GEOGRAFI EMANSIPATORIS :
PENGEMBANGAN NILAI NASIONALISME DAN
KESADARAN BERKONSTITUSI

Abstraksi

Ketika geografi mampu menunjukkan peran nyata dalam kehidupan sehari dan atau mendorong peserta didik untuk bisa berkiprah dalam kehidupan sehari-hari, geografi telah mampu mengembangkan karakternya barunya, yaitu menjadi geografi emansipatoris. Geografi emansipatoris, maksudkan yaitu geografi yang mampu memberikan kontribusi nyata pada kehidupan ril, dan mampu mendorong peserta didik mampu hidup rukun, harmonis dan dinamis di lingkungannya. Tulisan ini berupaya untuk menjelaskan mengenai potensi geografi dalam pengembangan nilai nasionalisme dan kesadaran berkonstitusi.

Kata kunci : geografi, nilai geografi, emansipatoris, praxis

Pengantar
Secara normatif, tujuan pendidikan nasional bertujuan untuk membangun karakter banga (character building). Hal ini bisa dilihat dari rumusan formal-legal dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakayt, bangsa dan Negara.

Bersandar pada rumusan tersebut, dengan mudah dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan di Indonesia (baca : mata pelajaran di setiap satuan pendidikan) bukan bidang ilmu yang bisa dipisahkan atau terpisah dari kebutuhan dan kepentingan praktis bangsa dan Negara. Lebih luas lagi, pendidikan tidak bisa dipisahkan dari kepentinbgan praxis manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Ketegasan dan penegasan ini sangat penting. Khususnya terkait dengan adanya indikasi, terus menguatnya promosi sebagian ilmuwan yang menyatakan bahwa ilmu adalah bersifat netral dan bisa dipisahkan dari kepentingan. Pandangan positivisme, sebagaimana yang diproklamasikan Aguste Comte (1798-1857) adalah puncak dari pemurnian pengetahuan dari kepentingan . Pandangan ini merupakan awal kelahiran pengetahuan untuk pengetahuan (pure science) yang terpisah dan dipisahkan dari kepentingan praxis . Pada tahap selanjutnya, ideology netralitas sains menjadi sesuatu yang menjadi ideology perjuangan sebagian ilmuwan. Sehingga pada akhirnya, kerap ada kritik pintar tapi budi pekerti tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Selain pemikiran netralitas sains, ada kelompok yang mengajukan pandangan yang sebaliknya. Kritikan terhadap netralitas sains itu, diantaranya dikemukakan oleh Jurgen Hubermas. Dalam pandangan Hubermas, pertautan antara kepentingan dan pengetahuan merupakan sebuah keniscayaan, bahkan dalam konteks itulah pengetahuan manusia memiliki nilai praxis dan kemudian manusia menemukan eksistensinya dalam kehidupan nyata .
Dari kelompok terakhir inilah, kemudian lahir kajian mengenai nilai-nilai pendidikan, salah satu diantaranya dalam bidang kajian geografi. Pendidikan geografi, selain memiliki kewajiban formal untuk mendukung pada tujuan pendidikan karakter bangsa juga mengandung potensi nilai yang besar dalam memaksimalkan fungsi geografi dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum, Daldjoeni, merinci bahwa ada lima sumbangan pedagogis yang diberikan oleh geografi. Yaitu wawasan dalam ruang, persepsi relasi antar gejala, pendidikan keindahan, kecintaan tanah air, dan saling pengertian internasional.
