Ketika diberi makanan berbau etnik, kita sering mengajukan pertanyaan kepada si pemberi. Makanan apa, dari mana, apakah asli atau beli di sini ? pertanyaan ini, seringkali diajukan kepada mereka yang mengaku-ngaku atau berkisah tentang makanan tradisional atau berciri khas daerah. Misalnya saja kurma Arab Saudi, Air Zam-zam, dodol garut, tauco cianjur, dan gudeg jogja dan lain sebagainya. Pertanyaan itu, diajukan bukan dalam rangka mengurangi keikhlasan si pemberi, namun lebih pada menguji keaslian barang yang diterimanya. Pertanyaan itu wajar dan lumrah terjadi.

Hal yang menarik, dibalik pertanyaan itu sesungguhnya ada satu masalah psikologis yang jarang-jarang diperhatikan. Aspek tersebut, yaitu aspek psikologis dari makanan yang kita bawa itu sendiri. Ketika ketahuan bahwa makanan itu kita beli di Bandung, misalnya, sementara identitas makanan itu adalah air zam-zam atau gudeg jogja kadang reaksi si penerima pun agak berbeda dibandingkan dengan bila kita katakan bahwa makanan-makanan itu benar-benar dibeli di lokasi asalnya.
Mengapa hal itu terjadi ? ada salah apa dengan makanan tersebut ? atau ada masalah apa dengan pikiran kita ?
Dalam amatan saya, di sinilah aspek emosi atau subjektifivitas manusia berlaku. Orang yang mengatakan bahwa dirinya membeli langsung makanan itu di lokasi etnik makanan itu, akan memiliki aura-emosi kualitas makanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan membeli makanan-etnik di lokasi etnik yang berbeda. Beli dodol garut di Jogja atau membeli gudeg di Tasikmalaya, atau Nasi Padang yang dbuat di Bandung. Inilah yang kita sebut aura-sosial dari sebuah makanan.
Hal-hal yang memiliki aura-sosial itu tidak hanya makanan. Tempat, nama atau tindakan pun ternyata memiliki aura-sosial tersendiri. Orang akan merasa Islami jika membubuhkan identitas diri berbahasa arab dalam namanya. Orang akan merasa keren dan mendunia jika membubuhkan istilah bahasa Inggris dalam pembicaraannya. Orang akan merasa mBali bila menggunakan baju kaos berlogo Pantai Kuta. Kita pun kerap merasakan bahwa membeli cengek di warung terasa memiliki aura-sosial yang lebih rendah dibandingkan dengan membeli cengek di supermarket berbintang.
Banyak hal, banyak aspek memiliki aura-sosial. Aktivitas dalam keagamaan pun memiliki aura-sosial-keagamaan tertentu. Orang yang mengaji sendirian, akan terasa berbeda aura-sosial-keagamaannya bila dibandingkan dengan mengaji di masjid secara berjamaah, berramai-ramai. Gemuruh suara yang sedang mengaji, memaksa syarat-syaraf dalam pikiran kita focus dan bergerak sesuai dengan alunan irama tersebut.
Praktek pengobatan tradisional dengan cara dzikir yang dzahar (dikeraskan) ketika mengobati pencandu narkoba, adalah contoh praktis dalam menekan impuls syaraf otak manusia dengan penekanan aura-sosial keagamaan yang lebih kuat. focus pikiran kita pun, kadang akan teras alebih kuat bila suara dzikir atau bacaan quran dapat disimak secara jelas oleh telinga kita. Semua hal itu adalah praktek nyata pemanfaatan aura social keagamaan untuk kepentingan penyembuhan masalah mental.
Dalam konteks inilah, mengapa orang yang naik haji, merasa dekat dengan Allah Swt. Hal itu terjadi, karena setiap hari, setiap saat, dan setiap gerak gerik dirinya tidak jauh dari aktivitas ibadah. Jamaah haji dari Indonesia, misalnya, di tenda banyak orang yang berdzikir, di jalan banyak orang bergamis dan berpakaian ihram menuju masjid, di masjid, di kabah, dan dimanapun juga, orang-orang terlihat sedang beribadah. Kondisi lingkungan tersebut secara langsungdan tidak langsung mencipatakan sebuah aura lingkungan yang mendukung dan pro-peribadahan. Hemat kata, tidak mengherankan bila kemudian setelah satu bulan lamanya di daerah jamaah haji di Makkah, suasana spiritualitas jamaah haji berada di puncak.
Realitas ini, kita sebut sebagai lingkungan sebagai pendukung pada spiritualitas. Fenomena itulah yang kita sebut pula dengan aura lingkungan yang pro pengembangan spiritualitas.
Perkembangan spiritualitas ini ternyata, kebanyakan tidak berkembang secara positif. Hal ini terjadi seiring dengan lingkungan seorang haji tersebut. perilaku dan kualitas spiritualitas fluktuatif sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan kita melihat seolah mereka bergerak dalam beberapa tahap. Hari pertama sampai bulan pertama, tasbih dan dzikir masih terus dilantunkan. Kesungguhan dalam beribadah masih tampak dalam dirinya. Kemudian bulan kedua sampai bulan kelima, tasbih bulan sering tertinggal. Bulan keenam, surban haji sudah dilepas. Bulan ketujuh, gamis yang dilepas dari tubuhnya. Dan bulan ke sepuluh, sudah kembali seperti sebelum berangkat haji. Memang masih ada sisa-sisa ibadah haji itu. Setidaknya, dia tetap menjaga shalat lima waktu. Hal ini pun terjadi karena dirinya merasa malu dengan gelar yang melekat dalam dirinya.
Aspek yang ingin diulas dalam wacana ini, adalah aura lingkungan yang pro peningkatan spiritual. Inilah aspek yang penting, dan kadang banyak dilupakan.
Mau tidak mau, setuju atau tidak, bulan ramadhan merupakan momentum yang diciptakan Allah Swt untuk membangun uara-lingkungan yang pro spiritualitas. Seluruh komponen, tua muda, laki perempuan, pejabat atau rakyat diwajibkan berpuasa. Dengan kata lain, melalui perintah ini, setiap komponene masyarakat, khususnya yang merasa muslim harus mampu menunjukkan sikap sebagai orang yang berpuasa. Kalangan yang non muslim pun dihimbau untuk menghormati suasana bulan ramadhan. Penciptaan lingkungan ramadhan inilah, yang penulis sebut sebagai penciptaan aura lingkungan Islami, atau setidaknya aura lingkungan shaumi.
Bila semua komponen masyarakat menunjukkan kesungguhan hati dalam membangun dan menciptakan lingkungan ramadhan di tempatnya masing-masing, saya percaya bahwa tujuan berpuasa untuk mewujudkan insane yang bertaqwa akan mudah diwujudkan. Misi sebagaimana yang dituangkan dalam al-Quran akan mudah diwujudkan.
Sayangnya, apa yang terjadi di masyarakat kita saat ini, ada yang bertolak belakang. Satu sisi, sebagian umat islam berusaha keras menciptakan uara ramadhan di berbagai tempat, dengan harapan seluruh umat Islam dapat melaksanakan ibadah secara khusyu. Sementara di tempat lain, ada orang yang merusak aura lingkungan ramadhan tersebut. Bahkan seara demonstrative melawan tujuan puasa. Dengan bangganya mereka membuka warteg dan melayani setiap pembeli yang dating mengunjungi warungnya.
Saya merasakan, bahwa ambisi si pedagang itu adalah ekonomi, yaitu mendapatkan untung dari orang yang tidak berpuasa. Motivasinya bisa jadi adalah murni ekonomi, dan tidak ada maksud sedikitpun untuk melawan perintah agama. Bahkan, bisa jadi, si pelayannya itu sendiri sedang berpuasa. Dengan dalil, amalmu untukmu dan amalku untukku (amaluna amalukum), mereka secara sungguh hati menjalani profesi itu. Bagi kita disini, melihat bahwa tujuan mereka itu bisa jadi benar murni ekonomi, namun berimbas langsung pada penggalan suasana aura ramadhan. Ilmu kriminalitas menyebutkan bahwa kejahatan bukan saja karena ada niat, namun juga karena ada kesempatan. Meminjam teori ini, orang tidak berpuasa itu bisa jadi bukan saja karena tidak ada niat, tetapi juga karena ada kesempatan untuk tidak berpuasa. Dia akan merasa tersiksa bila tidak berpuasa, dan di lingkungan sekitarnya berpuasa kemudian warung makanan pun tutup. Sedangkan bila ada yang buka, maka tidak berpuasa itu bukan saja karena niat, namun bisa disebabkan karena ada kesempatan.
Bila hal ini dicermati, jangan-jangan si tukang warung itu, mirip seorang perempuan yang menyisir rambut, sebagaimana yang diceritakan dalam Firman Allah Swt berikut ini :

