Semula tidak peduli dan bahkan kurang merasa tertarik dengan berbagai tayangan infotainment yang bertajuk cinta. Namun karena maraknya acara seperti ini, misalnya Cinta Lokasi, mak comblangin dong, Cinta Lama Bersemi Kebali, Play Boy Kabel dan Kontak Jodoh serta sejenisnya, ada sesuatu hal yang mengganjal dan ingin dikemukakan kepada publik. Sikap ketidakpedulian selama ini, selain karena acara tersebut merupakan bagian dari hiburan, tayangan seperti ini pun lebih menunjukkan sebagai mata acara yang dikhususkan sebagai konsumsi kalangan ABG (anak baru gede) atau remaja belaka. Oleh karena itu, rasa peduli pun kurang muncul. Bahkan bisa jadi, dengan alasan seperti itu juga tidak banyak kalangan yang memberikan perhatian terhadap acara-acara seperti ini.



Seiring perjalanan waktu dan juga karena sesekali menyaksikan episode-episode acara tersebut, muncul sejumlah pertanyaan dalam diri. Apakah memang begitu remaja Indonesia dalam memperjuangkan cinta ? apakah memang demikian adanya perilaku remaja Indonesia dalam memperlakukan diri dan orang lain ? pada konteks inilah, kita dituntut untuk mencermati dengan seksama perilaku remaja dalam acara tersebut, khususnya bila dikaitkan dengan persoalan karakter perilaku remaja Indonesia masa kini.

Kesadaran ini muncul, baik karena adanya pandangan yang menyatakan bahwa budaya adalah cermin social, maka jangan-jangan apa yang pertontonkan dalam acara tersebut memang benar-benar merupakan cermin social masyarakat Indonesia pada umumnya. Selain itu, bila kita menggunakan teori efek media, penyiaran acara seperti ini perlu dicermati dengan seksama. Karena dari sejumlah alasan, public dapat menemukan satu analisis yang rasional mengenai perubahan kenaikan agresifiitas kalangan remaja Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam satu episode (kejadian ini malahan kian sering muncul), remaja yang menjadi tema acara menunjukkan sikap kekerasan fisik dan psikis kepada lawan main. Seorang lelaki –misalnya, berani menunjukkan kekerasan fisik di depan kamera terhadap lawan mainnya hanya untuk memenangkan kompetisi cinta dengannya. Perilaku seperti ini pun sering ditunjukkan pula oleh pelaku wanita. Tidak segan-segan, lisan mereka pun mengeluarkan sumpah serapah dan kekerasan verbal terhadap lawan bicara.

Bagi sebagian mereka yang menyaksikan acara ini, dapat merasakan sesuatu hal yang risih terhadap “drama” tersebut. Terlebih lagi, bila acara tersebut lebih bernuansakan sebuah upaya sadar dan terrencana dari pihak penyelenggara. Acara seperti kontak jodoh dan atau mak comblangin dong, pada dasarnya merupakan rekayasa pemilik acara terhadap para pemain. Dengan kata lain, pada awal mulanya, bisa jadi diantara para pelaku pun (baik laki maupun perempuannya) adalah oknum-oknum yang tidak pernah saling kenal dan tidak memiliki hubungan-khusus sebelumnya.

Dengan asumsi seperti ini, kita dapat mengajukan pertanyaan, mengapa dari sebuah acara ‘permainan” harus diwarnai dengan kekerasan fisik ? mengapa egoisme remaja Indoensia begitu cepat mengental dan mengeras terhadap sesuatu hal yang sesungguhnya baru saja dijalani ? bukankah komunikasi antar dua insan dan dengan sesama competitor tersebut belum lama terjadi ? hal ini menjadi bagian dari analisis psikologi terhadap psikologi massa remaja Indonesia, yaitu adanya kecenderungan remaja Indonesia untuk menunjukkan sikap emosional yaitu cepat menarik kesimpulan dan cepat mengeraskan sikap tanpa penalaran yang sehat.

Lain kisah bila acara tersebut merupakan sebuah acara life dan documenter, sebagaimana yang dijadikan karakter oleh acara Back Streets. Acara tersebut, merupakan sebuah acara yang mengangkat lika-liku cinta kaum muda terkait dengan persetujuan anggota keluarga (atau pihak lain). Perjuangan yang harus ditunjukkan pun, sudah tentu merupakan upaya sejati dalam mencapai cita-citanya. Hal ini akan sangat jauh berbeda dengan acara serupa yang sebetulnya muncul mendadak, sesaat atau seketika pada saat mereka menjalani prosesi kegiatan tersebut.

Kendati demikian, apapun mata acaranya, baik yang bersifat life event, documenter atau rekayasa, hal yang menjadi keprihatinan publik adalah mengapa muncul tindak kekerasan di depan kamera ? mengapa para pelaku dengan sangat ‘pede’ dan tidak merasa bersalah menunjukkan kekerasan fisik di depan kamera ? apakah hal ini merupakan bagian dari sandiwara, penggalan kisah yang sesungguhnya terjadi atau ada efek struktur sosial yang mendorong terjadinya hal tersebut ?

Pada konteks inilah, penulis memandang, kekerasan di depan kamera tersebut merupakan bentuk nyata karena adanya stimulant eksternal terhadap para pelaku. Kekerasan yang dimunculkannya merupakan kekerasan akibat adanya rangsangan ekternal. Bisa jadi, penyedia jasa acara akan merasa senang bila setiap acara memunculkandinamika penyajian kepada publilk. Bilamateri acara standar dan “rukun-rukun saja” atau “kurangmenunjukkan dinamika” bisa jadi akan dimaknai oleh penyelenggara sebagai acara yang kurang menarik. Bila kepentingan ini menguat, maka inilah yang disebut sebagai struktur sosial kekerasan yang diciptakan secara sengaja oleh satu kepentingan tertentu.