Dalam berbagai kesempatan, Nursid Sumaatmadja mengedepankan pendapatnya bahwa geografi itu memiliki lima nilai, yakni nilai teoritis, nilai praktis, nilai edukasi, nilai filsafat dan nilai ketuhanan .Geografi memiliki nilai teoritis, yaitu geografi berusaha untuk membaca realitas geosfera yang terjadi dengan membicarakan, membahas, menelaah atau menganalisis fenomena geosfera. Pada sisi kedua, geografi juga memberikan nilai praktis, khususnya dalam memberikan teknik-teknik pembacaan peta, atau membaca medan. Nilai ketiga, geografi memiliki nilai edukatif, baik aspek kognitif, afektif-konatif dan juga psikomotor . Penting untuk penulis kemukakan pula, bahwa nilai edukasi dari geografi yaitu sebagai bagian dari strategi pengembangan sumber daya manusia. Dalam proses pengembangan sumber daya manusia, pendekatan atau strategi yang harus dilakukan yaitu perlu untuk memperhatikan konteks ruang dan kondisi sosial-budaya masyarakat. Pada konteks inilah, peran geografi menjadi sangat penting. Keempat, geografi juga memberikan peran dalam pengembangan nilai filsafat, misalnya dalam memahami hakikat hidup di lingkungan ini. Sistem ekologi, yang kian hari kian meluntur kualitasnya, perlu dipahami sebagai sesuatu hal yang bersifat filosofis. Keberadaan alam yang tidak abadi, aksi manusia dan alam, keberadaan manusia dalam alam adalah beberapa nilai filosofis yang bisa mengemuka sebagai bagian dari pendidikan filsafatnya. Kelima, geografi memiliki nilai Ketuhanan. Sebagai umat manusia, atau sebagai makhluk, yang dikaruniai budi atau akal fikiran, selain kita mengerti tantang apa yang kita pelajari, juga perlu untuk merenungi apa yang telah kita pelajari tersebut.
Sayangnya, acuan teoritik dan normative itu belum menjadi kesadaran para guru di lapangan. Kesadaran mengenai tingginya nilai geografi sebagaimana yang dikemukakan Nursid Sumaatmadja atau Daldjoeni, belum berkembang dan belum menjadi bagian penting dari praktek pembelajaran geografi di lembaga pendidikan. Para guru di tingkat satuan pendidikan, khususnya di lingkungan pendidikan dasar dan menengah cenderung memosisikan geografi sebagai pendidikan yang terbebas dari tugas pembinaan karakter bangsa, terlebih lagi dari tugas-tugas untuk mengembangkan nilai nasionalisme atau kesadaran berkonstitusi. Terlebih dalam 2 tahun terakhir ini, guru geografi pun malah terjebak pada lubang yang lebih sempit, yaitu sekedar mengejar angka target sebagaimana ditentukan untuk batas kelulusan Ujian Nasional (UN).
Dua tema besar dan menjadi problem bangsa dalam 10 tahun terakhir ini, masih dipahami secara parsial, yaitu nilai nasionalisme dan kesadaran berkonstitusi. Di lingkungan pendidikan, para guru masih terjebak pada pola dan tujuan pendidikan yang formal bahkan bebas nilai. Pendidikan nasionalisme atau kesadaran berkonstitusi kerap lebih diapresiasi sebagai tugas dari mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKn). Kesadaran ini seiring dengan kesadaran parsialitas fungsi pendidikan di Indonesia. Karena selain kesadaran yang tadi, masih ada guru yang menganggap bahwa pendidikan karakter bangsa itu pun merupakan tugas dari mata pelajaran PKn dan Agama. Sementara pelajaran-pelajaran yang lain, seolah tidak memiliki peran nyata dalam aspek-aspek tersebut. Akibatnya, tidak maksimalnya peran pendidikan (baca : geografi) dalam proses pendidikan karakter bangsa.
Mengacu pada latar belakang itu, wacana ini akan memfokuskan pembicaraan pada pertanyaan, bagaimana strategi pembelajaran geografi yang mampu memaksimalkan perannya dalam proses pengembangan karakter bangsa, khususnya aspek pendidikan nilai nasionalisme dan kesadaran berkonstitusi ? wacana ini, sudah tentu merupakan sebuah eksplorasi awal dan eksperimen pemikiran dalam rangka memberdayakan peran dan fungsi nilai geografi dalam menunjang tujuan pendidikan dan meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan peserta didik khususnya.

