Pengantar

Pagi itu, anakku, Iqbal jalan-jalan di halaman rumah dengan menggunakan kursi roda. Perilaku itu, dia lakukan sendiri setiap pagi. Dengan tetap mendapat perhatian kami berdua, dia terlihat lincah dan gembira melakukan aktivitas barunya selepas 6 bulan, lebih banyak berbaring di kasurnya sendiri.

 

 


Kemampuan berjalan ini, merupakan keterampilan baru yang Iqbal miliki di bulan ke-enamnya. Kami merasa bahagia, melihat perkembangan dan penambahan keterampilan yang dimilikinya. Bagi kami berdua pun, mendapat tugas baru dalam hidup ini, yaitu memberikan ruang pembelajaran, baik untuk gerak (psikomotorik) maupun aspek-aspek kehidupan yang lainnya.

Pembelajaran dan pembimbingan ini terus berjalan dan mengiringi aktivitas harian kami sekeluarga. Hingga suatu hari kami berdebat tentang sesuatu yang ingin Iqbal lakukannya.

Jangan, jangan, jangan dekati bunga itu, berbahaya… ujar ibunya terhadap Iqbal yang mencoba memegang bunga ekorbia yang berduri. Walau dari dua jenis bunga, bunga berduri di halaman depan rumahku memang cukup banyak. Ada dua pot bunga dari jenis lidah buaya, dan ekorbia 2 pot. Perkembangan keempat bunga itu masih pendek-pendek, sehingga sangat mudah dijangkau oleh Iqbal yang baru 94 cm tingginya.

tidak masalah, biarkan saja… jelasku.

bunga itu ada durinya, nanti dia sakit… pangkasnya lagi.

Mendengar jawaban itu, saya merenung, benarkah jawaban dia? Adakah sesuatu hal yang keliru dibalik jawabannya ? benakku mulai merangkai sejumlah pertanyaan, akankah, anakku berdarah karena menyentuh duri yang ada batang bunga ?

Dengan merangkai sejumlah pertanyaan tersebut, saya merasakan ada sesuatu yang janggal dalam pikiran kita, pikiran dia atau pikiran kebanyakan orang. Terkait dengan sebuah musibah atau kecelakan ini, sesungguhnya tidak bersifat otomatis. Sebuah musibah itu, didapat bukan karena kita mendekati atau menyentuhnya. Melainkan ada sesuatu sebab yang memungkinkan proses musibah itu dapat terjadi. Masalah inilah, yang tampaknya belum banyak dipahami oleh kebanyakan orang, atau saya secara pribadi melihatnya bahwa masalah inilah yang perlu kita diskusi bersama.

Variasi Celaka

Celaka atau kecelakaan merupakan sesuatu yang tidak diinginkan. Tidak ada seorang pun yang berharap mendapatkan kecelakaan atau celaka. Namun demikian, kita melihat bahwa celaka dan kecelakaan itu seolah merupakan bagian dari tata kehidupan manusia. Tak jarang, kita melihat sejumlah kecelakaan, mulai dari tenggelam di sungai, terimbas banjir, tabrakan, kereta api yang tergelincir, pesawat terbang yang gagal take off atau gagal mendarat, dan lain sebagainya. Sejumlah kecelakaan itu, merupakan sebagian dari jenis kecelakaan yang kerap mampir dalam kehidupan manusia.


Setelah melihat sejumlah kejadian, saya menemukan ada lima hukum hidup yang terkait dengan masalah kecelakaan.

Pertama, kecelakan terjadi, karena penyebab aktif. Posisi manusia mungkin pasif, namun karena penyebab (agen) itu adalah aktif, maka manusia merasakan dan mendapatkan musibah. Virus dan api adalah dua contoh nyata yang menunjukkan posisi agen yang aktif. Kendati manusia tidak melakukan tindakan apa-apa, sepanjang tubuhnya berdekatan dengan api atau virus, maka manusia akan merasakan akibat buruknya. Orang yang terbakar, bisa jadi walaupun manusia itu sedang tidur. Terlebih lagi, bila manusia itu datang dan masuk ke dalam api. Maka musibah kebakaran akan terjadi pada orang tersebut. Kendati manusia tidak berharap, namun karena agen pencelaka (agen musibah) bersifat aktif, maka manusia merasakan akibatnya.

Kedua, kecelakaan terjadi karena manusia yang aktif. Balpoin atau tambang adalah benda-benda yang secara umum merupakan benda yang aman dan mengamankan. Kehadiran balpoin atau tambang sangat berguna bagi manusia. Bila manusia berdekatan dengan balpoin atau tambang, tidak menyebabkan dirinya mendapat kecelakaan. Namun bila manusia berkenan, kedua benda tersebut dapat digunakan sebagai senjata untuk membunuh hewan, termasuk membunuh manusia dan atau bunuh diri.

Pada contoh yang kedua ini, kecelakaan atau musibah terjadi, bukan karena agent-nya yang berbahaya, namun karena ulang manusia, atau inisiatif manusia itulah yang kemudian mengubah karakter benda lain di luar dirinya menjadi sangat berbahaya. Faktor manusia menjadi penting dan sangat menentukan lahirnya sebuah bencana/musibah.

Ketiga, kecelakaan terjadi akibat adanya pertemuan dua aktivitas yang agresif dan melebihi ukuran yang alamiah. Duri pada tumbuhan secara hakiki adalah tajam. Dengan niat dan gerak tertentu, manusia pun dapat memanfaatkan berbagai hal (kendati awalnya tidak tajam) bisa menjadi penyebab kecelakaan. Namun bila, kedua agent itu menunjukkan sikap yang agresif, maka gerak kedua benda tersebut mampu melahirkan sebuah musibah.

