Sayangnya memang Tuan Bloom tidak ada dihadapan kita. Sehingga curhat dan ketidakmengertian diri mengenai taksonomi Bloom itu tidak bisa disampaikan secara leluasa.

Namun demikian, saya percaya bahwa di dunia maya ini, banyak pihak yang trampil, paham, dan mampu bersikap kritis terhadap taksonomi Bloom mengenai tahapan berfikir. Kekritisan kita dalam memahami taksonomi itu, diharapkan dapat memberikan sebuah kesadaran terhadap keunikan karakter berfikir kita sendiri.

Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.
Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
(1) Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berfikir.
(2) Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
(3) Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Taksonomi yang dikemukakannya itu, untuk akhir-akhir ini ada sedikit perbedaan dengan yang biasa dikemukakan sebelumnya. Khususnya dalam aspek kognitif, dikembangkan ke ranah pengetahuan factual, pengetahuan konseptual, pengetahuan procedural dan pengetahuan metakognitif. Asupan pemaknaan baru ini, dalam kenyataannya kurang mendapat perhatian dari para pendidik, atau akademisi di Indonesia. Sehingga taksonomi yang tetap melekat dalam pemikiran para pendidik sampai saat ini, tetap kognitif, afeksi dan psikomotorik. Kemudian, perlu juga diingat, dalam taksonomi Bloom yang lama evaluasi dianggap tahapan kognisi tingkat enam, sedangkan pada taksonomi yang baru, evaluasi hanya berada pada tahap lima, dan tingkat enamnya adalah kreasi (create), dan tidak ada kategori antitesis.
Tak masalah. Biarkan itu terjadi, dan mengendap seperti itu. Karena pengetahuan seperti itu, adalah salah satu tahapan dari establishnya (normalnya) sebuah pengetahuan. Meminjam istilah Thomas Kuhn itu, karena itulah yang disebut tahapan normal science, dimana sebuah pengetahuan merasa dan dianggap kokoh kuat dan bersikukuh dengan fondasinya.
Namun demikian, kondisi ini tidak berarti bahwa kita tidak memiliki ruang untuk bertanya atau mengkritisi. Kesadaran ini, bukan saja terkait dengan pentingnya demokratisasi berfikir, tetapi juga banyak temuan-temuan baru khususnya yang terkait dengan psikologi berfikir yang perlu dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya.
Sebagai contoh. Howard Gardner, penemu, pencetus dan pengembang awal tentang kecerdasan majemuk (multiple intelligence) sangat yakin bahwa kecerdasan manusia itu tidak bersifat tunggal. Pada diri manusia, terdapat banyak kecerdasan yang menjadi bekal dirinya dan membantu dirinya memecahkan masalah-masalah hidup. Dari temuan sementaranya, setidaknya sudah ditemukan ada 8 (delapan) kecerdasan yang hadir dalam diri manusia, yaitu kecerdasan logis, kecerdasan bahasa, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik, dan kecerdasan estetik atau musik. Semua hal itu, ada dalam diri seseorang, kendati mungkin antara satu orang dengan orang lain, ada perbedaan keragaman kecerdasan yang berkembangnya. Bahkan, dalam diri orang itu sendiri, ada keragaman dalam dominasi kecerdasan yang mencuatnya. Karena ada perbedaan antar kecerdasan dalam diri, dan kecerdasan pribadi itulah kemudian memunculkan keragaman manusia di muka bumi.
Pemikir lain yang juga turut memperkaya mengenai berfikir, yaitu Edward de Bono. Tokoh yang satu ini, sangat-sangat popular dan focus dalam mempelajari mengenai berfikir. Hal yang unik, dalam pandangannya itu, karakter berfikir itu tidak hierarkhis seperti halnya Bloom. Saya ingin menyebutnya, pandangan dan pemikiran Bono tentang berfikir itu lebih bersifat kategorial. Artinya, bahwa setiap orang itu memiliki karakter berfikir yang beda. Namun perbedaan itu, bukan berarti ada tingkatan (atau tahapan). Bukan demikian. Dalam perbedaan itu tidak terkait dengan tahapan, yang ada itu hanya bersifat kategorial atau perbedaan. Kesadaran ini, akan kita temukan dalam pandangannya mengenai berfikir lateral, dan atau topi berfikir dari Bono.
Berdasarkan pertimbangan itulah, saya secara pribadi, merasa keberatan bila taksonomi Bloom itu dipaksanakan, dan kemudian dijadikan dalil untuk menghukumi, C6 sebagai tahapan tertinggi dalam kognitif, dan C-1 adalah tahapan berfikir yang paling rendah. Orang yang polanya masih saja, di C-1 dianggap sebagai orang yang kurang cerdas di bandingkan dengan yang memiliki c-6. Bila ada yang beranggapan sampai pada sikap seperti ini, tampaknya pandangan itu benar-benar tidak adil.
Ada sejumlah asumsi, keberatan ini harus dikemukakan,dan perlu dimaklumi oleh banyak pihak. Pertama, sudah jelas, yaitu adanya temuan-temuan baru tentang kecerdasan dan ilmu tentang berfikir, sebagaimana yang dikemukakan oleh Gardner dan Bono. Ini adalah temuan-temuan baru, yang perlu dijadikan bahan pertimbangan dan sekaligus kritik terhadap pemahaman kita mengenai taksonomi Bloom.
Kedua, dalam dunia pendidikan sering kita temukan, ada anak yang seringkali mengalami kesulitan untuk menghapal, namun cerdas menganalisis. Bila disuruh mengingat-ingat sesuatu, dia mengalami kesulitan. Tetapi bila disuruh memberikan komentar, analisis, dan atau apresiasi, terhadap sesuatu dia mampu tunjukkan dengan baik. kejadian ini, merupakan anomaly dari tahapan berfikir Bloom.
Ketiga, pengakuan dari insane kita semua, bahwa semakin tua, semakin melemah daya ingat, namun masih tetap memiliki kesadaran dan pemahaman yang tetap kuat. biasanya ada ungkapan, kalau sudah tua itu, kalau menghapal cepat lupa, tetapi kalau di suruh memahami masih bisa dipercaya. Maka orang tua itu lebih banyak dianggap bijak, bukan ensiklopedia. Karena orang tua, lebih banyak mengambil makna-makna umum, dari sebuah kasus atau peristiwa yang terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa, mereka mengalami kesulitan dalam mengingat, tetapi kuat dan merasa mudah dalam memahami. Hal ini pun, menunjukkan bahwa kemampuan remember (knowledge) dalam taksonomi Bloom di sebut C-1, menjadi sebuah kesulitan bagi orang dewasa-tua.
Uraian ini, mengantarkan saya untuk sampai pada kesimpulan bahwa taksonomi berfikir dalam diri manusia itu, tidak adil kalau dipahaminya sebagai sebuah tahapan yang menunjukkan derajat keberfikirannya seseorang. Taksonomi dalam pengertian awalnya yaitu tassein sesungguhnya dapat diartikan klasifikasi. Hanya saja, selama ini, tassein ini kemudian dianggap sebagai tassein yang bertingkat. Namun, bila dikaitkan dengan argument-argumen yang dikemukakan di atas, kiranya kita dapat mengajukan pandangan bahwa taksonomi berfikir itu tidaklah atau bukan tahapan berfikir tetapi kategori berfikir.
Melalui pemaparan ini, kiranya kita pun dapat memberikan apresiasi yang setara dan seimbang kepada karakter berfikir siswa, serta bisa lebih adil dalam mengelompokkan karakter berfikir siswa. Wallahu alam.

Advertisements