PEMUDA DAN KRISIS NASIONALISME[1]

Momon Sudarma

Tahun ini, tepat berusia 80 tahun. Sumpah Pemuda Indonesia yang menyatakan diri kesatuannya, dalam bidang tanah air, kebangsaan, dan kebahasaan Indonesia telah berusia 80 tahun, sebuah usia yang tidak muda, dan juga tidak sederhana. Di balik usia itu, akan muncul pertanyaan, apa yang sudah diwujudkan dari sumpah-sumpah tersebut ? apakah ada implikasi (dampak) nyata dari gerakan sumpah pemuda terhadap penataan bangsa dan negara ? atau lebih khusus lagi, apakah sudah ada perubahan nyata dari semangat kebangsaan tersebut ?



Mengenang Serbasedikit

Sebagaimana dimaklumi bersama, tahun 1928, Pemuda Indonesia berkumpul, berhimpun kemudian menyatukan tekad mengenai masa depan bangsa dan kebangsaannya. Peristiwa itu adalah Kongres Pemuda. Peristiwa ini kemudian dikenal dan dikenang oleh bangsa Indonesia sebagai salah satu tonggak kebangkitan nasional, kesadaran berbangsa dan bernegara menuju Indonesia Raya.

Menurut catatan sejarah, gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda tersebut berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, ketua PPPI Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, sebuah nilai yang sangat dibutuhkan dalam perjuangan.[2]

Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu ” Indonesia Raja” karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola (dimainkan dengan biola saja atas saran Sugondo kepada Supratman). Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Dalam teks itu, dinyatakan bahwa pemuda Indonesia pada waktu, menyatakan tekad satu tanah air, satu bangsa dan menjunjung bahasa persatuan, yaitu Indonesia. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong.

Dari catatan itu, kita melihat bahwa Sumpah Pemuda lahir dari kesadaran untuk menata, dan membangun masa depan bangsa. Sumpah Pemuda lahir dari sebuah kesadaran, bahwa dirinya, bangsanya memiliki sumberdaya bangsa yang melimpah dan kuat untuk menjadi sebuah bangsa yang besar, yaitu Indonesia Raya. Dalam konteks yang lain, kita dapat mengatakan bahwa peristiwa Sumpah Pemuda adalah gerakan sosial yang dilandasi oleh sebuah keprihatinan terhadap kondisi bangsa yang ada saat itu. Sumpah Pemuda muncul dan berkembang sebagai sebuah visi kalangan pemuda waktu itu mengenai masa depan bangsanya. Oleh karena itu, dapat kita katakan bahwa Sumpah Pemuda merupakan peristiwa besar sekaligus usaha kaum muda Indonesia untuk memproklamasikan kebangsaannya sebagai bangsa Indonesia.

Dalam konteks ini, saya ingin mengatakan bahwa pada tahun 1928 itu, merupakan salah satu penggalan revolusioner perjuangan bangsa Indonesia. Bila pada tahun 1945, indonesia memproklamasikan kemerdekaannya secara geopolitik dari penjajah colonial (Belanda dan Jepang), maka sesungguhnya peristiwa tahun 1928 adalah proklamasi-kebangsaan dari aspek nasionalisme.

Selaras dengan hal ini, muncul pertanyaan, bagaimanakah nilai nasioanalisme Pemuda Indonesia masa kini, apakah spirit pemuda nasionalisme 28 masih tumuwuh dalam jiwa pemuda masa kini ?

Menyusun Gerakan

Sejarah telah menunjukkan bahwa gerakan Sumpah Pemuda disusun oleh sebuah kondisi sosial-politik yang kurang menguntungkan bagi kalangan pemuda dan atau bangsa Indonesia saat itu. SUmpah Pemuda lahir bukan dari sebuah istana, dan bukan pula dari lingkungan masyarakat yang sudah memiliki serba kecukupan, namun lahir dari situasi dibawah tekanan, control atau pengawasan kaum kolonialis dan kultur feodalisme.

