PENGANTAR
SEBUAH PERTANGGUNGJAWABAN

Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan karunia, inayah dan hidayah-Nya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Rasa syukurpun, selayaknyalah kita panjatkan kepada-Nya, yang telah memberikan izin kepada manusia untuk mengembangkan kreasinya atau aqalnya di muka bumi sehingga mampu sedkitnya memahami realitas kebenaran, baik itu melalui formulasi ayat kauniyyah yang diciptakannya, maupun ayat qouliyyah yang diucapkannya dan terkkristalkan pada pribadi-pribadi Nabi dan Rasul yang menjadi uswah hasanah bagi ummat manusia yang meyakininya.. Semoga dengan ini pula, Allah tetap memberikan berkah dan rahmat-Nya kepada junjungan Nabi Muhammad SAW sebagai pemegang estafet Risalah Ibrahim AS sehingga tersampaikanlah wasiat Tauhid itu kepada ummat manusia di kemudian harinya sampai di akhir jaman. Tak pernah terlupakan, bahwa perjuangan Rasulullah SAW dan Shahabatnya, adalah saham terbesar dalam mengembangkan dan mendakwah Islam ke seluruh ummat manusia saat ini.
Essai-essai dalam buku ini, adalah ekspresi keberagamaan sekaligus sebuahapresiasi terhadap perjalanan hidup manusia, yang tengah berusaha mengapresiasi sejarah pendahulunya, Nabi Ibrahim As. Ide untuk membahasakannya masalah ini, sebenarnya bermula ketika penulis mengikuti sebuah seminar yang bertemakan mengenai Peran Agama dan Teknologi Masa Depan , bulan Maret 1997. Ketika itu, salah satu pembicaranya adalah salah seorang fakar agama Islam dari IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, yaitu Dr. Afif Muhammad. Kebetulan Beliau membahas masalah respon Islam terhadap perkembangan teknologi Klonning yang menggemparkan dunia di awal tahun 1997. Ketika itu pula, Afif Muhammad menjelaskan bahwa al-Quran bukanlah kitab sains, tetapi al-Quran memberikan dasar-dasar etis (mungkin itulah aksiologisnya), dan juga dasar-dasar ontologis mengenai kehidupan dan kematian makhluk hidup. Sementara mengenai cara-cara mengembangkan ilmu pengetahuan, atau epistemologis tidaklah dikupas luas oleh al-Quran. Dengan pernyataan itu, maka sampai detik ini, wajarlah bila kita temui fenomena sosial dikalangan Muslim yang masim membingungkan ummatnya sendiri. Misalnya saja, tentang kontroversi pentingnya islamisasi sains, atau sainisasi islam. Kedua hal itu, sekelompok cendikiawan menganggapnya sebagai proses pemaksaan terhadap ajaran agama, atau malah sebuah tindakan pemerkosaan kepada ayat-ayat Suci al-Quran.
Menyimak pembahasan seperti itu, secara spontans penulis berfikir, mungkinkah Islam yang disebut sebagai agama yang sempurna meninggalkan masalah epistemologi ? mungkinkah al-Quran yang dimitoskan oleh ummatnya sebagai Kitab yang sempurna itu tidak memuat masalah epistemologi ? inilah beberapa pertanyaan dalam benak penulis yang muncul ketika menyimak uraiannya fakar Islam dari kampus Islam tersebut tadi. Seketika itu pula, penulis teringat pada kasus Ibrahim As mencari keberadaan Allah SWT dengan cara menelaah kejadian-kejadian atau fenomena-fenomena alam. Sejarah inilah, yang kemudian menggelitiki fikiran penulis, yang kemudian memunculkan pertanyaan bukankah itu adalah epistemologi pencaharian kekuasaan Allah yang dilakukan oleh Ibrahim As secara empiris ? Hal inilah yang kemudian juga menjadi hipotesis penulis dalam pengembangan essai-essai dalam kajian sekarang ini.
Kehilangan pegangan mengenai epistemologi ini, bisa jadi adalah salah satu penyebab vital kemundurannya umat Islam sekarang ini. Epistemologi,adalah akar utama dalam filsafat yang menjadi dasar pengembangan ilmu-ilmu spesifik atau ilmu-ilmu khusus yang dibutuhkan oleh manusia. Di masyarakat Yunani atau Eropa, epistemologi sempat menjadi wacana utama sebelum menegmbangkan ilmu-ilmu khusus kemanusiaan atau kealamanan. Bahkan, dialektika dan dinamika epistemologi ini mampu memberikan warna pada perkembangan sains itu sendiri. Dalam bidang sains atau IPTEK, tanpa epistemologi yang jelas maka tidaklah dapat dikembangkan sains tersebut. Pengembangan Ekonomi Islam, Budaya Islam, Seni Islam, Pendidikan Islam, Teknologi Islam, dan dimensi-dimensi kehidupan lainnya secara filosofis memerlukan epistemologis tertentu dalam mengembangkannya. Terkecuali bila kita mau menggunakan epistemologi yang sudah ada dan berkembang di jaman sekarang ini. Bahkan, penulis memandang bahwa perbedaan mazhab yang berkembang selama ini, adalah