??? ???? ?????? ??????

Tidak terasa, hari ini, perjalanan kita sudah cukup jauh dari hari raya idul fitri 1429 hijriah. Bulan ramadhan sudah kita tinggalkan selama 1 bulan. Dan hari ini, genap satu bulan lamanya ramadhan kita tinggalkan, atau bulan syawal kita tutup di hari ini. Berbagai hal yang terkait dengan lebaran, mulai makanan kakaren dan ucapan selamat lebaran sudah mulai ditinggalkan dan usang dimakan waktu. Bahkan, baju baru pun sudah terasa klasik dan tidak memesonakan lagi. Hari Lebaran berjalan terus dan kini kian jauh meninggalkan kita semua.

Namun hal yang patut kita renungkan bersama, dan ini terkait dengan kondisi kita hari ini, adalah sejauhmanakah, bekal lebaran itu masih tampak dalam kehidupan kita saat ini ?

Banyak para penceramah, yang menjelaskan bulan ramadhan dan idul fitri itu sebagai momentum ngecharge spiritualitas kaum muslimin. Dan dengan qiyas itu pula, sesungguhnya kita saat ini, dapat menghitung kualitas amalan kita saat ini, dan atau mengukur keistiqomah kita saat ini.

Bila ditafakuri dengan seksama, tampaknya ada empat kelas manusia muslim di pasca lebaran.

Pertama, ada orang yang memiliki kemampuan untuk menjaga sinyal-kesalehan dengan baik. Sinyal tak pernah putus, dan ibadah terus mulus. Kelompok ini, adalah orang yang mampu melanjutkan sunnah ramadhan (tradisi ramadhan di 11 bulan berikutnya). Kelompok ini, yaitu kelompok yang memegang tradisi ihyau sunnatur ramadhan, adalah mereka yang mampu menjaga kesalehan diri, dan bekas-bekas amaliah ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh aktvitas dan kehidupan hariannya, dihiasai dengan pancaran dan warna-warna ramadhan. Tadarusan masih jalan, puasa sunnah masih banyak dilakukan, dan amaliah wajib secara istiqomah dilakukan. Kelompok ini, kita sebut sebagai shoimun mabrur (orang yang puasa dengan baik).

Kedua, ada orang yang memang nyadar diri. Kualitas dirinya, mirip hp lama. Batre spriitualnya bukanlah batre yang bagus. Kalau lama tidak dicharge, maka spiritualitasnya akan melorot Turun. Sehingga aktivitas yang dia lakukan itu adalah senantiasa menjaga amalan sehari-harinya.

Berbeda dengan yang pertama, kalau yang pertama itu, adalah orang yang memang memiliki batre spritual bagus, sehingga pancaran ramadhan masih terus tampak dalam dirinya. Namun pada kelompok kedua ini, orang tersebut harus bekerja keras lagi dalam mempertahankan posisi dan kualitas kesalehannya. Kelompok ini, mungkin kelompok kebanyakan manusia, yang memiliki batre kesalahennya bukan batre yang ideal, yaitu batre yang harus sering-sering di charge ulang. Atau mungkin, kelompok ini adalah orang yang memang batre-kesalehannya harus stetap dicharga bila akan digunakan. Bila tidak dicharga, maka kematian akan didapatkannya.

Rasulullah Muhammad Saw bersabda, bahwa iman seseorang itu yaziidu wa yanqush, kadang bertambah dan kadang berkurang. Untuk menjaga kualitas pancaran sinyal spiritualitasnya, orang tersebut harus memperbanyak amal atau dzikir kepada Allah Swt.

Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Qs. Jumuah : 10)

Dzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya, pagi dan sore (bil absyi wal ibkar) merupakan upaya nyata dari kita untuk menjaga koalitas sinyal kita supaya tetap bagus.

Ketiga, ada orang yang memiliki pribadi yang bagus dan perilaku baik. Bahkan, masyarakat pun menganggapnya sebagai orang yang sopan dan santn. Namun sayang bakat dan bekal yang baik ini tidak digunakannya untuk hal-hal yang positif. Mirip memiliki hp yang baik, dengan sinyal yang baik, namun hanya digunakan untuk main-game dan bukan untuk berkomunikasi. Tidak berbuat dosa, atau tidak berbuat hal-hal yang melanggar ajaran agama, namun hidupnya digunakan secara sia-sia.

Rasulullah Muhammad Saw bersabda,

?????? ???? ???????? ?????????? ?????? ???????? ??????????

Artinya, manfaatkan sehatmu, sebelum tiba sakitmua, dan manfaatkan hidupmu, sebelum matimu. (Hr. Bukhari).

Sayangnya, kita memang banyak pihak yang kurang cerdas memanfaatkan waktu hidup ini. Sinyal bagus sekalipun, kalau kita gunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, dan maka pada saatnya digunakan untuk kepentingan yang mendadak, ujug-ujug mati ditengah jalan. Kejadian ini sungguh sangat menyesakkan hati.

Keempat, ada kelompok orang yang memiliki sinyal buruk. Sinyal kesalehannya yang di charge selama 1 bulan di bulan ramadhan itu, hanya baru sebulan ini terlewatnya, sinyal spiritualnya sudah ngedrop. Tanda-tanda kesalehannya sudah sirna, dan bahkan dirinya tampil kembali sebagai orang seolah tidak pernah menjalani bulan suci ramadhan. Kendati di hari lebaran tampak sebagai orang yang saleh, atau sinyal kesalehannnya full, namun dalam waktu yang singkat, dia menjadi orang yang lupa kacang akan kulitnya, dan dia kembali kepada tradisi yang tidak sejalan dengan ajaran Islam.

Allah Swt berfirman,

Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Qs. Asy-Syam : 10)

Dengan kata lain, baru saja lewat satu bulan ramadhan dalam kehidupan kita, namun tanda-tanda hasil pembelajaran di biulan ramadhan itu, seolah-olah tiada membekas. Sungguh, Allah Swt., menyebut orang seperti ini sebagai orang-orang yang merugi. Orang itu adalah orang yang merusak seluruh bangunan indah di bulan suci ramadhan, dengan amalan-amalan buruk yang dilakukannya saat ini.

Penutup

Siapapun kita, secara alamiah dan objektif, akan membutuhkan sinyal kehidupan yang bagus, nyala setiap saat, dan bermanfaat ketika dibutuhkan. Namun ternyata, masalah sinyal kehidupan ini, pancaran spiritual ini, tidaklah sama. Dari sekian kemungkinan, ada satu diantara sekian sinyal yang bisa jadi hadir dalam kehidupan kita saat ini.

 

Advertisements