Ruang persalinan merupakan salah satu ruang yang masih mendapat apresiasi yang unik. Ruangan ini masih dianggap sebagai bagian khusus dan memiliki citra khusus dihadapan para pengunjung, penghuni atau petugas yang ada dalam ruangan tersebut. Dari ruang ini pula, seseorang akan setia memasang daun telinganya, hanya untuk sekedar mengetahui apa yang terjadi dalam ruangan. Kendati demikian, memang ada dua sisi makna yang berbeda mengani ruang pelahiran ini. Bagi kalangan tenaga medis dan paramedic, ruangan ini merupakan ruang yang biasa. Kehadiran ibu yang ada di atas kasur persalinan (pelahiran) adalah objek pekerjaan rutin yang tidak jauh berbeda dengan pasien yang sakit jantung, paru atau pasien yang lainnya. Ibu yang hadir dihadapannya adalah manusia yang tetap diposisikan sebagai pasien. Pemahaman ini sesungguhnya merupakan satu nilai yang kurang pada tempatnya. Karena seorang ibu yang melahirkan bukanlah orang yang sakit. Dia adalah manusia sehat yang sedang membutuhkan bantuan. Oleh karena itu, pemposisian ibu hamil sebagai pasien adalah satu apresiasi yang kurang pada tempatnya. Ibu hamil adalah orang yang sedang membutuhkan bantuan. Kebetulan yang memiliki kompetensi khusus memberikan bantuan persalinan (pelahiran) ini adalah tenaga medis atau paramedis, maka kepada merekalah mereka meminta bantuannya. Dengan pemahaman seperti ini, pemahaman tenaga medis atau paramedis terhadap ibu hamil yang ada dalam ruang persalinan (pelahiran) tersebut tidak manusiawi bila disetarakan dengan orang sakit. Seorang pasien mungkin tidak ada pilihan sehat mengenai tindakan medis yang akan dialaminya. Namun bagi seorang ibu hamil, terlebih lagi bila diduga dalam menjalani persalinan secara normal, maka pilihan sehat pun dapat dikemukakannya. Pada wilayah ini, maka seorang tenaga medis tidak etis memberikan tindakan medis (tindakan persalinan) sesuai dengan keingiannya sendiri. Ngeri, dokter di sini lebih banyak mengambil inisiatif sendiri. Saya masih mengalami pembukaan 8, malah langsung diinduksi dan disayat dengan pisau pelahiran. Akhirnya, memang anak saya lahir sehat. Hanya saja, saya dijahit cukup banyak. Sikap atau apresiasi tersebut menunjukkan bahwa masih ada tindakan persalinan dari seorang dokter yang lebih berorientasi pada pekerjaan daripada kebutuhan ibu hamil. Sikap dan pengambilan keputusan seperti itu, bisa jadi merupakan bagian dari pemahaman dirinya bahwa ibu hamil adalah pasiennya, dan membutuhkan bantuan pengetahuan dan keterampilan dirinya. Pada konteks ini, maka ruang persalinan (pelahiran) menjadi ruang desakralisasi. Ruang persalinan adalah ruang yang mengalami penurunan nilai manusia dan kemanusiaan, serta ruang penurunan nilai-nilai kesucian. Ada sejumlah argumen yang dapat mendukung pada makna ini. Pertama, ibu hamil mengalami penurunan nilai dihadapan seorang tenaga medis. Status ibu hamil yang sehat dimaknai sebagai orang yang sakit, dan atau dianggap sebagai seorang pasien. Ini adalah penurunan nilai-nilai kemanusiaan dihadapan seorang tenaga medis. Kedua, pada ruang ini pula, kesucian bagian tubuh seorang wanita hilang atau setidaknya menurun. Kesucian bagian tubuh wanita (ibu hamil) menjadi satu objek komunal (belum menjadi objek publik) yang mendapat perlakuan mekanis dari kalangan tenaga medis atau para medis. Hal-hal yang selama ini dianggap pribadi (privacy) dan hanya dapat dilihat, disentuh atau diperiksa oleh orang-orang yang dianggap telah menjadi bagian dari dirinya, kini menjadi objek komunal para medis dan tenaga medis. Pada kedua konteks itulah, maka ruang pelahiran menjadi ruang desakralisasi kemanusiaan dihadapan tenaga medis dan para medis. