Momon Sudarma

 

Maaf, kita tidak jadi belanja sore ini, habis bibir saya bengkak, kayaknya kena gigitan serangga. Papar seorang istri kepada suaminya. Berita ini disampaikan melalui sms kepada sang suami yang ada di ruang kerja kantor dan sedang berbincang-bincang dengan teman sekantornya. Selepas membaca berita itu, khususnya wajah sang suami terus berubah, kaget dan tidak paham. Karena beberapa menit sebelumnya dirinya pergi ke kantor, kondisi sang istri ada dalam keadaan sehat wal afiat. Namun kini, dia memberitakan diri sedang berada dalam kondisi yang sakit.

Memperhatikan apa yang terjadi pada rekan kerja ini, kita jadi teringat pada sebuah pepatan pepatah masyhur dan masih tetap up to date bagi penggiat, pengamat, pelaku atau petugas tenaga kesehatan. Health is not everything but everything without health is nothing- WHO, kesehatan bukan segala-galanya, namun segala-galanya tidak akan berarti tanpa kesehatan. Pepatah ini tetap relevan dan mengetuk kesadaran kita untuk terus berusaha menjaga kesehatan, atau meraih kesehatan yang paripurna. Kejadian yang menimpa saudara kita tersebut, merupakan satu contoh nyata bahwa tanpa kesehatan, banyak hal yang tidak bisa dikerjakan (tidak bisa dikerjakan secara maksimal). Untuk sekedar belanjat sekaligus, seorang ibu harus menangguhkan niat tersebut dengan alasan kondisi tubuhnya kurang fit.

Bagi seorang mahasiswa (atau pelajar), sakit kadang dijadikan alasan untuk tidak hadir ke ruang belajar. Kondisi tidak sehat, menjadi alasan tidak dapat melakukan aktivitas hidup sehari-hari secara maksimal. Oleh karena itu, tepat kiranya bila dikatakan bahwa sehat dan atau kesehatan adalah kebutuhan hidup manusia yang strategis. Kendati pun bukan segalanya-galanya, namun segalanya tidak bisa berjalan secara optimal tanpa didukung oleh kesehatan.

Dari prinsip ini pula, kita bisa menemukan ada sejumlah aspek penting dalam memosisikan kesehatan bagi kehidupan manusia. Aspek-aspek penting ini kadang kurang mendapat perhatian secara seksama dari kita semua.

Sehat sebagai kebutuhan hidup

Diakui atau tidak, disadari atau tidak, kesehatan adalah salah satu kebutuhan hidup manusia. Ini adalah fakta nyata dan sangat mudah dibuktikan. Kesehatan adalah salah satu kebutuhan hidup manusia. Bila dikaitkan dengan sejarah kelahiran manusia, bagi manusia yang lahir, kesehatan bukan kebutuhan yang pertama. Kebutuhan hidup yang pertama dan utama bagi seorang bayi adalah udara dan makanan. Bagi dirinya, tidak mengenal tentang kebutuhan hidup sehat.

Hal ini akan berbeda dengan seorang ibu. Pelayanan yang akan diberikan kepada anak yang baru lahir adalah pelayanan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehatnya. Bahkan pertanyaan pertama yang sering diajukan oleh seorang ibu atau anggota keluarga, adalah sehatkah bayi yang baru lahir tersebut ? apakah fisiknya sehat atau lengkap ? dan sejenisnya. Orang tua, ibu hamil atau anggota keluarga, tidak akan banyak bertanya mengenai kebutuhan makanan bagi sang bayi. Pertanyaan yang mereka ajukan adalah pertanyaan yang terkait dengan masalah kesehatan bayi tersebut.

Terkait dengan ini, jelas sudah bahwa kesehatan adalah salah satu aspek dari kehidupan manusia dan salah satu dari kebutuhan hidup manusia. Tidak akan genap kemanusiaan seseorang, khususnya dari sisi fungsi hidupnya, tanpa disertai dengan masalah kesehatan. Kesehatan adalah salah satu kebutuhan hidup manusia yang strategis.

