Tiga tahun yang lalu, saya hadir di tempat ini, Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kota Bandung. Tiga tahun lalu itu, di TPU Nagrog ini saya berdiri menyaksikan seorang mantan pimpinan MAN 2 dikebumikan. Dan hari ini pula, tepatnya tanggal 6 Desember 2008, saya dipaksa sejarah untuk hadir di lokasi ini menyaksikan seorang sahabat, dalam usia 27 tahun mengucapkan salam perpisahan untuk kita selamanya.

Dalam hari-hari biasa, lokasi ini sepi. Sepi bak membisunya para penghuni. Namun dibalik kebisuannya itulah, banyak ucapan yang dilantunkannya kepada para pelayat hari itu. Kendati bibir atau lidah para penghuni lokasi ini sudah tak berbunyi, kendati gerak dan langkah tak mereka lakukan, namun suara alam yang menjadi media pesan mereka terdengar sangat keras kepada setiap orang yang datang ke lokasi ini.

Waktu itu pun, suara alam yang pertama kali terdengar sayup-sayup, mereka berucap bahwa warga yang hadir di lokasi ini, kian hari kian bertambah. Warga mereka tak pernah berkurang. Warga yang hadir di lokasi ini, tidak pernah ada yang pergi. Jumlah yang hadir di lokasi ini, senantiasa bertambah. Satu demi satu, manusia yang ada di muka bumi mendaftar dan menjadi bagian dari warga TPU. Mereka rela mengisi ruang kosong di lokasi ini, kendati harus pulas tertidur sendirian. Tak ada kawan yang datang, dan tak rekanan yang menemani.

Ucapan alam ini terasa keras di telinga, bahkan sangat terasa bak petir di siang bolong. Namun kerauguan itu pupus sudah, ketika dengan mata kepala sendiri, melihat sebuah kenyataan bahwa tiga tahun lalu, daerah ini masih sangat jarang penghuni. Dan kini, sejumlah kawasan yang ada di kanan-kirinya sudah mulai banyak terisi. Ya, warga mereka terus bertambah dan terus bertambah.

Diantara dedaunan pun ada suara desingan yang gemerincing, menyampaikan pesan, bahwa manusia yang daftar di lokasi ini, bukanlah orang lain. Mereka bukan dari negeri sebrang, bukan dari negeri atas angin, bukan dari Eropa, Amerika, Arab Saudi, atau Afrika. Dedaunan itu membisikan sebuah rahasia cara penerimaan warga barunya. mereka adalah bagian dari kampungmu juga.

Benar. Benar sekali. Bunyi daun-daun yang gemerincing menyatakan sesuatu yang benar. Warga yang daftar di TPU itu, bukanlah orang-orang yang jauh dari lingkungan kami-kami yang melayat ke tempat ini. Hari ini pun, sahabat dekatku, rekan kerjaku, atau mungkin tetangga, atau orangtua kita, kini merekalah yang mendaftar di lokasi ini. Benar sekali, bahwa para penghuni baru itu bukan orang lain. Bukan. Mereka adalah orang-orang yang kemarin ada di sekeliling kita.

Bila bunyi-bunyi itu di simak dengan jelas. Kemudian mereka pun seolah ingin berujar, bahwa kehidupan ini bak sebuah roti. Dari sebuh roti besar itu, seberapa besar apapun ukuran roti tersebut, makhluk itu akan memakan pinggiran roti sedikit demi sedikit tanpa merasa kenyang. Kendati pun kita ada di tengah-tengah roti, kendatipun kita adalah pusat roti, namun bila makhluk yang bernama kematian itu terus menggigit dan memakan orang-orang yang ada di sekeliling kita, maka makhluk itu hanya berujar, semuanya tinggal menunggu giliran, dan nantikan tanggal mainnya.

Angin pun datang menyahutnya. Seolah ingin turut menegaskan pandangan yang dikemukakan oleh desiran dedaunan. tidak ada warga yang terdaftar dua kali. Tidak ada warga yang memiliki KTP ganda. Di sini, hanya sekali dan untuk selamanya. ucapan ini menggetarkan seluruh rona dan sukma para pelayat yang hadir di sana. Ucapan ini terasa sangat keras dan kencang dalam setiap jiwa. Yakin dan sangat jelas terdengar, bahwa jumlah yang setiap hari bertambah itu, bukanlah orang yang mendaftar dua kali, dan bukan terdaftar dua kali. Mereka sudah jelas, dan pasti, adalah warga baru yang memang benar-benar baru hadir di ruangan ini.

