Melihat kenyataann yang ada saat ini, tampaknya perlu Pemerintah mengangkat tenaga kesehatan untuk ditempatkan di lingkungan pendidikan, bukan sekedar diserahkan pada PMR atau yang lainnya.

 

 


Peristiwa keracunan makanan (food intoxication) pada anak sekolah, semakin sering ditemukan. Bila satu atau dua kali, mungkin (belum) menarik perhatian kita semua. Namun, bila kejadian keracunan makanan ini terus-terusan terjadi, bahkan bukan hanya di lingkungan pendidikan, maka masalahnya sudah bukan lagi masalah kecelakaan. Hal ini, perlu dilihat dalam skala makro, yaitu dalam konteks perlindungan pemerintah terhadap aspek keamanan kesehatan anak-anak.

Dalam kaitan dengan keselamatan konsumen, Badan POM sudah memberikan peran yang cukup nyata bagi masyarakat. Setidaknya sejumlah kasus yang terkait dengan ditemukannya makanan yang kedaluarsa, kemudian ditindaklanjuti dengan langkah-langkah konkrit untuk menjaga keselamatan konsumen. Namun, terkait dengana keselamatan anak sekolah dari makanan jajanan yang sehat masih kurang tersentuh oleh lembaga ini. Padahal, keselamatan dan nasib anak-anak sekolah lebih dipengaruhi oleh makanan yang ada di wilayah ini.

Analisis sementara dan merupakan analisis yang paling popular, penyebab pertama dan dugaan terbesar terjadinya keracunan makanan dialamatkan pada kebiasaan anak sekolah jajan diberbagai tempat yang kurang mengutamakan kebersihan. Kebiasaan ini merupakan kebiasaan anak sekolah yang bangkah terus terbawa-bawa sampai mereka memasuki dunia kampus. Anak didik kita banyak yang jajan di pusat-pusat jajan yang ada di pinggir kampus atau pinggir jalan.

Tanpa harus menggeneralisir, ada sejumlah sekolah-sekolah yang memiliki kantin yang bersih. Namun tidak sedikit, kantin yang ada di sekitar sekolah yang kurang terawat dari sisi kesehatan (kesehatan makanan). Di lain pihak, kebiasaan jajan anak-anak sekolah khususnya jajan di kantin luar sekolah– sangat sulit dikontrol. Akibat dari kondisi seperti inilah, pusat jajan tersebut potensial menyebabkan anak-anak terkena keracunan makanan beracun.

Geertruida dan Marice Sihombing (1996) telah melakukan kajian terhadap mutu jajanan gorengan dari sudut minyak yang diserap. Kajian ini dilakukan di pusat perbelanjaan Jakarta. Salah satu kesimpulan dari riset tersebut, dinyatakan bahwa jajanan gorengan tersebut mengalami penurunan mutu sebesar 51,3 %. Hal ini ditandai dengan mulai menguatnya keadaan tengik, yang menyebabkan kandungan vitamin (misalnya Vitamin A dan Vitamin E) tidak bermanfaat. Kondisi makanan seperti ini, sudah tidak sehat lagi untuk dikonsumsi. Kejadian ini bisa terjadi, salah satu penyebabnya yaitu karena terlalu lama proses penyimpanan. Terlebih lagi, bila anak-anak kita tidak rewel (kritis) terhadap makanan, sehingga acapkali mereka mengkonsumsi gorengan yang digoreng ulang oleh penjual, akibat tidak laku dihari kemarin. Bila hal ini dibiarkan, resiko anak-anak racun akan semakin besar. Minimalnya anak-anak kita tidak mengkonsumsi makanan bergizi, namun lebih cenderung mengkonsumsi ampas-makanan yang sudah miskin gizi.

Bagi sekolah-sekolah yang elit, masalah makanan anak-anak ini sudah menjadi salah satu paket layanan pendidikan. Sedangkan bagi sekolah pada umumnya, belum banyak yang memberikan perhatian seksama terhadap pentingnya layanan kesehatan pada anak-anak di lingkungan sekolahnya. Para penyelenggara dan atau pendidik, lebih terfokus pada materi kurikuler (kurikulum pendidikan) dibandingkan pada aspek kesehatan anak didik. Dalam pandangan para pendidik selama ini, masalah kesehatan anak lebih dipahami sebagai masalah keluarganya masing-masing. Akibatnya para penyelenggara pendidikan kurang memberikan perhatian seksama terhadap usaha-usaha menjaga kesehatan anak didiknya. Padahal layanan kesehatan di lingkungan pendidikan merupakan salah satu bagian yang dapat mendukung pada usaha peningkatan kualitas pendidikan dan atau lulusan sekolah tersebut.

Munculnya kasus keracunan makanan di lingkungan pendidikan, merupakan indikasi adanya kelemahan dalam sistem perlindungan kesehatan kepada anak didik. Kelemahan ini, dapat bersumber dari penyelenggara pendidikan, pengelola kantin, dan atau pemerintah pada umumnya. Tanpa harus melakukan kritik terhadap salah satu elemen pendidikan yang terkait tersebut, tampaknya sudah harus dipikirkan oleh pemerintah pusat untuk menyertakan tenaga kesehatan profesional dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah.

Mengapa Perlu ?

Hal yang paling mendesak yaitu untuk menghindarkan anak-anak dari ancaman makanan yang beracun. Tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk bisa hadir di tengah-tengah lingkungan pendidikan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan anak didik (khususnya), dan kualitas kesehatan civitas akademik pada tingkat satuan pendidikan pada umumnya.