Bila manusia menyentuh duri secara lembut, kendatipun duri tajam, namun tidak akan menyebabkan dia terluka. Berbeda dengan kalau manusia menyentuh api. Mau menyentuh dengan lembut atau kasar, manusia akan terbakar oleh api. Tetapi, bila menyentuh duri secara lembut, maka duri tersebut tidaka kan melukainya. Namun demikian, bila manusia menyentuhnya dengan tekanan yang keras, maka karakter asli dari duri akan keluar dan bisa menyebabkan manusia terluka.

Berdasarkan kejadian ini, dapat disebutkan bahwa kecelakaan terjadi karena ada persentuhan antara manusia dengan agent di luar batas kewajaran. Gerak yang dilakukan ini, bisa disebabkan karena ada gerakan dari internal unsur (dari dalam diri manusia atau agent), maupun ada faktor penggerak lainnya. Misalnya, ketika sedang menyentuh duri secara lembut tiba-tiba ada angin kencang datang, sehingga duri bergerak keras dan pada akhirnya menyebabkan manusia terluka.

Keempat, kecelakaan terjadi karena ada persentuhan dari dua benda yang bergerak di luar kewajaran. Variasi keempat ini, tidak mempersyaratkan benda yang tersebut memiliki potensi mencelakakan. Mobil, rumah, batu, kayu, dan sejenisnya adalah benda-benda yang sering berada di sekitar manusia. Kehadiran benda itu tidak membahayakan. Namun, ketika ada gerakan yang di luar kewajaran dan diluar kontrol manusia, kemudian membentur tubuh manusia, maka musibah dan kecelakaan dapat terjadi.

Terakhir, kecelakaan atau musibah yang disusun secara tidak sadar. Manusia hidup dan banyak melakukan sesuatu. Namun, secara tidak sadar, manusia pun kerap mengarah pada sesuatu yang potensial mencelakakan dirinya sendiri. Bila hal ini terjadi, maka sesungguhnya, manusia seolah menabung sebuah bom waktu kecelakaan bagi dirinya sendiri.

Sikap tidak mau belajar, dengan alasan ingin hidup nyantai, adalah tabungan yang mencelakakan baginya di masa depan. Sikap konsumsi makanan yang tidak memperhatikan aspek nutrisi, adalah tabungan kecelakaan bagi masa depan hidupnya. Oleh karena itu, gizi buruk pada dasarnya adalah musibah hasil tabungan manusia beberapa hari (tahun sebelumnya). Sakit yang diderita hari ini, merupakan akumulasi dari gaya hidup yang sudah ditabungnya selama ini.

Penutup

Andaipun mau dilihat dari skala lebih luas, kecelakaan itu bisa disebabkan karena ulang dirinya dan atau benda yang ada di sekitarnya, serta akibat dirinya merupakan bagian dari sistem-hidup-sistem-bumi yang lebih luas. Pemahaman dan kesadaran seperti ini, perlu dipahami dan dicermati dengan seksama.

Untuk kategori, kecelakaan atau musibah akibat ulah diri dan benda yang ada di sekitarnya, sudah dikemukakan dalam bentuk lima variasi kecelakaan seperti dikemukakan di atas. Sedangkan untuk hal yang kedua, dapat kita kemukakan sebagai berikut.

Bentuk kecelakaan ini, dapat kita sebut sebagai bentuk korban dari sebuah kenyataan. Dirinya tidak berbuat apa-apa, dan agen yang ada di sekitar kita pun adalah sesuatu hal yang aman dan menyamankan. Namun karena ada faktor lain di luar kehidupan kita, yang menyebabkan kecelakaan itu hadir. Kecelakaan atau musibah yang dirasakan manusia pada waktu itu disebut sebagai korban dari sebuah kenyataan.

Ketika naik pesawat terbang, setelah beberapa jam melayang diudara, tiba-tiba terasa arah kendaraan itu tidak menentu. Ternyata, angin kencang di udara menyebabkan sayap pesawat patah, dan kemudian menyebabkan arah dan gerak pesawat terbang tidak menentuk. Karena kondisi itu, kemudian menyebabkan pesawat tersebut jatuh, dan menghancurkan tubuh pesawat beserta isinya. Manusia yang mengalami musibah itu adalah korban dari hukum-alam, yaitu hukum kesinambungan proses alami.

Oleh karena itu, tidak mengherankan bila ada musibah atau kecelakaan yang terjadi, bukan karena dua faktor yang terlibat, namun karena ada faktor luar yang mempengaruhinya.

Dari penjelasan inilah, maka di pagi hari itu, sempat memberikan penjelasan sepintas lalu mengenai alasan, mengapa saya membiarkan Iqbal untuk menyentuh duri yang ada pada batang bunga. Dalam benakku waktu itu, duri bukanlah benda agresif, dan Iqbal pun tidak belum memiliki sikap agresif. Pada anak seusia dia, jangankan bersikap agresif untuk memegang dan menyentuhpun masih dalam tahap belajar dan belum keras. Gerakan yang dilakukannya hanya baru menyentuh dan atau meraba. Dengan kata lain, pertemuan antara dua agen itu tidak potensial mencelakakan.

Sayangnya, kita semua memang kurang mendapat kejelasan dan penejalasan, sehingga seringkali menganggap bahwa sesuatu hal itu hanya akan menyebabkan kecelakaan bagi manusia. Padahal, selain agen yang aktif, dan faktor luar yang tidak terkuasai oleh manusia, sesungguhnya manusia memiliki potensi untuk membangun interaksi dan komunikasi dengan lingkungan secara aman dan nyaman. Prinsip dan kesadaran yang terakhir ini, sayangnya belum banyak dipahami bersama.

Wallahu alam bi showwab.

-o0o-

Advertisements