Di sinilah, saya baru merasakan mengenai pentingnya memahami hal-hal penting. Kalau kita memiliki waktu panjang, kemampuan yang tak terbatas, mungkin masih layak untuk mengharapkan dan mengejar seluruh impian dalam hidup. Namun hal itu, sulit untuk diwujudkan, karena kita secara realistis bukanlah makhluk seperti itu. Kita memiliki keterbatasan, baik waktu maupun kemampuan.
Saat itu, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta inilah, saya merasakan bahwa setiap orang butuh rencana, rancangan atau strategi dalam mencapai tujuan yang diinginkannya. Bila kita alpa terhadap masalah ini, maka yang didapat hanyalah lapar, haus dan lelah.
Coba bayangkan, dalam waktu satu hari, bahkan kurang dari 5 (lima) jam setiap orang dihadapkan pada satu arena permainan, atau tempat wisata yang sangat luas. Sesuai dengan ketentuan panitia Study Tour, kami semua hanya memiliki waktu 5 jam untuk hiburan di lokasi ini.
Sebagaimana dimaklumi bersama, TMII yang dibangun pada tanggal 20 April 1975 diprakarsai oleh ibu Tien Soeharto memiliki luas 165 hektar. Sesuai dengan namanya, taman ini menggambarkan Indonesia yang besar dalam bentuknya yang kecil.
Sebagai kawasan wisata budaya yang dikonsep secara matang, TMII menyediakan juga jasa konsultasi yang berkaitan dengan kebudayaan, serta berbagai tempat yang menggambarkan perkembangan peradaban Indonesia. Seiring dengan perkembangan politik, khususnya pemekaran wilayah, anjungan yang semula berjumlah 27 tempat, kini sudah bertambah menjadi 33. Selain itu, di taman ini pula terdapat 20 museum, 14 taman, 5 tempat ibadah dan 1 tempat aliran kepercayaan, ditambah dengan berbagai tempat permainan/hiburan anak-anak.
Berbicara pendidikan, disini terdapat museum yang jumlahnya sekitar 20, diantaranya Museum Indonesia, Museum Keprajuritan, Museum Olahraga, Museum Perangko, Museum Pusaka, Museum Telekomunikasi, Museum Transportasi. Di Museum Perangko, misalnya, anak-anak yang lahir pada jaman sekarang yang sudah mengenal blackberry, email, dan segala macamnya, mereka dapat mengenal perangko secara lebih baik. Selain Museum, di taman ini pun terdapat Taman Anggrek, Taman Burung dan Taman Akuarium Air Tawar.
Dalam menggenapkannya sebagai sarana hiburan, TMII memiliki fasilitas rekreasi yang tidak kalah menarik. Disini ada Teater Imax Keong Emas, tempat menonton film-film dokumenter dalam dan luar negeri. Kemudian Istana Anak, Teater Tanah Airku, dan yang terbaru adalah Water Park, lengkap dengan salju buatan (Snowbay), serta wahana outbound.
Berkeliling di area seluas 160-an hektar ini tentunya memakan waktu yang cukup banyak dan butuh perbekalan yang cukup. Dari sisi pengelola, TMII pun menyediakan sarana transportasi unik dan modern. Ada Kereta Gantung (Skylift), sarana transportasi yang paling digemari. Selain itu, ada Kereta Monorel (Aeromovel) yang memanfaatkan tenaga angin sebagai daya dorongnya. Kemudian ada juga Kereta Api Mini untuk memudahkan pengunjung berkeliling pada area sekitar yang lebih kecil.
Oleh karena itu, betul bila dikatakan bahwa taman ini disebut taman mini. Namun kendati disebut mini, tetapi sesungguhnya masih cukup luas. Dibandingkan dengan luas Indonesia, taman itu memang mini. Tetapi untuk ukuran manusia, dan kemampuan manusia, maka taman ini pun masih sangat luas. Oleh karena itu, untuk mendapatkan kenyamanan hiburan, liburan dan pengalaman di tempat seperti ini sudah tentu tidak boleh sembarangan dan tidak boleh asal-asalan.
Dari pengalaman spiritual perjalanan inilah, terbetik satu kesimpulan umum terhadap pengalaman wisata ini, hidup ini butuh strategi hidup!!

