Momon Sudarma

Hari itu. Duapuluh Oktober 2008, di Aula Sanusi Hardjadinata UNPAD, terjadi sebuah peristiwa yang unik dan mampu menyentakkan kesadaran etnik masyarakat Jawa Barat. Gelaring Unicode Aksara Sunda. Itulah acara yang digagas oleh KUSNET (Komunitas Urang Sunde di Internet) dan UNPAD. Acara ini terasa sangat hidmat, sewaktu tim seni dari UNPAD mendemontrasikan laskar seninya. Pada acara itupun dihadiri oleh Michael Everson dari Konsorsium Unicode Internasional.


Gelaring (launching) unicode Aksara Sunda. Patut dianggap sebagai sebuah revolusi budaya untuk tataran Sunda. Sekali lagi, kejadian ini patut dianggap sebagai sebuah bentuk revolusi budaya bagi masyarakat Jawa Barat. Sebagai orang Sunda patut untuk memberikan apresiasi yang positif kepada penggagas, baik yang muncul secara individu maupun kolektif. Karena adanya gagasan dan kerja-kerja budaya mereka itulah, saat ini, aksara Sunda mulai membuka cakrawala dunia dan akan membuka mata dunia terhadap kekayaan budaya Jawa Barat.

Bila ada yang berpandangan bahwa bahasa adalah cermin budaya, maka pintu masuk untuk memahami budaya itu adalah memahami aksara dari bahasa itu sendiri. Tidak logis bila ada orang yang berhasrat untuk memahami budaya masyarakat bila tidak mau mempelajari bahasanya, dan akan sangat tidak logis, bila berhasrat untuk memahami bahasa sebuah komunitas etnik, bila tidak mengenali huruf asli yang ada dalam bahasa itu sendiri. Oleh karena itu, bahasa Sunda adalah cermin budaya Sunda, sedangkan aksara Sunda adalah pintu gerbang (gapura) memasuki pada pemahaman mengenai kearifan lokal Sunda.

Namun, ketika rasa syahdu, khusyu dan khidmat serta riuh redamnya tepuk tangan yang ditunjukkan oleh mereka yang hadir, ada seorang mahasiswi (diduga besar mereka adalah mahasiswa sastra Sunda) yang memberikan komentar kritis. Wah, semangat banget. Sambil dirinya berdiam diri. Reaksi ini dia tunjukkan setelah, secara berulang-ulang peserta gelaring unicode Aksara Sunda memberikan tepuk-tangan setiap ada sesuatu hal mengagumkannya.

Sebagai bagian dari mereka yang sedang menyaksikan acara tersebut, mendengar kalimat tersebut itu sontak jadi berfikir. Apa maksud mahasiswi tersebut berujar demikian, apakah ada rasa sikap pesimistik atau merasakan ada satu perasaan yang sama seperti kebanyak orang waktu itu ? adakah sikap kritis itu dilandasi oleh sebuah sikap pesimisnya terhadap nilai fungsi dari aksara Sunda tersebut ?

Tanpa bermaksud untuk turut terjebak pada sikap pesimis, namun kemudian terlintas ada sejumlah hambatan besar dalam mensosialisasikan buah karya intelektual muda Sunda kiwari tersebut. Keberhasilan mereka mensosialisasikan kepada dunia, khususnya mendorongnya untuk diakui secara global melalui Konsorsium Unicode Internasional, merupakan satu kerja-kerja budaya yang sangat besar. Namun sikap bangga dan rasa optimis tersebut, tidak boleh menutupi sejumlah persoalan yang ada di masyarakat Jawa Barat saat ini.

Pertama, sebagaimana yang dituturkan dalam syair (kawih) lingkung seni UNPAD, aksara Sunda yang kini disebut Kaganga ini adalah simbol bahasa yang sempat tergerus (kasilih) oleh huruf-huruf lain, seperti Cacarakan, Pegon (Arab Melayu) dan huruf Latin. Fakta sejarah ini berujung pada kurang populernya Aksara Sunda di masyarakat. Bila disurvey saat ini, mungkin kurang dari 25 % orang yang mampu membaca aksara Sunda ini.

Hal ini berbeda dengan huruf-huruf etnis lain, yang sukses dijadikan sebagai salah satu huruf yang mendapatkan pengakuan dari Unicode. Selain memiliki keunikan, aksara mereka itu masih tumbuhsubur di masyarakat. Sehingga dengan adanya sosialisasi dan atau publikasi huruf tersebut akan dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh masyarakat. Nasib yang dimiliki Aksara Sunda tidak semulus yang mereka alami. Aksara Sunda ini merupakan aksara yang sudah sempat tidak digunakan oleh masyarakat Sunda. Faktor ini, kita sebuat sebagai kesenjangan fungsional.

Kedua, berdasarkan data tersebut, mau tidak mau, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa ada jarak psikologis, jarak budaya, dan jarak sejarah yang sangat panjang antara aksara Sunda dengan masyarakat Sunda itu sendiri. Aksara Sunda yang akan dipublikasikan dan menjadi bagian dari sistem kode dunia dalam teknologi komputer, akan mengalami hambatan yang sangat berat. Perhatian dan rasa bangga masyarakat terhadap bahasa dan huruf, akan menjadi problem lain dari proses sosialisasi dan publikasi ini. Faktor kedua ini, kita sebut sebagai bentuk kesenjangan budaya.

