Pengalaman ini sangat menyakin diri bahwa mengenali sesuatu itu dapat menyelamatkan diri. Kalau kita mengenali sesuatu, kita akan selamat dari hal tersebut. Kira-kira itulah yang menjadi kesimpulan dari kejadian-kejadian yang teralami saat ini.

Hari itu, hari Kamis minggu kedua bulan ke 10 di tahun 2006. Dengan penuh semangat dan rasa bahagia menggelora dalam diri, saya menuju sebuah madrasah yang akan menjadi tempat kerja baru. Pada mulanya, lokasi ini memang cukup sulit ditemukan. Selain daerahnya merupakan daerah yang belum pernah saya kunjungi, juga harus memasuki jalan kelurahan sekitar 1,5 km dari jalan raya. Namun, bila kita datang dihari-hari sekolah, maka tidak mungkin akan mengalami kesulitan, karena sekolah ini sudah memiliki siswa yang mendekati angka 500 siswa. Madrasah ini adalah madrasah swasta dibawah binaan Departemen Agama yang dikategorikan maju.

Dengan berbekal SK dari Depag, hari ini saya datang ke Madrasah Aliyah Swasta Swasta (MAS) Al-Inayah Bandung di Sukajadi. Sengaja agak siang, dengan maksud supaya datang bertepatan dengan waktu istirahat. Sehingga bisa langsung bertemu dengan kepala madrasah (kepala sekolah), dan juga melihat aktivitas harian para siswanya. Karena hari sebelumnya sudah pernah disurvei, maka pada hari itu tidak mengalami kesulitan untuk menemukan tempat kerja baru ini.

Setelah melihat gedung madrasah berlantai dua, berwarna hijau muda (warna ini merupakan ciri khas Depag), mulai berbungalah hati, dan beterbanganlah sejumlah impian dan rencana kerja di madrasah ini. Maklum masih berstatus sebagai calon pegawai negeri (CPN), maka tidak mengherankan bila memunculkan banyak impian mengenai masa depannya tersebut.

Tidak berbeda jauh dengan orang lain, ketika masih baru duduk di kursi pekerjaan atau kursi jabatan, banyak hal yang bisa diimpikan. Dan untuk mewujudkan impian-impian tersebut, disusunlah berbagai agenda kerja pribadi, dengan harapan kelak dapat digunakan untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Dengan impian seperti itulah, maka saya melakukan diskusi dengan berbagai pihak.

Langkah pertama yang dilakukan, yaitu mencari rekan profesi yang satu rampun. Kebetulan ada guru yang pernah ditugasi mengajar geografi, maka kepadanya kesempatan pertama dilakukan. Kemudian bergerak dengan teman-teman yang satu almamter. Kendati didominasi oleh lulusan IAIN atau Sekolah Tinggi Agama Islam, namun di madrasah itu ada guru alumni dari IKIP Bandung (sekarang UPI). Hal ini saya lakukan, sambil menanti luangnya untuk menerimaku. Shilaturahmi dengan guru ini, saya lakukan selama masa istirahat.

Setelah bunyi bel istirahat terdengar, terdengar titah kepala madrasah untuk segera memasuki ruangannya. Saya pun bergerak menuju ruang kerja kepala madrasah. Di ruangan inilah, dia menceritakan berbagai hal terkait dengan agenda pendidikan di madrasah, dan kemungkinan tugas yang harus saya emban. Pemaparan mengenai tugas-tugas ini saya catat dengan baik, dan penuh rasa bangga. Karena baru masuk ke madrasah ini, sudah di beri amanah yang cukup strategis. Maklum di sekolah swasta, dan masih jarang pegawai negerinya, pada semester berikutnya saya diberi janji untuk memegang jabatan lebih tinggi. Istilah yang digunakan oleh kepala madrasah itu, adalah membantu kepala untuk mengembangkan madrasah. Dengan kalimat itu, entah jabatan apa yang dimaksudkannya.

