Hidup ini tidak sendirian. Dan kita menjalani hidup dan kehidupan ini, tidak selamanya sesuai dengan apa yang kita rencanakan atau yang kita inginkan. Kadang kita merasakan banyak kejadian yang tidak kita rencanakan malah terjadi, dan apa yang kita rencanakan malah tidak terjadi. Itulah hidup dan inilah unik atau dinamikanya kehidupan. Bahkan, ada orang yang berpandangan, bila tidak seperti ini, itu sudah tentu bukan kehidupan. Indahnya hidup dan ciri cerdasnya manusia, adalah harus siap dengan apa yang tidak terencana, dan mampu menyelesaikannya dengan cara yang baik.

Secara umum, Islam memberikan gambaran yang sangat unik tentang hidup dan kehidupan ini. Dalam salah satu ayat, Allah Swt berfirman, “Dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?(Qs. Al-An-Am : 32).

Ayat ini seolah memberikan peringatan kepada kita, bahwa kendati hidup adalah main-main dan senda gurau belaka, namun seorang muslim jangan terlena atau terbuai oleh permainan ini. Karena sesungguhnya, ada kampung tempat mudik yang lebih baik lagi, yaitu kampung akhirat (daarul akhirah). Tempat itulah, tempat sebaik-baiknya tempat bagi seorang muslim yang bertaqwa. Sayangnya, kita memang sedikit sekali berfikir, dan atau bersikap hati-hati.

Mengapa harus hati-hati ?

Sehubungan dengan harapan kita untuk bisa hidup bahagia dan sejahtera, kita perlu bersikap hati-hati. Banyak alasan yang mengantarkan kita untuk belajar hati-hati, dan harus terus bersikap hati-hati. Bila kita tidak hati-hati, bukan saja kita tidak dapat mencapai tujuan yang kita inginkan, bahkan kita pun akan terjebak pada satu situasi yang sangat merugikan diri kita sendiri. Oleh karena itu, hati-hati adalah prinsip hidup yang perlu dijadikan pegangan dalam menjalani hidup ini.

Setidaknya kita memiliki enam alasan, mengapa kita harus hati-hati. Pertama, kebahagiaan atau kecelakaan, adalah karena ulah tangan kita sendiri. Apapun yang terjadi, itu lebih disebabkan karena ulah kita sendiri. Takdir itu adalah dalam diri kita. Kecelakaan adalah buah dari sikap ketidakhati-hatian kita dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Karena berjalan tidak hati-hati, kaki kita terantuk batu dan kemudian berdarah. Kecelakaan yang kita rasakan itu adalah karena ulah kita sendiri. Orang yang menderit sakit maag, misalnya, itu lebih disebabkan karena dirinya tidak disiplin dalam makan.

Artinya : itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. (2:134)

Artinya : tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, (al-Mudatsir/74:38)

Kedua, kita merasakan ada musibah bukan karena ulah diri kita, namun karena ulah orang lain. Ketika berjalan di jalan raya, kita sudah berhati-hati, naik kendaraan pun sudah berjalan dengan pelan, namun banyak yang mengalami kecelakaan karena kemudian tertabrak oleh orang lain. Orang yang seperti ini, sebenarnya merupakan bentuk dari sebuah kecelakaan atau musibah. Bila yang pertama tadi, sebenarnya lebih merupakan satu bentuk teguran karena kelalaian yang kita lakukan sendiri, sedangkan yang kedua ini adalah bentuk dari kecelakaan atau musibah.

Dari mimbar ini, saya ingin menegaskan bahwa bentuk musibah itu tidak mengenal identitas, tidak mengenal KTP, atau status kita. Siapapun kita, dengan posisi apapun jabatan kita, musibah itu bisa saja menimpa diri kita. Kendati dia seorang ustadz, seorang ulama yang salih, masih tetap terancam oleh adanya musibah.

Ketiga, kita kebagian celaka, karena kita tidak turut melakukan pembenahan lingkungan. Bisa jadi kita benar, dan atau rumah kita bersih. Namun ketika kita tidak memberikan penyuluhan, atau tidak mengingatkan lingkungan masyarakat kita, maka banjir akan datang dan turut menimpa keluarga kita pula. Kejadian ini adalah musibah yang disebabkan karena kita tidak turut melakukan dakwah pembangunan terhadap lingkungan sekitar.