Dalam keadaan bingung dan seolah tak percaya, ku mencoba memalingkan wajahku ke arah tanah yang memerah. Tanah itu masih segar, tampak muda dan masih berseri. Ku tatap tanah merah tersebut, dengan maksud untuk mengajukan pertanyaan mengenai keraguan yang dirasakan dalam bathin. Sebelum ku bersuara, tanah itu pun seolah merasakan apa yang ada jiwaku saat itu.

kawan. Perayalah. Aku sudah puluhan tahun berdiri di tempat ini. Memang mulutku pernah diisi oleh banyak orang. Mereka datang silih berganti. Bahkan mulutku pun sempat didatangi oleh orang lebih dari satu. Namun, entah aku lupa, atau memang itu kenyataannya. Setiap mereka yang datang kepadaku, tak ada seorangpun yang kenal. Aku mendata, namun tak ada nama tertulis dua kali.

Jawaban itu semakin menggelisahkan hati. Seolah tak percaya, bahkan memberontak tidak mau percaya. Masa tanah-tanah itu tidak mengenali orang yang menjadi warga di tempat ini. Bukankah tanah itu mengaku diri bahwa sudah berpuluh-puluh tahun hadir di tempat ini ?

memang ada yang kukenali wajahnya. Namun mereka datang pada waktu sebelumnya, tidak untuk menjadi wargaku. Ketika kupanggilpun mereka memalingkan muka. Mereka tak merasa butuh atas panggilanku, dan mereka menganggap bahwa panggilanku adalah panggilan dusta. Hal yang mereka lakukan, hanya menunjukkan keegosiannya dan kekuasaannya semata. Dengan tenaga yang dimilikinya, tubuhku diinjak-injaknya dengan keras. Aku waktu merasa sakit, karena waktu itu mereka mencangkulku, dan mereka injak-injak bagian dari tubuh saudara-suadaraku. Aku tak bisa membalas. Aku berdiam diri. Namun, hatiku berguman, nantikan pembalasanku di suatu hari nanti. papar sang tanah yang berbisik pada telingaku saat itu. dan saya memang sadar, bahwa dalam beberapa waktu berikutnya, ada sebagian diantara mereka yang merupakan orang yang pernah datang mengantarkan saudara-saudaranya ke lokasi ini. Dan kini, mereka ku sekap dalam mulutku untuk selamanya.

Dalam suasana kebingungan, kegelisahan, kepedihan, ketidakmengertian dan rasa ragu yang hadir dalam jiwaku saat itu, bunyi-bunyian di daerah ini terus-terusan berdentingan. Tanah tetap menyanyikan syair kerinduan dan penantiannya terhadap seseorang yang dinanti. Dedaunan pun seolah melambaikan sapaan kepada siapapun yang hadir dan melewati kawasan ini. Air dalam tanah pun menggelontorkan semangat kepada para sesama alam untuk siap siaga bila sewaktu-waktu ada yang daftar mendadak menjadi bagian dari warga kampungnya.

Dalam suasana bathin yang terus bergerak, seolah senantiasa ingin terus bertanya-tanya, mengapa dan mengapa, mengapa musibah menimpa pada sahabatku yang baru saja menanjaki usia muda. Mengapa tidak kepada pihak lain, dan mengapa tidak pada mereka yang digolongkan penjahat Negara, pemalak uang rakyat, atau orang yang banyak menipu dan menyengsarakan rakyat. Semua pertanyaan ini, seolah-olah sebuah pertanyaan awal dari setiap orang yang mendapat musibah seperti ini.

Tak terasa. Waktu sudah menyingsing menuju siang, dan mentari di ruang angkasa menyadarkan kami semua yang hadir untuk tetap semangat melanjutkan perjalanan hidup. Dalam kesempatan itu pula, dengan tulus ku berujar. Sahabat, mendaftar ke lokasi ini, bukanlah karena tekanan orang lain, tapi itu terjadi karena keinginan diri kita sendiri. Saya percaya, kau adalah sahabatku yang penuh perencanaan. Dalam usia mudamu saat ini, kau sungguh pemberani untuk segera mendaftar ke lokasi ini. Keberanianmu adalah modalmu untuk menghadap pada Kekasih-Mu, Allah Swt. Selamat berkumpul dengan Kekasihmu, dan penghulu umat manusia. Semoga berkah dan mendapat perkampungan yang lebih indah di tempat sana. selamat jalan, dan selamat menempuh kehidupan baru. Allahumagfirlahu warhamhu, wa afihi wafuanhu.

Advertisements