perbedaan epistemologis dalam mendekati al-Quran itu sendiri. Oleh karena itu, tanpa epistemologi maka ilmu-ilmu Islam tidaklah akan mampu eksis dalam konteks peradaban modern sekarang ini. Lebih-lebih kalau ketiadaannya epistemologisnya itu, bukanlah karena ketiadaan-potensial melainkan ketiadaan aktual yang disebabkan oleh karena ketidakmauan dan atau ketidak mampuan ummatnya menggali nilai-nilai epistemologis dalam al-Quran, sehingga yang terjadi adalah eimperialisme epistemologis Islam oleh epistemologi non-islam. Ketiadaan-potensial, adalah ketiadaan secara esensial dalam ajaran itu sendiri. Sedangkan, ketiadaan epistemologis secara aktual, adalah karena kelemahan kita yang tidaka mampu mengaktualisir nilai-nilai epistemologis Qurani. Atau, bisa jadi ketiadaan aktual ini disebabkan pula oleh adanya kemalasan ummat dalam menggali, dan lebih merasa puas dengan memegang mitos-teologis tentang kesempurnaan Islam dengan tidak pernah mengenali kekuatannya atau kebenarannya. Sikap yang terakhir itu, adalah penyakit-penyakit ummat yang menggejala di jaman sekarang ini. Indikatornya, misalnya saja, mereka hanya meyakini kesempurnaan Islam, dan kelengkapan Quran dengan tidakpernah mengenali sisi – sisi kesempurnaan atau kelengkapannya tersebut tadi. Itulah mitos teologis umat terhadap ajarannya. Sebuah pemahaman yang tidak menyejarah pada dirinya sendiri. Maka oleh karena itu, penulis merasa perlu untuk memulai mengajak menggali nilai-nilai epistemologis al-Quran.
Untuk selanjutnya, dalam rangka menengahi persoalan ini penulis mencoba bertanya-tanya kepada pihak-pihak yang kompetensi dalam persoalan epistemologis ini. Khususnya di Kampus tempat penulis mencari pengetahuan itu. Namun, ternyata mereka masih juga belum memberikan sebuah gambaran yang konkrit mengenai kemungkinannya al-Quran memiliki referensi teoritis dalam mengembangkan epistemologinya. Kendatipun ada yang memberikan referensi mengenai epistemologi ini, mereka mendasarkannya pada pemikiran-pemikiran Muslim klasik, baik itu yang memiliki aliran pemikiran filosofis maupun sufistik. Belum ada yang mengembangkan epistemologi langsung dari sejarah perkembangan seorang Nabi atau rasul sebagaimana yang banyak diuraikan oleh Al-Quran. Akhirnya, secara autodidak penulis mempelajari beberapa persoalan yang berkaitan dengan masalah ini, khususnya yang berkaitan dengan Nabi Ibrahim As.
Sebagai sebuah pertanggungjawaban penulis, penulis ingin mengatakan beberapa hal yang berkaitan dengan masalah ini. Pertama, essai ini tidaklah dimaksudkan sebagai buku tafsir terhadap al-Quran. Kendatipun jika mau dipaksakan harus dipahami seperti itu, maka lebih baik posisikan sajalah sebagai produk apresiasi penganutnya terhadap Kitab Suci ajaran yang diyakininya. Apresiasi ummat yang awam, untuk memahami al-Quran. Kedua, kajian ini bukanlah essai yang menjelaskan mengenai Biografi Ibrahim As. Hal yang terakhir itu, amatlah sulit penulis lakukan. Tersebab, ada beberapa kendala akademis yang tidak bisa penulis lewati. Oleh karena itu, tetap penulis tempatkannya sebagai bagian dari apresiasi terhadap al-Quran itu sendiri.
Adapun pendekatan yang digunakannya adalah apresiasi pendekatan Hikmah. Sebuah pendekatan yang penulis pahami secara sederhana, yaitu apresiasi terhadap sejarah dengan telaah sosio-antropologis, dan sosiologi-pengetahuan-keberagamaan terhadap sejarah Ibrahim As. Mungkin jadi dalam prosesi uraiannya, terwarnai pendekaran strukturalisme, tetapi itu hanyalah untuk kasus-kasus tertentu saja, demikian pula pendekatan filosofis atau sosiologisnya. Sebagai sebuah pendekatan, al-Hikmah penulis artikan pendekatan keterpahamian, dengan kata lain ketika kita membaca sejarah kemudian mengapresiasinya, maka ketika kita memahami ayat tersebut dan mendapatkan sebuah inspiriasi tertentu, maka itulah yang disebut dengan pendekatan hikmah. Idealnya, adalah menggunakan pendekatan abduksi transformasi atau epistemologi Ibrahimiah ini, namun menyebutkan dengan istilah tersebut untuk saat ini, masih terlalu dini untuk memposisikannya. Demikianlah, pertanggungjawaban penulis tentang essai-essai ini. Lebih kurangnya, penulis hanyalah ingin mengajak mari kita kritik dan kembangkan bersama menuju pengembangan Epistemologi Yang Qurani, dengan mengambil uswah kepada Uswatun Hasanah itu sendiri.

Wallahualam bi Showwab.

Bandung, 1999

Penulis.

Advertisements