Bagi seorang guru atau tenaga pendidik, istilah standar kompetensi telah menjadi makanan sehari-hari. Dua bulan sebelum tahun pelajaran berakhir, sampai dengan dua bulan di awal tahun pelajaran, guru-guru di satuan pendidikannya akan disibukkan dengan penyusunan mengenai peta analisis Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD). Dua istilah ini, kiranya merupakan istilah yang paling popular dan banyak dituturkan dalam lisan para guru di tingkat satuan pendidikan.
Kendati demikian, setiap kali saya mengikuti workshop, in house training (iht) atau training di tempat kerja (TITK), setiap kali itu pula perasaan pusing muncul. Pusing bukan karena banyaknya tugas administrasi bagi seorang guru, walaupun hal itu sudah sangat-sangat pasti memusingkan, namun pusing ini digenapkan pula oleh pernyataan-pernyataan dari instruktur mengenai makna SK (standar kompetensi) itu sendiri.
Mereka mengutip istilah yang tertuang dalam buku Panduan Pengembangan Indikator. Pada halaman 5, ada pernyataan langkah pertama pengembangan indicator adalah menganalisis tingkat kompetensi dalam SK dan KD. Hal ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan minimal kompetensi yang dijadikan standar secara nasional. Sekolah dapat mengembangkan indicator melebihi standar minimal tersebut.
Dari pernyataan ini, muncul pandangan bahwa SK dan KD adalah standar minimal yang dituntut secara nasional. Pandangan ini mungkin benar, dan masih ada benarnya. Kebanyakan pihak pun, banyak yang menganut pemahaman seperti ini. Namun bila ditelaah secara seksama, makna tuntutan minimal itu, tidak mengandung makna mengenai kompetensi-dasar atau indicator dari kompetensi dasar. Kita akan memiliki kekeliruan pemahaman, bila menganggapbahwa istilah tuntutan minimal dianggap sebagai indicator.
Untuk lebih jelasnya, kita dapat perhatikan dalam konteks yang utuh, sehingga kita tidak mengalami bias-bias makna yang akan berdampak luas pada proses menerjemahkan kompetensi dasar ke dalam bentuk indikator.
Untuk sekedar contoh, kita tuliskan sebuah SK dan KD yang ditetapkan secara nasional. Misalnya, dalam sebuah SK tercantum kalimat mendeskripsikan. Kata ini sudah operasional, dan menjadi tuntutan secara nasional. Bagi kita, khususnya sebagai seorang guru, SK KD tersebut memiliki dua makna.
Pertama, dari sudut hasil atau standar kompetensi lulusan, kemampuan itu adalah permintaan minimal dari Pemerintah Pusat. Artinya, pemerintah tidak meminta banyak hal mengenai kompetensi yang diajukan tersebut. Pemerintah hanya meminta kompetensi dari lulusan itu adalah kompetensi mendeskripsikan. Itulah yang disebut dengan tuntutan minimal dari Pemerintah. Atau lebih ditepatnya disebut tuntutan standar nasional.
Kedua, memahami kompetensi mendeskripsikan itu dapat dilihat dari proses pembelajaran. Dari sudut pandang ini, kompetensi mendeskripsikan adalah kompetensi maksimal yang diminta pemerintah. Sekali lagi, kita tidak bisa menggunakan istilah minimal. Kompetensi tersebut merupakan kompetensi maksimal yang harus dikuasai oleh siswa. Dengan kata lain, pernyataan yang ada dalam SK itu adalah kemampuan maksimal yang harus dikuasai oleh seorang siswa, dan kemampuan itu adalah tuntutan minimal yang diminta Standar Nasional.
Mengapa di sebut kemampuan atau standar maksimal ?
Hal ini terjadi, karena kita memahami bahwa yang diminta itu adalah kompetensi mendeskripsikan, bukan yang lain. Namun demikian, berbagai kompetensi yang menjadi prasyarat untuk bisa mendeskripsikan, adalah kompetensi-kompetensi dasar yang bisa jadi akan menjadi pengetahuan dasar bagi peserta didik tersebut. oleh karena itu, kata operasional dalam sebuah KD adalah sebuah standar maksimal dari tuntutan Pemerintah Pusat.
Dari pemahaman tersebut, maka indicator yang bisa dikembangkan dari SK-KD tersebut sangat jelas dan bervariatif, dan akan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Misalnya kata kerja operasional; menyebutkan, mengidentifikasi, dan menjelaskan. Ibarat seseorang yang mau mendeskripsikan, berarti dia harus mampu dulu dalam menyebutkan dan atau mengidentifikasi. Kata kerja operasional yang kita sebutkan tadi, adalah bentuk nyata bahwa kata dalam SK bukanlah standar minimal, tetapi justru sebagai standar maksimal. Lebih jauh lagi, yaitu standar maksimal walaupun kualitasnya minim. Ini paradoks, tetapi itulah realitas pendidikan kita saat ini.

Advertisements