Ketiga, khusus di Jawa Barat itu sendiri belum memiliki kebijakan yang tegas. Berbagai Pergub yang terkait dengan aksara, sastra dan budaya daerah, tidak menetapkan secara eksplisit sebagai bahasa daerah Jawa Barat. Bahasa Daerah Jawa Barat kendati dominannya adalah bahasa Sunda, namun huruf yang digunakannya adalah lebih banyak latin atau melayu-betawi.

Berdasarkan data ini, kita dapat mengatakan bahwa Jawa Barat tidak memiliki kebijakan publik yang tegas mengenai keberpihakannya pada aksara Sunda. Indikator utamanya sangat sederhana, yaitu bahasa Sunda itu sendiri hanya dijadikan materi kurikulum pilihan, berdampingan dengan mulok komputer dan bahasa Inggeris. Kondisi ini kita sebut sebagai kegamangan formal (kegamangan kebijakan).

Keempat, andaipun aksara sunda ini dipaksakan menjadi muatan lokal, maka warga jawa barat akan merasakannya sebagai sebuah huruf asing. Jangankan bagi anak didik di tingkat pendidikan dasar-menengah, orangtuanya pun jarang yang memiliki pengetahuan mengenai huruf Sunda Kaganga. Kondisi ini, menjadi sebuah tanjakan berat bagi pengusung huruf Kaganga untuk mempopulerkan huruf Sunda ke masyarakat Jawa Barat.

Sebagai pemikiran terakhir, kita dapat menggunakan pendekatan fungsional. Melalui pendekatan ini dipahami bahwa sebuah bahasa, kode bahasa atau simbol komunikasi, hanya akan tubuh subur di masyarakat dan atau lestari di masyarakat, pada saat memiliki nilai fungsi (minimalnya fungsi praktis). Bila indikator ini sulit dipenuhi, akan dapat dengan mudah masyarakat untuk meninggalkan simbol bahasa tersebut. Termasuk aksara Sunda.

Bagi kelompok pencita sastra dan atau akademisi, kehadiran unicode Aksara Sunda ini akan sangat bermanfaat. Hal ini terjadi, karena kelompok ini meyakini sepenuh hati, bahwa masih banyak naskah kuno berbahasa Sunda yang belum bisa ditranslit. Jangankan masyarakat awam, kalangan akademisi pun masih memiliki sejumlah hambatan untuk mampu mengakses huruf Sunda tersebut. Salah satu diantaranya adalah adanya hambatan literasi (huruf/font) yang tidak familiar dengan akademisi modern saat ini. Selain, mereka pun mengalami kesulitan untuk memahami naskah Sunda Kuno, terkait dengan bahasa yang digunakannya sudah jauh berbeda dengan bahasa Sunda yang dipakai saat ini.

Sekali lagi perlu ditegaskan. Bila hal ini terjadi, maka kehadiran Unicode Aksara Sunda lebih mengarah pada fasilitas layanan kepada masyarakat akademisi atau pencinta sastra sunda kuno. Sementara di luar kelompok tersebut, kehadiran aksara Sunda ini akan memiliki hambatan praktis. Aksara Kaganga akan menjadi sebuah simbol bahasa pada bidang kajian filologi dan atau lingusitik etnik masa lalu.

Bila hal ini dibiarkan terus terjadi, kekhawatiran mahasiswa yang turut hadir dalam launcing Aksaran Sunda (Gelaring Unicode aksara Sunda) akan semakin mewujud.

Terus mengapa penulis menyebutkan bahwa peristiwa di UNPAD tersebut dapat dikategorikan sebagai sebuah revolusi budaya ? jawabannya sederhana. Karena pemberitaan ini sudah membalikkan kesadaran kita hampir 180 derajat. Masyarakat Jawa barat semula menganggap bahwa huruf Sunda itu adalah Cacarakan (Hanacaraka), padahal huruf itu adalah huruf Jawa yang dibawa oleh tentara Mataram ke Jawa Barat. Kedua, dapat dikatakan sebagai sebuah revolusi, karena kehadiran huruf Sunda itu menyembul di tengah-tengah masyarakat Jawa Barat yang sudah kadung terbiasa (familiar) dengan huruf latin, atau huruf Arab. Kehadiran huruf Kaganga, seolah-oleh nyembul di tengah kesadaran masyarakat yang sudah lupa terhadap purwadaksi dan lemah caina.

Selaras dengan pemikiran ini, maka pertanyaan akhir dari wacana ini adalah bagaimana mempertahankan rasa bangga (reueus) terhadap budaya Sunda ini dapat ditularkan kepada seluruh masyarakat Jawa Barat ? bila khilaf terhadap pertanyaan ini, dan kurang memperhatikan aspek ini, maka kekhawatiran inohong Sunda tahun 20-an (menurut informasi Rektor UNPAD, Ganjar Kurnia) akan muncul lagi di tahuan 2008, namun tidak pernah ditemukan cara strategis dalam menyelamatkan atau mengembangkannya.

Namun bila kita mampu melakukan transformasi fungsi aksara dan budaya Sunda, maka kekhawtiran-kekhawatiran tersebut akan dapat diminimaliris.

Advertisements