Zaman seperti kita saat ini, kerap mempersempit ruang gerak. Ini aneh. Dikala orang semakin cerdas, dan teknologi semakin canggih, namun kebutuhan gerak dan tuntutan gerak semakin dipersempit. Padahal mereka memahami, bahwa gerak adalah bagian penting dalam kehidupan manusia. Orang yang tak bergerak, berada pada satu titik diantara dua kemungkinan, yaitu cacat atau sakit. Selain itu tidak mungkin manusia tidak bergerak. Dengan pandangan seperti itu, dapat dikatakan dengan makna yang sebaliknya, yakni dengan tidak bergerak berarti seseorang tengah memupuk rencana untuk menjadi orang mati atau orang sakit.

Terkait dengan hal ini, ada tiga tahapan makna hidup manusia terkait dengan gerak. Pertama, gerak sebagai ciri orang hidup. Gerak adalah indikasi utama dan pertama mengenai kondisi hidup atau matinya seseorang. Seorang dokter akan menjadikan aktivitas gerak jantung sebagai ciri utama dari kondisi kehidupan janin atau calon bayi.
Bagi kalangan penganut sufistik akan mengatakan bahwa gerak itu ada dua dimensi. Gerak fisik adalah mencirikan hidupnya organisme dalam tubuh manusia, sedangkan gerak psikis menunjukkan hidupnya spiritualisme atau ruh manusia. Kedua aspek ini tidak boleh dipisahkan, dan tidak boleh diabaikan. Untuk mencapai tahapan makna hidup yang lebih baik, maka kedua gerak hidup itu harus senantiasa dipelihara, dirawat dan ditumbuhkembangkan.

Hidupkanlah jiwamu dengan menggerakkan jiwa, dan hidupkanlah duniamu dengan menggerakkan langkah kaki. Waspadahal, tujuan hidup tertinggi manusia diukur oleh kemampuan menggerakkan aspek jiwa dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Banyak orang mati, sebelum kematian jasadinya menjemput. Mereka yang tidak memiliki hasrat adalah orang yang telah mati sebelum masa matinya tiba. Orang yang tidak mau berubah atau tidak bergerak jiwanya, adalah ciri dari kematian hidupnya sendiri.
Kedua, gerak adalah ciri sehat, dan atau menuju hidup sehat. Pada tahap kedua ini, gerak bukan saja menjadi ciri hidup manusia namun menjadi ciri manusia sehat. Untuk mewujudkan kualitas yang kedua ini, seorang manusia perlu melakukan aktivitas-aktivitas yang memang diarahkan untuk mengarah pada pencapaian derajat kesehatan.
Olahraga adalah aktivitas gerak manusia untuk mencapai derajat hidup sehat. Dengan olahraga teratur, seseorang berharap dan bermaksud untuk mendapatkan derajat kesehatan. Dalam teori kesehatan, sudah sangat jelas, bahwa kesehatan bukan saja dipengaruhi oleh genetic dan atau kualitas pelayanan kesehatan, melainkan dipengaruhi pula oleh perilaku dirinya dalam hidup sehari-hari. Olahraga adalah perilaku sehari-hari manusia yang bermanfaat untuk mewujudkan kualitas hidup sehat.

Iqbal Selain olahraga ada aspek penting lain yang perlu diperhatikan masyarakat, yakni gaya hidup sehat. Aspek ini tidak mesti berkarakter kegiatan olahraga, namun dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan sehari-hari. Orang yang terbiasa berjalan, minimalnya 10.000 langkah setiap harinya, merupakan contoh lain dari upaya gerak dalam mendapatkan derajat kesehatan. Kendati di rumah atau dikantornya terdapat lift atau escalator, namun dia kerap menyempatkan diri untuk menaiki tangga, dengan maksud sambil berolahraga. Olahraga melalui gerak hidup sehari-hari, merupakan bentuk gaya hidup sehat.

