Bencana berulang kembali. Bahkan, memahami karakter geologi indonesia yang ada saat ini, bencana serupa gempa atau gunung api ini, akan berulang kembali. Entah esok, atau suatu hari. Bencana alam, di Indonesia akan menjadi bagian dari kehidupan warga negara ini. Indonesia yang kaya raya dengan kekayaan alamnya, dan keindahan alamnya, namun diselimuti pula oleh potensi bencana alam yang bervariasi. Gempa bumi, gunung api, banjir, tsunami, longsoran tanah, dan rupa-rupa bencana alam lainnya. Realitas geologis Indonesia seperti ini, sudah nyata, dan banyak diketahui orang. Dengan kata lain, maka Indonesia merupakan daerah yang perlu untuk siaga satu (Siaga I) terhadap bencana geologis. Siaga untuk selamanya.

     Terhadap berbagai gejala alam ini, gejala geologi atau bencana geologis ini, reaksi sosiologis yang ditunjukkan masyarakat kita, sungguh sangat variatif. Analisa berkembang, mulai dari yang berbau sentimen bercampur dengan analisa kritis keilmuan, sampai pada keilmuan murni. Sehingga, kadang-kadang, bila membincangkan sebuah gejala sosial atau gejala alam, masyarakat bingung, dibingungkan atau membingungkan diri dengan pola-pola pikir yang lainnya.

     Analisa atau logika berfikir antara satu dengan yang lainnya, bercampur tanpa ada sebuah kejelasan arah pikiran. Sehingga, yang terjadi hanyalah sebuah catur tanpa bukur, ucapan tanpa rasa. Untuk sekedar mengisi waktu dan meramaikan diskusi, mungkin hal-hal di luar disiplin keilmuan, menjadi sesuatu hal yang menarik, sehingga ‘perspektif’ di luar pemikiran tersebut, menjadi bumbu penyedap perbincangan di warung kopi, atau memperkaya wawasan peserta diskusi tersebut.

     Bencana geologis, salah satu contohnya gempa bumi di Yogyakarta, merupakan sebuah gejala alam yang alamiah, bagi daerah yang ada didaerah pertemuan lempengan. Menurut kajian geologi (teori tektonik lempeng), gerakan atau pergeseran kulit bumi yang bergerak sekitar 3-4 cm/tahun, merupakan kenyataan alam yang bisa menyebabkan adanya getaran kulit bumi (gempa). Kenyataan alam seperti ini, ditunjukkan dengan banyaknya aktivitas gunung api (vulkanisme) di Indonesia. Kedua kenyataan alam ini (gunung api, dan gempa), merupakan bukti bahwa lapisan kulit bumi Indonesia, sebagai lapisan bumi yang aktif. Kira-kira, demikianlah yang dapat kita sebut sebagai sebuah argumenetasi sains terhadap gempa bumi Yogya-Jateng, maupun tsunami di Aceh-Nias yang terjadi pada penghujung tahun 2004.

     Selain argumentasi tersebut, ada juga yang menjelaskan fenomena ini dengan argumentasi non-sains. Kalangan ahli etika, atau agama, menjelaskan bahwa kejadian alam seperti ini, merupakan sebuah teguran Tuhan kepada manusia yang alpa dalam menunjukkan peribadahan atau penghambaannya. Tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme, serta tindak penyelewengan manusia Indonesia terhadap aturan dan norma, baik itu agama maupun adat, dijadikan sebagai landasan analisa dalam menjelaskan rangkaian musibah yang terjadi di Indonesia. Uraian seperti ini, kita sebut sebagai sebuah argumentasi non-sains.

     Argumentasi non-sains, bukan berati argumen yang tidak ilmiah. Bisa jadi, argumentasinya ilmiah. Namun, argumentasi yang dikemukakannya, tidak koheren (tidak nyambung) dengan kenyataan geologis atau peristiwa geologi Indonesia yang terjadi saat itu. Sebab, terhadap argumentasi non-sains tersebut, orang bisa bertanya, apakah gempa disebabkan karena banyaknya orang korupsi ? bagaimana gempa yang terjadi di Iran saat ini, apakah hal itu pun menunjukkan tingginya tingkat korupsi di Iran ? berdasarkan hal ini, maka argumentasi non-sains, bukan berarti argumentasi tersebut tidak ilmiah. Mungkin ilmiah, namun tidak memiliki kualitas kenyambungan dengan kenyataan geologis dan kejadian geologis yang terjadi saat itu.

     Pertanyaan kritis lainnya, yang juga dapat dikelompokkan sebagai sebuah argumentasi non-sains, yaitu setelah dua daerah istimewa, daerah istimewa manakah yang akan diguncang bencana ? pada tahun 2004, tsunami mengguncang dan meluluhlantahkan daerah istimewa aceh, kemudian tahun2006 gempa bumi mengguncang daerah istimewa Yogyakarta. Apakah besok, atau dua tahun yang akan datang, ada daerah istimewa lainnya, yang akan diguncang oleh bencana alam (atau bencana bentuk lainnya) ? data yang dikemukakannya, sangat empiris. Namun, apakah hal demikian termasuk sebuah pertanyaan ilmiah ? dalam logika, ada yang disebut post hoc ergo propter hoc (setelah ini, kemudian itu). Oleh karena itu, jika pertanyaan tersebut dijawab ”Ya” (artinya setelah DI Aceh, DI Yogya, maka DI…..), maka jawaban tersebut dapat dikategorikan argumentasi non-sains atau setidak-tidaknya, dapat tersebut tidak logis.