Kerangka Pikir
Untuk memperkuat maksud dan tujuan pewacanaan ini, akan dikemukakan sejumlah asumsi teoritik yang diharapkan dapat menjadi landasan yang memperkuat kerangka pikir dan analisis. Setidaknya ada 6 (enam) asumsi yang dijadikan sebagai landasan pemikiran dalam mengembangkan wacana ini. Dengan enam asumsi inilah, wacana pentingnya penguatan peran pendidikan geografi dalam pendidikan nilai nasionalisme dan kesadaran berkonstitusi menjadi penting.
Pertama, landasan formal-legal, yaitu mengacu pada UU Sisdiknas mengenai tujuan dari pendidikan. Geografi adalah bagian integral dari sistem pembelajaran di Indonesia. Dengan kata lain, pendidikan geografi pun memiliki tugas nyata dalam mendukung usaha pengembangan karakter bangsa, termasuk pengembangan nilai-nilai nasionalisme dan kesadaran berkonstitusi. Dalam Standar Isi Pelajaran Geografi SMA, misalnya dituliskan bahwa fungsi georgafi itu adalah untuk menumbuhkan sikap, kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan hidup dan sumber daya serta toleransi terhadap keragaman sosial-budaya masyarakat.
Kedua, teori yang dikemukakan Nursid Sumaatmadja, sebagaimana dikemukakan sebelumnya, yaitu nilai teoritis, nilai praktis, nilai edukasi, nilai filsafat dan nilai ketuhanan. Kendati dalam konteks analisis, kelima aspek ini dipisahkan antara satu dengan yang lainya, namun dalam prakteknya dapat bermuncul secara bersamaan.
Ketiga, peristiwa alam atau fenomena geosfera merupakan bentuk manajemen alam. Dalam pandangan Seroso Adi Yudianto, manajemen alam merupakan sumber pendidikan nilai. Dalam pandangan Yudianto, alam memiliki struktur dan perilaku yang kaya untuk dijadikan sebagai sumber pendidikan nilai. Terkait dengan hal ini, struktur dan perilaku alam itu adalah bagian penting dari struktur dan perilaku fenomena geosfera yang menjadi kajian geografi. Pandangan ini sejalan dengan pandangan Nursid Sumaatmadja tentang nilai-nilai geografi.
Keempat, landasan filosofis, tentang pentingnya nilai praxis dari ilmu pengetahuan. Pandangan ini, penulis rujukan pada pemikiran Jurgen Hubermas. Meminjam analisis Hubermas, pengetahuan, ilmu pengetahuan dan ideologi merupakan tigas hal yang saling bertautan dan ketiganya terkait dengan praxis kehidupan sosial manusia. Bila pengetahuan dan atau ilmu pengetahuan terpisah dari praxis, akan menyebabkan manusia terasing dengan dirinya, dan lingkungannya.
Kelima, yaitu posisi pendidikan sebagai bagian dari sistem rekayasa sosial. Transformasi sosial juga memerlukan sebuah teknik dan strategi yang relevan dengan karakter sosial itu sendiri. Menurut Brameld, kekuatan yang paling kapabel untuk melakukan kontrol sosial dan tranformasi sosial adalah pendidikan. Maka dengan demikian, setelah dia merujuk pada pemikirannya Francis Bacon (yang menyatakan knowledge is power) mengatakan education as power . Dengan kata lain, pendidikan dapat dijadikan sebagai sarana rekayasa social menuju tatanan yang diharapkan. Melalui pendidikan ini, Indonesia dapat membangun karakter bangsa yang bertanggungjawab terhadap diri, masyarakat dan negara. Untuk melakukan pembenahan ini, perlu diawali dari perubahan mindset. Senada dengan pemikiran ini, Jalaluddin Rakhmat berpendapat bahwa Perubahan sosial yang bergerak melalui rekayasa sosial harus dimulai dengan perubahan cara berfikir, mustahil ada perubahan ke arah yang benar kalau kesalahan berfikir masih menjebak benak kita . Perubahan ini hanya bisa dilakukan melalui pendidikan, salah satu diantaranya dilakukan melalui pendidikan geografi.
Terakhir, yaitu adanya tantangan bangsa untuk melakukan pembinaan dan penataan kehidupan social. Ada sejumlah tantangan besar, yang perlu mendapat perhatian seksama dari kalangan geograf, dan atau pengajaran geografi di satuan pendidikan, baik pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tinggi.

