Dalam satu bulan terakhir, sempat bertemu dengan tiga pengelola satuan pendidikan di Kota Bandung. Ketiga sekolah tersebut terancam bubar, karena tidak terpenuhinya quota minimal siswa baru yang mendaftar. Alasan gulung bangku seperti ini merupakan argumen klasik yang dikemukakan para pengelola pendidikan. Selain karena kesalahan manajemen, dan promosi sudah tentu kondisi ini akibat dari ketidakmampuan membaca pesaing pendidikan yang ada di wilayah sekitar serta ketidakpekaan terhadap kebutuhan pasar. Dalam istilah dunia bisnir, yaitu lemahnya kemampuan intelijen persaingan dari lembaga (tim manajemen).

Kemampuan intelijen persaingan yaitu kemampuan sekolah (tim) untuk menganalisis kebutuhan masyarakat, keunggulan pesaing, dan potensi internal sehingga dapat mengambil posisi dan meningkatkan layanan pendidikan. Sampai saat ini, tampaknya banyak pengelola pendidikan yang kurang peka terhadap persaingan pasar pendidikan. Andaipun ada mereka hanya merasakannya di saat penerimaan siswa baru. Setelah PSB berlalu, kegelisahan terhadap ketatnya persaingan kemudian sirna.
Situasi persaingan dunia pendidikan sudah tidak jauh berbeda dengan dunia bisnis. Pendidikan Indonesia saat ini telah memasuki wilayah pasar terbuka (free market). Bukan hanya struktur kurikulum, kelembagaan atau pembiayaan pendidikan yang menjadi perhatian dunia pendidikan. Kualitas dan kemampuan bersaing dengan satuan pendidikan asing pun kian terbuka. Persoalaannya adalah apakah dunia pendidikan Indonesia sudah siap ?
Agak pesimis untuk menjawab dengan nada yang positif terhadap pertanyaan ini. Dunia pendidikan kita tidak hanya mengandung masalah yang terkait dengan kebijakan pendidikan, anggaran pendidikan, kualitas tenaga pendidikan, tetapi hamper di berbagai aspek pendidikan Indonesia masih menyimpan masalah yang akut. Bagi sebagian pihak, dapat menunjukkan satu atau dua orang unggul yang lahir dari satuan pendidikan Indonesia. Hal ini dapat ditunjukkan dengan raihan prestasi dalam olympiade matematika atau fisika yang diikuti oleh kaum muda bernalar unggul dari Indonesia. Sebagian orang pun dapat mengajukan satu contoh perguruan tinggi Indonesia masuk ke 500 universita favorit di dunia.
Namun demikian, contoh-contoh kasus tersebut kurang dari 0,1 % dari seluruh peserta didik di Indonesia. Jumlah tersebut teramat jauh dari jumlah perguruan tinggi, atau lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Oleh karena itu pula, kondisi ini mengantarkan pada pemikiran bahwa sejatinya pendidikan di Indonesia masih memiliki sejumlah kelemahan yang perlu terus ditingkatkan.
Satu kebutuhan mendesak bagi satuan pendidikan di Indonesia adalah menumbuhkembangkan nalar competitive intelligence. Intelijen persaingan adalah satu perangkat lunak (soft-skill) yang difungsikan untuk mengumpulkan informasi, mengolah dan memberikan masukan dalam mengambil keputusan dalam upaya peningkatan daya saing diri atau lembaga. Melalui intelijen persaingan ini, sebuah lembaga pendidikan dapat menemukan titik keunggulan pesaing, kebutuhan public (pasar), dan trend zaman, serta potensi diri dalam meraih keunggulan kompetitif.
Ada lima alasan yang mendukung kebutuhan satuan pendidikan terhadap inteligen persaingan. Pertama, persaingan dunia pendidikan semakin ketat dan tinggi. Setiap satuan pendidikan bukan hanya bersainga dengan satuan pendidikan local, namun dengan satuan pendidikan alternative (misalnya home schooling) dan satuan pendidikan luar negeri. Bila hal ini diabaikan bukan hal yang mustahil satuan pendidikan milik Negara (sekolah negeri) akan kehilangan wibawa di masyarakat. Pada saat ini saja, sudah ada beberapa sekolah swasta di kota Besar yang mampu menunjukkan kualitas unggulnya daripada sekolah negeri. Sementara di lain pihak, pada beberapa satuan pendidikan, biaya pendidikan di sekolah swasta pun tidak kalah mahalnya dengan biaya pendidikan di sekolah swasta.