Waktu shilaturahmi dengan guru dan kepala madrfasah cukup lama berjalan, dan bel pelajaran jam berikutnya sudah berdenting, kepala madrasah memberikan waktu luang untuk melakukan observasi ruangan. Kesempatan ini tidak disia-siakan. Waktu yang ada itu, saya gunakan untuk melakukan observasi ke berbagai tempat yang menjadi fasilitas pembelajaran di madrasah ini. WC adalah tempat tempat yang pertama saya kunjungi, karena dalam benakku tempat inilah yang paling vital. Kemudian laboratorium, ruang perpustakaan dan beberapa ruang kelas tempat belajar siswa Al-Inayah.

Karena merasa lelah, kemudian saya berniat mengunjungi kantin untuk sekedar rehat sebentar. Maka dicarilah lokasi kantin. Semenjak pagi, memang saya belum melihat ada tempat yang dijadikan pusat jajan siswa Inayah. Karena masih bigung di mana lokasi kantin, kemudian saya bertanya kepada penjaga di sana. Dugaan bapak Penjaga Sekolah, saya hanya sekedar obvervasi saja, maka dia kemudian menunjukkan lokasi kantin. Ternyata lokasi itu ada dibelakang kantor guru.

Mendengar informasi mengenai letak kantin ada di belakang kantor, kemudian saya melanjutkan langkah menuju daerah itu. Ahaternyata ketemu. Pikirku. Terlihat memang ada sebuah ruangan kecil dengan dikelilingi oleh sejumlah kursi yang membentuk formasi setengah lingkaran. Walaupun tidak buka sepenuhnya, ruangan itu pasti kantin. Hal ini terlihat dari adanya sejumlah makanan yang digantung di berbagai penjuru ruangan, dan ada kulkas tempat menyimpan berbagai minuman.

Kang, kerja di kantin ? tanyaku pada seorang lelaki yang berada di lokasi tersebut. Pertanyaan ini kemudian di jawab dengan mengangguk serta mengatakan iya secukupnya. Mendengar itu, saya memperkenalkan diri sebagai guru baru di madrasah tersebut, dan rencana mulai mengajar pada minggu depan. Mendengar salam perkenalan itu, diapun mengajukan salam perkenalannya. Di awali perkenalan itulah kemudian kami melakukan obrolan ke berbagai hal.

Karena sudah merasa lapar, saya menanyakan gorengan yang masih tersisa. Jawaban yang sangat mengagetkan itu, hari itu gorengan tidak ada. Kemudian kue-kue basah pun tidak ada. Mendengar jawaban itu, kemudian saya bertanya mengenai alasannya, apakah karena sudah laku atau tidak pernah menjual kedua jenis makanan tersebut.

Petugas kantin itu dengan tegas menjawab, Anak-anak dan guru di madrasah ini sekarang melaksanakan puasa sunnah. Mendengar jawaban itu, sontak saja wajahku memerah dan darah bergetar. Pada satu sisi malu kepada si penjaga kantin, pada sisi lain kaget bercampur kagum pada pengelola pendidikan ini.

ohhhhh gitu ya..

Sebagaimana dimaklumi bersama, dalam ajaran Islam selain puasa ramadhan, ada puasa sunnah. Salah satu dari amalan puasa sunnah itu adalah puasa senin dan kamis. Dengan kesadaran demi membangun pribadi yang saleh dan pengkondisian akhlak Islami di lingkungan madrasah, pihak pengelola mengeluarkan kebijakan walaupun sifatnya anjuranuntuk melaksanakan puasa senin-kamis. Dengan kebijakan itu, maka kantin sekolah pun ditutup.

Karena belum tahu, rasa malu ini pun kudapatkan. Namun ini adalah sebuah pelajaran berharga dalam hidupku kini. Pengalaman menarik dan unik. Bahkan hal ini merupakan satu pengalaman baru dalam hidupku saat ini. Kemudian pengalaman ini, dijadikan modal awal bekerja di tempat yang baru ini. Karena lingkungan pula, dalam minggu pertama bertugas, saya pun melaksanakan puasa senin-kamis. Asyik juga, puasa sunnah bareng-barengan dengan seluruh siswa.