Dalam sebuah hadist Qudsi, diceritakan bahwa ada orangtua yang turut masuk ke syurga, karena doa dan permintaan anak yang saleh. Ketika Allah Swt berfirman di hari kiamat kepada sejumlah anak, udhulul jannah, mereka malah menjawab, hatta yadhulu abauna wa umahatuna. Dan akhirnya, mereka pun masuk ke syurga.

Para ulama memberikan penjelasan, bahwa dengan qiyas terhadap hadits itu pun, orangtua bisa diseret ke dalam neraka, bukan karena dirinya banyak dosa, namun karena dosa anak dan pengakuan anak bahwa dosa yang dijalaninya itu lebih disebabkan karena didunia tidak dididik baik oleh orangtuanya. Hal ini memberikan contoh bahwa kecelakaan, bisa disebabkan karena peran kita tidak maksimal terhadap kebutuhan lingkungan.

Keempat, kecelakaan atau kejadian yang menimpa diri kita, bisa berbentuk sebagai bagian dari bentuk dosa kolektif. Pada tahun 1997-an, Ketua Muhammadiyah Amien Rais, pernah menyerukan pentingnya taubat nasional kepada seluruh bangsa Indonesia. Seruan ini dilakukan, karena krisis yang berkepanjangan dan menimpa bangsa ini, bukan karena salah seseorang atau kesalahan pribadi, namun merupakan bentuk dari kesalahan kolektif, kesalahan bersama atau kesalahaan banyak orang.

Untuk sekedar contoh. Mengapa hal ini dianggap sebagai bentuk kesalahan bersama, dapat kita lihat bagaimana tindak pidana korupsi dilakukan oleh pejabat negara dan rakyat sengsara. Dari pejabat negara yang kaya rasa, sampai rakyat yang tengah sengsara, banyak yang turut melakukan tindak pidana korupsi. Seorang tukang parkir di jalanan, tidak melaporkan retribusi parkir kepada negara. Pemasukan yang dilaporkan ke pemerintah, hanya dilakukan sejumlah karcis yang terjual. Demikian pula yang dilakukan oleh petugas-petugas di tempat yang lainnya. Seorang pedagang di pasar, mengurangi timbangan. Dan lain sebagainya. Hal ini memberikan gambaran bahwa bencana yang menimpa ekonomi bangsa ini, bukanlah semata karena korupsi para pejabat, namun didukung pula oleh kejahatan kolektif yang lainnya.

Dalam sejarah agama, bila sebuah kaum banyak yang sudah melakukan pelanggaran, maka yang akan terjadi itu adalah azab atau bencana alam. Banjir bandang terjadi pada umat nabi Nuh, Umat Nabi Nabi Musa ditenggelamkan di dasar laut. Bahkan sebelum kejadian itu, karena durhaka kepada Allah Swt, Umat Nabi Musa pun ditimpa azab. Kerajaan Fir’aun ditimpa krisis keuangan dan makanan (krisis ekonomi), yang disebabkan mengeringnya sungai Nil sehingga tidak dapat mengairi sawah-sawah dan ladang-ladang disamping serangan hama yang ganas yang telah menghabiskan padi dan gandum yang sudah menguning dan siap untuk diketam. Selain itu, banjir pun tiba dan menghanyutkan rumah dan bangunan serta membinasakan ternak. Serta munculnya banyak penyakit.

Contoh itu merupakan bentuk nyata, azab yang menimpa sebuah kaum,disebabkan karena dosa kolektif yang sudah melampaui batas. Bila kita ada diantara mereka, dan kemudian menjadi bagian dari masyarakat tersebut, bukan hal mustahil akan merasakan krisis ekonomi tersebut. inilah yang disebut, musibah yang disebabkan karena dosa kolektif.

Kelima, kita tertimpa musibah karena adanya pihak yang membenci diri kita. Tanpa bermaksud membela Antasari, dan atau mendahului keputusan Pengadilan, Antasari adalah orang yang selama ini dikenal masyarakat sebagai pejuang pemberantasan korupsi di Indonesia. Namun karena dijebak atau terjebak, kemudian kini dia pun harus berhadapan dengan meja hijau.

Sebagai pejabat negara pun, bila tidak bersikap hati-hati dan disiplin sesuai dengan peraturan perundangan, akan dengan mudah terjebak pada kejahatan kerah putih atau korupsi. Dulu kita mendengar, ada seorang ulama, yang menjadi menteri, kemudian karena aparatnya melakukan penyelewengan uang negara, maka menteri yang ulama itu pun terjeblos ke dalam penjara.