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, nilai sosial dan nilai budaya ruang persalinan (pelahiran) ini ternyata berbeda terbalik dengan yang dimiliki oleh komunitas di luar tenaga medis. Bagi anggota keluarga, tetangga atau para penunggu ibu hamil, mereka menganggap ruang persalinan (pelahiran) sebagai satu ruang suci. Adanya aturan pihak rumah sakit terhadap dirinya untuk memasuki ruang persalinan (pelahiran) dimaknai sebagai sesuatu hal yang suci. Karena di ruang inilah, seseorang akan melahirkan. Peristiwa melahirkan adalah peristiwa suci dan tidak boleh sembarang orang melihat bagian pelahiran. Proses melahirkan itu adalah aurat. Tidak boleh sembarang orang melihat proses pelahiran, apalagi jika dia bukan muhrim. Jadi, sangat masuk akal bila ada aturan dilarang masuk, selain petugas rumah sakit atau dokter. Pandangan ini dikemukakan oleh seorang anggota keluarga ibu hamil, yang kebetulan beragama Islam. Sehingga dengan dalil agama (teologis) larangan tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap kehormatan ibu hamil, dan upaya menjaga etika atau kesantuan hubungan manusia dengan manusia. Hal ini memberikan indikasi bahwa ruang persalinan adalah ruang suci, dan merupakan ruang yang beraroma keintiman. Ruang persalinan merupakan ruangan khusus yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang dianggap berhak memasukinya. Ruang persalinan dapat dimaknai sebagai ruang beraroma keintiman, karena mereka yang diharapkan hadirpun adalah mereka yang dianggap sebagian dari dirinya. Oleh karena itu, sangat wajar bila di lingkungan masyarakat perkotaan, sudah mulai muncul harapan kehadiran suami di sisinya ketika dirinya melahirkan. Harapan ini, menjadi bagian penting dari kebutuhan dirinya untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman selama proses persalinan. Ruang pelahiran merupakan tempat yang khusus dan hanya dengan keengganan mereka mengizinkan orang lain selain ibu dan pasangannya memasuki ruangan tersebut. Jendela di pintu ditutup dan tamu tidak diterima. Ruang pelahiran tidak akan sama seperti kamar tidur dalam kelahiran di rumah, tetapi beberapa bidan merasa bahwa mereka harus berusaha utuk dapat menyamakannya . Pihak rumah sakit atau tenaga medis ada yang memberikkan izin kepada suamki atau anggota keluarga ibu hamil untuk bisa hadir mendampingi si ibu hamil. Hal ini merupakan apresiasi yang positif dan baru bagi dunia kesehatan. Terlebih lagi, karena ruang persalinan (maternalitas) merupakan salah satu ruangan yang sempat dianggap sebagai ruang suci . Sekali lagi, hal ini berbeda dengan apa yang dipahami oleh seorang tenaga medis, yang mengalami pemahaman desakralisasi ruang persalinan dan manusia. Pengasingan diri Dalam makna ini pula, ruang persalinan (pelahiran) pada dasarnya merupakan daerah pengasingan bagi seorang ibu hamil. Seorang ibu hamil dipisahkan dari ruang publik bahkan dari komunitasnya sendiri. Setelah hampir satu hari satu malam, ibu hamil itu berdiam di ruang perawatan ibu hamil. Dalam ruangan ini ada tiga orang yang menanti kehadiran si buah hati. Selain dirinya, yang sudah merasakan kontraksi sedari satu hari yang lalu, ada orang yang sudah hamil lebih dari 9 bulan namun belum merasakan kontraksi. Ada satu orang lagi, yang merasakan bahwa kontraksi dalam kandungannya itu tidak konstan, kadang naik dan kadang turun kembali. Bahkan sampai hari ketiga di rumah sakit itupun, masih dianggap baru mencapai pembukaan satu. Sementara ibu hamil yang diceritakan di awal ini, kini sudah mulai ada peningkatan kontraksi. Maka pada waktu subuh (sekitar pukul 05.00 WIB) dia dipindahkan dari ruang perawatan ibu hamil ke ruang persalinan (pelahiran). Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahwa ruang pelahiran adalah ruang suci. Berbeda dengan ruang perawatan ibu hamil. Pada ruangan yang terakhir ini, ibu hamil masih bisa berkomunikasi dengan siapapun yang berkunjung ke ruangannya. Dokter atau tenaga medis yang lainnya pun, masih menganggap ruang perawatan ibu hamil sebagai ruang publik yang bisa terjadi komunikasi antara ibu hamil, pihak luar dan tenaga medis. Berbeda dengan ruang perawatan ibu hamil, ruang pelahiran adalah ruang suci. Oleh karena itu, ketika ibu hamil sudah merasakan ada kenaikan frekuensi kontraksi, maka dia akan dievakuasi ke ruang pelahiran. Ruangan inilah yang kita sebuah sebagai ruang pribadi (privacy) atau ruang komunal. Dengan status seperti ini pula, maka ruangan ini memiliki nilai yang berbeda dengan ruang perawatan ibu hamil, ruang tamu, kantor atau ruang publik lainnya. Kebijakan untuk memi
sahkan ibu hamil dari ruang publik, dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang. Salah satu diantaranya adalah karena masih tertanamnya makna bahwa peristiwa persalinan adalah peristiwa besar, peristiwa agung bagi orang yang menjalaninya. Sebagai sebuah peristiwa sakral dan besar, maka peristiwa ini tidak boleh terganggu oleh faktor eksternal. Berbagai hal yang potensial mengganggu jalannya persalinan perlu diminimalisir. Pada bagian ini pula, peraturan yang melarang orang hilir mudik atau masuk ruangan sembarang ke wilayah ini merupakan bagian lain dari usaha preventif tenaga medis dalam memberikan bantuan layanan persalinan (pelahiran). Lebih baik di luar, bila tidak ada hal yang penting. Karena kehadiran saudara dalam ruang ini dapat menggangu kelancaran proses pembantuan pelahiran. Tetapi, bila mau membantu memberikan bantuan tenaga dalam persalinan ini, silahkan masuk. Permintaan ini dikemukakan oleh seorang dokter senior di sebuah rumahsakit swasta di Kota Bandung. Kejadian ini dituturkan oleh seorang calon bapak (2007) yang akan mendapatkan anak pertamanya. Suami ibu hamil ini, sebelumnya sudah mendapatkan izin dari pihak paramedis untuk turut menyaksikan proses persalinan. Namun, karena terlihat banyak tenaga medis yang membantu dokter dalam persalinan tersebut, maka sang suamipun diharapkan untuk meninggalkan ruang persalinan (pelahiran). Berdasarkan hal tersebut, pada dasarnya proses pengasingan ibu hamil dari ruang public itu, mengandung makna transformasi yang cukup nyata bagi masyarakat kita saat ini. Proses pengasingan ibu hamil terkait dengan makna dan atau persepsi publik terhadap proses persalinan itu sendiri. Tahapan pertama, pengasingan ibu hamil lebih dimaknai sebagai bagian dari upaya untuk menjaga nilai-nilai kesucian seorang wanita. Tahapan ini merupakan tahapan pengasingan ibu dengan makna sakral. Tahapan kedua, yaitu pengasingan ibu hamil dengan makna pragmatis. Seorang tenaga medis berharap pekerjaan dapat berjalan dengan lancar dan tidak mendapat gangguan dari pihak manapun. Oleh karena itu, pengasingan ibu hamil dari ruang publik merupakan satu cara strategis yang dapat dilakukannya. Pada tahapan terakhir, pengasingan ibu hamil sebagai upaya membangun kenyamanan dan keamanan bagi seorang ibu hamil. Dalam konteks ini, hak pribadi ibu hamil dan hak untuk mendapatkan keamanan dan kenyamanan menjadi unsur utama dalam melaksanakan pengasingan ibu hamil dari ruang publik. Dalam tahapan selanjutnya, bila terjadi pergeseran makna kenyamanan dan keamanan berubah, maka proses pengasingan pun akan mengalami pergeseran pula. Pada konteks ini, ruang persalinan (pelahiran) akan memiliki makna baru sesuai dengan perkembangan pemaknaan publik terhadap ruangan ini.

Advertisements