Kata operasional bagi seorang guru mata pelajaran menjadi sangat penting. Setiap akan memberikan pembelajaran, seorang guru dituntut untuk menentukan kata-kata operasional, sebagai indicator positif dalam mengukur ketercapaian proses pembelajaran. Standar yang digunakan dalam rumusan kata-kata operasional adalah rumusan yang dikemukakan Bloom, atau dikenal dengan taksonomi Bloom.
Taksonomi ini sudah baku dan sudah banyak dikenal. Namun demikian, ternyata masih saja menyisakan pertanyaan sekaligus memberikan kesulitan bagi para guru yang menggunakannya. Salah satu diantaranya adalah kapan dan pada posisi tingkat berfikir bagaiman sebuah konsep kata operasional bisa digunakan.
Contoh kasus sebagaimana dialami oleh Lia Hilyati, seorang guru Akuntansi. Beliau merasa tidak puas dengan pandangan Sri, orang yang dianggapnya sebagai instruktur dari sebuah sekolah di Bandung Timur. Ketika akan merumuskan silabus dan analisis materinya, standar kompetensi yang diminta dalam pelajaran akuntansi adalah mencatat buku jurnal. Pada saat, kata ini akan dituangkan dalam sebuah format analisis materi atau silabus, Guru Akuntansi ini mengalami kesulitan yang mendasar.
Masa iya, semua indicator dalam akuntansi hanya bertaraf C-1 (maksudnya Cognitive tingkat satu). Pertanyaan inilah kemudian diajukan kepada sang instruktur tersebut. Kegalauan yang dialami oleh Ibu Lia ini, bisa jadi tidak sendirian, dan tidak hanya dalam konteks itu saja. Artinya, kadang kita merasa ada satu konsep kata operasional yang tidak tepat pada posisinya.
Pada waktu itu, Sang Instruktur, dengan logika-refrensialnya merujuk pada buku pedoman penyusunan indicator. Dengan sikap, dia membuka buku Panduan Pengembangan Indicator yang dikeluarkan Depdiknas. Pada halaman 7, kolom satu baris ke-18, tertera kata mencatat dibawah kolom pengetahuan. TEPAT SEKALI, dia menemukan bahwa konsep mencatat merupakan kata operasional yang berada pada kolom C-1. Tanpa ragu dan penuh keyakinan, dia mengatakan bahwa pandangan dan temuannya ini sudah jelas, dan sudah mampu menjawab pertanyaan sang guru yang penuh kegalauan.
Kendati dia sudah menunjukkan bukti outentik pandangan dari pakar atau pedoman yang dikeluarkan Pemerintah, dapatkan logika Sang Instruktur itu (atau logika buku tersebut) diterima begitu saja ?
Boleh jadi Ya, bila kita berpatokan pada rumusan yang diterakan dalam Buku Putih perumusan indicator, kita akan mendukung pada pernyataan tersebut. Namun, bila kita sedikit menggunakan nalar, sedikit saja, tidak perlu banyak-banyak, maka keraguan itu akan semakin besar dan jawaban Sang Instruktur menjadi sesuatu yang absurd. Hal ini terjadi, karena kita khilaf mengenai psikologi keterampilan manusia.
Renungkan sajalah. Keterampilan mencatat dalam bahasa Indonesia, dengan keterampilan mencatat dalam Akuntansi memiliki psikologi keterampilan yang berbeda dengan tuntutan keterampilan mencatat dalam pelajaran Fisika atau Materimatika. Bila seorang siswa dituntut bisa mencatat rumus fisika, mungkin benar hanya bertaraf C-1, yaitu hanya membutuhkan keterampilan visual dan mekanik dalam menuliskan huruf demi huruf. Dalam konteks ini, mencatat dianggapnya sebagai sebuah keterampilan yang tidak membutuhkan penalaran. Sepanjang dirinya memiliki kemampuan meniru bentuk (gambar) dan menuangkannya dalam bentuk tulisan, dianggap telah mampu mencatat. Bila hal demikian yang dipersepsinya, maka jawaban Sang Instruktur benar.
Hal ini akan jauh berbeda, dengan keterampilan mencatat dari pelajaran akuntansi. Mencatat dalam buku Jurnal pada pelajaran akuntasi adalah keterampilan puncak seorang akuntan. Sekali lagi saya katakan, mencatat dalam akuntansi adalah keterampilan puncak seorang akuntan. Kesalahan mencatat adalah kejahatan kerah putih yang dilakukan seorang akuntan. Oleh karena itu, kemampuan mencatat dalam pelajaran akuntan adalah keterampilan kognitif tingkat teringgi, dan bukan tingkat terakhir. Orang yang tidak terbiasa dengan akuntansi, akan mengalami kesulitan dalam mencatat buku jurnal dengan benar dan baik.
Seorang akuntan (atau siswa yang belajar akuntansi), ketika akan mencatat jurnal, dia harus memahami konsep-konsep yang terkait komponen buku Jurnal, membedakan, dan menganalisis unsur akuntansi. Bila sudah dipahami, kemudian mencatatkannya dalam sebuah jurnal. Tidak mungkin dia bisa mencatatkan pada sebuah jurnal, bila dirinya tidak bisa membedakan antara utang dan piutang, antara belanja dan pemasukan.
Pengalaman pribadi menjadi seorang sekertaris Koperasi, merasa kesulitan seperti ini. Kesulitan yang saya rasakan pada waktu itu, ternyata bukanlah sebuah kesulitan yang bersifat personal dan subjektif. Kesulitan diri dalam membuat laporan keuangan itu, ternyata merupakan sebuah kesulitan riil dan realistic, terkait dengan kenyataan bahwa akuntansi adalah sebuah ilmu, dan mencatat buku jurnal dan atau akuntansi membutuhkan ilmu tersendiri. Ketidakcermatan dalam mencatat buku jurnal atau akuntansi, potensial menjadi penyebab kerugian dan kecelakan bagi organisasi terkait. Begitu pula sebaliknya, manakala orang mampu memainkan kecermatan catatan akuntansi, akan menjadi bagian dari kejahatan kerah putih yang dilakukannya.
Dalam konteks inilah, saya berpandangan bahwa mencatat bukan (atau tidak selamanya) berada pada posisi C-1, tetapi dapat berposisi pada C-6 dalam kategori Bloom. Terkait hal ini, saya berpandangan bahwa kejelian seorang guru dalam memahami kompleksitas konsep (atau dalam konteks ini, saya sebut psikologi keterampilan psychology of skill) menjadi hal penting ketika akan menetapkan tahapan berfikir anak. Sebuah konsep dalam sebuah disiplin ilmu, memiliki makna tahapan berfikir yang berbeda.

Advertisements