Kita tidak tahu makanan yang potensial mengandung racun yang dikonsumsi anak-anak. Apakah makanan yang ada di kantin sekolah atau di tempat jajanan yang ada di luar sekolah. Hal yang paling penting adalah memberikan layanan pendidikan kesehatan kepada anak-anak untuk bisa hidup sehat dan mengkonsumsi makanan sehat. Kebutuhan hal ini, merupakan satu kebutuhan mendesak bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi dunia pendidikan.

Pada skala yang lebih luas, kebutuhan untuk menempatkan tenaga kesehatan di dunia pendidikan ini, adalah untuk menjadi bagian dari penyuluh kesehatan (peran promotive) dari tenaga kesehatan dalam membangun budaya hidup sehat.

Membangun budaya hidup sehat atau kualitas kesehatan yang prima, tidak cukup dengan pendekatan kuratif (pengobatan) dan preventif (pencegahan). Hal yang murah namun strategis, yaitu menggunakan pendekatan promosi (pendidikan dan penyuluhan) kepada masyarakat supaya dapat mulai hidup sehat. Peran seperti inilah, yang dapat dilakukan oleh kalangan tenaga medis di lingkungan pendidikan.

Selain dua alasan tersebut, hampir mudah dipahami bahwa kualitas dan prestasi seseorang dalam belajar dipengaruhi oleh tingkat kesehatan individu. Mereka yang tidak memiliki kebugaran yang prima atau kualitas kesehatan yang tinggi akan menjadi penyebab awal rendahnya gairah belajar dan atau rendahnya prestasi belajar. Hemat kata, kualitas kesehatan memiliki kontribusi nyata terhadap dunia pendidikan.

Kesadaran mengenai pentingnya aspek kesehatan dalam proses pendidikan (proses belajar mengajar) ini ditemukan dalam rancangan-rancangan belajar dalam pendekatan quantum. Bagi penganut teori quantum learning, orang yang duduk terlalu lama dan penggunaan energi otak sangat intens akan mengalami kekurangan air (dehidrasi). Bila hal ini tidak diantisipasi, selain menyebabkan buruk pada kesehatan anak, juga dapat mengurangi gairah anak dalam belajar. Seorang konsultan pendidikan yang berorientasi quantum learning, memberikan keterangan bahwa belajar sambil membawa minuman atau makanan kecil adalah sesuatu hal yang wajar dan menyehatkan. Cara seperti ini lebih sehat, daripada anak dibiarkan mengalami dehidrasi. Pandangan ini memberikan argumentasi tambahan tentang peran kesehatan dalam meningkatkan motivasi dan kualitas belajar anak didik.

Mekanisme ?

Sampai saat ini, Pemerintah khususnya dinas pendidikan dan departemen agama masih luput untuk memperhatikan aspek ini. Selama ini, pemerintah lebih memperhatikan tenaga akademik dan administrasi pada dunia pendidikan. Untuk setiap tahunnya, pemerintah membuka lowongan kerja pada dua aspek ini. Sementara untuk bidang kesehatan anak-anak di lingkungan pendidikan, masih tetap diserahkan pada pihak dinas kesehatan dan dilaksanakan di luar sistem pendidikan. Fakta inilah yang penulis maksud keluputan para pengambil kebijakan dalam memperhatikan aspek kesehatan anak didik di lingkungan sekolah.

Berdasarkan pertimbangan ini dan juga merujuk pada analisis di atas, kiranya sudah waktunya Pemerintah mempertimbangkan usulan tentang perlunya mengangkat tenaga kesehatan yang khusus ditugaskan di lingkungan pendidikan. Tugas utama mereka adalah memberikan layanan kesehatan bagi civitas akademik pada setiap satuan pendidikan.

Sebagaimana dimaklumi bersama, dalam dunia pendidikan ini bukan hanya masalah sehat jiwa (psikis) namun sehat biologis pun sangat diperlukan. Petugas yang ada selama ini, baru petugas bimbingan dan konseling yang memiliki kewajiban untuk memberikan layanan kepada anak didik dalam bidang karir atau konseling psikologis. Kendati dalam prakteknya, petugas BP ini belum maksimal dan professional menjadi seorang conselor yang mampu memberikan arahan dan bimbangan kepada anak didik. Namun secara normative, guru BP memiliki fungsi memberikan layanan pada nilai-nilai psikologis anak didik di lingkungan pendidikan.

Menggenapkan petugas BP tersebut, petugas tenaga medis persekolahan memiliki garapan khusus yaitu memberikan layanan kesehatan dan peran promosi kesehatan kepada seluruh civitas akademika pada satuan pendidikan tersebut. Memang benar, pada satuan pendidikan kita ada ekstrakurikuler PMR yang berperan dalam memberikan pertolongan pertama. Bahkan pada beberapa sekolah masih ada UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Kelemahan pada kedua lembaga tersebut, yaitu tidak hadirnya tenaga profesional yang bertanggungjawab dalam memberikan layanan kesehatan. PMR dan atau UKS lebih banyak dibina oleh guru yang kadangkurang memiliki pengetahuan khusus dalam bidang kesehatan.

Mengaca pada kondisi tersebut, kehadiran tenaga kesehatan persekolahan (misalnya perawat) diharapkan dapat menjadi penanggungjawab pada lembaga-lembaga yang tersebut tadi (UKS dan PMR). Adapun mekanisme dan status kepegawainanya, pemerintah dapat melakukan kajian khusus terhadap masalah ini. Hal yang paling prinsip, adalah pentingnya tenaga kesehatan dalam dunia pendidikan.

Advertisements