Lanjutan dari bahasan mengenai standar kompetensi adalah pengembangan indicator. Sebuah standar kompetensi, harus dikembangkan lebih tepatnya dirinci ke dalam indicator.
Dengan adanya indicator itulah, seorang guru akan memberikan pelayanan pendidikan di kelas. Kegagalan selama ini, adalah ketiadaannya indicator yang jelas, yang dimiliki oleh seorang guru, sehingga dia mengalami kesulitan sendiri dalam mengukur keberhasilan proses pembelajaran.
Penjabaran standar kompetensi menjadi indicator pembelajaran itu, membutuhkan kecerdasan yang lumayan dari seorang guru. Seorang guru yang kreatif, dan mampu mengolah kata dan atau bahasa, akan dengan mudah menemukan diksi atau pilihan kata yang relevan dijadikan sebagai indicator pembelajaran. Sementara mereka yang tidak terbiasa menulis, dan atau perbendaharaan katanya minim, sangat-sangat mengalami kesulitan dalam menjabarkannya.
Terkait dengan masalah ini, muncul pertanyaan, bagaimana cara mudah mengembangkan indicator ?
Ada dua cara yang bisa dilakukan guru dalam mengembangkan indicator pembelajaran. Cara pertama, yaitu menggunakan pola pikiran kategorial-prosedural. Artinya, untuk mendapatkan sesuatu seseorang dituntut melakukan beberapa langkah yang mengarah pada target. Cara ini mengasumsikan bahwa kemampuan target itu, hanya bisa didapat bila orang dimaksud sudah menguasai kemampuan sebelumnya.
Jika standar yang diminta oleh Standar Nasional itu adalah membaca, maka indicator kemampuan membaca itu, harus merupakan kemampuan yang bertahap dari tahap awal sampai kemampuan tahap membaca. Misalnya indicator mengenal huruf, mengenal bunyi, dan membedakan bentuk huruf dan bunyi. Indicator-indikator yang kita sebutkan tadi, dianggap sebagai indicator pengantar untuk sampai pada target, yaitu kompetensi membaca.
Sedangkan cara kedua, yaitu menggunakan perspektif aspek atau dimensi. Cara ini tidak melihat tahapan untuk mengetahui target, melainkan melihat sudut pandang atau aspek lain, sehingga kita dapat meyakini bahwa kita sudah mengetahui target. Oleh karena itu, indicator-indikator yang dimunculkan pun bukanlah indicator yang dianggap sebagai indicator pengantar, atau indicator yang lebih rendah dari target, melainkan indicator yang kian memperjelas gambaran tentang target.
Sebagai contoh. Bila dalam standar kompetensi itu, anak dituntut untuk bisa membaca, kemudian kita sebagai guru dituntut untuk menyusun indicator yang mengantarkan pada kemampuan itu. Beberap alternative indicator itu adalah lancar membaca, mau membaca, rajin membaca, suka membaca, cepat membaca, membaca paham dan membaca keras. Variasi-variasi membaca itu, adalah kompetensi yang dapat dijadikan sebagai indicator dalam mengukur kemampuan anak membaca.
Berdasarkan pertimbangan ini, sekali lagi, dapat dikemukakan bahwa pengembangan indicator dari sebuah standar kompetensi dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu kategorial dan aspectual.

Bila disuruh menjabarkan indicator dari menjelaskan figur guru geografi, maka kita dapat melakukan dari dua cara.

Pertama, menjelaskan figur guru geografi, harus ditunjukkan dengan kemampuan menyebutkan nama guru, mengidentifikasi ciri guru, dan baru menjelaskan profil guru geografi.

Cara kedua, berbeda dengan cara pertama. Indicator yang dikembangkannya itu justru, menjelaskan postur tubuh guru geografi, menjelaskan perilaku guru geografi, dan menjelaskan hobi guru geografi, dan sebagainya.

Kedua sudut pandang itu, secara teoritik adalah sama-sama mengarah pada kemampuan menjelaskan figure guru geografi, hanya saja, yang mereka lakukan itu adalah dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda.

Melalui contoh-contoh yang dikemukakan tersebut, diharapkan kita dapat merasakan, setidaknya menemukan ada sesuatu yang masih belum terungkap selama ini. Hati-hati, pola piker manusia, tidak selamanya hierarkhis, dan tidak selamanya procedural atau bertingkat dan bertahap.

Advertisements