Sayangnya manusia banyak yang hilap, dan lebih banyak mengartikan olahraga sekedar dengan kegiatan rutin, sistematik, dan baku sebagaimana yang diselenggarakan oleh sanggar olahraga atau tim pelatih olahraga. Akibat dari persepsi ini, banyak orang yang masih memandang rendah terhadap pentingnya kegiatan gerak yang bisa menyehatkan dalam hidup sehari-hari.

Ketiga, kendati demikian manusia tidak sekedar butuh sehat. Maksud dari manusia bergerak juga diarahkan untuk mendapatkan makna hidup. Dalam diri manusia, kerap lahir ada mimpi bahwa sehat bukanlah tujuan, karena tujuan dalam hidup adalah mendapatkan makna hidup itu sendiri. Sehingga prinsip pada tahapan ini, adalah hidup sehat untuk meningkatkan kualitas hidup dan makna hidup.
Tidak bisa dipungkiri, makna dari hidup itu sendiri bergantung pada perspektif atau sudut pandang masing-masing. Orang yang berorientasi ekonomi, akan mengatakan bahwa gerak jalan dan gerak lari yang dimilikinya semakin bermakna dalam hidupnya, bila dirinya bisa memanfaatkan kemampuan gerak tersebut untuk usaha atau lapangan kerja. Seorang atlit dalam cabang atletik akan sangat bersyukur dan merasakan bahwa kemampuan geraknya sangat bermakna bagi kehidupannya.
Kemampuan gerak, seperti lari, menjadi sangat bermakna bagi seseorang karena dengan kemampuan gerak itu dia mampu menyelamatkan dirinya bahaya maut yang mengancam. Misalnya karena dia bisa lari cepat, dia dapat menyelamatkan diri dari kejaran anjing atau harimau. Maka kemampuan lari baginya merupakan aktivitas yang bermakna bagi hidup dan atau kelanjutan hidupnya.
Pada sisi lain, kemampuan gerak pun akan menjadi kian bermakna bagi seseorang bila dirinya mampu memberikan aktivitas atau efek dari kegiatannya pada orang lain. Kemampuan gerak tangan dan kakinya akan terasa jauh lebih bermakna bila mampu memberikan pertolongan pada orang lain. Menolong adalah contoh nyata dari gerak bermakna bagi seseorang yang melakukannya.

Hidup bermakna diukur dari berapa banyak dan berapa besar, aktivitas hidupnya untuk membantu orang lain. Pad ahakikatnya manusia itu normal dan memiliki nurani untuk berbalas budi. Ini adalah fitrah manusia. Oleh karena itu, ketika masa kecil kita banyak berbuat bagi orang lain akan menjadi penyebab orang lain banyak berbuat baik pada diri kita saat kita memasuki usia tua. Sedangkan, orang yang banyak berbuat hanya untuk kepentingan dirinya di masa muda, maka di masa tua akan ditinggalkan orang lain.

Di masa muda banyak memberikan sesuatu pada orang lain, akan menjadi penyebab orang lain banyak memberikan sesuatu ketika kita mencapai derajat tua. Sedangkan, banyak ketergantungan pada orang lain di masa muda, akan menjadi penyebabkan kita banyak ditinggalkan orang lain di masa tua. Hal ini terjadi, karena di masa tua, bukan hanya kita yang berusia tua, namun mereka pun sibuk dengan urusannya sendiri.

Berdasarkan uraian ini, dapat disimpulkan bahwa gerak adalah ciri hidupnya manusia. Namun manusia tidak cukup sekedar butuh hidup. Manusia pun butuh hidup sehat. Gerak pun tidak sekedar dijadikan sekedar untuk hidup sehat, karena hidup sehat yang dimimpikannya adalah hidup sehat yang bermakna. Oleh karena itu, manusia memiliki kewajiban untuk berikhtiar dalam mencapai tujuan hidup tersebut, yakni hidup bermakna.

Advertisements