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (Qs. An-Nahl : 92).

Memang konteksnya berbeda, namun makna dibalik kisah itu memiliki kesamaan. Setelah orangtua bersusah-susah membina, melatih, dan mendidik anaknya berpuasa, ternyata dirusak oleh warung makanan yang ada di luar rumahnya. Inilah sebuah gambaran bahwa setelah rambut itu disisir kemudian malah dirusak kembali oleh lingkungan sekitar. Setelah anak kita dididik di rumah, ternyata malah di rusak oleh lingkungan. Semua hal itu terjadi, karena aura lingkungan yang tidak mendukung pada peningkatan spiritual.
Dengan uraian ini, jelas sudah, bahwa puasa di bulan ramadhan adalah upaya membangun dan menciptakan aura ibadah di manapun kita berada. Dengan aura lingkungan yang pro ibadah ini, insya Allah kita akan terdorong, tersentuh untuk turut serta dalam gerbong ibadah itu. Sehingga pada akhirnya, Insya Allah akan menjadi seorang muslim yang bertaqwa.
Di sebuah perusahaan, budaya organisasi akan hidup dalam suasana aura-lingkungan. Budaya organisasi yang sehat akan menjadi atmosfera bagi lingkungannya untuk mendorong siapapun yang hadir di ruangan itu untuk berbuat sesuatu yang positif buat organisasinya.
Seorang pemimpin yang mampu menciptakan atmosfera kompetisi yang sehat, akan melahirkan karyawan atau anggota yang mampu menunjukkan kerja keras demi mencapai hasil yang maksimal. Pemimpin yang gagal menciptakan lingkungan yang sehat, akan melahirkan ketidakdisiplinan karyawan dalam bekerja.
Seorang guru yang mampu menciptakan kelas yang sehat, akan melahirkan siswa-siswinya belajar dengan tekun dengan penuh kesungguhan. Sedangkan guru yang mengajar tidak serius, sama dengan menguraikan kembali rambut yang telah disisir sebelumnya. Akhirnya waktu, visi dan misi pendidikan di sekolah itu akan hancur berantakan.
Seluruh kisah ini, hanya ingin menegaskan bahwa aura lingkungan atau atmosfer lingkungan adalah modal lingkungan yang sangat penting dalam menata lingkungan. Ketika kita abai terhadap atmosfera lingkungan, maka yang akan terjadi adalah ketidaktertataannya lingkungan dengan baik.
Ramadhan adalah upaya menciptakan aura spiritual di berbagai penjuru. Oleh karena itu, jangan rusak, dan jangan ceraiberaikan rambut yang sudah diikat kuat ini !!!!

Advertisements