Orang-orang yang bahagia menyambut datangnya bulan Ramadhan, jasadnya diharamkan masuk neraka. Al Hadits


Agak sedikit aneh, atau lebih tepatnya menarik, penggunaan kata hayya alal falah dalam adzannya seorang muslim. Ajakan ini dikumandangkan lima kali dalam sehari, menjelang kaum muslim melaksanakan shalat. Ajakan ini adalah salah satu kalimat yang ada dalam bait adzan (ajakan untuk shalat). Frekuensi yang cukup tinggi, dan intensif. Bahkan bila dikaitkan dengan ajakan-ajakan yang lainnya, hal ini menunjukkan bahwa ajakan hidup bahagia, mendampingi ajakan melaksanakan shalat.
Pernyataan itu, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mengandung arti mari gapai kebahagiaan. Pernyataan ini menarik, dan perlu kita renungkan bersama. Mengapa untuk bahagia saja, orang harus diajak-ajak ? bukankah setiap orang secara naluriah sangat-sangat mendambakan kebahagiaan ? di sinilah kemenarikannya, ajakan tersebut.
Rasa penarasan kita ini semakin besar, setelah mendengar sabda Rasulullah Muhammad Saw, yang mengandung arti Orang-orang yang bahagia menyambut datangnya bulan Ramadhan, jasadnya diharamkan masuk neraka.. Hadits ini, sangat jelas dan tegas, bahwa rasa bahagia menyambut sesuatu menunjukkan kunci sukses dalam mewujudkan sesuatu. Bila ramadhan atau puasa itu bertujuan membangun karakter seorang muslim yang taqwa, maka dapat disederhanakan bahwa sambutan rasa bahagia menyambut ramadhan memiliki pengaruh nyata dalam kesungguhan seseorang mewujudkan diri sebagai seorang muslim yang taqwa.
Kendati relative mengandung makna yang sederhana, namun makna sekaligus dampak dibalik hadist tersebut sungguh sangat luar biasa. Setidaknya, dalam konteks ini, yaitu sebagai bagian penting dalam manajemen diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas dan berdaya saing unggul.