Perlu ditegaskan di sini, bahwa manusia memiliki banyak kebutuhan. Selain butuh makan, minum, pangan dan hiburan, manusia pun butuh kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan adalah salah satu kebutuhan hidup manusia. Maka tidak mengherankan bila dalam kalimat yang dikemukakan sebelumnya pun dinyatakan bahwa health is not everything. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan adalah sekedar salah satu kebutuhan hidup manusia, layaknya manusia butuh makan, minum, berpakaian dan lain sebagaianya.

Sehat sebagai investasi

Makanan adalah investasi bagi tubuh untuk jangka waktu yang pendek. Peran makanan paling lama adalah 12 jam, itu pun bisa kurang. Artinya, bila tidak makan seorang manusia mampu menjaga stamina tubuh dan kenyamanannya paling lama 12 jam. Selepas itu, manusia membutuhkan asupan makanan lagi. Kebutuhan akan air, bakan lebih pendek lagi. Orang yang mengalami dehidrasi (kekurangan air) akan mudah terancam jiwanya. Hal ini memberikan keterangan bahwa makanan adalah investasi yang sangata pendek. Terlebih lagi, bila kualitas nutrisi makanan itu sangat buruk. Maka ancaman kesehatan itu akan semakin besar.

Pendidikan adalah investasi jangka panjang, namun lebih terkait dengan kebutuhan aktivitas dan intelektual. Berbeda dengan makanan dan pendidikan, kesehatan adalah investasi kehidupan untuk jangka panjang. Kesehatan adalah investasi (modal hidup) untuk aspek biologis, sosial dan intelektual.

Orang yang sehat akan dengan mudah menikmati berbagai asupan makanan. Hal ini berbeda dengan perasaan orang yang sedang sakit. Jangkankan makanan yang tidak disukainya, makanan yang selama ini disukainya pun kadang dirasakannya sebagai makanan yang pait. Sehat dan kesehatan adalah investasi bagi kesehatan biologis (fisiologis).

Orang yang mengalami cedera akan sulit melakukan aktivitas. Mereka yang mengalami cedera lutut, akan sulit melakukan aktivitas kaki (seperti sepakbola, lari), cedera pergelangan menyebabkan kesulitan untuk melakukan aktivitas tangan (seperti bulu tangkis atau bola volly), dan lain sebagainya. Karena sakit pula, seseorang bisa absen dari perkuliahan, kerja-kerja sosial di masyarakat, atau pergi ke kantor. Kesehatan adalah investasi sosial dalam menunjang kegiatan sosial.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kesehatan akan menunjang produktivitas dan kreativitas seseorang. Dengan tubuh yang sehat dan atau jasmani yang bugar, pikiran akan terang dan mudah untuk digunakan. Sedangkan bila tubuh dalam keadaan letih dan lemah, maka pikiran akan sulit untuk digunakan secara maksimal. kesehatan adalah modal penting untuk melakukan aktivitas intelektual.

Berdasarkan pertimbangan ini, jelas sudah bagi kita, bahwa kesehatan adalah modal sosial (investasi sosial) jangka panjang bagi hidup dan kehidupan manusia. Maka tidak mengherankan bila kemudian, masalah kesehatan ini menjadi perburuan setiap manusia.

Sehat sebagai hak

Benar, kesehatan menjadi salah satu perburuan manusia. Setiap manusia membutuhkan kesehatan. Karena kesehatan adalah hak setiap individu. Hal ini telah dinyatakan dengan tegas dalam UU Nomor 23 Tahun 1992, pasal 4, bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal.

Sehat adalah hak. Secara teori, sebagai sebuah hak, ada kebebasan bagi setiap individu untuk bisa memilih atau menggunakannya. Artinya, derajat kesehatan itu mau diraih atau mau ditinggalkannya. Setiap orang berhak untuk menolak hidup sehat. Karena sehat adalah sebuah hak, maka individu itu berhak untuk mendapatkan dan atau menolaknya.

Mungkin agak heran bila kita mengatakan bahwa ada orang yang menolak hidup sehat. Kendati sebagai sebuah hak, setiap orang cenderung menyetujui prinsip umum bahwa setiap orang butuh kesehatan. Artinya, kendati memang sebuah hak, namun setiap orang merasakan bahwa hak itu adalah hak mutlak, yang tidak bisa ditawar. Setiap orang akan mengambil dan memanfaatkan hak sehat tersebut.