Tantangan Geografi
Untuk menggenapkan analisis dan menguatkan kebutuhan untuk optimalisasi peran dan nilai geografi dalam pembinaan karakter bangsa dan kesadaran berkonstitusi, dapat dikemukakan beberapa kondisi ril kebangsaan yang menyebabkan terpuruknya karakter kebangsaan dan tatanan social bangsa Indonesia.
Pertama, kebijakan otonomi daerah menyebabkan lahirnya kebanggaan pada daerah. Otonomi daerah di Indonesia menstimulasi pemikiran dan kesadaran daerah yang lebih menguat dibandingkan dengan kesadaran-kesadaran kebangsaan. Hal ini bisa dilihat dari seringnya muncul ide, pri-non pri, daerah-pusat, putra daerah, atau jawa luar jawa.
Dalam proses politik pasca reformasi, isu-isu tersebut menguat seiring dengan fluktuasi politik aliran di Indonesia. Kendati tidak menjadi mainstream politik di Indonesia, namun perilaku nyata masyarakat kita maish terus menunjukkan indikasi perilaku-perilaku yang mengutamakan nilai kebanggaan daerah dibandingkan dengan kebanggaan kebangsaannya, Indonesia.
Kedua, kelanjutan dari proses ini, muncullah fenomena teritorialisasi geopolitik di Indonesia. Indonesia yang terbentang dari ujung Sabang sampai Merauke, kemudian dikapling-kapling secara politik oleh persepsi dan kepentingan politik elit daerah di Indonesia. Dalam pemilihan umum (pemilu) legislatif misalnya, ada rebutan wilayah konstituen, dan dalam pilkada ada isu pri-nonpri atau jawa luar jawa. Hal ini merupakan bentuk nyata dari proses teritorialisasi geopolitik atau dalam istilah lain ada proses deteritorialisasi geopolitik Keindonesiaan menjadi kapling-kapling geopolitik lokal .
Ketiga, orientasi pembangunan Indonesia masih berpusat pada pusat-pusat daerah. Secara nasional, pembangunan masih bersifat di pulau Jawa. Secara lokal, pembangunan masih terfokus pada pusat pemerintahan. Sementara daerah-daerah pinggiran atau daerah perbatasan, kurang mendapat perhatian yang seksama, baik dari pemerintah pusat maupun Pemerintah Daerah. Bila hal ini dibiarkan terjadi, atau tidak dibenahi, maka potensi konflik daerah perbatasan akan memicu masalah bangsa dan administrasi wilayah Indonesia.
Keempat, masih seringnya terjadi penyelundupan kekayaan alam negara kepada negara lain secara ilegal. Praktek inipun diperparah lagi dengan tindakan penebangan liar, perambahan hutan, dan perusakan lingkungan. Akibat nyata dari tindakan ini, bukan hanya menyebabkan indonesia mengalami kerugian materi, namun kerugian ekologi dan martabat kebangsaan. Perilaku itu merupakan bentuk nyata dari lemahnya rasa tanggungjawab pelaku terhadap geografi Indonesia, masa depan bangsa dan ekologi Indonesia.
Selain hal-hal tersebut, masih ada masalah yang tidak diungkap di sini, namun perlu diperhatikan. Mulai dari identivikasi keanekaragaman dan eksplorasi kekayaan alam dan sampai pada penataaan tata ruang Indonesia. Semua hal itu, merupakan bagian penting yang perlu mendapat perhatian kalangan geografi. Namun demikian, dengan uraian tersebut pun sudah menjadi jelas, bahwa salah satu masalah bangsa dan kebangaan ini adalah membangun kecintaan terhadap geografi Indonsia itu sendiri.
Berdasarkan hal-hal tersebut, jelas sudah bahwa kondisi ril saat ini menuntut dan menantang guru geografi dan geograf Indonesia untuk memberikan kontribusi nyata terhadap penataan karakter bangsa dan atau anak bangsa, menuju warga negara yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakayt, bangsa dan Negara.