     Kemudian, orang pun menjelaskan dan mengait-ngaitkan, antara bencana alam dengan proses pengadilan Soeharto. Katanya, setiap Soeharto mau diadili, bencana alam terjadi. Gempa bumi di Yogya terjadi setelah ada reaksi kuat masyarakat untuk mengadili Soeharto (atau jangan-jangan, gara-gara ketahuan adanya intelijen asing di Indonesia oleh kalangan MMI, kemudian terjadi bencana alam). Pelengkap argumentasi terhadap masalah ini, mereka mengaitkannya dengan pemerintahan SBY. SBY samadengan ”selalu bencana ya”. SBY samadengan ”susah bensin ya”. SBY-JK, samadengan ”sudah banyak yang jadi korban” atau ’susah bensin ya…. jalan kaki’. Semenjak diangkat jadi presiden, sampai detik ini, kerap kali diwarnai bencana dan penderitaan. Bukan hanya karena kebijakan pemerintahan SBY-JK yang tidak selamanya populis atau berkenan dihati masyarakat, tetapi juga bencana alam dan musibah terus berulang berdatangan. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, mereka mangajukan permohonan, semoga Pemerintah saat ini, untuk memikirkan kembali kepemimpinannya, yang tampak belum mampu menangani masalah yang sedang terjadi. Terhadap argumentasi itu, ada dua hal yang perlu dicermati oleh masyarakat Indonesia saat ini. Yaitu, ancaman sciosophy atau nonsense. Sciosophy (T. Jacob, 1996), artinya kedunguan yang disistematisir, sedangkan nonsense, artinya membual atau omong kosong.

     Pada saat nalar kita tengah runtuh, dan tidak memiliki sandaran yang jelas dalam memahami sesuatu, maka bukan hal yang mustahil salah satu atau kedua ancaman pola pikir tersebut, mengendap dan mengental dalam pikiran kita. Pada saat ini, bangsa Indonesia kehilangan sikap atau falsafah hidup dan kehidupannya, untuk kemudian kehilangan disiplin penalarannya, maka bukan hal yang mustahil, salah satu atau kedua hal tersebut, akan menjadi salah satu pegangan dalam hidupnya.

     Mewabahnya mistik, dan mengentalnya kembali pola pikir diluar sains dan non-sains, merupakan bagian dari bibit akan tumbuhkembangnya kembali pola pikir sciospohy atau nonsense.

     Jika Sutan Takdir Alisyahbana (STA) bisa hadir dalam wacana ini, mungkin beliaulah salah satu tokoh yang akan secara lantang, menyerukan intelektualisme di Indonesia. Indonesia yang mistik, penuh takhayul, dan tidak jelas pola pikirnya, potensial akan bangkitnya sikap hidup dan pola pikir yang tidak kompetitif di era pembangunan dan era globalisasi ini. Untuk mengejak ketertinggalan Indonesia dari negara asing lainnya, STA menyarankan untuk melakukan intelektualisme terhadap masyarakat Indonesia.

     Film mistik di media elektronika, dimunculkan seolah-olah nyata dan ilmiah. Burhan Bungin (2006:328), menyebutnya ada mistik-semi ilmiah. Secara kritis, terhadap penayangan film mistik tersebut, bisa disebutkan mistik yang diilmiah-ilmiahkan, atau ilmiah-semua. Para kreator film tersebut, dengan jelas dan tegasnya menyatakan bahwa ’penampakkan tersebut, bukan sebuah trik kamera’. Dengan kata lain, seolah-olah, bahwa makhluk halus itu adalah empiris, dan bisa diobservasi. Fenomena ini, merupakan drama tentang intelektualisme yang diaduhadapkan dengan nalar mistik.

     Sewaktu gunung merapi meletus, ada seorang pengirim video ke sebuah stasiun televisi. Kemudian ketika diwawancarai oleh pembawa acara tersebut, si pengirim mengatakan, ”coba perhatikan oleh kita, bahwa wedus gembel di puncak gunung berapi itu, berbentuk wajah manusia atau binatang yang sedang menganga, seolah-olah menjerit. Inilah gambaran bangsa kita”. Ya, mungkin benar, bila ada awan yang seolah-olah berbentuk sesuatu, apakah itu binatang, tumbuhan, manusia, atau bangunan. Mirip dengan orang Yunani, yang membayangkan posisi bintang di langit (formasi bintang), yang kemudian diimajinasikan sebagai mirip scorpion, libra dan lain sebagainya.

     Tanpa harus menjelaskan siapa diantara kita, yang termasuk sciosophy atau nonsense, namun kiranya jelas bagi kita, bahwa menyelesaikan masalah di Indonesia, baik akibat bencana alam, maupun situasi sosial politik ini, tidak mungkin dapat diselesaikan oleh argumentasi yang seolah-olah ilmiah, kedunguan yang disistematisir sehingga seolah-olah ilmiah, terlebih lagi, hanya sekedar omong kosong. Bila hal-hal terakhir itu, tetap kita lakukan, nonsense Indonesia akan bangkit !

     -o0o-

     Pengiat Sosiologi, tinggal di Bandung

Advertisements