Masih pagi. Pikiran pun masih segar. Namun pikiran segar di negeri ini nasibnya tidak pernah lama. Entah karena keadaan di negeri ini yang kerap mempertontonkan perilaku yang aneh-aneh dan tidak memberdayakan rasa kemanusiaan atau karena banyaknya masalah hidup yang terus melilit kehidupannya. Sehingga akibat kedua hal tersebut, pikiran segar masyarakat Indonesia ini kerap kali sulit berkembang untuk waktu yang lama. Kata ahli seni, matahari pun belum merasa lelah untuk menyinari bumi, namun pikiran ini harus kembali diisi oleh keanehan negeri ini.

seorang anak juara 1 tingkat nasional olimpiade bahasa Jerman, dan bulan Juli-Agustus di rencanakan akan bertanding di Jerman mendapat uang saku sebesar Rp. 75.000 (TUJUH PULUH LIMA RIBU RUPIAH !). begitulah bunyi sms pagi hari itu.

Awalnya hati dan pikiran ini merasa bahagia karena yang memberikan pesan singkat itu yakni senior yang lama tak sempat bertemu. Tahun 2000-an, ketika semangat mengelola LSM bidang pendidikan kami sering melakukan diskusi. Namun setelah disibukkan oleh pekerjaan masing-masing kami mengalami keterputusan untuk shilaturahmi. Oleh karena itu, hadirnya sms ini sempat merasa senang. Namun setelah membaca isi smsnya, sontak saja pikiran ini kaget dan tegang kembali. Ya, masih pagi, pikiran ini sudah diberi berita yang sangat mengagetkan.

Dari sisi psikologis-bahasa (bila mau dikatakan demikian), sms ini mengandung tiga pesan penting. Pertama, pesan tersebut mengandung satu bentuk ketidakmengertian mengenai perilaku pemerintah (minimalnya penyelenggara olimpiade) terhadap kompetensi anak bangsa. Sangat aneh dan tidak rasional, seorang anak bangsa yang membutuhkan perhatian yang seksama dari pemerintah, ternyata mendapat perlakuan yang tidak proporsional dari orangtuanya. Usaha kera untuk belajar dan untuk memiliki kemampuan unggul hanya diganjar dengan uang saperak. Dalam bahasa yang sangat sederhana, penulis teringat pada pekerjaan temanku di kampung ujung timur Jawa Barat yang bisa bekerja satu minggu untuk mendapatkan uang sejumlah angka tersebut. Cukup dengan bekerja sebagai kuli di pabrik genting. Tidak perlu belajar, tidak perlu sekolah, dan tidak perlu bersusah payah untuk menghapal. Dengan kata lain, untuk apa sekolah dan menjadi orang pintar, kalau hanya untuk mendapatkan saperak ?

Kedua, kejadian ini menunjukkan adanya kurang perhatian yang proporsional dari Pemerintah terhadap pengetahuan di luar sains. Ilmu sosial termasuk ilmu humanioramasih merupakan bidang kajian yang dimarginalkan oleh pemerintah. Perlakuan seperti ini, akan kian memperkuat stigma di masyarakat bahwa ilmu humaniora dan atau ilmu sosial adalah kelas dua di dunia ilmu.

Namun demikian, bila pemerintah itu benar memiliki perhatian yang seksama terhadap dunia sains, public pun akan bertanya, mana karya-karya sains yang aplikatif dan memberdayakan masyarakat Indonesia ? adakah pemerintah memberikan perhatian yang seksama terhadap kahjian-kajian aplikatif dan visible bagi pengembangan industri di Indonesia ? jawaban terhadap pertanyaan inipun, sangat sumir. Setidaknya, bila hal ini dikaitkan dengan kalahsaingnya kualitas teknologi bangsa Indonesia dibandingkan dengan Cina atau India.