Beberapa catatan yang perlu ditekankan di sini, yaitu Pertama, perlu dicatat dengan jelas bahwa generasi muda pada waktu itu, lahir dan berkembang bukan dari satu organisasi yang sama. Varitas latar belakang sosial-budaya begitu sangat besar. Bila diperhatikan dengan baik, unsur-unsur kebhinekaan itu sangat tampak sekali, diantaranya (1) tempat penyelenggaraan di gedung katolik, (2) pesertanya selain pemuda Muslim, juga pemuda non muslim, (3) selain warga Indonesia asli ada juga warga keturunan, bahkan ada perwakilan dari pemerintah Belanda, (4) peserta perempuan pun hadir, dan (5) datang dari berbagai daerah. Fenomena ini menunjukkan satu hal positif di masa itu, dan mulai sirna di masa kini. Generasi muda saat ini, lebih banyak berkumpul dengan kelompoknya sendiri, dan kurang menunjukkan kebersamaan atau nasionalisme yang utuh.

Kedua, kecerdasan yang dimiliki kaum muda pada waktu itu, adalah memantapkan musuh bersama. Dengan kesadaran adanya musuh bersama itu, kemudian mereka memantapkan pula modal bersama. Musuh bersamanya yaitu imperialisme, kapitalisme, kolonialisme serta perpecahan bangsa, dan modal bersamanya yaitu kesadaran berbangsa, bertanah air dan berbahasa satu, yaitu INDONESIA.

Seiring dengan perkembangan zaman, generasi muda saat ini, kehilangan momentum dan kehilangan common enemy (musuh bersama), sehingga mereka merasa enjoy dan bahkan mencari situasi yang menurut dirinya senang dan menyenangkan. Hedonisme dan utilitarianisme adalah pilihan utama kaum muda saat ini. Akibat dari keterbiasaannya terlibat dengan gaya hidup ini, ketidakpekaan, ketidakpedulian, dan ketidaksolideran terhadap situasi masyarakat mulai tumbuh dalam diri kaum muda. Mereka cenderung egois dan terjebak oleh individualisme.

Terhadap nilai-nilai dan norma sosial pun, generasi muda ini kurang mampu memberikan apresiasi yang positif. Sehingga tidak heran bila, Soerjono Soekanto (2005:371) melihat ada dua tanda umum dari sikap kaum muda, yaitu keinginan untuk melawan (misalnya dalam bentuk radikalisme, delinkuensi dan sebagainya) dan sikap yang apatis (misalnya penyesuaian yang membabi buta terhadap ukuran moral generasi tua).[3]

Apa Yang Dipersatukan

Sebuah harga mati, mungkin itulah yang tampaknya kepikiran oleh kaum muda Indonesia tahun 2008. Kesatuan Tanah Air dan Bangsa merupakan harga mati, dan tidak bisa ditawar-tawar. Kaum muda indonesia dan seluruh rakyat Indonesia, hendaknya memiliki kesadaran yang sama dan pemahaman yang sama, mengenai modal bangsa ini. Tidak boleh ada toleransi untuk membagi nasionalisme dan atau tanah air. Semua elemen bangsa, memiliki tanggungjawab yang sama untuk mempertahakan keutuhan NKRI dan kebangsaan Indonesia.

Hal yang menarik justru pada sumpah yang ketiga. Bila pada sumpah pertama, kaum muda Indonesia menyatakan dengan tegas mengaku berbangsa atau bertanah air yang satu, sedangkan pada pernyataan sumpah yang ketiga, dinyatakan dalam bentuk menjunjung bahasa persatuan. Dua kosa kata itu mengaku dan menjunjung memiliki efek psikologis dan curahan ideologi yang berbeda.

