Dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi, bermula dari kegairahan masyarakat terhadap epistemologi. Kecerdasan bangsa Eropa menggali epistomologi dari masyarakat muslim, melecut kebangkitan Eropa di abad pertengahan. Namun sayangnya, kesuksesan itu tidak diikuti oleh perkembangan ilmu dan pengetahuan di lingkungan masyarakat Islam itu sendiri. Masyarakat Islam pasca abad pertengahan, cenderung menjauhi filsafat termasuk epistemologipengetahuan. Akibatnya dari sikap ini, kini mulai banyak dirasakan orang. Diantaranya yaitu kejumudan berfikir, taqlid lebih diminati daripada ijtihad, dan lemahnya gairah umat dalam menggali ilmu pengetahuan.

Dalam ulasan buku ini, terungkap makna bahwa penguatan dan pemberdayaan epistomologi akan mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hanya saja, sikap kritis di kemukakan bahwa epistemologi yang ada saat ini, baik yang ada di lingkungan masyarakat Islam maupun masyarakat Barat, belum menunjukkan kekokohan fondasi. Islam kehilangan nalar kritis dan nalar empiris, sementara Barat kehilangan nalar transendensi. Pada konteks inilah, kajian mengenai Epistemologi Ibrahim diharapkan dapat menjadi materi kajian yang merangsang, melecut dan memberdayakan nalar manusia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kehidupan bermasyarakat dan beragama.

Judul Buku : Epistemologi Ibrahim, dari eksperimen teologi ke transendensi. Bila tidak ada hambatan, rencana di terbitkan oleh Andi Press : Yogyakarta

Advertisements