Pemecahan Masalah
Masalah-masalah yang dikemukakan di atas merupakan masalah besar bagi bangsa Indonesia. Masalah ini memang bukan hanya tanggungjawab geograf atau geografi, namun menjadi tanggungjawab seluruh elemen bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dalam konteks ini, wacana ini ingin menekankan bahwa geografi perlu melakukan reposisi peran dan fungsi dalam usaha-usaha pendidikan nasionalisme dan kesadaran berkonstitusi.
Untuk mewujudkan hal itu, ada beberapa alternatif pemecahan masalah yang dapat dijadikan pertimbangan dalam meningkatkan peran dan fungsi geografi dalam pembinaan karakter bangsa, khususnya nilai nasionalisme dan kesadaran berkonstitusi.
Pertama, sesuai dengan karakter geografi yaitu mempelajari keanekaragaman fenomena geosfera, maka geografi harus mampu menjadi pelopor pengembangan pendidikan multikultural . Melalui pendidikan ini, geografi memiliki bahan dasar tentang objek material geografi yaitu tentang kebhinnekaan potensi bangsa, sekaligus membangkit kesadaran warga negara tentang bhinneka tunggal ika. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan multikultural menjadi penting dalam proses pendidikan geografi.
Kedua, selaras dengan perkembangan kebijakan pendidikan, khususnya yaitu adanya otonomi pendidikan, maka setiap satuan pendidikan diberi kewenangan untuk mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Peluang ini perlu dimanfaatkan oleh para guru dilapangan untuk mengembangkan kurikulum pendidikan geografi dengan berorientasi pada pendidikan nilai. Setiap ajuan pengajaran geografi, diharapkan dapat menyertakan tujuan pendidikan nilai geografi itu sendiri. Sehingga pada akhirnya, pendidikan geografi di satuan pendidikan tidak hanya bersifat kognitif, namun mampu memberikan kesadaran geografis, dan keterampilan geografis bagi peserta didik.
Ketiga, pembelajaran geografi harus mampu mendorong tiga aspek pembelajaran peserta didik. Geografi harus mampu mendorong siswa memiliki pengetahuan geografik (geographic knowledge), sikap geografik (geographic attittude), dan keterampilan geografik (geographic skill). Dalam kelompok pengetahuan geografik, seseorang dapat menggambarkan, mengetahui, mendata, mengumpulkan, menganalisis, dan merekonstruksi fenomena geografi. Sedangkan dalam sikap geografik, orang dituntut bisa hidup beradaptasi, dinamis, dan interaksi mutualis dalam keanekaragaman dan kedinamikaan alam. Kemudian, yang dimaksud dengan keterampilan geografik yaitu kemampuan seseorang untuk menjadikan geografi sebagai pengetahuan praktis dalam merekayasa kehidupan. Dalam keterampilan ini, seseorang perlu dibekali dengan geografi teknik atau teknik rekayasan geografi sehingga mampu melakukan konservasi dan rehabilitasi alam dan kealaman.
Praktek pengajaran yang ada berkembang saat ini baru sampai pada transfer pengetahuan geografi, dua aspek yang lainnya belum banyak tersentuh. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila kemudian melahirkan anak didik yang tidak memahami cara hidup di alam terbuka dan di dalam kota. Kasus anak-anak yang mati lemas ketika melakukan jelajah alam, membuang sampah sembarangan, menjual kekayaan alam kepada bangsa asing secara ilegal, membuat kerusakan alam, adalah contoh nyata dari lemahnya sikap geografik dan keterampilan geografik. Kasus itu merupakan indikasi tidak maksimalnya nilai pengajaran geografi, sekaligus lemahnya kesadaran dan kecintaan terhadap kekayaan serta keanekaragaman alam Indonesia.
Keempat, sebagai kelanjutan dari itu semua, maka perlu ada perubahan pemaknaan terhadap istilah geogafi itu sendiri. Selama ini, geografi lebih dimaknai sebagai ilmu yang mempelajari fenomena geosfera dari sudut kelingkungan dan kewilayahannya dalam konteks keruangan. Definisi ini seolah telah menjadi baku, menjadi pegangan umum para guru dalam melakukan pengajaran. Dalam konteks ini, kita harus sedikit menggeser ke aras definisi geografi yang partisipastif. Dengan definisi ini, maka geografi perlu dipahami sebagai sarana pembelajaran dalam memberikan pengetahuan, kesadaran dan keterampilan hidup dalam dinamkika dan keanekaragam fenomena geosfera. Penekanan pada sarana pembelajaran ini, diharapkan mendorong para guru dan ahli geografi untuk terus meningkatkan peran dan fungsi geografi bagi pembelajaran berkelanjutan kepada anak didik, bukan hanya memahami anekaragam fenomena geosfera namun bisa adaptasi dan dinamis hidup dalam keanekaragaman hidup itu sendiri.
Pembelajaran hidup rukun dan adaptable terhadap dinamika keanekaragam kehidupan merupakan modal penting dalam meningkatkan nilai nasionalisme dan kesadaran berkonstitusi. Objek material geografi merupakan bahan dasar untuk menumbuhkan kesadaran terhadap kekayaan alam Indonesia. Selanjutnya pembelajaran geografi dituntut untuk mampu merangsang, mendorong, meningkatkan dan mengembangkan sikap rasa cinta, peka, peduli dan tanggungjawab terhadap ekologi Indonesia. Geografi bertanggungjawab untuk menumbuhkembangkan rasa memiliki (sense of belonging) peserta didik terhadap kekayaan dan keadaan alam Indonesia.
Kelemahan kita selama ini, keanekaragaman alam malah menjadi bibit perpecahan dan konflik sosial. Jangan-jangan kesadaran lokal atau kedaerahan itu merupakan hasil pembelajaran geografi yang tidak tuntas, yaitu hanya membicarakan anekaragam fenomena sebagai identitas kelompok, dan bukan pemersatu keutuhan bangsa dan negara. Laut menjadi pemisah pulau dan bukan menjadi pemersatu etnik di Indonesia. Perubahan pemahaman ini mungkin sederhana, namun memiliki nilai yang revolusioner. Karena bila kita salah menjelaskan mengenai fenomena keanekaragaman ini, alih-alih dapat membangkitkan rasa bangga terhadap kekayaan Indonesia, malah menjadi awal dari rebutan kekayaan alam. Oleh karena itu, kita perlu mengalihkan perubahan pembelajaran geografi. Karena sesungguhnya sejalan pandangan Jalaludin Rakhmat, perubahan sosial diawali dari perubahan pola pikir.
Terakhir, untuk meningkatkan kualiltas pembelajaran yang menyeluruh itu, perlu dibudayakan pembelajaran yang bersifat kontekstual. Pembelajaran yang berbasis konteks dan pemecahan masalah (problem-based learning) dapat meningkatkan keterlibatan dan keterpautan sikap siswa terhadap kehidupan sehari-hari.

