Kompas, Selasa, 28 Oktober 2008 | 13:32 WIB

Sejarah adalah cermin. Dengan membaca sejarah Sumpah Pemuda, kita yang hadir hari ini dapat mencari dan menemukan makna di balik perjalanan sejarah orang-orang terdahulu. Bila peristiwa Proklamasi Kemerdekaan dapat kita sebut sebagai proklamasi geopolitik dari kaum penjajah, peristiwa Sumpah Pemuda adalah Proklamasi Kebangsaan.

Sumpah Pemuda adalah proklamasi kebangsaan dari primordial ke nasional, dari sektarian ke mondial, dan dari sukuisme ke nasionalisme. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila rakyat Indonesia saat ini menganggapnya sebagai penggalan sejarah penting dalam penataan dan pembangunan di Indonesia.

Berdasarkan asumsi ini, artinya, bila disepakati bahwa Sumpah Pemuda dapat dijadikan sebagai cermin sosial dan dianggap sebagai salah satu penggalan sejarah yang menentukan perubahan radikal di Indonesia, kita dapat menggali nilai-nilai strategis dari peristiwa Sumpah Pemuda untuk diaktualisasikan dalam konteks kekinian. Dalam kaitan dengan kebutuhan inilah, setidaknya kita dapat menemukan ada lima ayat gerakan perubahan sosial di Indonesia.

Pertama, perubahan di Indonesia senantiasa terkait dengan munculnya kegairahan kaum muda untuk bangkit dan berubah. Sejarah kita telah menunjukkan bukti nyata mengenai peran strategis ayat ini. Mulai dari peristiwa Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, peristiwa tahun 1965 sampai gerakan reformasi Indonesia tahun 1997, perubahan-perubahan sosial tidak bisa dilepaskan dari peran nyata kaum muda Indonesia.

Kedua, peristiwa Sumpah Pemuda menuntut adanya persatuan dan kesatuan. Sumpah Pemuda adalah wujud nyata adanya tekad bersatu padu dari kalangan muda Indonesia. Pengaruh nilai persatuan dan kesatuan telah ditunjukkan pula oleh masyarakat Indonesia ketika memproklamasikan kemerdekaan bangsa dan negara. Pada waktu Sumpah Pemuda, kaum muda Indonesia bersatu. Adapun Proklamasi Kemerdekaan adalah wujud kerja sama antara kaum muda Indonesia dan kelompok tua untuk menyelamatkan martabat bangsa. Perbedaan adalah sebuah fakta. Namun, persatuan dan kesatuan adalah kebutuhan nyata bagi terwujudnya Indonesia masa depan. Rumusan masa depan

Dalam catatan sejarah, kita mengetahui bahwa sejak tahun 1915 berdiri sejumlah organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan, seperti Tri Koro Darmo yang kemudian menjadi Jong Java (1915), Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Islamieten Bond (1924), Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Rukun dan Pemuda Kaum Betawi. Namun, semua organisasi tersebut bersifat kedaerahan dan kelompok khusus. Yang mungkin sedikit berbeda adalah Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang berdiri setelah selesai Kongres Pemuda I pada 1926. PPPI merupakan wadah pemuda nasionalis radikal nonkedaerahan.

Nilai persatuan dan kesatuan adalah hal nyata dan sangat penting dalam menata dan membangun bangsa Indonesia masa depan. Tidak ada NKRI tanpa persatuan dan kesatuan. Kesadaran ini adalah sikap final dan harga mati untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Sebagai realisasi penyatuan ini, pada 31 Desember 1930 pukul 24.00, Jong Java, Perhimpunan Pemoeda Indonesia, Jong Celebes, Pemoeda Soematra (awalnya bernama Jong Sumatranen Bond) berfusi menjadi satu dan membentuk Perkoempoelan Indonesia Moeda.