Kejadian yang tak disangka, ternyata pihak Departemen memanggilku kembali. Mereka menjelaskan bahwa SK yang saya bawa kemarin belum lengkap. SK asli yang perlu dimiliki itu adalah SK penempatan dari pemerintah ke sekolah negeri yang menjadi rujukan, jadi bukan SK di tempat sekolah swasta langsung. Dengan alasan itu, kemudian saya pun diberi selembar SK baru, yang menyatakan bahwa saya ditempat di MAN 2 Kota Bandung. Dengan berbekal SK itu pula, kemudian saya disuruh datang ke MAN 2 Kota Bandung yang ada di ujung Cibiru.

Hari senin itu saya datang ke madrasah ini. Karena ada pengalaman mengajar dan hidup di lingkungan madrasah swasta, maka saya berusaha untuk melaksanakan puasa sunnah. Kedua madrasah ini ada di bawah binaan Depag, maka dalam pikiranku saat itu di swasta saja ada kebijakan melaksanakan puasa sunnah, maka tidak mungkin di negeri tidak dilaksanakan.

Kejadiannya serupa dengan apa yang terjadi di madrasah, saya datang pada waktu istirahat. Di lihat dari sisi gedung, MAN 2 Kota Bandung jauh lebih besar dari Al-Inayah. Namun kalau dilihat dari fasilitas, ada nilai kurangnya. Di Al-Inayah ada puskesmas yang berdiri di dalam lingkungan madrasah, sementara di sekolah ini tidak ada. Selain itu, ruang kantin Al-Inayah lebih tertata dibandingkan dengan MAN. Namun dilihat dari sisi, fasilitas MAN memiliki kelebihan yang melimpah. Perpustakaan, laboratorium IPA, laboratorium Bahasa, dan ruang aktivitas siswa yang representatif.

Pada waktu istirahat itulah. Ketika saya berdiam diri, dan menahan rasa lapar, ternyata semua siswa dan para guru di lingkungan madrasah ini tidak melaksanakan puasa sunnah. Salah satu guru, yang dikenal sebagai ustad Ciganjur mengeluarkan pandangan, bahwa puasa sunnah itu bersifat pribadi dan statusnya sunnah. Dengan demikian, di madrasah ini semua elemen di beri kebebasan untuk melakukan amal ibadah sesuai dengan persepsi dan niatnya masing-masing. Oleh karena itu, guru dan siswa di madrasah ini tetap melakukan aktivitas harian seperti biasa, dan makan ke kantin pun dilaksanakan.

Waduh…aku salah tebak lagi. Kemarin di Al-Inayah kedapat rasa malu karena tidak puasa sunnah, padahal seluruh elemen melaksanakan puasa sunnah. Pada hari ini, saya puasa sunnah sendirian, sementara yang lain enak-enak makan. Gumamku saat itu. Semula merasa aneh terhadap pandangan orang-orang di tempat ini. Namun, setelah melakukan shilaturahmi dengan sejumlah guru yang ada di sana, ternyata guru-guru di sini memang lebih demokratis. Dalam pelaksanaan ibadah keagamaan, khususnya alaman sunnah diserahkan pada individu masing-masing. Tidak ada kebijakan khusus dari lembaga. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila di sekolah ini pun sesungguhnya ada juga guru atau siswa yang rajin melaksanakan puasa sunnah tersebut. Hal ini saya temukan, setelah menjalani tugas sebagai guru di madrasah ini.

Sebagai catatan, pada ujung berikutnya, ternyata pihak Departemen menetapkan bahwa saya harus bertugas di tempat baru ini. Madrasah Al-Inayah, kemudian ditinggalkan. Perasaan sedih muncul, namun itulah pilihan hidup saya ketika harus mengikuti jejak SK yang diberikan pemerintah.

Kejadian ini membekas dalam diri. Hingga sampailah pada kesimpulan utama sebagaimana dikemukakan di awal tulisan, kenal itu ternyata menyelamatkan diri. Kalau saya sudah kenal terhadap kebiasaan di Al-Inayah, sudah tentu saya akan terselamatkan dari rasa malu itu, demikian pula bila kita mengenali kebudayaan tempat-tempat yang lain. Bila ada pepatah, tak kenal maka tak sayang, dalam pengalaman ini, saya menyebutnya, tak kenal maka dapat malu. Tak kenal tak dapat keselamatan.

Advertisements