Namun pada kenyataannya, ternyata prinsip umum atau dugaan umum ini tidak selamanya tepat. Karena dalam kenyataannya banyak orang yang tidak memanfaatkan hak sehat ini. Ada orang yang menolak hak sehat dengan cara merokok, mengganja, meminum minuman keras, dan lain sebagainya. Perilaku yang mereka tunjukkan itu, adalah salah satu bentuk nyata dari menolak secara tidak langsung terhadap haknya untuk hidup sehat.

Memang benar, ada orang yang melakukan semua hal tersebut (merokok, mengganja atau minum miras) sebagai bentuk hak pribadi. Karena ada sebuah mitos sosial yang dimiliki dan diyakininya, maka ketika diingatkan akan bahaya melakukan tindakan tersebut bagi kesehatan, mereka tetap menolaknya. Mereka tetap melanjutkan gaya hidup tersebut, dengan alasan itu adalah hak pribadi dan sesuai pilihan hidupnya. Ini adalah contoh kasat mata, maka sehat adalah hak bagi individu dan potensial di tolaknya. Semua orang meyakini bahwa hidup sehat itu adalah perlu, namun tidak semua orang memanfaatkan hak sehat dalam hidupnya. Paradoks, namun itulah sebuah kenyataan.

Karena sehat sebagai sebuah hak, maka setiap invidu memiliki hak untuk mendapatkan layanan kesehatan. Dalam kaitan masalah ini, pemerintah khususnya, memiliki kewajiban untuk memberikan layanan kesehatan yang terjangkau kepada semua pihak. Lebih khususnya lagi, setiap tenaga kesehatan atau lembaga kesehatan, memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan yang sama kepada setiap warga negara. Karena setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mendapatkan derajat kesehatan.

Perubahan status rumah sakit pemerintah menjadi Badan Usaha Milik Negara mendorong rumah sakit (tempat layanan kesehatan) cenderung melakukan komersialisasi. Demikian juga status hukum rumah sakit swasta. Tempat pelayanan kesehatana tersebut, sangat terbuka menjadi lembaga profit. Mereka akan menerapkan prinsip ekonomi dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat. Bila kejadian ini menjadi trend di masyarakat kita, maka hak masyarakat untuk hidup sehat akan mulai terdiskriminasikan. Kesehatan seolah-olah hanya hak orang yang punya (be have), dan bukan untuk orang miskin (be have not).

Padahal sesungguhnya, siapapun orangnya, dan berapapun daya belinya, mereka memiliki hak untuk sehat yang sama dengan orang lain. Pada wilayah ini, Pemerintah berkewajiban untuk menjaga keadaan agar setiap masyarakat mampu mendapatkan haknya, yaitu hak untuk sehat.

Sehat sebagai kewajiban

Selaras dengan hal ini, sehat bukan sekedar hak, sehat adalah sebuah kewajiban. Keterangan ini dapat ditemukan dalam undang-undang tentang kesehatan. Lebih tepatnya, pada pasal 5 di undang-undang Kesehatan tersebut dinyatakan bahwa, setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perseorangan, keluarga dan lingkungannya.

Dalam menjelaskan prinsip ini, kiranya dapat direnungkan prinsip umum berikut ini.

Untuk mendapatkan derajat kesehatan yang prima, setiap orang wajib berkontribusi. Sedangkan untuk mendapatkan derajat ketidaksehatan, cukup satu orang saja yang melakukannya.

Cukup seorang saja, atau satu pihak saja untuk membuat lingkungan yang buruk. Dengan cara membuang sampah sembarang, maka satu kampung bisa menderita sakit. Bisa karena sakit akibat pencemaran air, pencemaran tanah, maupun musibah banjir yanga kemudian disusul dengan munculnya berbagai wabah. Hal ini menunjukkan informasi bahwa untuk menimbulkan sebuah penyakit atau wabah, tidak perlu setiap orang bertindak. Cukup satu orang saja yang berbuat buruk, maka penyakit akan dengan mudah mewabah.