Ketiga, pesan singkat tersebut menunjukkan satu bentuk (wakil) kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah terkait kebijakan mengenai pendidikan. Bangsa ini tampaknya kurang peka terhadap psikologi masyarakat, kebutuhan masyarakat, serta nilai strategisnya anak bangsa (sumberdaya manusia) atau dunia pendidikan. Sebagai seorang orangtua yang sempat mengenyam pendidikan di luar negeri, pengirim sms itu seolah menunjukkan satu sikap ketidakmengertian terhadap apa yang dilakukan oleh negara terhadap anak bangsanya sendiri.

Secara pribadi, penulis sesungguhnya tidak heran dengan apa yang terjadi tersebut. Semasa kuliah dulu (katakanlah hampir sepuluh tahun lalu), sempat menjadi juara karya tulis mahasiswa yang di selenggarakan sebuah perguruan tingi di Malang. Hadiah yang diterima pada waktu Rp. 150.000. Kemudian serupa dialami teman yang meraih juara 1 pada tingkat institute mendapat upah Rp. 75.000.

Kita tidak perlu membandingkan nominal hadiah yang diterima oleh ketiga orang yang dicontohkan tersebut. Dari sisi jenjang dan level sudah jelas sangat berbeda. Namun dari sisi substansi yang kita bicarakan adalah sama, yaitu negeri ini masih saja tidak berubah. Kendati sudah terjadi reformasi dan dunia sudah bergerak sepuluh tahun lebih lamanya, negeri ini tetap kurang menghargai dunia pendidikan dan kecerdasan anak bangsanya sendiri.

Banyak indikasi yang memiliki preseden pada pembuktian ketidakpedulian pemerintah terhadap dunia pendidikan. Pemerintah masih tidak percaya, bahwa bangunan sekolah ada yang mirip kandang ayam, guru yang bergaji sekitar 50-150 ribu rupiah, memainkan prosentase kelulusan UN sebagai objek politik, dan memainkan peraturan perundangan mengenai ketentuan 20 % anggaran pendidikan. Semua hal tersebut, merupakan sebagian dari bentuk ketidakpekaan pemerintah terhadap masalah pendidikan di negerinya sendiri. Dengan kata lain, kasus rendahnya penghargaan pemerintah terhadap duta bangsa yang kita sebutkan di atas, merupakan tambahan daftar panjang dari hal yang kita kritisi tersebut.

Secara empirik, rendahnya apresiasi pemerintah terhadap anak bangsa yang cerdas tidak akan menyebabkan tumpulnya gairah hidup anak-anak bangsa tersebut. Namun satu ancaman terbesar yang bakal dihadapi oleh negara ini, yaitu munculnya student flight, yaitu larinya siswa-siswa yang cerdas dari negeri Indonesia ke luar negeri. Mereka lari ke luar negeri, bisa berawal untuk belajar di negeri asing, dan untuk kemudian bukan hal yang mustahil adalah bekerja di negara asing.

Pasca kebijakan pem-PHK-an sejumlah industri strategis di Indonesia, ramai orang membicarakan mengenai potensi brain-drain yaitu ramai-ramai kaum cendikia yang pindah kerja ke negara lain. Perilaku sosial ini adalah sesuatu hal yang wajar bila negerinya sendiri kurang memberikan perhatian yang seksama terhadap para cendikia tersebut. Kejadian ini merupakan fenomena yang rasional disaat lingkungan kurang memberikan atmosfer untuk proses aktualisasi dirinya. Dan kejadian ini pun akan diikuti pula dengan fenomena student-flight.

Banyak hal yang menyebabkan para siswa atau generasi muda cerdas melakukan student flight, salah satu diantaranya adalah ketika tidak ada perhatian yang lebih dari pemerintah. Perasaan atau sikap ini akan dengan mudah terjadi bila sikap pemerintah seperti terjadi pada adik kita yang diungkap pada awal wacana ini terus dilakukan. Akan lebih kuat lagi, motivasi anak muda untuk belajar dan bekerja di luar negeri, bila kemudian negara asing memberikan insentif beasiswa kepada siswa berprestasi. Akankah bangsa ini merasa kehilangan dengan kasus student flight tersebut ? bila tidak merasakan kekhawatiran ini, bukan hal yang mustahil pada akhirnya Indonesia akan ditinggalkan orang yang potensial, dan kemudian negeri ini hanya akan dihuni oleh generasi muda dengan kualitas rata-rata.

