Anak-anak itu adalah calon pemimpin, jadi harus dibiasakan menjadi pemimpin

semenjak dini. Tidak boleh mereka diposisikan sebagai objek terus, dan serba tidak tahu

 


Secara formal, saya memiliki dua SK yang berbeda. Satu SK penempatan di Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Al-Inayah, dan kedua SK di MAN 2 Kota Bandung. Kedua SK ini masih ada di simpan, kendati memang salah satunya sudah tidak bisa digunakan lagi. Dalam struktur kepegawaian, menurut petugas yang menginformasikan, bahwa setiap orang yang diperbantukan (DPK) memang memiliki dua SK, yaitu SK penempatan dari provinsi, dan SK penugas ke sekolah swasta dari Kabupaten/kota. Dengan alasan itulah, maka saya dan juga teman-teman yang lain, banyak yang memiliki SK ganda.

Kendati mengajar kurang dari 1 bulan, namun penugasan di Al-Inayah memberikan kesan yang tidak mudah dihapuskan. Banyak catatan unik yang layak dikenang dari madrasah ini. Dan saya merasa yakin, bahwa kenangan ini sulit ditemukan di tempat-tempat yang lain.

Baru pertama kali, orang yang berbicara (memberikan amanat) dalam upacara penaikan bendera senin dan atau penurunan bendera adalah siswa. Selama menginjak bangku kuliah, mulai dari TK sampai perguruan tinggi, kalau ada pelaksanaan penaikan bendera rasanya selalu di isi oleh guru. Tidak pernah melihat sambutan dalam upacara bendera dilakukan oleh seorang siswa. Pengalaman dan persepsi itulah yang selama ini tertanam dalam pikiran, dan pada waktu itu pula rontok dihadapan siswa-siswi Madrasah Aliyah Swasta Al-Inayah Bandung.

Dalam jadwal kegiatan, saya pun kebagian menjadi pembina upacara pada minggu ketiga. Namun riilnya tugas ini tidak pernah saya lakukan, karena pada minggu ketiga itu, saya sudah dipindahkan ke MAN 2 Kota Bandung. Namun dari dua kali mengikuti kegiatan upacara bendera, disamping kiri guru pembina, yang bertugas menjadi pembina upacara, berdiri seorang siswa dari perwakilan kelas yang kebagian tugas menjadi pelaksana upacara bendera bendiri.

Singkat kata, dalam tataurutan acara upacara itu, setelah menaikkan bendera, dan atau ritual upacara yang lainnya, bagian memberikan amanah dari pembina upacara diawali dulu dengan cara tausyiah dari siswa. Jadi, tausyiah dari siswa ini dilaksanakan sebelum pembina upacara memberikan amanah (lebih tepatnya memberikan pengumuman-pengumunan terkait masalah madrasah). Dalam pikiranku saat itu, rasa kagum muncul. Kok bisa….: acara upacara yang selama ini dianggap sakral dan memiliki juklak resmi dari pemerintah diselipin acara lain.

Bila diperhatikan, memang ada sejumlah perbedaan dasar antara susunan acara upacara (TUP) di madrasah ini dengan sekolah umum. Misalnya saja, di awal acara ada ucapan basmalah bersama-sama, kemudian membaca ayat suci al-Quran, dan kemudian acara resmi TUP. Kemudian ditengah acara ada tausyiah dari siswa, dan diakhir acara ada ucapan hamdalah bersama-sama. Tambahan-tambahan itu sudah tentu, adalah sesuatu hal yang baru yang tidak ada di sekolah umum.

Apa yang dipikirankan oleh para guru waktu itu ?

Sebagai guru baru, saya kemudian mencari informasi tentang alasan dilaksanakannya kegiatan seperti itu. Menghadapi kegelisahan diri yang penuh tanya ini, kemudian Pembina OSIS memberikan keterangan yang sangat gamblang. Anak-anak itu adalah calon pemimpin, jadi harus dibiasakan menjadi pemimpin semenjak dini. Tidak boleh mereka diposisikan sebagai objek terus, dan serba tidak tahu.

Hebat. Hebat. Itulah komentarku saat itu. Kebijakan sekolah yang visioner dan memberdayakan. Sangat jarang pikiran guru yang serupa ini. Kebanyak guru menganggap anak-anak itu adalah botol kosong yang harus dijejali oleh pengetahuan dari gurunya, walaupun mungkin pengetahuan dari guru tersebut belum tentu benar atau belum tentu cocok dengan kebutuhan anak tersebut. Namun, hal yang terakhir itulah yang banyak terjadi di lingkungan pendidikan kita saat ini.

Jangan bertanya mengema tema yang disampaikan oleh siswa pemberi taushiah itu. Karena pertanyaan itu tidak substantif, tidak penting dan kurang strategis.

Oleh karena itu, kalaupun materinya tidak menarik, namun pembelajaran dini sangat menarik

Andaipun materi yang disampaikannya terbilang sederhana, namun tujuan pendidikan dari kegiatan itu sangat kompleks dan lengkap.

Bila ada yang mengatakan bahwa isi yang disampaikannya tidak ada yang baru, namun itulah model pendidikan yang baru, inovatif dan kreatif

Biarpun ada yang berpendapat bahwa kegiatan itu hanya memakan waktu saja, namun pendidikan itu lebih berkesan lama dibandingkan waktu yang sudah dihabiskannya

Kalau ada yang berujar bahwa penjelasan anak dibawah usia itu tidak mencerahkan, namun kejadian itulah yang hendaknya bisa mencerahkan orangtua, guru dan atau pengambil kebijakan

Berdasarkan pemikiran itulah, tak salah bila saya jadikan pengalaman ini sebagai sebuah kenangan indah selama menjadi guru.

Advertisements