Kasus-kasus itu, merupakan gambaran bahwa orang baik yang hidup dalam waktu yang salah, tidak mustahil akan berhadapan dengan masalah. Nasib orang seperti ini, ibarat orang yang kena getahnya, teu mais teu meuleum, tapi harus bertanggungjawab terhadap masalah yang sedang terjadi. Atau orang Sunda menyebutnya dengan istilah katempuhan buntut maung.

Keenam, atau terakhir, musibah itu terjadi bukan karena kita tidak waspada terhadap penyebab masalah, namun kita hilap terhadap masalah yang lain. Mungkin jadi, kita kuat menahan godaan harta, namun belum tentu kuat menahan godaan tahta atau hawa nafsu. Bisa jadi kita sukses dalam menghadapi penderitaan, namun kita gagal menghadapi godaan kesuksesan. Hal ini sama-sama akan menjadi penyebab datangnya musibah.

Hal ini memberikan gambaran, bahwa apa yang kita jalani atau terima saat ini, kadang bukan karena ulah kita secara langsung, namun bisa jadi karena ulah orang lain yang kemudian berdampak pula pada diri kita.

Bagaimana cara menghindari ?

Pertanyaan yang layak kita ajukan di sini, yaitu bagaimana kita mengantisipasi masalah-masalah tersebut ? bagaimana kita menghadapi masalah tersebut ? Jawaban yang ingin khatib kemukakan di sini, yaitu hati-hatilah dalam berbicara, bertindak atau bersikap. Karena dengan sikap itulah kita dapat menghadapi masalah itu.

Terhadap masalah ini, sangat tepat bila Islam mengatakan la taqrobuz zina (jangan dekati zina). Dengan kata lain, Islam menegaskan bahwa jangankan melakukan zina, mendekati pun sudah dilarang. Hal ini seiring selaras dengan prinsip hati-hati. Karena, bila kita sudah senang bermain api, maka peluang terbakar sudah sangat besar. Oleh karena itu, hati-hatilah dalam hidup dan kehidupan ini.

Makna hati-hati ini, sangat mendalam. Hati-hati adalah sikap seseorang yang dipandu oleh hati dengan hati. Kalau hanya menggunakan hati (sekali), kita akan terjebak pada emosi atau perasaan semata. Tetapi kalau kita menggunakan cara dialog dari hati ke hati, akan melahirkan sikap yang bijak. Oleh karena itu, sikap hati-hati, tiada lain adalah tindakan yang selalu dipandung dengan hatinya hati, atau kita sebut dengan nurani atau qalbu.

-o0o-

Imam Syafii dikenal sebagai ulama fiqh yang sangat-sangat mengutamakan prinsip kehati-hatian. Hati-hati dalam berfikir, bersikap atau bertindak. Bahkan para shahabat, mengartikan taqwa sebagai sikap hati-hati. Mirip kita berjalan di pinggir jurang. Sikap hati-hati menjadi sangat penting. Karena kelalaian sedetikpun, dapat menyebabkan kita terjerumus pada situasi yang salah.

Sikap hati-hati itu bukan karena kita dalam situasi yang salah. Kendati kita dalam situasi yang benar pun, kita harus hati-hati. Karena musibah, kecelakaan, atau bencana tidak mengenal status kita, dan bisa datang kapan saja. Walau kita sudah berusaha berbuat baik, bila tidak hati-hati terhadap lingkungan, maka karena lingkungan itulah kita mendapatkan musibah. Oleh karena itu, hati-hati adalah prinsip penting dalam meraih kesuksesan dan kebahagiaan masa depan.

Orang yang hati-hati itu ditandai oleh tiga sikap utama, yaitu dipikirkan sebelum melakukan, sungguh-sungguh dalam menjalaninya, dan tawakal setelah melakukannya. Orang hati-hati itu, sebelum bertindak mengaktifkan hati, dalam menjalankan hati-hati, kemudian selalu memperhatikan apa dampak selanjutnya. Dengan kata lain, gunakan hati, hati-hati, dan perhatikan apa yang terjadi. Tiga prinsip itulah, yang dapat menghantarkan seseorang mendapatkan derajat hidup yang sukses.

Advertisements