Apa yang harus dilakukan saat ini ?

Jawaban sederhana adalah pemerintah harus mengubah kesadaran dan kebijakannya. Ini mutlak wajib dilakukan. Kita tidak boleh memain-mainkan anggaran pendidikan demi kepentingan politik. Anggaran pendidikan harus dijadikan satu misi bersama tentang usaha peningkatan SDM Indonesia dan demi Indonesia masa depan.

Hal lain yang perlu diperhatikan pula, tampaknya tidak ada salahnya bila anak bangsa yang cerdas ini kita klaim seperti komoditas bangsa yang harus dihakpatenkan. Dengan kata lain, anak-anak cerdas itu harus diakui, dilindungi, diberdayakan dan jangan sampai diklaim apalagi dimanfaatkan oleh negara lain. Anak bangsa yang cerdas adalah investasi masa depan dan social capital bangsa yang memiliki nilai tidak ada bandingannya.

Pada saat ini, banyak perusahaan yang ramai membincangkan unsur unggulan yang sekaligus kompetitif di masa depan. Salah satu kata kunci yang menjadi banyak perhatian itu adalah mulai mengalihkan perhatian dari material-capital ke intellectual capital. Dalam kesadaran ini, keunggulan perusahaan di masa depan tidak hanya bersandarkan pada kekayaan sumberdaya alam dan modal, namun terletak pada kreativitas SDM yang dimilikinya. Melalui kesadaran inilah, kemudian perusahaan-perusahaan mulai memperhatikan aspek SDM atau kualitas karyawannya itu sendiri.

Negara pun tidak jauh beda dengan sebuah perusahaan. Rakyat adalah personil dari perusahaan ini. Bila negara ini ingin maju dan kompetitif, sudah tentu harus memperhatikan aspek SDM atau warga negaranya sendiri.

Implikasi dari kesadaran ini, maka generasi muda yang cerdas adalah investasi sosial. Kecerdasan yang dimilikinya adalah modal-inetelektual yang strategis untuk masa depan bangsa. Bahkan, pada konteks inilah, bangsa Indonesia dapat maju dan berkembang dalam bisnis ekonomi kreatif. Bisnis ini merupakan wilayah ekonomi yang membutuhkan kerja-kerja kreatif dan atau intelektualitas unggul. Dan sudah tentu, hanya generasi muda yang unggul sematalah yang akan memiliki peluang untuk mampu bersaing dalam bisnis wilayah ini.

Harapan ini sudah tentu akan sirna, bila kemudian pemerintah kurang memberikan perhatian yang seksama terhadap anak-anak bangsa yang memiliki potensi besar. Fenomena yang akan terjadi, adalah larinya para pelajar unggul ke luar negeri, dan untuk kemudian mereka memanfaatkannya sebagai pengembang ekonomi kreatif di negara asing tersebut.

Bila kemarin negeri asing dapat mengklaim kekayaan seni dan budaya, akankah saat ini pun kita kecolongan lagi melindungi kekayaan SDM ? akankah kemudian kita teriak-teriak terhadap perilaku orang lain mengklaim kekayaan bangsa Indonesia ?

Bila sudah begini, Indonesia akan kembali menjadi negara terpuruk, atau paling tidak kita hanya mampu berbangga dengan berujar kata, tuh, ilmuwan di negara antah berantah itu dulu lahirnya di kampung kita lhoo paparnya sambil nonton layar kaca yang menyiarkan kepiawaian seorang ilmuwan dalam mempresentasikan satu temuan baru dalam bidang teknologi di negara asing. Sementara dirinya dan lingkungan masyarakatnya tetap bersimpuh duduk di kursi bambu yang sudah dipakainya semenjak nenek moyangnya masih remaja.

-o0o-

 

Penggiat sosiologi tinggal di Bandung

Advertisements