-o0o-

Tanpa sengaja ide atau isu ini menguat di kelompok wisata kami. Walaupun pada mulanya, hanya sekedar refreshing keluarga, namun kemudian malah melahirkan pengalaman-pengalaman hidup yang berbeda. Pengalaman perjalanan ini, atau boleh disebut perjalanan spiritual wisata ini, dapat dirangkaum dalam beberapa kelompok berikut. Dari berbagai pengalaman itulah, makna umum yang kami dapatkan adalah hidup ini butuh strategi hidup!!.
saya diam saja di sini. Panas, melelahkan, dan lagian tiketnya sangat mahal.. ujar Jafri yang ikut dalam rombongan tersebut. Diantara anggota rombongan, mungkin Jafri adalah salah satu orang yang kurang beruntung. Perjalanan ke TMII ini, dia tidak membekali diri dengan biaya hidup untuk masuk ke berbagai anjungan yang ada di TMII.
Iya, jarak satu tempat ke tempat yang lainnya, sangat berjauhan. Akhirnya, saya cuma duduk-duduk saja di taman dekat miniature monas (monument nasional), timpal Saud, yang juga merasakan hal yang sama dengan Jafri.
Yanto memiliki pengalaman yang berbeda dari kedua orang itu. Dia telah menyempatkan diri melakukan lawatan ke beberapa anjungan atau museum. Setuju, perjalanan ini benar-benar perjalanan. Cape, dan sangat melelahkan. Tadinya ingin ke museum baitul Quran, eh salah jalan dan masih jauh lokasinya. Tapi, lumayan kami sekeluarga dapat melihat anjungan Jawa Barat, museum transportasi, terus ke masjid. Lamanya di masjid, istrihat dan menghilangkan penatnya panas. Paparanya dengan sedikit rasa bahagia.
salah atuh, mendingan saya. Sekali naek kereta gantung, seluruh kawasan TMII bisa dilihat. Darma memberikan komentar. Dia merasa beruntung, rasa lelah tidak terlalu banyak dirasakan, sebagaimana yang dialami rekan-rekannya, namun mendapat pengetahuan umum mengenai gambaran sekilas, khususnya dilihat dari ketinggian mengenai TMII.
Darma tahu gak, isi museum ikan tawar ? tanya Yana, wah, di sana asyik, anak-anak saya pun sangat menikmatinya. Ada kolam yang dangkal dan banyak diisi ikan tawar. Kalau kita memasukkan kaki atau tangan, maka kedua anggot tubuh kita itu akan dipatuki sama ikan, rasanya geli, tetapi mengasyikkan.
Mendengar paparan itu, Darma sempat merasa kaget. Dia tahu lokasi museum air tawar tersebut. Tetapi pengalaman yang didapatnya saat itu, tidak seheboh yang dirasakan Yana.
bagaimana bisa begitu ? Tanya Irma kepada Yana. Dia ingin tahu cara mencapai tempat tersebut.
saya sewa ojeg. Dari satu tempat ke tempat lain, kita sewa ojeg. Memang butuh modal, tetapi itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan pengetahuan yang didapat, dan kelelahan yang dapat kita hindari. Dengan menggunakan ojeg dari satu tempat ke tempat lain itu, selain menghemat waktu, mengurangi penat dan lelah, kita dapat mengunjungi tempat yang kita inginkan, dengan jumlah yang relative lebih banyak. Papar Yana dengan senang hati.
Saya berniat nanti suatu saat mau datang lagi ke sini. Jadi, saya nikmati perjalanan ini dengan jalan kaki, dan setiap anjungan akan saya kunjungi. Pungkas Irma. Orang yang ada dalam kumpulan itu, manggut-manggut dan mempercayai ucapan Irma. Selain karena Irma adalah orang yang masih belia, juga di beri anugerah rijki yang melimpah. Sehingga, hasratnya itu bukanlah sesuatu yang sulit baginya untuk dilakukan.