Penutup
Dengan uraian tersebut, pendidikan geografi secara khusus dan geografi pada umumnya, tidak menjadi sebuah disiplin ilmu yang asyik dengan dunia akademiknya sendiri. Ketika geografi asyik dengan dunia akademiknya, dan tidak peka terhadap masalah lingkungan dan atau tidak mampu mendorong peserta didik mampu hidup dengan lingkungannya sendiri, geografi terancam menjadi ilmu yang autis, yaitu tidak peka dengan dinamika lingkungan dan hanya asyik dengan dunianya sendiri.
Ketika geografi mampu menunjukkan peran nyata dalam kehidupan sehari, dan atau mendorong peserta didik untuk bisa berkiprah dalam kehidupan sehari-hari inilah, maka geografi telah mampu mengembangkan karakternya barunya, yaitu menjadi geografi emansipatoris. Geografi emansipatoris ini, saya maksudkan dengan makna geografi yang mampu memberikan kontribusi nyata pada kehidupan ril, dan mampu mendorong peserta didik mampu hidup rukun, harmonis dan dinamis di lingkungannya.
Dengan kata lain, sudah saatnya para guru menyadari bahwa melalui pendidikan geofrafi sesungguhnya ada peran nyata untuk merekayasa Indonesia dan generasi Indonesai masa depan. Hal ini bergantung pada tangan-tangan tenaga pendidik geografi itu sendiri…

_o0o_

Dipresentasikan sebagai makalah pendamping dalam Pertemuan Tahunan Ikatan geografi Indonesia, dan Kuliah Purnabakti Prof. Dr. Awan Mutakin. 11 Mei 2009, Geografi FPIPS : UPI Bandung.

Advertisements