Dari sudut psikologi bahasa (psikolinguistik), pada sumpah ketiga ini seolah ada pengakuan diri bahwa selain bahasa persatuan, ada bahasa lokal yang digunakan oleh komunitas masing-masing, dan perlu tetap dihargai keberadaannya. Sedangkan untuk aspek tanah air dan kebangsaan, harus tetap berada dalam posisi yang utuh (satu) yaitu Indonesia.

Harapan dari kaum muda 1928 ini, berbalik arah. Pada masa kini, banyak kaum muda kurang menjunjung bahasa persatuan, dan malah mengedepankan aspek-aspek golongan (daerah). Akibatnya, nilai kebersamaan dan nasionalisme keindonesiaannya menjadi sangat minim. Pada konteks inilah, maka pemuda dan krisis nasionalisme menjadi sesuatu hal yang sering terjadi dan dirasakan oleh bangsa Indonesia saat ini.

Proklamasi Kebangsaan

Jelas sudah, hal yang pertama kali terbaca, dan juga banyak disoroti oleh banyak kalangan, peristiwa Sumpah Pemuda sebagai peristiwa bangkitnya kaum muda untuk bersatu. Ini adalah pelajaran penting dan contoh nyata dalam proses perjuangan bangsa. Kita akan melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa penggalan sejarah di Indonesia, senantiasa tidak bisa dipisahkan dari gerakan kaum muda. Peran kaum muda ini baik dari kalangan pelajar, pemuda maupun mahasiswa– bukan hanya terjadi pada tahun 28, namun tampak pula dalam gerakan social-politik di Indonesia pada tahun 45, 65, dan 1997.[4]

Penggalan sejarah ini memberikan percikan inspirasi, bahwa kaum muda harus maju, bergerak dan membuka ruang masa depan. Kaum muda yang berkarya, kaum muda yang aktif. Itulah nilai penting dari bacaan kita terhadap peristiwa Sumpah Pemuda. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa Sumpah Pemuda adalah sebuah pesan moral sekaligus momentum kebangkitan bagi bangsa Indonesia saat ini.

Peristiwa Sumpah Pemuda, memberikan pelajaran bahwa selain creativitas dan persatuan kelompok kaum muda, juga memberikan keterangan nyata bahwa sebuah kebangkitan, tidak bisa tidak, harus didukung oleh semua pihak. Persatuan dan kesatuan adalah common sense, sedangkan perpecahan adalah common enemy (musuh bersama) dalam membangun Indonesia masa depan. Sayangnya, masyarakat kita saat ini malah terbalik, perbedaan dan membeda-bedakan diri dianggap sebagai kebutuhan dan persatuan serta kersatuan dianggap musuh. Akibat nyata dari kondisi ini, konflik social baik vertical maupun horizontal terus terjadi. Padahal kita menyadari, bahwa permusuhan, konflik, perpecahan, adalah kondisi yang dapat memudahkan bangsa kita terus terpuruk dan terjajah. Pada konteks itulah, Belanda menerapkan prinsip devide et impera.

Berdasarkan analisis ini, kita dapat mengatakan bahwa pengalaman dari Sumpah Pemuda inilah, ada satu pelajaran berharga yaitu untuk menuju sebuah kebangkitan bangsa, kita harus memaksimalkan seluruh modal kebangsaan. Bangsa Indonesia, termasuk Jawa Barat harus mampu menggali, memobilisasi dan memberdayakan modal bangsa untuk terwujudnya Indonesia yang berdaulat.

Pernyataan sikap mengenai tiga aspek kebangsaan itu, yakni tanah air, bangsa dan bahasa, merupakan modal dasar sekaligus sumberdaya kebangsaan yang harus dibangun dan diberdayakan oleh bangsa Indonesia. Tanpa adanya modal dasar dan modal kebangsaan ini, maka Amat sulit bangsa Indonesia untuk bisa menjadi sebuah bangsa yang besar.