-o0o-

Perlu ditegaskan di sini, menikmati hiburan di TMII butuh strategi. Tanpa strategi, kita tidak akan mendapatkan pengalaman dan hiburan, atau pengetahuan yang memadai atau sesuai dengan yang diharapkan. Taman ini terlalu luas, untuk seorang manusia seperti kita. Mustahil dapat dikunjungi dengan jalan kaki, kawasan seluas 150-an hektar. Tidak mungkin dapat dikunjungi seluruh anjungan dan atau fasilitas hiburan tersebut, hanya dalam waktu yang singkat.
Dari pengalaman yang lalu, ada lima kelompok manusia yang hadir di lokasi ini. Pertama, orang yang sudah patah arang melihat luasnya kawasan TMII dan besarnya biaya hidup. orang-orang pada kelompok ini, setelah turun dari bis wisata, kemudian hanya nangkring di parkiran, dan atau tiduran menanti habisnya waktu wisata.
Kedua, kelompok orang yang menikmati perjalanan dengan jalan kaki. Tampak dari wajahnya seolah orang bersemangat. Namun dibalik itu semua, dia tidak paham, tidak tahu, dan belum ada rencana perjalanan itu. Sehingga tidak mengherankan, bila kemudian, baru beberapa jauh perjalanan keringat sudah bercucuran, namun tempat yang diharapkannya belum juga ditemukan. Lelah sebelum sampai pada tujuan.
Kedua orang ini, pada umumnya memberikan umpatan yang sama. Wah, ticak cocok liburan ke sini mah. Tidak rame, dan tidak ada tempat yang mengasyikkan ketusnya.
Kiranya sudah menjadi hokum umum, ketika seseorang sulit mencapai sesuatu, maka dia akan memberikan umpatan pada pada sasarannya.. mirip dengan orang yang ditolak cinta, maka dia akan memberikan umpatan dan penilaian buruk pada yang menolak cinta tersebut. Berbagai tuduhan, hardikan, dan cemoohan terjadi terhadapnya. Semua hal itu dia lakukan, justru terjadi setelah dirinya gagal meraih apa yang diinginkannya.
Ketiga, dapat kita sebut sebagai orang generalis. Pendekatan yang dimilikinya adalah tidak perlu mengetahui lebih detil, namun memiliki wawasan yang lebih luas. Mereka menggunakan skylift (kereta gantung) untuk dijadikan kendaraannya dalam mengamati keindahan Indonesia. orang-orang seperti ini, dapat kita apresiasi sebagai orang yang memiliki pendekatan dalam hidup, strategi dalam hidup. namun, kiranya dapat kita sebagai orang yang hanya lebih bersifat generalis.
Keempat, kelompok orang yang memiliki strategi yang focus dengan skala prioritas. Karena focus dengan skala prioritas, dia tidak berhasrat untuk mendapatkan seluruh pengalaman di TMII, dan tidak berambisi untuk mengunjungi seluruhnya. Yang mereka lakukan hanya memilih, dan memilah mengenai tempat-tempat yang mereka anggap penting dan bisa dijangkau.
Terakhir, adalah mengunjungi setiap anjungan dengan seksama, kendati pun harus memakan waktu yang lama. Orang yang seperti ini, butuh bekal yang banyak, dan waktu yang lama, sehingga hasratnya itu, bukan hanya melihat secara umum, dan atau memilah dan memilih, namun dapat menikmati seluruh fasilita hidup dengan sebaik-baiknya.

-o0o-

Sahabat-sahabattaman mini adalah miniature Indonesia. dan Indonesia adalah miniature dalam planet bumi. Planet bumi pun adalah miniature dunia. Dan dunia adalah miniature hasrat manusia dalam hidup. sangat luas dan sangat melimpah hasrat manusia. Kalau saya, seluruh benda yang ada di ala mini, bisa dikonsumsi, sesungguhnya hasrat manusia itu tidak akan terpuaskan pula.
Namun demikian, akankah kita menjadi orang kelelahan karena salah strategi dalam hidup ? inilah pertanyaan kita saat ini ?
Sahabat-sahabat pengalaman di taman mini yang luas ini, menyadarkan saya untuk sampai pada satu kesimpulan, bahwa hidup tanpa strategi hanya melahirkan kelelahan dan ketidakmaksimalan dalam mencapai harapan. Inilah kenyataan hidup !

Advertisements