Kedua, mutu lulusan dan manajemen pendidikan Indonesia masih membutuhkan pembenahan yang berkelanjutan. Tim manajemen pendidikan pada satuan pendidikan lebih mengejar standar politis (mengejar nilai UN sebagaimana yang ditentukan pemerintah), standar populis (misalnya membangun citra sekolah dengan lulus 100%), atau standar kuantitas (yang penting jumlah peserta didik besar). Sementara nilai kualitas dan keunggulan kompetitifnya belum menjadi perhatian.
Ketiga, terlalu banyak dan terlalu cepat arus informasi, inovasi, kebijakan dalam dunia pendidikan. Mulai dari CBSA, KBK, dan kini KTSP. Kebijakan-kebijakan publik tersebut merupakan informasi-informasi yang berseliweran dalam benak tenaga pendidik, tim manajemen pendidikan, dan juga anak didik atau masyarakat. Bila tim manajemen tidak mampu menyaring posisi ide strategis, maka satuan pendidikan itu hanya akan menjadi bulan-bulanan kebijakan, dan bila tidak ada kemampuan beradaptasi serta kurang memiliki keterampilan operasional (mengimplementasikan) maka sikap yang muncul itu adalah apatisme (tidak bergairah terhadap perubahan) dan skeptisisme (dipenuhi rasa curiga terhadap makna dibalik kebijakan).
Keempat, adanya peningkatan dan pengembangan tuntutan masyarakat. Dalam satu dasawarsa terakhir, orangtua siswa dan peserta didik itu sendiri, memiliki keberanian untuk mengajukan persepsi, apresiasi, evaluasi dan kontrolnya terhadap dunia pendidikan. Berbagai hal yang dianggapnya tidak selaras dengan dunia pendidikan atau nalar masyarakat tidak segan-segannya untuk kemudian dikoreksi. Kebijakan penaikan jumlah matapelajaran yang UN dan standar ketuntasan belajar pun menjadi sasaran demonstrasi siswa pendidikan dasar dan menengah.
Fenomena meningkatnya partisipasi masyarakat dan atau siswa dalam penyelenggaraan pendidikan ini perlu disikapi secara proporsional oleh tim manajemen pendidikan. Hemat kata, setiap tim manajemen pendidikan perlu cermat membaca gerak kebutuhan masyarakat dengan tujuan memberikan layanan pendidikan yang prima kepada peserta didik atau kepada masyarakat pada umumnya.
Kelima, perubahan dalam teknologi informasi dan media informasi. Proses pendidikan yang saat ini dilakukan tidak cukup hanya mengandalkan buku teks, atau LKS (lembar kerja siswa). Perubahan dan perkembangan informasi di media massa begitu sangat cepat dan berlipat. Sebuah satuan pendidikan atau satu tradisi pendidikan yang memberikan lingkungan pembelajaran dengan sumberbelajar yang monoton (hanya satu sumber atau satu buku), sudah sangat jelas akan mengalami ketertinggalan informasi.
Kealpaan satuan pendidikan untuk memperkenalkan peserta didik terhadap sumber informasi modern dan variatif hanya akan menghasilkan peserta didik generasi kahfi. Artinya, mereka yang belajar dengan satu sumber itu akan merasa gagap dan senjang dengan perkembangan serta keadaan informasi di dunia nyata atau di masyarakat. Sekedar contoh, bila ada sebuah satuan pendidikan hanya memperkenalkan wordstar (menulis) kepada siswa, maka anak ini akan gagap ketika melihat rekan-rekannya yang lain sudah menguasai dream weaver (software untuk animasi). Orang sepeti itulah yang disebut generasi kahfi, yang merasakan kelimpungan, bingung dan kaget akibat perkembangan dan perubahan waktu yang cepat, sementara dirinya baru keluar dari gua (sekolah) dengan kurikulum jadul (zaman dulu).
Berdasarkan pertimbangan tersebut, setiap tim manajemen satuan pendidikan membutuhkan kemampuan intelijen persaingan, dengan tujuan mengelola informasi untuk dijadikan bahan analisis dalam mempertahankan eksistensi lembaga, meningkatkan daya saing lembaga, serta meningkatkan kualitas lulusan dan layanan pendidikan.

Advertisements