Berbeda dengan kebutuhan untuk hidup sehat. Untuk mendapatkan derajat hidup sehat, setiap orang wajib menunjukkan peran dan kontribusinya. Sedangkan untuk menghancurkan derajat kesehatan, cukup satu orang atau satu pihak saja untuk menyebabkannya.

Pada konteks inilah, maka setiap orang memiliki kewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, baik derajat kesehatan perseorangan, keluarga maupun lingkungan. Dengan kata lain, sehat adalah kewajiban. Setiap orang wajib untuk mendukung usaha-usaha menciptakan lingkungan yang sehat.

Pada hari ini (9/10/08) di media massa lokal Jawa Barat diulas ulah seorang pejabat yang menjadi bintang iklan rokok. Dalam berita itu dikemukakan bahwa perilaku pejabat tersebut merupakan perilaku yang paradoks dengan program pemerintah Jawa Barat dalam membangun budaha dan hidup sehat. Mencuatnya berita itu, sudah tentu merupakan satu bentuk kritik terhadap perilaku kurang etis dari seorang pejabat publik, yang seolah mendukung pada pemeliharaan budaya hidup tidak sehat. Bila hal ini dibiarkan, sudah tentu, upaya Pemerintah untuk mengurangi dampak buruk dari bahaya rokok akan sulit dilakukan. Karena, dilain pihak pemerintah memberikan promosi kesehatan tentang bahaya rokok, sementara di lain pihak ada pejabat publik yang menjadi bintang iklannya.

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa untuk mendapatkan derajat hidup sehat, setiap orang wajib menunjukkan peran dan kontribusinya. Sedangkan untuk menghancurkan derajat kesehatan, cukup satu orang atau satu pihak saja untuk menyebabkannya.

Sehat sebagai tujuan

Bila dalam bahasan awal, kesehatan adalah modal (starting point), dalam bagian ini lebih dimaknai sebagai akhir. Setiap manusia butuh hidup sehat, baik dalam pengertian sehat jasmani, rohani, intelektual, sosial maupun ekonomi. Dengan kata lain, sehat adalah tujuan hidup. Bahkan kalau bisa, dia tidak ingin menderita sakit. Karena sakit adalah sesuatu hal yang mengerikan. Kematian adalah rasa sakit dan bentuk sakit yang terakhir dirasakan manusia.

Kalau ada yang bertanya, untuk apa kita melakukan banyak aktivitas ? salah satu jawabannya adalah untuk bisa bertahan hidup. Bisa bertahan hidup adalah ciri dari sehat, hanya orang yang sehat yang bisa bertahan hidup. Oleh karena itu, setiap orang akan berusaha keras untuk tetap menjaga kesehatannya. Karena dengan kesehatannya itulah, dirinya akan menjadi orang yang mampu melakukan aktivitas secara maksimal.

Berbagai hal yang dilakukan oleh manusia, sesungguhnya adalah untuk mendapatkan derajat sehat. Makan, minum, olahraga, mengkonsumsi suplemen atau melakukan refreshing tiada lain adalah untuk mendapatkan derajat kesehatan yang prima. seorang gadis akan merasa risih, bila melihat kulit wajah, tangan atau bagian tubuhnya kurang tampak bersih dan cerah. Bila hal itu kemudian dialaminya, kemudian dia melakukan medicure atau aktivitas lainnya untuk mengembalikan derajat kesehatan yang dimilikinya. Sehat adalah tujuan hidup.

Penutup

Bila kelima hal ini dapat dipahami, maka promosi pemerintah tentang sehata sebagai gaya hidup akan sangat mudah. Kita tidak akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan kepada masyarkat umum bahwa sehat dan kesehatan perlu dijadikan gaya hidup, karena sesungguhnya dengan kesadaran kita bahwa sehat adalah modal hidup, investasi sosial, hak, kewajiban dan tujuan, akan terbangun gaya hidup sehat.

Sekali lagi perlu ditegaskan di sini, bahwa memang tidak semua orang merasa kelima hal tersebut sebagai bagian dari hal penting dalam hidupnya. Sehingga sehat belum menjadi gaya hikdupnya sendiri. Sehat belum menjadi gaya hidup dan atau pola hidup masyarakat kita.

Advertisements