Siti Maryam, kelihatan gelisah dan tidak mau berdiam diri. Padahal waktu itu, guru matematika sudah ada dikelas dan bahkan rekan-rekan sekelasnya tengah melaksanakan tugas mengerjakan soal yang diberikan guru. Soal yang diberikannya itu adalah lima buah soal yang kemarin di PR, dan kini dikerjakan ulang di sekolah karena banyak siswa yang belum mengerjakannya. Kendati memang, karena kemalasan mereka itu, jumlah soal yang dikerjakan menjadi bertambah banyak, yaitu menjadi 10 soal. Namun, bagi Siti Maryam sendiri, kondisi itu tidak membuatnya nyaman belajar.

Siti. tegur Guru, kenapa kamu tidak duduk
pegal bu, duduk melulu.
emang sudah selesai tugasnya ?
udah. Jawabnya singkat
Ya duduk aja dulu, tunggu sebentar.
Jawaban seperti itu, tidak membuatnya berhenti untuk terus jalan-jalan. Dengan banyak alasan dan tingkah dia tetap melakukan aktivitas fisik, berjalan ke sana kemari.

Mungkin kita pernah melihat anak-anak seperti ini. Siti Maryam adalah salah satu dari sekian banyak siswa yang mengalami kejenuhan belajar. Bukan tidak mau belajar, atau bukan tidak mampu belajar. Justru karena mau dan mampu belajar, dia melakukan semua itu.
Sayangnya, apresiasi terhadap perilaku siswa seperti itu, tidak selamanya posiif. Ada yang menganggapnya sebagai orang yang nakal, tidak bisa diatur, ingin enak sendiri dan lain sebagainya. Penilaian seperti itu, sudah tentu tidak adil dan tidak menyelesaikan masalah. Hal ini terjadi, karena memang bisa jadi, apa yang dia lakukan itu bukan karena sebuah kenakalan, tetapi lebih disebabkan karena dosis pembelajaran yang diberikannya tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Dalam kaitan inilah, seorang guru harus memperhatikan prinsip-prinsip latihan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh Pelatih Olahraga atau guru Penjasorkes. Prinsip yang digunakan itu adalah prinsip overload atau penambahan beban latihan.

Prinsip Overload
Tidak akan ada perjuangan tanpa ada tantangan. Ini adalah hokum social yang berlaku dalam kehidupan manusia. Tampaknya hokum social ini belum bisa dibantah. Karena pada dasarnya, setiap manusia akan berjuang bila dirinya merasa ada tantangan atau ada satu masalah yang harus ditanganinya. Begitu pula dengan proses belajar.
Penambahan beban belajar merupakan bentuk tantangan yang edukatif bagi siswa. Banyak hal, aspek atau cara yang bisa dikembangkan dalam memberlakukan prinsip penambahan beban belajar ini.
Pertama, beban belajar bisa ditambah dengan cara meningkatkan kualitas social. Kualitas social menjadi sangat penting dalam proses merangsang anak didik untuk mengoptimalkan kemampuan. Cara meningkatkan kualitas soal ini, dapat dilakukan dengan memvariasikan ranah atau taksonomi berfikir, misalnya dari pemahaman, ke analisis atau sintesis. Dengan peningkatan kualitas soal seperti ini, si anak akan merasa ada tantangan baru.
Kedua, menambah frekuensi belajar. Siswa diberi tambaha jam belajar, dengan harapan dapat mempercepat penguasaan pada materi ajar. Prinsip overload ini, relevan pula dengan prinsip akselerasi dalam proses pembelajaran. Mereka yang memiliki kemampuan lebih perlu diberi tantangan lebih sehingga dapat melecut kemampuannya.
Ketiga, mengembangkan model-model pembelajaran baru yang dapat merangsang siswa untuk bisa berpikir dan mengembangkan kemampuannya secara prima. Monoton dalam model pembelajaran, potensial menjadi penyebab awal kejenuhan belajar. Variasi dalam model pembelajaran akan menjadi kisah awal merangsang siswa untuk tetap semangat dalam belajar.
Selain hal-hal itu, guru di lapangan dapat mengembangkan berbabagi model atau teknik dalam peningkatan beban belajar. Hal terpenting, adalah perlu ada kesungguhan dari guru untuk tetap memberikan lingkungan belajar kepada siswa. Dalam makna lain, menciptakan lingkungan belajar itu adalah menciptakan lingkungan yang bisa merangsang anak untuk terus nyaman dan puas dalam belajar, dan bukan yang menghentikan semangat belajar atau membunuh semangat belajar.

Mengapa Penting ?
Bagi siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, latihan belajar yang biasa-biasa akan menjadikan dirinya tidak nyaman dalam belajar. Alih-alih mampu mendorong berprestasi, malah menyebabkan dirinya frustasi dan malas belajar. Sehingga pada akhirnya, mereka akan mengalami penurunan kemampuan. Oleh karena itu, penambahan beban belajar menjadi sangat penting.
Sudah barang tentu, penambahan beban belajar (overload) tidak boleh sembarang. Seorang guru harus memperhatikan aspek situasi dan kondisi, serta tingkat kesulitan belajar. Jumlah peningkatan dan frekuensi latihannya pun harus tetap diperhatikan. Sebab bila aspek-aspek ini tidak diperhatikan, malah menyebabkan anak kewalahan dan akan berdampak buruk.
Prinsip overload atau penambahan beban belajar pun, akan mendorong siswa untuk senantiasa terus berpacu dan meningkatkan kemampuannya. Bagi mereka yang sudah merasa mampu dan menguasai materi yang pertama, akan segera merasa ada tantangan baru untuk terus meningkatkan kemampuannya. Begitu pula sebaliknya, rendahnya semangat kompetisi bisa jadi disebabkan karena tidak terbiasanya anak dengan tantangan. Tidak dibiasakan dengan tantangan, merupakan bukti nyata bahwa guru jarang memberikan teknik overload dalam pembelajaran.
Bila semua hal terakhir tadi terjadi, jangan kaget bila kemudian anak-anak kita malas belajar dan nakal-nakal. Karena mereka tidak nyaman belajar dan tidak puas belajar. Kondisi itu jugalah yang dirasakan Siti Maryam di atas.

Advertisements