Momon Sudarma

 

Sekolah adalah institusi sosial yang strategis untuk mengembangkan pendidikan karakter. Oleh karena itu, sangat tepat bila pihak KPK khususnya, memberikan pendidikan dan pembelajaran mengenai pendidikan antikorupsi. Sosialisasi di lakukan selama ini, merupakan sebuah usaha sadar dan sistematis dalam membangun karakter bangsa yang bersih dan berwibawa.

Secara pribadi, penulis meyakini bahwa usaha mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa (good and clean governance/GCG), bisa diawali dari usaha membangun pendidikan yang bersih dan berwibawa (good and clean education/GCE). Mustahil atau paling tidak akan mengalami kesulitan yang besar, bila kita berhasrat membangun GCG tanpa didukung oleh GCE. Hal ini setidaknya, karena terkait dengan adanya potensi dahsyat di lingkungan pendidikan, baik untuk melahirkan warga negara maupun kader masa depan yang baik.

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa sekolah adalah institusi sosial yang memiliki tugas pembangunan karakter. Bertrand Russel (terjemahan, 1988) memberikan penjelasan bahwa pendidikan memiliki peran untuk mewarganegarakan peserta didik. Melalui pendidikan inilah, seseorang akan dikenalkan, dibina, dilatih, dan diberdayakan sebagai kader yang memiliki sikap patriotisme dan tanggungjawab sosialnya terhadap bangsa dan negara. Meminjam istilah tujuan pendidikan nasional (Sisdiknas), pendidikan itu adalah salah satu diantaranya, yaitu menjadikan peserta didik sebagai warnegara yang memiliki wawasan kebangsaan dan tanggungjawab sosial pada lingkungan masyarakat, bangsa dan negara. Merujuk pemahaman ini, dapat diartikan bahwa lembaga pendidikan pada dasarnya memiliki peran yang strategis untuk melahirkan warga negara yang patriotis.

Di sisi lain, pendidikan pun adalah lembaga pengkaderan. Dari lembaga pendidikan inilah, peserta didik bukan hanya diorientasikan untuk menjadi warga negara yang baik, namun dibina menjadi kader bangsa yang berkualitas dan negarawan di masa depan. Dari lembaga pendidikan inilah, akan lahir kader-kader bangsa masa depan yang bisa diharapkan untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara. Bersandar pada analsisi ini, dapat disimpulkan bahwa sekolah memiliki dua peran sosial sekaligus yaitu mendidik warga negara dan menjadi lembaga pengkaderan. Oleh karena itu, jelas sudah bahwa usaha membangun GCG akan menjadi sulit dan utopis bila tidak memperhatikan usaha pembangunan GCE.

Mau tidak mau, dalam rangka mewujudkan GCE, pesan-pesan ideologis dari negara perlu disalurkan melalui pendidikan. Yang dimaksud dengan pesan ideologis negara itu, tidak berarti bahwa lembaga pendidikan harus dijadikan alat politik bagi penguasa, melainkan lembaga pendidikan sebagai sarana pendidikan kenegaraan untuk menjadikan peserta didik sebagai warga negara yang baik.

Pengalaman selama ORBA, sekolah kerap dijadikan sebagai saluran politik para penguasa. Kepentingan penguasa, baik dalam konteks politik praktis maupun pencitraan politik, banyak dilakukan melalui jalur pendidikan. Akibat dari kebijakan tersebut, sekolah tidak lagi mampu menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas dalam melahrikan warga negara yang unggul dan kompertitif, dan malah melahirkan kader-bangsa yang membalelo. Akibat dari intervensi kepentingan pengausa, lembaga pendidikan lebih banyak menjadi lembaga korup dibandingkan sebagai lembaga pendidikan.

Pendidikan dan kepentingan negara adalah dua hal yang berbeda namun memiliki irisan yang strategis. Harapan negara untuk membangun GCG adalah sebuah harapan kolektif bangsa Indonesia. Setiap elemen bangsa perlu menunjukkan peran dan dukungannya terhadap misi masa depan bangsa ini. Salah satu diantara harapan bersama itu, adalah lahirnya warga negara yang bersih dan berwibawa. Untuk mewujudkan harapan tersebut, salah satu diantaranya dapat dilakukan melalui jalur pendidikan.

Terkait dengan persoalan inilah, pendidikan karakter dalam lembaga pendidikan seyogyanya tetap memperhatikan aspek-aspek normatif pendidikan dan juga misi pendidikan nasional itu sendiri. Dalam kaitan itulah, maka pendidikan TPAK di lembaga pendidikan perlu diapresiasi sebagai usaha sadar dalam membangun kesadaran yang bersih dan berwibawa dalam dunia pendidikan.

Berdasarkan hal ini pula, bukan hal yang mustahil, kegiatan TPAK di tingkat sekolah ini dapat mewujud menjadi satu kekuatan moral bagi sekolah dalam mendorong lembaganya menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas. Namun demikian, perlu diwacanakan lebih lanjut, bila ada yang pihak yang berhasrat untuk menjadikan TPAK sebagai salah satu bentuk ekskul di lembaga pendidikan.

Advertisements