Damardjati Supadjar (2001:177)[5] mengaitkan antara peristiwa Sumpah Pemuda, Budi Utomo dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dalam konteks itu, dia mengatakan bahwa bangsa Indonesia pada waktu itu sudah mampu menunjukkan sikap, semua untuk satu, satu untuk semua, dan semua untuk semua. Dalam kaitan dengan inilah, ketiga momentum kebangkitan nasional itu, disebut Damardjati Supadjar bukan sebagai Sumpah Pemuda, namun Sumpah Rakyat Indonesia mengenai bangsa dan negaranya.

Ada dua nilai kritik yang harus dicermati saat ini. Pertama, seiring perjalanan bangsa, makna semua untuk satu yang sejatinya itu adalah semua elemene bangsa untuk satu negara (NKRI), malahan diartikan semua sumberdaya alam Indonesia untuk satu kepentingan (pribadi atau kelompok). Akibat dari penyelewengan inilah, negara kita mengalami banyak masalah. Kemudian yang kedua, para pemuda pada waktu itu pun sudah menyadari bahwa prinsip satu untuk satu adalah sebuah prinsip yang salah dan akan mengalami kegagalan dalam membangun masa depan. Jika ingin maju, maka tidak ada cara lain, kecuali kita HARUS BERSATU.

Indonesia masa lalu, memiliki momentum yang jelas untuk mengikat dan membangun kebersamaan. Nilai kebangsaan pada waktu itu, dapat diikat oleh tiga modal-dasar kebangsaan, yaitu keutuhan tanah air, kebangsaan, dan kebahasaan. Ketiga hal ini, merupakan modal dasar sekaligus modal sosial yang sangat penting dalam membangun masa depan Indonesia.

Penutup

Dalam pandangan saya, sumpah pemuda adalah sebuah revolusi, semakna selaras dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Perbedaannya adalah substansi yang dimerdekakannya.

Pada tahun 1928, pernyataan Sumpah Pemuda itu merupakan proklamasi kaum muda untuk menjunjung nilai persatuan dan melepaskan diri dari feodalisme, kooptasi imperialisme, dan keminderan bangsa. Waktu itu, secara tidak langsung, kaum muda Indonesia menyatakan diri sebagai generasi bangsa yang memiliki kedaulatan dan kebangaan terhadap tanah air, bangsa dan bahasa indonesia.

Sayangnya kita melihat, bahwa ketiga modal-bangsa ini mulai sedikit tergerus. Semangat nasionalisme mulai menipis seiring dengan konsumerisme dan pragmatisme hidup. Bahasa Indonesia terkikis oleh pragmatisme dan fungsi komunikasi global. Kalangan muda Indonesia lebih bangga berbahasa asing dibandingkan dengan bahasa Indonesia, dan lebih merasa berbudaya dengan bahasa daerah daripada bahasa nasional. Kesadaran untuk menjaga keutuhan dan membela keutuhan NKRI, tercabik-cabik oleh kaum separatik dan ketidakmampuan kita dalam mendokumentasikan administrasi pertanahan (kewilayahan).

Akibat dari menipisnya kesadaran kita dalam menjaga modal bangsa ini, kita mengalami kesulitan dalam menata, dan membangun masa depan Indonesia.


[1] Disampaikan dalam diskusi kelompok Lingkar Kebangkitan, 29 Oktober 2008

[2] Bagi M. Amin Abbas, dkk., Sumpah Pemuda merupakan inspirasi bangkitnya gerakan kepanduan yang berorientasi kebangsaan. Lihat Pedoman Lenhgkap Gerakan Pramuka. Semarang : Beringin Jaya. 1990 :26.

[3] Soerjono Soekanto. Sosiologi : Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali Press. 2005.

[4] Untuk menjelaskan gerakan kaum muda di era reformasi, dapat dibaca Fahrus Zaman Fadhly. Mahasiswa Menggugat. Bandung : Pustaka Hidayah. 1999.

[5] Damardjati Supadjar. Mawas Diri. Jogjakarta : Philosophy Press. 2001

Advertisements