan jenuh. Jenuh tinggal di rumah, jenuh belajar, jenuh bekerja, jenuh bekerja dan lain sebagainya.
Dalam suasana yang membosankan ini, banyak aktivitas sehari-hari menjadi tidak efektif, bahkan cenderung tidak berjalan dengan baik. Kalaupun, kita melakukan aktivitas, kinerja kita kerap menunjukkan ketidakbergairahan hidup, dan menjalani kegiatan tersebut.
Kalangan remaja saat ini, menyebutnya dengan bete (bad mudt). Dalam suasana bosen, atau hidup di lingkungan yang membosankan inilah, seseorang dapat menunjukkan tingkah laku yang aneh. Bahkan, keanehan perilaku anak tersebut, dalam ukuran tertentu dalam berupa tindakan yang negatif.
Namun demikian, apakah memang kejenuhan ini, merupakan sesuatu hal yang negatif ? atau dengan kata lain, apakah kejenuhan ini, tidak mengandung nilai edukatif bagi proses pembelajaran, pembinaan dan pendidikan anak bangsa ? inilah sebuah pertanyaan yang menarik, yang perlu dikedepankan dalam wacana kali ini.
Selama ini, kita memang kerap dihadapkan pada pernyataan atau sikap yang menyudutkan kondisi membosankan sebagai sesuatu hal yang kurang bermanfaat bagi proses pendewasaan atau pembelajaran. Dengan kata lain, tidak banyak orang, yang memahami bahwa kejenuhan merupakan sebuah materi pembelajaran dalam membangun karakter anak didik. Dengan kejenuhan ini, pada dasarnya, dapat dibangun seorang anak manusia yang memiliki karakter yang kuat, kokoh, tangguh, struggle, dan mau berjuang terus untuk masa depan diri dan bangsanya.

-o0o-

Banyak orang yang sudah berusaha untuk memberikan penjelasan mengenai usaha dan upaya untuk menghindari rasa jenuh. Refresing, baik ke tempat hiburan atau taman mbunga misalnya, merupakan salah satu ikhtiar manusia untuk menghapus kejenuhan. Selain dengan refreshing, sudah barang tentu, masih banyak lagi, bahkan membuat catatan harian, melukis atau menuliskan perasaan ke dalam sebuah wacana pun, merupakan pilihan alternatif dalam menghilangkan kejenuhan.
Namun demikian, dalam wacana ini, kita tidak akan menguraikan mengenai bagaimana menghapuskan kejenuhan. Justru sebaliknya, bagaimana membina mental manusia melalui model pendidikan dan pembiasaan yang menjenuhkan. Inilah poin pikiran yang akan dikedepankan saat ini.
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, kejenuhan adalah sesuatu hal yang kurang mengenakkan bagi setiap orang. Penulis sendiri pun, sangat membenci situasi, lingkungan atau keadaan yang memungkinkan munculnya kejenuhan. Hanya saja, sebagai orang yang sedang belajar hidup, dan belajar bertahan hidup, ternyata, masalah kejenuhan ini penting untuk dipahami dan direnungkan bersama, sebagai sesuatu hal yang positif bagi membangun ketahanan mental spiritual seseorang.
Berdasarkan pengalaman, orang yang mampu bertahan dari situasi jenuh, adalah mereka yang kuat mentalnya. Sementara orang yang mampu memanfaatkan kejenuhan sebagai sesuatu hal yang positif, baik dengan cara mengelola kejenuhan sebagai sebuah peluang maupun mengubah kejenuhan menjadi kegairahan, maka orang tersebut sudah mampu membuktikan bahwa dirinya adalah orang kreatif dan berdaya juang tinggi.
Begitu pula sebaliknya, andai kita menemukan ada orang yang tidak mampu bertahan dari kejenuhan, maka dia akan menjadi orang yang frustasi, dan pada akhirnya dia akan menjadi orang yang putus asa.
Analisa ini, dapat dikembangkan, bahwa bukan hal yang mustahil, munculnya generasi muda yang lemah, adalah karena mereka tidak mampu mengelola kejenuhan atau tidak mampu bertahan dengan suasana hidup yang jenuh.
Dalam tahun 2005, Indonesia digoncangkan oleh kasus-kasus anak-anak di bawah umur yang melakukan bunuh diri. Ada yang bunuh diri karena rebutan makanan, putus cinta, kehilangan handphone, dimarahin guru, atau tidak kasih uang jajan oleh orang tua. Peristiwa-peritiswa ini, mungkin benar, diawali dengan adanya sikap frustasi terhadap kenyataan. Dan sikap frustasi dalam hidup ini, bisa disebabkan karena adanya ketidakberdayaan dirinya dalam menghadapi kenyataan. Dengan kata lain, orang seperti ini, seolah-olah sudah merasa bosan hidup, dan tidak bergairah lagi dengan suasana hidup yang menyesakkan. Maka mereka mengambil jalan pintas, untuk memutuskan seluruh penderitaannya tersebut, yaitu dengan bunuh diri.
Dalam analisa kita, orang yang sedang dilanda rasa bosan, akan berhadapan dengan kondisi tarik-menarik, yaitu terpaksa mengikuti terus perjalanan sejarah hidupnya yang membosankan, atau menghentikan perjalanan sejarah ini. Jika anda merasa bosen bekerja, maka ada dua kemungkinan, yaitu anda tetap bekerja atau keluar dari pekerjaan tersebut. Jika anda jenuh belajar, maka ada dua pilihan yaitu keluar dari sekolah atau tetap bertahan belajar di sekolah. Jika ada bosen berpacaran, maka ada dua pilihan, yaitu putus atau dilanjutkan.
Pilihan-pilihan tersebut sudah pasti memiliki resiko. Orang pembosan, dan tidak memiliki kesabaran, kesungguhan, dan ketahanan mental untuk berjuang, yakin akan memilih titik esktrim yang kedua, yaitu bunuh diri, putus cinta, putus sekolah atau keluar dari pekerjaan. Orang seperti ini, kita sebut, sebagai orang yang gagal dalam pembelajaran kejenuhan, dan gagal menghadapi situasi yang membosankan.
Dalam pandangan penulis, kejenuhan atau suasana membosankan jangan diciptakan, tetapi bertemu dengan situasi ini janganlah lari dari kenyataan. Kebutuhan kita saat ini, adalah mengelola mental untuk membiasakan diri dalam manajemen emosi dalam menghadapi kejenuhan, sehingga suasana menjenuhkan ini bisa bermanfaat bagi pengembangan karakter pribadi kita.
Simpulan pemikiran ini, suasana yang menjenuhkan atau monoton, dalam batasan tertentu, dapat dijadikan sebagai latihan uji mental dan latihan kesabaran. Hidup dalam dunia yang sarat kompetisi, sangat membutuhkan ketahanan mental dan kesabaran yang tinggi. Oleh karena itu, untuk kemajuan di hari esok, ketahanan mental dan kemampuan untuk berjuang (struggle) membutuhkan sikap sabar dan tahan mental, termasuk dalam menghadapi kejenuhan dalam hidup. Jadikanlah kejenuhan, sebagai sesuatu hal yang positif guna membangun karakter diri yang kuat dan kokoh dalam menghadapi tantangan apapun.

Advertisements