Ketiga, pentingnya rumusan visi dan misi masa depan Indonesia. Tanah air, bangsa, dan bahasa adalah instrumen gerakan persatuan. Namun, hal yang lebih penting dari itu semua adalah dibutuhkannya visi dan misi yang dibangun kaum muda. Sumpah Pemuda telah menancapkan masa depan Indonesia, yang terangkum pula dalam semangat Indonesia Raya. Proklamasi kebangsaan yang digagas kaum muda dan disuarakan dalam Indonesia Raya adalah hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku, semuanya, dan bangunlah jiwanya, bangunlah badannya semuanya adalah untuk Indonesia Raya.

Keempat, adalah hal yang nyata, baik peristiwa pada 1928 maupun 1945. Masa depan bangsa dan negeri kita tidak boleh diserahkan kepada pihak lain. Masa depan bangsa ini sangat bergantung pada kemandirian dan kerja keras kita semua. Sumpah Pemuda adalah bukti nyata bahwa perubahan bangsa dan masa depan bangsa harus direkayasa dan dibangun oleh kader-kader muda dari dalam negeri. Jangan gadaikan negara kita pada orang lain. Pelajaran ini adalah pelajaran penting untuk membangun kemandirian bangsa pada masa depan.

Rasa percaya diri atau sikap otonomi kebangsaan merupakan hal penting dalam membangun martabat bangsa. Sebuah negara hanya akan maju bila dirinya masih memiliki rasa percaya diri dan harga diri. Dengan prinsip inilah, Sumpah Pemuda sudah menetapkan bahwa nasib masa depan bangsa ada di tangan bangsa itu sendiri. Oleh karena itu, kesempatan dan peluang harus direbut. Kaum muda 1928 dan 1945 telah menunjukkan sikap tegas merebut peluang dan mempertahankan serta memperjuangkan harga diri bangsanya.

Perubahan sosial

Pelajaran terakhir, Sumpah Pemuda memberikan contoh kepada kita untuk senantiasa mengawal misi perubahan sosial. Tanpa kemauan dan kesadaran kita untuk mengawal perubahan, proses perubahan sosial akan menjadi sia-sia. Prinsip ini penting ditegaskan karena kita kali ini kadang hanya melihat gerakan pemuda dan gerakan mahasiswa secara parsial. Selepas gerakan itu, mereka tidak mengawal perubahan selanjutnya sehingga pada akhirnya banyak hal yang diselewengkan atau menyimpang dari visi atau misi pertama.

Kesadaran kebangsaan yang ditanam sejak 1928 kemudian ditindaklanjuti dengan pembangunan kesadaran nasionalisme di setiap tingkatan masyarakat. Pendidikan nasionalisme dan gerakan kebangsaan terus dilakukan sehingga kemudian berujung pada terjadinya peristiwa Kemerdekaan Indonesia.

Kita melihat, gerakan sosial yang sekadar membuka dan membongkar tatanan politik hanya menyebabkan terjadinya ketidaklurusan proses perubahan sosial. Hal ini sangat kita rasakan saat ini. Gerakan reformasi 1998 sulit membuahkan hasil memuaskan. Hal ini lebih disebabkan aktor reformasi memberikan “cek kosong” kepada elite politik, yang sejatinya masih didominasi kelompok yang kurang memiliki ruh perubahan sosial. Akibatnya, ada kekuatan luar ataupun bangkitnya kekuatan lama yang merebut kembali dan kemudian berusaha keras memulihkan kembali kekuasaannya.

Berdasarkan analisis ini pula, sejatinya kita, kaum muda Indonesia, hari ini dapat memproklamasikan kembali kebangsaan kita mengenai lima hal tersebut. Kita butuh proklamasi kebangsaan ulang, terkait dengan pentingnya kaum muda untuk berkarya, nilai persatuan dan kesatuan, kejelasan visi, kemandirian bangsa, dan pengawalan gerakan reformasi menuju Indonesia baru. Tanpa ada kesatuan tekad terhadap lima hal tersebut, tampaknya kita tidak bisa berharap banyak dari apa yang dilakukan elite politik saat ini.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/28/13325790/

sumpah.pemuda.vs.perubahan.sosial

Advertisements