-o0o-

Pernah ada perasaan gundah gulana ketika kita memasuki bulan ramadhan, pekerjaan, tahun baru, atau menerima sebuah pekerjaan baru ? bila ada rasa gundah gulana, hal ini menunjukkan bahwa diri kita belum siap dengan perubahan-perubahan tersebut. Orang yang merasa gundah gulana, sedih dan atau miris menghadapi perubahan, menunjukkan ada ketidaksiapan diri dan atau kealpaan rencana mengenai masa depan. Sedangkan bila kita merasa bahagia menyambut kedatangan sesuatu, menunjukkan sikap optimis dalam menghadapi hal yang baru.
Dalam kaitan inilah, bahagia adalah rasa optimis dalam mendapatkan sesuatu, ketika peluang itu hadir di depan mata. Orang yang bahagia menyambut ramadhan, menunjukkan optimsime diri dan semangat diri dalam memanfaatkan bulan ramadhan sebagai momentum peningkatan kualitas diri. Orang yang bahagia menyambut sesuatu, adalah orang yang sudah memiliki pengetahuan mengenai nilai, rencana, dan tujuan dari kedatangan sesuatu. Bush merasa sedih ketika menerima ijazah SMA. Hal ini dia rasakan, karena penerimaan ijazahnya itu menunjukkan bahwa masa depannya kian suram, tidak tahu arah selepas SMA, dan seluruh fasilitas hidup yang selama ini didapatkan (seperti uang jajan dari orangtua) akan sirna. Rencana acara perpisahan, dan rencana pembagian ijazah, bukan sesuatu yang membanggakan bagi Bush. Momentum itu merupakan awal dari kehancuran dan kemusnahan seluruh kenyamanan yang dimilikinya selama ini.
Sikap itu berbeda dengan Ahmad. Acara perpisahan dan pembagian ijazah, merupakan sesuatu yang sangat dinantikannya, karena selepas momentum itu dirinya sudah memiliki agenda yang lebih meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya saat ini. Oleh karena itu, Ahmad menunjukkan sikap bahagia dalam menyambut acara perpisahan dan pembagian ijazah.
Merujuk pada penjelasan itu, dapat disederhakan bahwa rumus dari rasa bahagia menyambut sesuatu, adalah menerima dan menikmati dengan sepenuh hati. Orang yang bahagia, adalah orang yang menerima sesuatu sambil menikmatinya sepenuh hati mengenai apa yang diterima tersebut. Orang yang menikmati apa yang ada, senantia menunjukkan semangat keras dalam memaknai dan menikmatinya. Orang yang bahagia adalah orang bersungguh hati dalam menikmati perjalanan hidup itu sendiri. Kealpaan terhadap salah satu diantara dua aspek tersebut, potensial menyebabkan hilangnya rasa bahagia dalam dirinya.
Kita mungkin pernah, memakai baju yang bagus. Baju yang bagus dan mahal, yang kita kenakan dalam tubuh kita adalah sebuah tahap penerimaan terhadap sesuatu (baru baru). Namun, baju baru tersebut belum menjadi bagian dari rasa bahagia kita, bila tidak kita nikmati sepenuh hati. Kita tidak akan mendapatkan rasa bahagia, bila tidak bangga dan nikmat dengan pakaian yang dikenakan.
Orang yang baru saja naik pangkat mungkin senang menerimanya. Namun, menerima jabatan baru, hasil dari sebuah promosi yang diberikan atasan anda, belum tentu dapat memberikan kebahagiaan, bila kita tidak menikmatinya. Ada orang yang stress, depresi dan atau tersiksa karena pekerjaan yang baru disandangnya.
Harta yang melimpah adalah sebuah impian. Itu adalah rijki yang diberikan Tuhan kepada manusia. Menerima harta yang melimpah, kehormatan yang megah dan pujian dari fans yang tumpah ruah adalah sebuah modal kebahagiaan. Namun bila semua hal itu tidak dapat dinikimati, malah menjadi penyebab depresi bagi dirinya sendiri. Masih ingatkah ada seorang artis belia yang cantik, yang tengah mekar dan tumbuh kembang di Indonesia, malah mengalami depresi ?
Hal ini akan jauh lebih buruk, bila seseorang menunjukkan sikap tidak senang dalam menghadapi sesuatu. Sikap tidak senang, sebagai lawan dari sikan bahagia, akan memperburuk kinerja seseorang di sebuah tempat. Kuliah yang diawali sikap tidak senang, akan menyebabkan gagal dalam kuliah. Pernikahan yang diawali dengan sikap tidak senang, akan bubar di tengah jalan. Obrolan yang diawali dengan sikap tidak senang, akan mengalami kebuntuan dan atau salah persepsi antar lawan bicara.
Dengan kata lain, kondisi awal sikap seseorang mempengaruhi kelancaran seseorang dalam mewujudkan impian. Rasa benci yang muncul di awal pekerjaan, merupakan setengah kegagalan dalam menjalani satu perjalanan. Mengawali sebuah pekerjaan dengan rasa bahagia, merupakan setengah keberhasilan sudah ditangan. Melalui sikap bahagia inilah, seseorang akan mampu memanfaatkan karir dan pekerjaan yang ada sebagai bagian penting dalam mewujudkan impiannya yang lebih tinggi. Oleh karena itu, tidak salah bila kita katakana bahwa sikap bahagia menghadapi sesuatu adalah kunci awal mencapai tujuan.
-o0o-

Karena sifatnya lebih halus, maka tidak jarang banyak orang yang khilaf dalam memanfaatkan energi besar yang bisa menyumbangkan kesuksesan seseorang dalam mencapai sesuatu. Banyak orang yang berhenti, dan merasa sudah selesai tugasnya dengan sekedar menerima sebuah kenyataan. Menerima penghargaan, menerima rejeki, menerima gelar akademik, menerima pujian, menerima amanah, dan atau menerima jabatan baru adalah sebuah sikap yang harus ditunjukkan oleh seseorang yang mendapat kepercayaan untuk memangkunya.
Namun demikian, sikap ini belum selesai. Dengan sekedar menerima berbagai hal tersebut, belum mampu mengantarkan seseorang mencapai derajat kebahagiaan. Dan bila kita berhenti di titik ini, jangan kaget bila kemudian kita mengalami kekecewaan yang luar biasa. Karena dibalik berbagai hal yang kita terima tadi, tidak ada tempat kebahagiaan. Karena sesungguhnya kebahagiaan itu hadir dan tumbuh kembang dari sikap kita dalam menikmati apa yang diterima tersebut.
Pada konteks inilah, maka rasional dan pantaslah, bila kita semua perlu saling mengingatkan bahwa kebahagiaan itu harus terus digali, kita tumbuhkembangkan serta mekarkan dalam diri kita. Inilah moment dan ruang pembelajaran yang harus kita tularkan dan kembangkan terus dalam hidup ini.
Apakah bahagia itu tujuan atau sekedar sarana ?
Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lanjutkan perjalanan ramadhan ini

Advertisements