Analisis ini akan menjadi mentah kembali bila kondisi psikis pelaku tidak merespon keinginan rangsangan struktur kekerasan dari luar. Sayangnya, ada kondisi internal yang potensial dibangkitkan dan kemudian menjadi warna utama dari dinamika materi acara tersebut.

Sebagaimana dimaklumi bahwa alam bawah sadar manusia, siapapun orangnya, akan merasa malu dan jatuh harga diri bila diketahui sebagai pecundang. Apapun hasilnya, setiap orang tidak akan merasa senang untuk menjadi orang yang kalah. Terlebih lagi, jika kalah tanpa perjuangan maksimal. Alam bawah sadar inilah yang menjadi warna dari perilaku pelaku acara tersebut dalam melakukan tindak kekerasan di depan kamera. Dengan katalain, menerima kekalahan adalah satu hal. Namun kalah tanpa ada perjuangan yang maksimal merupakan hal yang sangat memalukan. Dalam konteks inilah, kekerasan di depan kamera, kiranya dapat dijelaskan dengan mudah.

Bukan rahasialagi, di kalangan tertentu akan merasa bangga bila masuk media elektronik. Rasa bangga diri pun dapat muncul dan meningkat drastis bila dirinya menjadi bahan pemberitaan pada sebuah media massa, baik elektronik maupun media cetak. Sekedar contoh, seorang pendidik di Bandung ini pun merasa sangat senang dan bangga diri setelah dirinya bisa muncul di media cetak. Pemberitaan atau tulisan yang memuat tentang dirinya pun dipamerkan dan diberitahukan kepada sejumlah rekan kerjanya.

Tidak salah dan tidak menjadi masalah. Hal itu adalah sesuatu hal yang wajar. Karena secara psikologi, setiap orang memiliki kebutuhan dasar (basic needs) untuk mendapatkan pengakuan dari pihak lain. Sebagai bagian dari proses aktualisasi dirinya, pengakuan dari pihak lain akan menjadi satu kebutuhan penting pada setiap manusia. Oleh karena itu, memberitahukan berbagai hal yang terkait dengan proses publikasi dirinya merupakan satu hal yang wajar.

Implikasi lanjutan dari masalah ini, yaitu naiknya rasa percaya diri pada setiap orang yang pernah memasuki ranah publik. Seorang penulis pemula di wilayah Cirebon menyatakan bahwa rasa percaya dirinya semakin tinggi pada saat muncul karya tulisnya di sebuah media massa. Bahkan secara serentak pula diapun memberikan informasi ini kepada rekan-rekan yang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam proses aktualisasi diri, pengakuan dari pihak lainmerupakan sesuatu hal yang manusiawi pada diri setiap orang. Analisis selanjutannya, kemunculan seseorang dimedia massa —baik elektronik maupun cetak—dapat mendorong rasa percaya diri atau ego seseorang dihadapan oranglain.

Kembali pada kasus yang kita kemukakan saat ini, maka alangkah rasional bila para pelaku di acara hiburan tadi kemudian menunjukkan egonya secara maksimal. Sorotan kamera menjadi perangsang kuat naiknya adrenalin para pelaku acara. Sehingga emosi dan atau semangat untuk memperjuangkan keinginannya dilakukan dengan berbagai tingkah, mulai dari yang halus sampai pada usaha yang kasar sekalipun.

Setiap pencari cinta akan menjadi malu, terlebih lagi bila dilihat publik bahwa dirinya menerima kekalahan tanpa perjuangan. Oleh karena itu sifat ngotot atau kekerasan fisik sekalipun, merupakan usaha alam bawah sadar para pelaku untuk menunjukkan kejantanannya dihadapan lawan main atau para penonton. Sikap kekerasan ini dimaknainya sebagai bagian dari kegigihannya memperjuangkan hasrat dan cintanya. Sikap seperti ini, setidaknya(untuk tidak menyebut sekedar permainan) dijadikan sabagai upaya menunjukkan kepada penonton, rekanan atau lawan jenisnya mengenaikesungguhan dirinya dalam memperjuang cita-cintanya.

Pada sisi lain, baru kemudian kita bisa bertanya-tanya, apakah memang dengan seperti itulah untuk menunjukkan kesungguhan dalam mencapai cita-cinta ? apakah warna-warna kekerasan itulah yang menyelimuti nurani remaja Indonesia dalam menggapai cinta ? apakah memang demikian, gambaran perilaku masyarakat kita yang mencampurkan urusan perjuangan mempertahankan cinta dengan kekerasan ? ataukah jangan-jangan inikah yang disebut dengan “kekerasan dalam bercinta” atau “kekerasan dalam pacaran” ? ataukah memang demikianlah karakter budaya cinta yang tumbuh di masyarakat kita, sehingga hanya karena ditolak oleh lawan jenisnya kemudian melakukan upaya bunuh diri ?

Kendati demikian, dari analisis ini dapat dikemukakan bahwa bila kita percaya pada teori cermin budaya, maka apa terlihat dalam berita atau film, merupakan cermin social masyarakat kita. Sedangkan, bila kitamelihat dari teori alam bawah sadar, ternyata kamera selain dapat menyebabkan geumpeur (demam panggung) namun kamera pun potensial menyebabkan keberanian dan keberingasan seseorang meningkat.

-o0o-

Penggiat Sosiologi di STIKOM Bandung

Advertisements